RADARBONANG.ID - Terlalu sering mengatakan “iya” hanya karena tidak enak menolak bisa membuat seseorang perlahan mengabaikan kebutuhan dirinya sendiri.
Padahal, mengatakan “tidak” ketika memang tidak mampu bukan berarti menjadi orang jahat atau egois.
Kebiasaan selalu mengiyakan permintaan orang lain sering muncul karena takut mengecewakan.
Ada yang khawatir dianggap tidak peduli, takut hubungan menjadi renggang, atau merasa bersalah ketika tidak bisa membantu.
Akibatnya, seseorang tetap menerima permintaan meski sedang lelah, tidak memiliki waktu, atau sebenarnya tidak ingin melakukannya.
Padahal, setiap orang memiliki batas kemampuan.
Baca Juga: Jangan Terburu-Buru Beli HP Baru, Ini 5 Hal yang Bisa Membuat Harganya Berubah
Menentukan apa yang sanggup dilakukan dan apa yang tidak merupakan bagian dari menjaga diri.
Bilang tidak bukan berarti tidak menghargai orang lain.
Justru, kemampuan menetapkan batas dapat membantu seseorang mengambil keputusan dengan lebih jujur sesuai kondisi dirinya.
Kenapa Sulit Sekali Mengatakan Tidak?
Bagi sebagian orang, mengatakan “tidak” terasa jauh lebih sulit daripada mengatakan “iya”.
Apalagi jika permintaan tersebut datang dari teman dekat, keluarga, rekan kerja, atau orang yang dianggap penting.
Keinginan untuk menyenangkan orang lain bisa menjadi salah satu penyebabnya.
Seseorang mungkin merasa lebih aman ketika dapat memenuhi harapan orang lain daripada harus menghadapi kemungkinan mengecewakan mereka.
Ada pula yang terbiasa menghindari konflik.
Daripada berdebat atau membuat suasana menjadi tidak nyaman, mereka memilih mengiyakan permintaan meski sebenarnya keberatan.
Jika dilakukan terus-menerus, kebiasaan tersebut dapat membuat seseorang terlalu banyak mengambil tanggung jawab.
Waktu semakin terbatas, energi terkuras, sementara kebutuhan pribadi justru berada di urutan terakhir.
Mengatakan Tidak Bukan Berarti Jahat
Menolak permintaan sebenarnya bisa dilakukan tanpa harus bersikap kasar.
Seseorang tidak perlu memberikan penjelasan panjang hanya untuk membuktikan bahwa dirinya memiliki alasan yang cukup.
Kalimat sederhana seperti “maaf, kali ini saya tidak bisa” sudah dapat digunakan ketika memang tidak mampu memenuhi sebuah permintaan.
Jika ingin terdengar lebih personal, penolakan juga bisa disampaikan dengan tetap menunjukkan penghargaan terhadap orang yang meminta bantuan.
Misalnya, “Terima kasih sudah mempercayakan ini kepada saya, tetapi kali ini saya belum bisa membantu.”
Cara tersebut menunjukkan bahwa menolak bukan berarti mengabaikan orang lain. Ada batas kemampuan yang memang perlu dihormati.
Yang terpenting adalah cara penyampaiannya.
Tegas tidak harus kasar, sedangkan sopan tidak berarti harus selalu mengiyakan.
Jangan Langsung Jawab Semua Permintaan
Salah satu kebiasaan yang bisa mulai dilatih adalah tidak langsung memberikan jawaban ketika menerima permintaan.
Jika masih ragu, seseorang dapat meminta waktu untuk mempertimbangkannya.
Cara sederhana seperti “saya cek jadwal dulu, ya” dapat memberikan ruang untuk berpikir.
Jeda tersebut penting agar keputusan tidak dibuat hanya karena merasa sungkan.
Coba tanyakan kepada diri sendiri apakah memang memiliki waktu, tenaga, kemampuan, dan keinginan untuk melakukannya.
Jika semua jawabannya tidak, penolakan bisa menjadi pilihan yang wajar.
Kebiasaan memberikan jeda juga dapat membantu seseorang membedakan antara benar-benar ingin membantu dan sekadar takut membuat orang lain kecewa.
Belajar Mengenali Batas Diri
Setiap orang memiliki kapasitas yang berbeda.
Ada batas waktu, tenaga, perhatian, hingga kemampuan yang tidak mungkin terus dipaksakan.
Karena itu, mengenali batas diri menjadi bagian penting dalam belajar mengatakan tidak.
Ketika tubuh sedang lelah, pekerjaan sedang menumpuk, atau ada kebutuhan pribadi yang harus diselesaikan, seseorang berhak mempertimbangkan kondisinya terlebih dahulu.
Membantu orang lain memang merupakan hal yang baik.
Namun, membantu tidak harus selalu dilakukan dengan mengorbankan diri sendiri.
Jika terus memaksakan diri, niat baik tersebut justru dapat membuat seseorang kelelahan dan kehilangan waktu untuk mengurus kebutuhannya sendiri.
Rasa Bersalah Setelah Menolak Itu Wajar
Bagi orang yang terbiasa menjadi “orang gak enakan”, mengatakan tidak mungkin terasa asing pada awalnya.
Setelah menolak, muncul rasa bersalah atau pikiran bahwa orang lain mungkin kecewa.
Perasaan tersebut bisa muncul karena selama ini keputusan lebih sering dibuat berdasarkan keinginan untuk menyenangkan orang lain.
Namun, rasa bersalah tidak selalu berarti keputusan yang diambil salah.
Seseorang tetap dapat merasa tidak enak sekaligus mempertahankan keputusan.
Perasaan tersebut tidak harus selalu menjadi alasan untuk kembali mengiyakan permintaan.
Seiring waktu, kemampuan menetapkan batas dapat membuat proses tersebut terasa lebih ringan.
Peduli kepada Orang Lain, Peduli Juga kepada Diri Sendiri
Menjadi pribadi yang peduli tetap merupakan hal penting.
Namun, kepedulian kepada orang lain sebaiknya tidak membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk memperhatikan dirinya sendiri.
Ada kalanya membantu orang lain memang tepat dilakukan.
Ada pula situasi ketika mengatakan tidak merupakan pilihan yang lebih sesuai dengan kondisi.
Keduanya tidak membuat seseorang menjadi lebih baik atau lebih buruk.
Baca Juga: Bukan Karena Luas Rumah, 10 Kesalahan Ini Bisa Bikin Ruangan Kecil Terasa Makin Sesak
Yang penting adalah keputusan tersebut dibuat dengan mempertimbangkan kemampuan dan batas diri.
Pada akhirnya, mengatakan “tidak” bukan berarti menutup diri dari orang lain.
Hal tersebut justru bisa menjadi cara untuk menentukan prioritas, menjaga batas pribadi, dan memastikan setiap keputusan diambil tanpa mengabaikan kondisi diri sendiri.
Jadi, kalau selama ini sering menjadi orang yang gak enakan, tidak ada salahnya mulai belajar mengatakan tidak secara sopan dan tegas.
Kamu berhak menolak ketika memang tidak mampu, tidak memiliki waktu, atau memang tidak ingin melakukannya.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang