RADARBONANG.ID - Abstrak menjadi salah satu bagian penting dalam karya ilmiah karena berisi gambaran singkat mengenai keseluruhan penelitian.
Lewat bagian ini, pembaca dapat mengetahui persoalan yang dibahas, tujuan penelitian, metode yang digunakan, hingga hasil yang diperoleh tanpa harus membaca seluruh isi karya ilmiah.
Bagi mahasiswa, kemampuan menyusun abstrak menjadi hal yang perlu diperhatikan, terutama ketika mengerjakan makalah, skripsi, laporan penelitian, maupun karya ilmiah lainnya.
Meski berada di bagian awal, abstrak biasanya lebih mudah disusun setelah penelitian selesai.
Penulis dapat mengambil inti dari setiap bagian penelitian, kemudian merangkumnya menjadi uraian yang singkat dan tetap mewakili isi penelitian.
Abstrak bukan tempat untuk memasukkan semua informasi dari penelitian.
Baca Juga: Sering Gak Enakan dan Selalu Bilang Iya? Ini Alasan Kamu Perlu Mulai Belajar Berkata Tidak
Justru, tantangannya adalah memilih informasi yang paling penting agar pembaca dapat memahami gambaran penelitian hanya melalui beberapa paragraf.
Abstrak Menjadi Pintu Masuk Penelitian
Abstrak umumnya ditempatkan di bagian awal karya ilmiah.
Posisi tersebut membuat bagian ini menjadi salah satu informasi pertama yang dibaca sebelum seseorang memutuskan melanjutkan ke bagian penelitian lainnya.
Melalui abstrak, pembaca dapat mengetahui topik penelitian, permasalahan yang diangkat, tujuan yang ingin dicapai, serta hasil yang diperoleh.
Karena itu, abstrak perlu dibuat dengan keseimbangan yang tepat.
Informasi yang disampaikan harus cukup untuk menggambarkan penelitian, tetapi tidak terlalu panjang hingga berubah menjadi pembahasan baru.
Abstrak yang terlalu singkat bisa membuat informasi penting tidak tersampaikan.
Sebaliknya, abstrak yang terlalu panjang justru kehilangan fungsi utamanya sebagai ringkasan penelitian.
Apa Saja yang Harus Ada dalam Abstrak?
Secara umum, terdapat beberapa unsur penting yang perlu diperhatikan ketika menyusun abstrak.
Pertama adalah masalah atau latar belakang penelitian.
Bagian ini tidak perlu ditulis panjang. Cukup jelaskan persoalan utama yang menjadi alasan penelitian dilakukan.
Selanjutnya, tuliskan tujuan penelitian.
Pembaca perlu mengetahui hal yang ingin diketahui, dianalisis, atau dicapai melalui penelitian tersebut.
Unsur berikutnya adalah metode penelitian.
Penulis dapat menjelaskan pendekatan yang digunakan, objek atau subjek penelitian, serta teknik pengumpulan dan analisis data secara singkat.
Bagian yang tidak kalah penting adalah hasil penelitian.
Informasi ini menunjukkan temuan utama yang diperoleh setelah proses penelitian dilakukan.
Terakhir, penulis dapat mencantumkan kesimpulan yang menggambarkan makna utama dari hasil penelitian.
Dengan susunan tersebut, pembaca dapat memperoleh gambaran dari awal hingga akhir penelitian tanpa harus membaca seluruh pembahasan.
Jangan Memasukkan Semua Isi Penelitian
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap abstrak harus memuat seluruh informasi yang ada dalam karya ilmiah.
Padahal, fungsi abstrak justru merangkum informasi paling penting.
Pembahasan teori yang terlalu panjang sebaiknya tidak dimasukkan.
Begitu pula dengan uraian latar belakang yang terlalu detail atau penjelasan metode yang terlalu teknis.
Penulis perlu memilih informasi yang benar-benar membantu pembaca memahami penelitian.
Abstrak juga harus sesuai dengan isi karya ilmiah.
Jangan sampai hasil yang dituliskan berbeda dengan temuan penelitian atau terdapat informasi yang sebenarnya tidak dibahas dalam penelitian.
Gunakan Kalimat yang Efektif
Karena ruang dalam abstrak terbatas, pemilihan kalimat menjadi penting.
Gunakan kalimat yang langsung menuju informasi utama.
Hindari pembukaan yang terlalu panjang atau kalimat berulang dengan makna yang sama.
Bahasa yang digunakan juga perlu disesuaikan dengan gaya penulisan karya ilmiah. Kalimat tetap harus formal, tetapi tidak harus dibuat rumit.
Misalnya, daripada menggunakan beberapa kalimat untuk menjelaskan tujuan penelitian, penulis dapat langsung menyebutkan tujuan tersebut secara ringkas.
Prinsipnya sederhana, setiap kalimat dalam abstrak sebaiknya memiliki fungsi.
Lebih Mudah Ditulis Setelah Penelitian Selesai
Meskipun abstrak ditempatkan di bagian awal, penulis tidak harus menyusunnya terlebih dahulu.
Abstrak justru dapat dibuat setelah seluruh penelitian selesai.
Dengan begitu, penulis sudah mengetahui masalah, tujuan, metode, hasil, hingga kesimpulan yang diperoleh.
Caranya cukup sederhana. Ambil inti dari setiap bagian penelitian, kemudian susun menjadi satu rangkaian informasi yang saling terhubung.
Mulailah dari masalah yang diteliti, kemudian tujuan, metode, hasil, dan kesimpulan.
Setelah selesai, baca kembali abstrak tersebut.
Pastikan pembaca yang hanya membaca bagian abstrak tetap bisa mendapatkan gambaran mengenai penelitian.
Cek Kembali Sebelum Dikumpulkan
Tahap terakhir yang tidak boleh dilewatkan adalah melakukan pemeriksaan ulang.
Pastikan tidak ada informasi yang bertentangan dengan isi penelitian.
Baca Juga: Sering Gak Enakan dan Selalu Bilang Iya? Ini Alasan Kamu Perlu Mulai Belajar Berkata Tidak
Periksa juga penulisan istilah, angka, nama objek penelitian, serta hasil yang dicantumkan.
Jika terdapat ketentuan jumlah kata atau format khusus dari kampus maupun jurnal, pastikan abstrak sudah mengikuti aturan tersebut.
Abstrak yang baik tidak harus menggunakan kalimat yang rumit.
Hal yang lebih penting adalah kemampuan menyampaikan inti penelitian secara padat, jelas, dan sesuai dengan hasil yang sebenarnya.
Dengan memahami fungsi dan struktur abstrak, mahasiswa dapat membuat bagian pembuka karya ilmiah yang tidak hanya singkat, tetapi juga mampu memberikan gambaran penelitian secara utuh.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang