Sering Cek Ponsel Setiap Ada Notifikasi? Kebiasaan Sepele Ini Bisa Membuat Fokusmu Terpecah

Widodo • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 08:07 WIB
Ponsel cuma bergetar sebentar, tapi perhatian kita bisa ikut berpindah. (ilustrasi)
Ponsel cuma bergetar sebentar, tapi perhatian kita bisa ikut berpindah. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Bunyi notifikasi ponsel mungkin hanya berlangsung beberapa detik.

Namun, perhatian yang terlanjur berpindah ke layar bisa membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke aktivitas sebelumnya.

Saat sedang bekerja, belajar, membaca, atau mengobrol dengan orang lain, sebuah getaran kecil dari ponsel bisa langsung memunculkan dorongan untuk melihat layar.

Apa pesan yang masuk?

Siapa yang mengirim?

Ada informasi baru apa?

Pertanyaan sederhana tersebut membuat seseorang berhenti sejenak dari aktivitas yang sedang dilakukan.

Jika terjadi berkali-kali dalam sehari, perhatian pun berisiko terus terpecah.

Persoalannya bukan hanya banyaknya notifikasi. Kebiasaan merasa harus segera mengetahui dan merespons setiap pemberitahuan juga menjadi bagian dari masalah.

Baca Juga: Bukan Cuma Mengajar, Ini Makna Guru Digugu Lan Ditiru dan Pentingnya Keteladanan di Sekolah

Satu Bunyi Bisa Mengubah Arah Perhatian

Ponsel saat ini menjadi pintu masuk berbagai jenis informasi.

Pesan pribadi, grup percakapan, media sosial, email, aplikasi belanja, berita, hingga berbagai layanan digital dapat mengirimkan pemberitahuan sepanjang hari.

Tidak semua informasi tersebut penting.

Namun, bunyi atau getaran yang muncul membuatnya terlihat seolah-olah harus segera diperhatikan.

Ketika sedang mengerjakan sesuatu, pengguna mungkin awalnya hanya berniat melihat satu pesan.

Setelah membuka ponsel, perhatian bisa berpindah ke pemberitahuan lain.

Dari pesan kemudian membuka media sosial, melihat video, membaca komentar, atau mengecek aplikasi lainnya.

Aktivitas yang awalnya hanya ingin dilakukan beberapa detik akhirnya bisa berlangsung lebih lama.

Inilah yang membuat notifikasi tidak selalu sekadar persoalan suara atau getaran.

Ada proses perpindahan perhatian yang terjadi setelah pemberitahuan muncul.

Tidak Semua Notifikasi Harus Dijawab Saat Itu Juga

Salah satu kebiasaan yang dapat membantu adalah mengubah cara melihat notifikasi.

Tidak semua pesan membutuhkan respons dalam hitungan detik.

Pesan dari keluarga tentu bisa mempunyai tingkat kepentingan berbeda dengan pemberitahuan promosi dari aplikasi belanja.

Begitu pula notifikasi media sosial yang sebenarnya dapat diperiksa ketika waktu luang.

Karena itu, pengguna bisa mulai memilah pemberitahuan berdasarkan kebutuhan.

Notifikasi dari aplikasi yang benar-benar penting dapat tetap diaktifkan.

Sementara pemberitahuan yang tidak mendesak bisa dibatasi atau dimatikan.

Dengan cara tersebut, ponsel tidak sepenuhnya menentukan kapan perhatian harus berpindah.

Pengguna justru memiliki kesempatan untuk menentukan informasi mana yang ingin diterima dan kapan ingin memeriksanya.

Saat Bekerja, Ponsel Bisa Menjadi Gangguan Kecil yang Berulang

Bayangkan seseorang sedang menyelesaikan pekerjaan.

Baru beberapa menit berkonsentrasi, ponsel bergetar.

Ia mengambil ponsel dan membaca pesan.

Setelah itu, perhatian kembali ke pekerjaan.

Beberapa menit kemudian muncul notifikasi lain.

Pola seperti ini terlihat sederhana karena setiap gangguan hanya berlangsung sebentar.

Namun, jika terjadi berulang kali, waktu yang digunakan untuk mengembalikan perhatian ke pekerjaan juga dapat bertambah.

Harvard Business Review pernah membahas bagaimana gangguan dan perpindahan tugas dapat membuat seseorang membutuhkan waktu untuk kembali fokus pada pekerjaan sebelumnya.

Gangguan yang berulang juga dapat membuat pekerjaan terasa lebih berat karena perhatian terus berpindah. 

Karena itu, mengurangi notifikasi bukan berarti seseorang harus menjauh sepenuhnya dari teknologi.

Tujuannya justru menciptakan ruang ketika perhatian bisa digunakan untuk satu aktivitas tanpa terus-menerus dipanggil oleh perangkat.

Notifikasi Juga Bisa Masuk ke Waktu Istirahat

Masalahnya tidak berhenti ketika jam kerja selesai.

Ponsel yang terus menerima pemberitahuan juga bisa ikut masuk ke waktu istirahat.

Seseorang mungkin sedang makan malam, menonton film, berbicara dengan keluarga, atau sekadar berbaring sebelum tidur.

Kemudian muncul bunyi dari ponsel.

Tanpa sadar, tangan kembali mengambil perangkat.

Kebiasaan tersebut membuat batas antara waktu aktif dan waktu beristirahat menjadi semakin tipis.

Pada malam hari, misalnya, seseorang yang ingin tidur bisa kembali membuka ponsel hanya karena melihat satu pemberitahuan.

Dari satu notifikasi, perhatian kemudian berpindah ke aplikasi lain.

Karena itu, membatasi notifikasi pada waktu tertentu dapat menjadi salah satu cara untuk menciptakan jarak antara aktivitas digital dan waktu pribadi.

Coba Atur Notifikasi Sesuai Prioritas

Tidak ada aturan bahwa semua notifikasi harus dimatikan.

Setiap orang memiliki kebutuhan berbeda.

Pekerja yang harus menerima pesan tertentu mungkin memang membutuhkan beberapa notifikasi tetap aktif.

Begitu pula orang yang sedang menunggu informasi penting.

Yang bisa dilakukan adalah memilah.

Pertama, tentukan aplikasi yang benar-benar penting.

Kedua, matikan pemberitahuan dari aplikasi yang tidak membutuhkan perhatian langsung.

Ketiga, manfaatkan mode senyap atau fitur seperti Do Not Disturb ketika sedang bekerja, belajar, beribadah, berolahraga, atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Keempat, tentukan waktu tertentu untuk mengecek pesan yang tidak mendesak.

Dengan pola tersebut, pengguna tidak harus terus-menerus menunggu ponsel berbunyi.

Tidak Harus Selalu Online

Kemudahan komunikasi memang menjadi salah satu manfaat utama ponsel.

Orang dapat menerima pesan dalam hitungan detik dan mengetahui informasi terbaru tanpa harus menunggu lama.

Namun, kemudahan tersebut juga perlu diimbangi dengan kemampuan menentukan batas.

Tidak selalu menjawab pesan dalam beberapa menit bukan berarti seseorang mengabaikan orang lain.

Ada aktivitas yang memang membutuhkan perhatian penuh.

Saat sedang membaca, misalnya, konsentrasi akan lebih mudah dipertahankan ketika gangguan diminimalkan.

Hal yang sama berlaku ketika sedang berbicara dengan orang lain.

Baca Juga: Gagal Bobol Gawang Indonesia meski Unggul Jumlah Pemain, Pelatih Malaysia Soroti Lini Belakang Garud

Memberikan perhatian penuh kepada orang di depan kita juga merupakan bentuk penggunaan teknologi yang lebih terkendali.

Pada akhirnya, persoalan notifikasi bukan semata-mata tentang apakah ponsel terlalu sering berbunyi.

Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang meresponsnya.

Jika setiap getaran selalu membuat tangan otomatis mengambil ponsel, mungkin sudah waktunya mengevaluasi kembali pengaturan notifikasi.

Teknologi seharusnya menjadi alat yang membantu aktivitas manusia.

Bukan sebaliknya, ketika setiap bunyi perangkat justru menentukan ke mana perhatian harus pergi.

Mematikan beberapa notifikasi, menggunakan mode senyap, atau memberi jeda dari layar mungkin terlihat sebagai langkah kecil.

Namun, kebiasaan tersebut dapat menjadi cara sederhana untuk mengembalikan kendali atas perhatian kepada pemiliknya.

Sebab, tidak semua hal yang muncul di layar harus diketahui sekarang juga.

Dan tidak semua pesan yang masuk harus langsung mendapatkan jawaban.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
fokus dan konsentrasi kebiasaan cek HP notifikasi ponsel penggunaan smartphone tips mengurangi notifikasi