Pernah Menyesal Setelah Bertindak? Kenali Perilaku Impulsif yang Sering Muncul Tanpa Disadari

Arinie Khaqqo • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 10:36 WIB
Pernah checkout barang tanpa rencana atau mengirim chat saat emosi lalu langsung menyesal? Bisa jadi keputusan itu muncul karena dorongan impulsif. Kenali pemicunya dan coba beri jeda sebelum bertindak. (ilustrasi)
Pernah checkout barang tanpa rencana atau mengirim chat saat emosi lalu langsung menyesal? Bisa jadi keputusan itu muncul karena dorongan impulsif. Kenali pemicunya dan coba beri jeda sebelum bertindak. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Pernah tiba-tiba checkout barang hanya karena melihat tulisan “diskon”? Atau langsung mengirim pesan saat sedang marah, kemudian menyesal beberapa menit setelahnya?

Momen seperti itu mungkin terasa sepele. Namun, keputusan yang dibuat karena dorongan sesaat dapat berkaitan dengan perilaku impulsif.

Impulsif sering kali hanya dikaitkan dengan kebiasaan belanja.

Seseorang awalnya hanya berniat membuka marketplace untuk melihat-lihat, tetapi tanpa terasa sudah memasukkan beberapa barang ke keranjang dan menekan tombol checkout.

Padahal, perilaku impulsif memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Dorongan untuk melakukan sesuatu secara cepat dapat muncul ketika seseorang sedang mengalami emosi kuat, menghadapi godaan, berada dalam tekanan, atau menemukan situasi yang membuat keputusan jangka panjang terasa kurang penting dibandingkan kepuasan sesaat.

Baca Juga: Mau Kondangan tapi Tetap On Point? Ini 6 Tips Outfit Gen Z agar Stylish dan Tetap Nyaman

Apa Itu Perilaku Impulsif?

Secara sederhana, perilaku impulsif merupakan kecenderungan melakukan sesuatu dengan cepat berdasarkan dorongan sesaat, sementara pertimbangan terhadap konsekuensinya relatif terbatas.

Keputusan seperti ini tidak selalu berarti buruk.

Dalam situasi tertentu, seseorang memang perlu mengambil keputusan dengan cepat.

Masalahnya muncul ketika dorongan sesaat terlalu sering membuat seseorang bertindak tanpa memberikan waktu yang cukup untuk berpikir.

Contohnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Membeli barang karena sedang promo, membalas chat ketika emosi, memotong pembicaraan karena tidak sabar, atau tiba-tiba mengubah rencana tanpa mempertimbangkan akibatnya dapat menjadi contoh tindakan yang dilakukan secara spontan.

Karena itu, seseorang tidak bisa langsung dianggap memiliki kebiasaan buruk hanya karena pernah mengambil keputusan secara impulsif.

Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah seberapa sering perilaku tersebut terjadi dan apakah tindakan itu menimbulkan dampak yang merugikan.

Emosi Bisa Membuat Kita Lebih Mudah Bertindak

Salah satu faktor yang dapat memengaruhi perilaku impulsif adalah kondisi emosi.

Ketika sedang marah, sedih, kecewa, sangat senang, atau bersemangat, seseorang dapat lebih mudah mengikuti perasaan yang sedang dominan.

Dalam kondisi tersebut, keinginan untuk mendapatkan kepuasan segera terkadang terasa lebih kuat daripada pertimbangan mengenai apa yang mungkin terjadi setelahnya.

Itulah sebabnya seseorang bisa mengatakan sesuatu ketika sedang marah, kemudian menyesal setelah emosinya mereda.

Hal serupa dapat terjadi ketika seseorang sedang sangat senang.

Keinginan untuk menikmati momen tersebut dapat membuat pertimbangan mengenai konsekuensi menjadi tidak terlalu diperhatikan.

Media Sosial Membuat Godaan Makin Dekat

Lingkungan sekitar juga dapat menjadi pemicu.

Notifikasi flash sale, video produk yang sedang viral, ajakan teman, hingga situasi yang penuh tekanan dapat mendorong seseorang mengambil keputusan lebih cepat.

Media sosial membuat berbagai pemicu tersebut semakin mudah ditemukan.

Seseorang tidak perlu datang ke pusat perbelanjaan untuk menemukan barang yang menarik. Cukup membuka aplikasi, berbagai rekomendasi produk, konten promosi, dan tren baru sudah muncul di layar.

Algoritma rekomendasi juga membuat seseorang dapat terus menemukan sesuatu yang sesuai dengan minatnya.

Akibatnya, kesempatan untuk tergoda mengambil keputusan secara cepat bisa muncul berkali-kali dalam sehari.

Impulsif dan Spontan Tidak Selalu Sama

Impulsif dan spontan memang sering dianggap memiliki arti yang sama. Padahal, keduanya tidak selalu identik.

Tindakan spontan dapat terjadi tanpa perencanaan sebelumnya, tetapi seseorang masih bisa mempertimbangkan keadaan sebelum mengambil keputusan.

Misalnya, tiba-tiba mengajak teman makan karena kebetulan sedang berada di lokasi yang sama.

Keputusan tersebut memang tidak direncanakan. Namun, bukan berarti keputusan itu otomatis menjadi perilaku impulsif.

Sementara itu, perilaku impulsif lebih berkaitan dengan dorongan untuk segera bertindak ketika konsekuensi atau pilihan lain belum dipikirkan secara matang.

Jadi, tidak semua keputusan mendadak harus dianggap sebagai sesuatu yang bermasalah.

Contoh Impulsif yang Sering Terjadi

Perilaku impulsif dapat muncul dalam berbagai bentuk.

Pertama, belanja tanpa rencana. Seseorang membeli barang karena tertarik dengan promo atau tren, padahal sebelumnya tidak berniat membelinya.

Kedua, bereaksi ketika emosi. Contohnya langsung mengirim pesan ketika sedang marah, lalu baru memikirkan dampaknya setelah pesan tersebut terkirim.

Ketiga, sulit menunggu. Keinginan mendapatkan sesuatu dengan segera dapat membuat seseorang mengambil keputusan tanpa memberikan cukup waktu untuk mempertimbangkan pilihan.

Keempat, mudah terpengaruh lingkungan. Ajakan teman, tren, atau suasana tertentu dapat membuat seseorang mengubah keputusan secara mendadak.

Kelima, mengubah rencana secara tiba-tiba tanpa terlebih dahulu mempertimbangkan dampaknya terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Bagaimana Cara Memberikan Jeda?

Tidak semua dorongan harus langsung diikuti.

Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah memberikan jeda sebelum mengambil tindakan.

Ketika muncul keinginan yang sangat kuat untuk melakukan sesuatu, coba berhenti sebentar dan tanyakan kepada diri sendiri.

“Apa yang sebenarnya saya inginkan?”

“Apa akibatnya jika saya melakukan ini?”

“Apakah keputusan ini masih masuk akal jika saya memikirkannya beberapa jam atau beberapa hari kemudian?”

Untuk urusan belanja, memasukkan barang ke wishlist terlebih dahulu dapat menjadi alternatif daripada langsung melakukan checkout.

Jika setelah beberapa waktu barang tersebut masih dianggap dibutuhkan, keputusan pembelian bisa dipertimbangkan kembali dengan kondisi yang lebih tenang.

Sementara dalam situasi emosional, memberikan waktu sebelum membalas pesan dapat membantu seseorang melihat persoalan dari sudut pandang yang lebih tenang.

Baca Juga: Jangan Terburu-Buru Beli HP Baru, Ini 5 Hal yang Bisa Membuat Harganya Berubah

Kenali Apa yang Biasanya Menjadi Pemicu

Selain memberikan jeda, mengenali situasi yang biasanya membuat diri lebih mudah bertindak impulsif juga penting.

Setiap orang dapat memiliki pemicu yang berbeda.

Ada yang lebih mudah tergoda ketika melihat promo.

Ada pula yang cenderung bereaksi ketika sedang marah atau merasa tertekan.

Dengan mengetahui pola tersebut, seseorang dapat menyiapkan strategi sederhana untuk menciptakan jarak antara dorongan dan tindakan.

Pada akhirnya, menjadi spontan bukan sesuatu yang harus selalu dihindari.

Namun, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bertindak dapat membantu seseorang mengambil keputusan yang lebih sesuai dengan kondisi dan tujuan.

Perilaku impulsif juga bukan sekadar soal “kalap belanja”.

Ia bisa muncul ketika berbicara, berkomunikasi, mengatur rencana, maupun menghadapi berbagai situasi sehari-hari.

Memahami pemicunya menjadi langkah awal untuk mengenali kapan sebuah dorongan memang perlu diikuti dan kapan sebaiknya diberi jeda.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
perilaku impulsif apa itu perilaku impulsif contoh perilaku impulsif penyebab perilaku impulsif cara mengurangi perilaku impulsif