RADARBONANG.ID - Pertemanan Gen Z kini tidak selalu identik dengan obrolan tanpa henti, nongkrong berjam-jam, atau saling berkirim pesan setiap hari.
Ada bentuk pertemanan yang justru terasa nyaman ketika tidak banyak percakapan.
Dua orang bisa duduk bersama, sibuk dengan aktivitas masing-masing, bahkan sesekali hanya bermain ponsel, tetapi suasananya tetap terasa menyenangkan.
Fenomena seperti ini sering disebut silent friendship.
Istilah tersebut menggambarkan hubungan pertemanan ketika seseorang tetap merasa dekat dengan temannya meski tidak harus terus-menerus berbicara.
Keheningan tidak dianggap sebagai sesuatu yang canggung, melainkan bagian dari rasa nyaman dalam hubungan.
Bagi sebagian anak muda, kemampuan untuk diam bersama tanpa merasa harus mencari bahan obrolan justru menjadi tanda bahwa hubungan tersebut sudah cukup aman dan natural.
Lantas, mengapa teman yang bisa diajak diam bersama justru terasa spesial?
Baca Juga: Punya Banyak Planner tapi Jarang Dipakai? Bisa Jadi Kamu Terjebak Productivity Shopping
Tidak Ada Tuntutan Harus Selalu Ngobrol
Dalam sebagian pertemanan, suasana hening bisa terasa canggung. Ketika percakapan berhenti, seseorang buru-buru mencari topik baru karena takut temannya merasa bosan atau hubungan menjadi terasa aneh.
Silent friendship menawarkan pengalaman yang berbeda.
Dua orang dapat berada di tempat yang sama tanpa harus memaksakan percakapan.
Salah satunya mungkin mengerjakan tugas, sementara yang lain menonton video, membaca, bermain gim, atau sekadar menikmati minuman.
Tidak ada kewajiban untuk membuat suasana terus ramai.
Kedekatan justru terasa dari kemampuan untuk menikmati kehadiran satu sama lain tanpa harus selalu memberikan hiburan.
Bisa Menjadi Diri Sendiri
Teman yang membuat seseorang nyaman untuk diam biasanya juga memberikan ruang untuk menjadi diri sendiri.
Ketika sedang lelah, seseorang tidak harus selalu tampil ceria di depan teman.
Tidak perlu pula memikirkan apakah dirinya cukup menarik untuk diajak berbicara.
Cukup duduk bersama sudah terasa cukup.
Pola hubungan seperti ini berkaitan dengan apa yang kini sering disebut sebagai low-maintenance friendship.
Hubungan semacam itu tidak bergantung pada komunikasi setiap hari atau intensitas pertemuan yang tinggi untuk tetap terasa dekat.
Para ahli yang dikutip Australian Psychological Society menjelaskan bahwa pertemanan yang sehat tidak selalu memiliki pola kedekatan yang sama pada setiap orang.
Bagi Gen Z yang harus membagi waktu antara kuliah, pekerjaan, keluarga, kehidupan digital, dan kebutuhan untuk memiliki waktu sendiri, pola pertemanan seperti ini dapat terasa lebih fleksibel.
Diam Tidak Otomatis Berarti Ada Masalah
Hal menarik dari silent friendship adalah perubahan cara memandang keheningan.
Tidak adanya percakapan bukan otomatis berarti hubungan sedang bermasalah.
Jika kedua orang sama-sama nyaman, diam bisa menjadi bagian normal dari interaksi. Mereka tidak merasa perlu mengisi setiap detik dengan kata-kata.
Beberapa tandanya cukup sederhana.
Seseorang bisa duduk bersama temannya tanpa merasa canggung.
Masing-masing bebas melakukan aktivitas sendiri.
Tidak ada tuntutan untuk membalas pesan setiap saat. Ketika lama tidak bertemu, obrolan bisa kembali mengalir secara natural.
Hubungan tidak langsung dianggap renggang hanya karena intensitas komunikasi sedang menurun.
Pertemanan Tidak Harus Selalu Intens
Di era media sosial, kedekatan sering kali terlihat dari seberapa cepat seseorang membalas pesan, seberapa sering bertemu, atau seberapa aktif saling mengirim konten.
Padahal, ukuran tersebut tidak selalu menggambarkan kualitas sebuah pertemanan.
Ada teman yang setiap hari saling mengirim pesan, tetapi ketika bertemu justru tidak benar-benar merasa dekat.
Sebaliknya, ada pula teman yang hanya sesekali berkomunikasi.
Namun, ketika bertemu, suasananya langsung terasa seperti tidak pernah berjarak.
Pola seperti ini membuat hubungan terasa lebih ringan karena tidak dibangun berdasarkan kewajiban untuk selalu tersedia.
Bukan berarti kedua orang tersebut tidak peduli. Mereka hanya memiliki pemahaman bahwa kesibukan dan kebutuhan pribadi tidak harus dianggap sebagai ancaman bagi pertemanan.
Low Effort Bukan Berarti Tidak Peduli
Istilah low-effort friendship terkadang bisa disalahpahami.
Pertemanan yang minim tuntutan bukan berarti hubungan tersebut tidak membutuhkan usaha sama sekali.
Tetap ada kepedulian, perhatian, dan kemauan untuk hadir ketika teman benar-benar membutuhkan bantuan.
Bedanya, hubungan tersebut tidak menuntut bukti kedekatan setiap saat.
Misalnya, seorang teman mungkin tidak membalas pesan selama beberapa jam karena pekerjaan.
Temannya tidak langsung menganggap dirinya diabaikan.
Begitu pula ketika seseorang tidak bisa ikut nongkrong karena memiliki kesibukan lain.
Hubungan tidak otomatis dianggap berubah hanya karena satu kali pertemuan terlewat.
Pola seperti ini memberi ruang bagi masing-masing orang untuk memiliki kehidupan di luar pertemanan.
Silent Friendship Beda dengan Silent Treatment
Ada satu hal yang perlu dibedakan.
Silent friendship bukan berarti sengaja mendiamkan teman karena marah, kecewa, atau ingin memberikan hukuman emosional.
Perilaku tersebut lebih dekat dengan istilah silent treatment.
Dalam sejumlah penelitian, silent treatment dipahami sebagai tindakan sengaja membatasi atau menghentikan komunikasi sebagai respons terhadap konflik.
Perilaku tersebut dapat menimbulkan jarak emosional dan mengganggu kualitas komunikasi dalam hubungan.
Sementara dalam silent friendship, tidak ada maksud untuk menghukum atau membuat orang lain merasa bersalah.
Diam terjadi karena kedua orang memang merasa nyaman.
Perbedaannya terletak pada konteks dan niat. Diam karena merasa aman tidak sama dengan diam untuk menghindari atau menyakiti seseorang.
Kehadiran Kadang Sudah Cukup
Pada akhirnya, silent friendship menunjukkan bahwa kedekatan tidak selalu dapat diukur dari jumlah percakapan.
Ada kalanya bentuk dukungan paling sederhana adalah hadir tanpa menuntut apa pun.
Duduk bersama sambil mengerjakan pekerjaan masing-masing, makan, bermain ponsel, mendengarkan musik, atau sekadar berada di ruangan yang sama tetap bisa menjadi momen yang bermakna.
Bahkan, kemampuan untuk tidak merasa canggung dalam keheningan dapat menunjukkan bahwa seseorang tidak merasa harus terus-menerus tampil berbeda di depan temannya.
Hubungan yang terasa aman memberi ruang bagi setiap orang untuk menjadi dirinya sendiri.
Baca Juga: Mengapa Venezuela Punya Cadangan Minyak 303 Miliar Barel tetapi Justru Terlilit Utang Besar?
Ketika Diam Tidak Lagi Terasa Kosong
Pertemanan yang nyaman bukan berarti harus selalu ramai.
Ada hubungan yang tumbuh melalui obrolan panjang, tetapi ada pula yang justru terasa kuat karena mampu melewati keheningan tanpa rasa canggung.
Bagi Gen Z, pola pertemanan yang lebih fleksibel juga muncul di tengah kehidupan yang semakin padat dan komunikasi digital yang serba cepat.
Pembahasan mengenai low-maintenance friendship menunjukkan adanya kecenderungan sebagian orang untuk tidak lagi mengukur kedekatan hanya dari frekuensi komunikasi.
Karena itu, jangan buru-buru menganggap pertemanan sedang bermasalah hanya karena obrolan tidak sebanyak dulu.
Selama masih ada rasa saling menghargai, kepedulian, dan kenyamanan ketika kembali bertemu, hubungan tersebut bisa saja tetap berjalan dengan baik.
Sebab, dalam pertemanan yang benar-benar nyaman, seseorang tidak selalu membutuhkan kata-kata untuk merasa ditemani.
Terkadang, duduk bersama dalam diam pun sudah cukup untuk mengatakan bahwa kehadiran satu sama lain masih berarti.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang