Punya Banyak Planner tapi Jarang Dipakai? Bisa Jadi Kamu Terjebak Productivity Shopping

Siska Yudianti • Dipublikasikan Rabu, 30 September 2026 | 07:54 WIB
Punya banyak planner, notebook, dan pulpen estetik tetapi masih merasa tidak produktif? Bisa jadi masalahnya bukan kurang alat, tetapi belum mulai menggunakannya. (ilustrasi)
Punya banyak planner, notebook, dan pulpen estetik tetapi masih merasa tidak produktif? Bisa jadi masalahnya bukan kurang alat, tetapi belum mulai menggunakannya. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Punya planner baru rasanya seperti punya kesempatan untuk memulai hidup yang lebih teratur.

Begitu melihat halaman yang masih bersih, jadwal yang belum terisi, serta berbagai kolom untuk mencatat target, muncul perasaan bahwa rutinitas baru akan segera dimulai.

Hal serupa bisa terjadi ketika membeli notebook, jurnal, pulpen warna-warni, sticky notes, hingga berbagai perlengkapan meja kerja.

Masalahnya, semangat tersebut kadang hanya bertahan sampai barang pesanan tiba di rumah.

Planner masih kosong. Notebook belum dibuka.

Pulpen baru masih tersimpan rapi di dalam kemasan.

Tidak lama kemudian, muncul keinginan membeli planner lain karena desainnya dianggap lebih menarik atau sistemnya terlihat lebih cocok.

Kalau pernah mengalami pola seperti ini, bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan kebiasaan yang sering disebut productivity shopping.

Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kebiasaan membeli berbagai barang atau alat yang diharapkan bisa membantu seseorang menjadi lebih produktif, tetapi pembelian tersebut justru tidak selalu diikuti tindakan nyata.

Baca Juga: Jangan Cuma Kenal Ajeng Febria, Ada Safira Inema yang Suaranya Khas dan Punya Spesialisasi Lagu Jawa

Ketika Belanja Terasa Seperti Langkah Awal Menjadi Produktif

Ada alasan mengapa productivity shopping terasa menyenangkan.

Membeli sesuatu yang berkaitan dengan target baru dapat memberikan sensasi memulai dari awal.

Misalnya, seseorang ingin lebih rajin mencatat aktivitas harian. Ia kemudian membeli planner baru.

Ada pula yang ingin lebih sering menulis sehingga membeli notebook khusus.

Sementara itu, orang yang ingin membuat meja kerjanya lebih nyaman mungkin mulai mencari organizer, lampu meja, sticky notes, atau aksesori lainnya.

Semua pembelian tersebut sebenarnya bisa memiliki fungsi.

Persoalannya muncul ketika membeli perlengkapan mulai terasa seperti bagian utama dari proses menjadi produktif.

Sebuah tulisan mengenai productivity shopping bahkan menggambarkan kecenderungan membeli sesuatu setiap kali memiliki tujuan baru, seolah-olah barang tersebut menjadi syarat untuk memulai.

Padahal, banyak aktivitas sebenarnya sudah bisa dilakukan menggunakan sumber daya yang telah dimiliki.

Kenapa Barang Baru Bikin Semangat?

Barang baru memang dapat memberikan sensasi berbeda.

Planner yang masih kosong terlihat lebih menyenangkan dibandingkan buku catatan lama yang sudah penuh coretan.

Notebook dengan desain yang disukai juga bisa membuat aktivitas menulis terasa lebih menarik.

Belum lagi berbagai konten media sosial yang memperlihatkan meja kerja rapi, planner penuh warna, serta jurnal yang ditata secara estetik.

Akhirnya, produktivitas tidak hanya dikaitkan dengan aktivitas yang dilakukan, tetapi juga dengan perlengkapan yang digunakan.

Padahal, alat hanyalah alat.

Planner dapat membantu seseorang menyusun jadwal, tetapi planner tidak akan mengerjakan tugas tersebut.

Notebook dapat digunakan untuk mencatat target, tetapi keberadaan notebook tidak otomatis membuat target tercapai.

Bahkan, pembelian alat produktivitas terkadang justru menjadi bentuk penundaan karena seseorang merasa sudah melakukan sesuatu untuk mencapai tujuannya, meskipun pekerjaan utamanya belum dimulai.

Tanda-Tanda Kamu Mulai Terjebak

Productivity shopping tidak selalu berarti membeli banyak barang dalam jumlah besar.

Kebiasaan tersebut lebih terlihat dari pola antara membeli dan menggunakan.

Misalnya, kamu mempunyai beberapa planner tetapi sebagian besar halamannya masih kosong.

Atau setiap kali ingin memulai kebiasaan baru, hal pertama yang dilakukan justru mencari perlengkapannya di marketplace.

Bisa juga ketika kamu lebih sibuk membandingkan jenis notebook, ukuran kertas, warna pulpen, atau desain planner daripada menentukan pekerjaan yang harus dilakukan.

Tanda lainnya adalah muncul pikiran bahwa aktivitas tertentu baru bisa dimulai setelah mempunyai perlengkapan yang dianggap tepat.

Padahal, sering kali perlengkapan yang sudah ada sebenarnya cukup.

Kamu ingin mulai mencatat pengeluaran, tetapi merasa membutuhkan jurnal keuangan khusus.

Ingin membuat daftar pekerjaan, tetapi merasa harus membeli planner baru.

Ingin mulai menulis, tetapi notebook yang tersedia dianggap kurang bagus.

Pada akhirnya, aktivitas utama terus tertunda sementara keranjang belanja semakin penuh.

Planner Baru Tidak Selalu Membuat Lebih Produktif

Memiliki planner tentu bukan sesuatu yang salah.

Begitu juga membeli notebook baru atau perlengkapan kerja yang memang dibutuhkan.

Alat produktivitas dapat membantu jika digunakan dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan dan rutinitas seseorang.

Persoalannya adalah ketika pembelian tersebut menggantikan tindakan yang sebenarnya ingin dilakukan.

Planner paling mahal sekalipun tetap hanya berupa buku jika tidak pernah digunakan.

Notebook dengan desain paling menarik juga tidak akan menghasilkan tulisan jika halamannya terus kosong.

Karena itu, sebelum membeli perlengkapan baru, ada pertanyaan sederhana yang bisa dicoba.

Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini, atau sebenarnya hanya membutuhkan dorongan untuk mulai?

Pertanyaan tersebut dapat membantu membedakan kebutuhan dengan keinginan membeli sesuatu karena merasa akan menjadi lebih produktif.

Coba Mulai dengan yang Sudah Ada

Salah satu cara sederhana untuk keluar dari pola productivity shopping adalah menggunakan barang yang sudah dimiliki.

Tidak perlu menunggu Senin.

Tidak perlu menunggu awal bulan.

Tidak perlu menunggu datangnya planner baru.

Jika memiliki notebook kosong di rumah, gunakan halaman pertama hari ini.

Jika punya planner lama yang masih layak, buka kembali dan mulai isi jadwal.

Bahkan selembar kertas pun cukup untuk menuliskan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini.

Baca Juga: 7 Momen Pestapora 2026 yang Jadi Sorotan, Ada Comeback Syahrini hingga Kejutan Adam Suseno

Pendekatan tersebut sejalan dengan gagasan bahwa seseorang sebenarnya sering kali sudah mempunyai sumber daya yang cukup untuk memulai sebuah tujuan tanpa harus membeli perlengkapan baru.

Setelah kebiasaan benar-benar berjalan dan memang membutuhkan alat tambahan, pembelian baru tentu bisa dipertimbangkan.

Dengan begitu, barang yang dibeli menjadi penunjang aktivitas, bukan pengganti aktivitas itu sendiri.

Pada akhirnya, menjadi produktif tidak ditentukan oleh seberapa estetik meja kerja atau seberapa banyak planner yang tersusun di rak.

Produktivitas lebih berkaitan dengan apa yang benar-benar dilakukan.

Satu notebook sederhana yang dipakai setiap hari bisa jauh lebih berguna dibandingkan lima notebook mahal yang semuanya masih kosong.

Sebab, planner baru memang bisa memberikan semangat untuk memulai.

Tetapi yang membuat sebuah rencana benar-benar berjalan tetaplah tindakan setelah halaman pertama dibuka.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
tips produktif productivity shopping planner produktivitas kebiasaan beli notebook perlengkapan produktivitas