RADARBONANG.ID – Pernah melihat foto seseorang di media sosial yang terlihat begitu sempurna, lalu tanpa sadar membandingkannya dengan penampilan sendiri?.
Wajah mulus, kulit tanpa noda, bentuk tubuh tertentu hingga fitur wajah yang dianggap ideal kini begitu mudah ditemukan di linimasa.
Kondisi tersebut menjadi bagian dari fenomena yang kerap disebut plastic beauty.
Istilah ini menggambarkan situasi ketika penampilan fisik dan standar kecantikan semakin mendapat perhatian besar dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena tersebut tidak selalu berkaitan dengan operasi plastik atau prosedur kecantikan.
Baca Juga: Verstappen Konsisten di Tiga Besar FP1 dan FP2, Red Bull Punya Modal saat Kualifikasi GP Azerbaijan
Plastic beauty juga dapat menggambarkan dorongan untuk memiliki penampilan yang semakin mendekati gambaran ideal yang berkembang di masyarakat dan media sosial.
Media Sosial Ikut Membentuk Standar Cantik
Media sosial membuat gambaran mengenai kecantikan dapat menyebar dengan sangat cepat.
Pengguna bisa melihat ratusan bahkan ribuan konten kecantikan hanya dalam waktu singkat.
Foto dan video yang muncul biasanya telah melalui proses tertentu sebelum dipublikasikan.
Pencahayaan, sudut kamera, tata rias, pose, filter, hingga penyuntingan dapat membuat tampilan seseorang terlihat berbeda.
Masalahnya, konten tersebut terkadang dilihat sebagai gambaran kondisi nyata.
Wajah yang tampak sangat halus, hidung yang terlihat lebih tegas, rahang yang semakin tirus, atau bentuk tubuh tertentu dapat berulang kali muncul dalam berbagai konten.
Jika terus dikonsumsi, gambaran tersebut berpotensi membuat seseorang menganggap penampilan seperti itulah yang seharusnya dimiliki.
Padahal, apa yang terlihat di layar tidak selalu sama dengan kondisi seseorang dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Filter Terlihat Seperti Kenyataan
Filter digital menjadi salah satu fitur yang membuat perubahan penampilan semakin mudah dilakukan.
Dalam hitungan detik, bentuk wajah, warna kulit, hingga berbagai detail fisik dapat terlihat berbeda.
Penggunaan filter sebenarnya dapat menjadi bagian dari kreativitas dalam membuat konten.
Namun, persoalan dapat muncul ketika hasil filter mulai dianggap sebagai standar penampilan sehari-hari.
Seseorang bisa terbiasa melihat wajahnya dalam versi yang telah dimodifikasi. Ketika kembali melihat penampilan tanpa filter, perbedaan tersebut dapat terasa semakin besar.
Hal inilah yang membuat batas antara tampilan digital dan kondisi sebenarnya menjadi semakin tipis.
Bukan berarti penggunaan filter atau riasan selalu menjadi sesuatu yang salah.
Mengubah penampilan untuk kebutuhan foto, video, atau sekadar mengikuti gaya merupakan pilihan pribadi.
Yang perlu diperhatikan adalah ketika perubahan tersebut membuat seseorang merasa bahwa penampilan alami dirinya tidak cukup baik.
Tekanan untuk Selalu Terlihat Sempurna
Plastic beauty juga berkaitan dengan tekanan untuk selalu terlihat menarik.
Di media sosial, seseorang tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga dapat menjadi bagian dari proses tersebut.
Pengguna dapat mengunggah foto terbaik, memilih sudut yang dianggap paling bagus, menggunakan filter, lalu mendapatkan respons dari orang lain.
Jumlah suka, komentar, maupun respons positif kemudian dapat ikut memengaruhi cara seseorang menilai penampilannya.
Dalam kondisi tertentu, perhatian terhadap penampilan dapat berubah menjadi tuntutan pribadi.
Hal kecil pada wajah atau tubuh yang sebelumnya tidak dianggap masalah bisa mulai terlihat sebagai sesuatu yang harus diperbaiki.
Misalnya, bentuk hidung, ukuran bibir, kondisi kulit, bentuk rahang, hingga berat badan dapat menjadi sumber perhatian berlebihan.
Padahal, setiap orang memiliki karakter fisik yang berbeda.
Tidak semua wajah harus memiliki bentuk yang sama untuk dianggap menarik.
Bedakan Merawat Diri dan Mengejar Standar
Merawat diri dan berusaha memenuhi standar kecantikan merupakan dua hal yang tidak selalu sama.
Merawat diri dapat dilakukan karena seseorang ingin merasa nyaman, sehat, dan percaya diri dengan dirinya sendiri.
Sementara itu, tekanan untuk mengikuti standar tertentu bisa muncul ketika seseorang merasa harus berubah agar mendapatkan penerimaan.
Perbedaan tersebut penting untuk disadari, terutama ketika tren kecantikan terus berganti.
Apa yang dianggap menarik hari ini belum tentu tetap populer beberapa tahun kemudian.
Model alis, gaya rambut, bentuk riasan, warna kulit, hingga bentuk wajah yang sedang menjadi tren dapat berubah mengikuti zaman.
Jika penampilan selalu mengikuti tren, seseorang bisa terus merasa ada bagian dari dirinya yang perlu diubah.
Cantik Tidak Harus Mengikuti Satu Bentuk
Salah satu persoalan dari standar kecantikan yang terlalu sempit adalah anggapan bahwa hanya ada satu bentuk penampilan yang ideal.
Padahal, karakter fisik manusia sangat beragam. Bentuk wajah, warna kulit, tekstur rambut, tinggi badan, maupun bentuk tubuh setiap orang memiliki perbedaan.
Keragaman tersebut seharusnya tidak otomatis dianggap sebagai kekurangan hanya karena tidak sesuai dengan tren tertentu.
Media sosial juga perlu dilihat sebagai ruang yang menampilkan pilihan konten, bukan gambaran keseluruhan kehidupan manusia.
Apa yang terlihat di layar merupakan hasil dari pilihan seseorang mengenai apa yang ingin ditampilkan.
Karena itu, penting untuk menyadari bahwa foto dan video di media sosial tidak selalu merepresentasikan kondisi seseorang secara utuh.
Gen Z dan Tantangan Standar Kecantikan Digital
Generasi muda menjadi salah satu kelompok yang sangat dekat dengan perkembangan media sosial.
Setiap hari, berbagai tren kecantikan baru dapat muncul dan menyebar dalam waktu singkat.
Satu gaya riasan bisa menjadi populer, kemudian berganti dengan tren lainnya.
Begitu pula dengan gaya rambut, bentuk alis, skincare, hingga cara seseorang menampilkan dirinya di depan kamera.
Mengikuti tren tentu bukan sesuatu yang harus dihindari.
Selama dilakukan karena keinginan pribadi dan membuat seseorang merasa nyaman, tren dapat menjadi bagian dari ekspresi diri.
Namun, penting untuk tetap memiliki jarak dengan standar yang muncul di dunia digital.
Tidak semua tren harus diikuti. Tidak semua fitur wajah harus diubah.
Dan tidak semua penampilan yang mendapatkan banyak perhatian di media sosial harus menjadi patokan untuk menilai diri sendiri.
Baca Juga: Di Balik Ekonomi Korea Selatan yang Maju, Ada Budaya Kerja Ppalli-Ppalli dan Tekanan Hidup Generasi
Pada akhirnya, plastic beauty bukan hanya persoalan tentang wajah, tubuh, atau tren kecantikan.
Fenomena tersebut juga berkaitan dengan bagaimana media sosial membentuk gambaran mengenai penampilan ideal.
Semakin sering standar tertentu ditampilkan, semakin mudah pula standar tersebut dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Karena itu, memahami perbedaan antara tampilan digital dan kondisi nyata menjadi penting.
Merawat diri boleh dilakukan, mengikuti tren juga merupakan pilihan.
Namun, penerimaan terhadap diri tidak seharusnya bergantung sepenuhnya pada standar kecantikan yang terus berubah.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang