RADARBONANG.ID – Media sosial membuat sebuah ucapan atau tindakan seseorang dapat dengan cepat menjadi perhatian publik.
Dalam hitungan waktu, sebuah unggahan bisa mendapatkan banyak respons, mulai dari dukungan, kritik, hingga penolakan.
Dalam kondisi tertentu, respons tersebut bahkan dapat berkembang menjadi gerakan untuk berhenti memberikan dukungan kepada seseorang atau kelompok. Fenomena semacam ini sering disebut sebagai cancel culture.
Istilah tersebut semakin sering digunakan dalam percakapan di ruang digital.
Namun, cancel culture sebenarnya tidak sekadar berarti seseorang mendapatkan kritik karena melakukan kesalahan.
Ada pola yang lebih spesifik, yakni ketika publik memutuskan untuk menarik atau menghentikan dukungan karena ucapan maupun tindakan seseorang dianggap menyinggung atau tidak dapat diterima.
Apa Sebenarnya Arti Cancel Culture?
Cambridge Dictionary mendefinisikan cancel culture sebagai tindakan menolak dan berhenti memberikan dukungan kepada seseorang karena ucapan atau perbuatannya dianggap menyinggung.
Baca Juga: Sering Gak Enakan dan Selalu Bilang Iya? Ini Alasan Kamu Perlu Mulai Belajar Berkata Tidak
Dengan pengertian tersebut, cancel culture dapat muncul ketika publik mengambil sikap terhadap seseorang berdasarkan perilaku atau pernyataan yang dianggap bermasalah.
Bentuknya dapat bermacam-macam. Di media sosial, misalnya, pengguna dapat berhenti mengikuti akun tertentu, tidak lagi membeli produk yang berkaitan dengan seseorang, atau menyatakan penolakan melalui unggahan dan komentar.
Ketika dilakukan oleh banyak orang dalam waktu yang berdekatan, respons tersebut dapat berkembang menjadi perhatian publik yang lebih luas.
Fenomena inilah yang membuat cancel culture sering dikaitkan dengan kekuatan media sosial dalam membentuk opini publik.
Media Sosial Membuat Respons Menyebar Cepat
Sebelum media sosial berkembang seperti sekarang, kontroversi mengenai ucapan atau tindakan seseorang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyebar.
Kini, sebuah pernyataan dapat direkam, diunggah, dibagikan ulang, lalu dibicarakan oleh banyak pengguna dalam waktu relatif singkat.
Algoritma platform digital juga membuat sebuah topik dapat menjangkau pengguna yang sebelumnya tidak mengetahui persoalan tersebut.
Akibatnya, respons terhadap sebuah kontroversi tidak hanya datang dari orang-orang yang berada di sekitar pihak yang bersangkutan.
Pengguna dari berbagai wilayah juga dapat ikut memberikan pendapat.
Dalam kondisi seperti itu, kritik yang awalnya muncul dari sejumlah pengguna dapat berkembang menjadi penolakan yang jauh lebih luas.
Cancel Culture dan Call-Out Culture
Istilah cancel culture juga kerap muncul bersamaan dengan call-out culture.
Keduanya sama-sama berkaitan dengan tindakan menyoroti ucapan atau perilaku yang dianggap bermasalah di ruang publik.
Meski demikian, keduanya tidak selalu memiliki makna yang sama.
Call-out culture lebih berkaitan dengan tindakan memanggil atau menyoroti seseorang karena ucapan maupun perilaku yang dianggap bermasalah.
Sementara itu, cancel culture memiliki unsur tambahan berupa penolakan atau penghentian dukungan terhadap pihak yang dianggap melakukan kesalahan.
Karena itu, seseorang yang mendapatkan kritik di media sosial belum tentu sedang mengalami cancel culture.
Kritik dapat menjadi bagian dari percakapan publik. Namun, ketika kritik tersebut berkembang menjadi ajakan atau tindakan untuk menarik dukungan, istilah cancel culture mulai lebih relevan digunakan.
Mengapa Cancel Culture Menjadi Perdebatan?
Fenomena ini tidak hanya memiliki satu sudut pandang. Cancel culture juga menjadi bahan perdebatan karena dampaknya terhadap seseorang maupun ruang publik.
Salah satu pandangan yang dicatat Cambridge Dictionary menyebut praktik tersebut dapat membuat orang yang melakukan kesalahan tidak memiliki kesempatan untuk meminta maaf dan belajar dari kesalahannya.
Dalam situasi tertentu, kesalahan yang dilakukan seseorang dapat terus dibicarakan meskipun pihak tersebut sudah memberikan klarifikasi atau permintaan maaf.
Hal tersebut kemudian menimbulkan pertanyaan mengenai batas antara memberikan pertanggungjawaban dan memberikan kesempatan bagi seseorang untuk memperbaiki kesalahan.
Namun, di sisi lain, cancel culture juga dapat dipahami sebagai bentuk respons publik terhadap perilaku yang dianggap tidak dapat diterima.
Tindakan menarik dukungan dapat menjadi cara bagi masyarakat untuk menunjukkan bahwa sebuah ucapan atau tindakan memiliki konsekuensi.
Cambridge Dictionary juga mencatat penggunaan istilah cancel culture untuk menggambarkan tindakan menyoroti dan mengeluarkan orang yang dianggap bermasalah dari budaya arus utama.
Tidak Semua Kritik Bisa Disebut Cancel Culture
Penggunaan istilah cancel culture secara sembarangan juga dapat membuat maknanya menjadi terlalu luas.
Seseorang yang mendapatkan komentar negatif di media sosial, misalnya, belum tentu sedang mengalami cancel culture.
Begitu pula ketika seseorang mendapatkan kritik terhadap pendapat yang disampaikan. Kritik dan perbedaan pendapat merupakan bagian dari percakapan publik.
Cancel culture lebih berkaitan dengan pola penolakan dan penghentian dukungan sebagai respons terhadap ucapan atau tindakan yang dianggap menyinggung.
Perbedaannya terletak pada tindakan setelah kritik muncul. Apakah publik hanya menyampaikan ketidaksetujuan, atau terdapat upaya untuk menarik dukungan terhadap pihak yang menjadi sasaran?
Pertanyaan tersebut penting agar istilah cancel culture tidak digunakan untuk setiap bentuk kritik di internet.
Fenomena yang Muncul di Tengah Budaya Digital
Semakin aktif masyarakat menggunakan media sosial, semakin besar pula ruang bagi opini publik untuk berkembang.
Baca Juga: Pedro Acosta Hadapi Marc Marquez, Persaingan Baru MotoGP Mulai Terbentuk
Seseorang dapat memperoleh dukungan dalam satu waktu, tetapi menghadapi penolakan ketika muncul pernyataan atau tindakan yang dianggap bermasalah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa reputasi di ruang digital dapat dipengaruhi oleh percakapan yang berlangsung secara terbuka dan cepat.
Bagi pengguna media sosial, memahami istilah cancel culture juga penting agar tidak setiap kontroversi langsung diberi label yang sama.
Pada akhirnya, cancel culture menggambarkan fenomena ketika kritik berkembang menjadi penolakan dan penghentian dukungan terhadap seseorang atau kelompok.
Istilah ini menjadi bagian dari percakapan digital karena media sosial memungkinkan masyarakat menyampaikan kritik, membangun opini, sekaligus menentukan apakah mereka masih ingin memberikan dukungan.
Di tengah cepatnya arus informasi, memahami perbedaan antara kritik, call-out culture, dan cancel culture dapat membantu melihat sebuah kontroversi secara lebih utuh.
Sebab, tidak setiap kritik merupakan cancel culture, tetapi sebuah kritik dapat berkembang menjadi fenomena tersebut ketika diikuti penarikan dukungan secara luas.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang