RADARBONANG.ID - “Lucu, beli ah.” Kalimat sederhana tersebut bisa menjadi awal dari kebiasaan micro spending yang dekat dengan keseharian Gen Z. Pengeluaran dalam nominal kecil memang sering terasa tidak berarti.
Namun, ketika dilakukan berulang kali, transaksi yang masing-masing terlihat ringan dapat berubah menjadi jumlah yang cukup besar dalam satu minggu atau bahkan satu bulan.
Micro spending merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan kebiasaan mengeluarkan uang dalam jumlah relatif kecil secara berulang.
Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari membeli kopi, camilan, aksesori, barang lucu di marketplace, hingga pembelian digital.
Masalahnya bukan semata-mata pada nominal setiap transaksi.
Yang perlu diperhatikan adalah seberapa sering transaksi tersebut dilakukan dan apakah pengeluaran itu sudah masuk dalam rencana keuangan.
Baca Juga: 115 Dakwaan Manchester City Terbukti, Ini Skema Sponsor dan Kontrak yang Jadi Sorotan Premier League
Pengeluaran Kecil Terasa Lebih Mudah Dilakukan
Ada perbedaan psikologis antara membeli barang seharga Rp20 ribu dan membeli barang seharga Rp2 juta.
Ketika nominalnya kecil, seseorang cenderung merasa keputusan tersebut tidak terlalu berpengaruh terhadap kondisi keuangan.
Muncul berbagai alasan sederhana seperti “cuma Rp15 ribu”, “murah ini”, atau “sekali-sekali”.
Padahal, persoalan baru terlihat ketika transaksi tersebut terjadi berkali-kali.
Misalnya, membeli minuman Rp20 ribu beberapa kali dalam seminggu mungkin terasa biasa.
Ditambah camilan, ongkos pesan makanan, aksesori, dan pembelian kecil di marketplace, jumlah akhirnya dapat menjadi jauh lebih besar daripada yang dibayangkan.
Inilah mengapa pengeluaran kecil perlu dilihat bukan hanya satu per satu, tetapi juga secara keseluruhan.
Riset Consumer Financial Protection Bureau (CFPB) menunjukkan banyak konsumen memang mengalami kesulitan menjaga pengeluaran tetap sesuai anggaran.
Salah satu persoalannya adalah keputusan belanja sering dibuat pada saat transaksi, sementara anggaran tidak selalu dijadikan acuan secara langsung.
“Cuma Segini” Bisa Terjadi Berkali-kali
Micro spending tidak selalu berarti seseorang membeli sesuatu yang tidak dibutuhkan.
Membeli kopi ketika bekerja, memesan makanan saat sedang sibuk, atau membeli camilan ketika berkumpul bersama teman merupakan pengeluaran yang wajar.
Persoalan muncul ketika pembelian tersebut semakin sering dilakukan tanpa disadari.
Satu transaksi mungkin tidak terasa membebani. Namun, sepuluh atau dua puluh transaksi kecil tentu memiliki dampak berbeda terhadap saldo.
Hal ini juga membuat micro spending sering lebih sulit dikenali dibandingkan pengeluaran besar.
Ketika hendak membeli barang mahal, seseorang biasanya akan berpikir lebih lama. Harga, manfaat, kebutuhan, hingga kondisi keuangan ikut dipertimbangkan.
Sebaliknya, barang murah lebih mudah masuk ke keranjang belanja karena risiko yang dirasakan terlihat kecil.
Belanja Digital Membuat Transaksi Semakin Praktis
Perkembangan pembayaran digital ikut mengubah cara seseorang berbelanja.
Dompet digital, mobile banking, marketplace, layanan pesan-antar makanan, hingga platform hiburan memungkinkan transaksi dilakukan hanya melalui beberapa sentuhan layar.
Kemudahan tersebut tentu memiliki manfaat. Namun, dari sisi pengelolaan keuangan, transaksi yang terlalu mudah juga dapat membuat seseorang kurang memperhatikan akumulasi pengeluaran.
Uang tidak berpindah secara fisik dari dompet.
Karena itu, sebagian orang mungkin baru menyadari besarnya pengeluaran ketika melihat riwayat transaksi atau saldo yang tersisa.
CFPB dalam riset mengenai pengelolaan pengeluaran menemukan bahwa konsumen menunjukkan minat tinggi terhadap fitur yang memberikan informasi secara langsung mengenai jumlah uang yang masih tersedia dalam anggaran.
Umpan balik semacam itu dinilai dapat membantu konsumen mengendalikan pengeluaran impulsif dan menjaga anggaran.
Promo Bisa Membuat Barang Terlihat Semakin Murah
Faktor lain yang sering muncul adalah promo.
Diskon, voucher, gratis ongkir, flash sale, hingga penawaran dengan batas waktu tertentu dapat membuat sebuah barang terlihat semakin menarik.
Masalahnya, diskon tetap merupakan pengeluaran apabila barang tersebut sebelumnya tidak direncanakan untuk dibeli.
Harga Rp30 ribu setelah diskon memang lebih rendah dibandingkan harga normal Rp50 ribu.
Namun, jika sebelumnya seseorang tidak berniat membeli barang tersebut, Rp30 ribu tetap keluar dari saldo.
Pola ini dapat menjadi semakin kuat ketika promosi muncul berulang kali di media sosial atau marketplace.
Survei Bankrate terhadap pengguna media sosial di Amerika Serikat pada 2023 menemukan 48 persen responden pernah melakukan pembelian impulsif setelah melihat produk di media sosial.
Pada kelompok Gen Z usia 18–26 tahun dalam survei tersebut, angkanya mencapai 60 persen.
Data itu menggambarkan adanya hubungan antara paparan produk di media sosial dan keputusan belanja impulsif, meski tentu tidak secara khusus menggambarkan kondisi Gen Z di Indonesia.
Bukan Berarti Harus Berhenti Belanja
Membahas micro spending bukan berarti semua pengeluaran kecil harus dihilangkan.
Menikmati kopi, membeli makanan favorit, atau sesekali membeli barang yang disukai tetap dapat menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Yang lebih penting adalah mengetahui batasnya.
Seseorang perlu membedakan antara pengeluaran kecil yang memang sudah direncanakan dengan pembelian spontan yang terus berulang.
Jika setiap pembelian dilakukan karena muncul kalimat “murah, jadi beli”, pola tersebut layak diperhatikan.
Begitu pula ketika seseorang mulai merasa bingung ke mana uangnya habis padahal tidak merasa membeli barang mahal.
Bisa jadi jawabannya justru berada pada transaksi-transaksi kecil yang dilakukan berkali-kali.
Coba Catat Semua Pengeluaran Kecil
Cara sederhana untuk mengenali micro spending adalah mencatat seluruh transaksi.
Tidak hanya pengeluaran besar, tetapi juga kopi, camilan, ongkos kirim, biaya layanan, pembelian aplikasi, hingga barang kecil dari marketplace.
Pencatatan tersebut tidak harus rumit.
Cukup melihat riwayat transaksi selama satu minggu, kemudian kelompokkan berdasarkan jenis pengeluaran.
Dari sana, pola yang sebelumnya tidak terlihat bisa mulai muncul.
Misalnya, ternyata sebagian besar pengeluaran berasal dari makanan dan minuman.
Atau ternyata pembelian kecil di marketplace jauh lebih sering daripada yang selama ini diperkirakan.
Setelah mengetahui polanya, seseorang dapat menentukan batas pengeluaran yang lebih realistis.
Bedakan Keinginan dan Kebiasaan
Ada satu pertanyaan sederhana yang bisa digunakan sebelum melakukan pembelian kecil.
“Kalau barang ini tidak sedang diskon, apakah saya tetap ingin membelinya?”
Pertanyaan tersebut dapat membantu membedakan kebutuhan dengan dorongan sesaat.
Pertanyaan lain juga bisa digunakan.
“Apakah barang ini memang saya cari atau baru saya inginkan setelah melihatnya?”
Jika jawabannya adalah baru tertarik setelah melihat promosi atau konten media sosial, keputusan tersebut mungkin lebih baik ditunda terlebih dahulu.
Tidak harus langsung mengatakan tidak.
Memberikan jeda beberapa menit atau beberapa jam sebelum melakukan pembayaran dapat membantu seseorang memastikan apakah barang tersebut memang diperlukan.
Baca Juga: Nowela Elisabeth dan Suara 5 Bikin SUGBK Bergemuruh, Bawa Warna Papua Jelang Timnas Indonesia vs Mal
Saldo Bisa Habis Bukan karena Satu Pembelian
Pada akhirnya, micro spending bukan persoalan tentang boleh atau tidak boleh membeli sesuatu yang murah.
Persoalannya ada pada pola.
Pengeluaran Rp10 ribu mungkin terasa kecil. Begitu pula Rp20 ribu atau Rp30 ribu.
Namun, jika transaksi tersebut terjadi berkali-kali, jumlah akhirnya bisa menjadi cukup besar.
Karena itu, kebiasaan mengatakan “lucu, beli ah” tidak harus selalu dihilangkan.
Yang perlu dilakukan adalah menyadari bahwa pembelian kecil tetap masuk dalam perhitungan keuangan secara keseluruhan.
Kadang bukan satu pembelian besar yang membuat saldo cepat menipis.
Justru, banyak pembelian kecil yang terasa tidak berarti dapat diam-diam menjadi pengeluaran yang paling sulit disadari.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang