Di Balik Ekonomi Korea Selatan yang Maju, Ada Budaya Kerja Ppalli-Ppalli dan Tekanan Hidup Generasi

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 12:13 WIB
Di balik kemajuan ekonomi Korea Selatan, ada budaya kerja serba cepat yang dikenal dengan ppalli-ppalli. Kini generasi muda mulai mencari work-life balance. (ilustrasi)
Di balik kemajuan ekonomi Korea Selatan, ada budaya kerja serba cepat yang dikenal dengan ppalli-ppalli. Kini generasi muda mulai mencari work-life balance. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Korea Selatan dikenal sebagai salah satu negara dengan perkembangan ekonomi yang sangat pesat.

Di balik kemajuan tersebut, terdapat budaya kerja yang selama bertahun-tahun identik dengan tuntutan tinggi, ritme cepat, serta jam aktivitas yang panjang.

Fenomena itu tidak muncul begitu saja. Budaya kerja di Korea Selatan berkaitan erat dengan perjalanan sejarah negara tersebut setelah Perang Korea pada dekade 1950-an.

Pada masa pembangunan kembali, pemerintah Korea Selatan mendorong industrialisasi secara agresif.

Kerja keras kemudian dipandang sebagai bagian dari perjuangan nasional untuk mengejar ketertinggalan dan membangun kembali perekonomian.

Warisan Kerja Keras dari Masa Pembangunan

Dikutip dari kanal YouTube Kacamata Dunia 99 melalui video berjudul "Mengapa Jam kerja di Korea Selatan sangat tidak masuk akal?", mentalitas kerja keras yang terbentuk pada masa tersebut kemudian berkembang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Pembangunan ekonomi membutuhkan tenaga kerja yang mampu bergerak cepat dan bekerja dengan tuntutan tinggi.

Baca Juga: Esteban Ocon Buka Opsi Tim Lain untuk 2027, Kursinya di Haas Masih Menunggu Kepastian

Pola tersebut berlangsung selama bertahun-tahun hingga akhirnya memengaruhi budaya profesional di Korea Selatan.

Dedikasi terhadap pekerjaan kemudian menjadi salah satu nilai yang cukup kuat dalam kehidupan masyarakat.

Bagi sebagian pekerja, tuntutan pekerjaan tidak hanya berkaitan dengan menyelesaikan tugas, tetapi juga dengan kemampuan mengikuti ritme perusahaan yang serba cepat.

Budaya tersebut turut berkembang di lingkungan perusahaan besar Korea Selatan yang dikenal dengan istilah chaebol.

Perusahaan-perusahaan raksasa tersebut menjadi salah satu kekuatan penting dalam pertumbuhan ekonomi Korea Selatan.

Namun, keberhasilan ekonomi yang dibangun melalui ritme kerja tinggi juga menghadirkan persoalan lain.

Prinsip Ppalli-Ppalli dan Kehidupan Serba Cepat

Salah satu istilah yang sering dikaitkan dengan budaya Korea Selatan adalah ppalli-ppalli.

Secara umum, istilah tersebut menggambarkan kebiasaan untuk melakukan sesuatu dengan cepat.

Menurut ulasan dalam video Kacamata Dunia 99, budaya ppalli-ppalli menjadi bagian dari proses pembangunan Korea Selatan.

Negara tersebut dianggap berada dalam kondisi harus mengejar ketertinggalan sehingga tidak memiliki banyak waktu untuk bergerak secara perlahan.

"Ppali-Ppali menjadi salah satu bagian budaya pembangunan Korea Selatan. Karena negara ini tidak memiliki waktu untuk berjalan santai, mereka sedang mengejar. Dan selama beberapa dekade strategi itu berhasil," demikian penjelasan yang dikutip dari video tersebut.

Prinsip bergerak cepat memang berkontribusi terhadap perubahan besar yang dialami Korea Selatan.

Namun, ketika pola tersebut diterapkan secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari, muncul pertanyaan mengenai batas antara produktivitas dan tekanan.

Tekanan Tidak Hanya Terjadi di Dunia Kerja

Persaingan tinggi ternyata tidak hanya dirasakan oleh pekerja.

Tekanan untuk mencapai kesuksesan juga sudah muncul sejak seseorang masih berada di bangku pendidikan.

Sistem pendidikan Korea Selatan dikenal sangat kompetitif.

Pelajar harus menghabiskan banyak waktu untuk mengikuti kegiatan belajar, baik di sekolah formal maupun lembaga pendidikan tambahan.

Sebagian pelajar bahkan menjalani aktivitas pendidikan hingga malam hari.

Tujuannya adalah mempersiapkan diri menghadapi persaingan masuk universitas, terutama perguruan tinggi yang dianggap memiliki reputasi tinggi.

Kondisi tersebut membuat kehidupan masyarakat Korea Selatan berjalan dalam lingkungan yang sangat kompetitif.

Sejak usia muda, seseorang telah terbiasa dengan target, persaingan, serta tuntutan untuk mencapai hasil terbaik.

Pola itu kemudian berlanjut ketika seseorang memasuki dunia profesional.

Ketika Kesuksesan Mulai Dipertanyakan

Di tengah perubahan kehidupan modern, budaya kerja yang sangat menuntut mulai menghadapi tantangan baru.

Kelelahan fisik dan mental menjadi salah satu persoalan yang disoroti dalam pembahasan mengenai kehidupan masyarakat Korea Selatan.

Ulasan Kacamata Dunia 99 menyebut kondisi tersebut sebagai salah satu sisi gelap dari budaya kerja keras yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari proses pembangunan.

Generasi muda kemudian mulai mempertanyakan kembali ukuran kesuksesan yang selama ini dianggap ideal.

Memiliki pekerjaan bergengsi, penghasilan tinggi, atau bekerja di perusahaan besar tidak selalu dianggap cukup untuk memberikan kehidupan yang seimbang.

Generasi Muda Mencari Work-Life Balance

Perubahan cara pandang tersebut turut terlihat dari meningkatnya perhatian terhadap work-life balance.

Kehidupan pribadi mulai dipandang sebagai sesuatu yang perlu mendapatkan ruang di tengah tuntutan pekerjaan.

Bagi sebagian anak muda, kesuksesan tidak lagi semata-mata diukur dari seberapa lama seseorang bekerja atau seberapa tinggi posisi yang berhasil dicapai.

Kesehatan kehidupan sosial, waktu bersama keluarga, kesempatan beristirahat, hingga kebebasan menikmati kehidupan pribadi ikut menjadi pertimbangan.

Baca Juga: Isack Hadjar Resmi Bertahan di Red Bull hingga 2027, Kembali Dampingi Verstappen di Baku

Persoalan demografi Korea Selatan juga menjadi bagian dari tantangan yang muncul.

Tingkat kelahiran yang terus menurun kerap dikaitkan dengan berbagai faktor, termasuk tingginya biaya hidup serta tekanan yang dirasakan generasi muda.

Kondisi tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam cara generasi muda melihat masa depan.

Ketika tuntutan kehidupan semakin tinggi, sebagian masyarakat mulai mempertimbangkan kembali apakah standar kesuksesan lama masih sesuai dengan kebutuhan kehidupan modern.

Budaya ppalli-ppalli yang selama puluhan tahun menjadi bagian dari perjalanan pembangunan Korea Selatan memang membantu membentuk masyarakat yang bergerak cepat. Namun, perkembangan zaman membuat keseimbangan hidup semakin mendapat perhatian.

Pada akhirnya, tantangan Korea Selatan bukan hanya bagaimana mempertahankan produktivitas ekonomi, tetapi juga bagaimana menciptakan kehidupan yang memberikan ruang lebih besar bagi kesejahteraan masyarakat.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : youtube.com/@kacamatadunia99
budaya kerja Korea Selatan ppalli-ppalli Korea Selatan jam kerja Korea Selatan work-life balance Korea kehidupan Korea Selatan\