Sudah Buka Laptop tetapi Tak Kunjung Mengerjakan? Bisa Jadi Kamu Mengalami Task Initiation

Siska Yudianti • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 09:11 WIB
Sudah buka laptop, tugas sudah jelas, tetapi malah scroll media sosial? Bisa jadi masalahnya bukan malas, melainkan sulit melewati langkah pertama. (ilustrasi)
Sudah buka laptop, tugas sudah jelas, tetapi malah scroll media sosial? Bisa jadi masalahnya bukan malas, melainkan sulit melewati langkah pertama. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID - Pernah duduk di depan laptop sambil tahu persis pekerjaan apa yang harus diselesaikan, tetapi tetap tidak kunjung mengerjakannya?

Bukan karena tidak tahu tugasnya. Bukan pula karena tidak punya waktu.

Masalahnya justru ada pada satu hal sederhana, yakni memulai.

Kondisi tersebut dikenal dengan istilah task initiation.

Secara sederhana, task initiation merupakan kemampuan untuk memulai sebuah tugas atau aktivitas tanpa harus terus menunggu motivasi, tekanan, atau dorongan dari luar.

Fenomena ini dapat muncul dalam berbagai situasi. Mulai dari tugas kuliah, pekerjaan kantor, membalas pesan, membereskan kamar, hingga pekerjaan rumah yang sebenarnya tidak terlalu sulit.

Seseorang bahkan bisa sudah membuat daftar pekerjaan, membuka laptop, menyiapkan dokumen, tetapi tetap merasa kesulitan mengambil langkah pertama.

Sekilas, kondisi tersebut sering dianggap sebagai kemalasan.

Baca Juga: Presiden Bisa Berhenti Sebelum 2029? Begini Aturan Konstitusi dan Proses Pemakzulannya

Padahal, kesulitan memulai pekerjaan dapat berkaitan dengan proses pengaturan tindakan yang lebih kompleks.

Apa Itu Task Initiation?

Task initiation merupakan salah satu kemampuan yang berkaitan dengan fungsi eksekutif.

Fungsi tersebut mencakup berbagai kemampuan mental yang membantu seseorang merencanakan, mengatur, memulai, menjalankan, hingga menyelesaikan suatu aktivitas.

Orang yang mengalami kesulitan pada tahap ini belum tentu tidak memahami apa yang harus dilakukan.

Justru sebaliknya, mereka bisa saja sudah mengetahui tugasnya dengan sangat jelas.

Namun, mengetahui pekerjaan yang harus dilakukan tidak selalu membuat seseorang dapat langsung mengerjakannya.

Misalnya, seseorang memiliki laporan yang harus dikumpulkan keesokan harinya.

Ia sudah mengetahui tugasnya, memiliki bahan, bahkan sudah membuka dokumen.

Namun, bukannya mulai mengetik, ia justru membuka media sosial, mengecek pesan, membuat kopi, atau melakukan aktivitas lain yang sebenarnya tidak mendesak.

Di sinilah perbedaannya. Mengetahui apa yang harus dilakukan tidak selalu otomatis membuat seseorang mampu langsung mengambil langkah pertama.

Kenapa Memulai Tugas Bisa Terasa Berat?

Ada beberapa kondisi yang dapat membuat langkah pertama terasa lebih sulit.

Pertama, tugas terlihat terlalu besar. Pekerjaan yang membutuhkan banyak tahapan dapat membuat seseorang merasa kewalahan bahkan sebelum mulai.

Membayangkan harus menyelesaikan laporan puluhan halaman, misalnya, terasa lebih berat dibandingkan sekadar membuka dokumen dan menulis satu paragraf.

Kedua, terlalu memikirkan hasil akhir. Seseorang dapat menunda pekerjaan karena ingin hasilnya langsung sempurna.

Ketika standar yang dibuat terlalu tinggi, proses memulai pekerjaan justru dapat terasa semakin berat.

Ketiga, terlalu banyak distraksi. Ponsel, media sosial, notifikasi, hingga berbagai aktivitas kecil dapat memberikan pilihan yang terasa lebih mudah dibandingkan mengerjakan tugas.

Keempat, pekerjaan tidak memiliki titik awal yang jelas. Kalimat seperti "harus mengerjakan laporan hari ini" masih terlalu umum.

Tanpa langkah konkret, seseorang dapat kesulitan menentukan tindakan pertama yang perlu dilakukan.

Pecah Pekerjaan Menjadi Langkah Kecil

Salah satu cara yang dapat dicoba adalah memecah pekerjaan menjadi bagian paling kecil.

Jangan langsung memasang target untuk "menyelesaikan laporan". Ubah target tersebut menjadi beberapa langkah sederhana.

Misalnya, mulai dengan membuka dokumen, menulis judul, membuat kerangka, mencari satu referensi, kemudian menulis paragraf pertama.

Target kecil dapat membuat pekerjaan terasa lebih mudah untuk dimulai. Setelah langkah pertama dilakukan, seseorang dapat melanjutkan ke tahap berikutnya secara bertahap.

Gunakan Aturan Beberapa Menit

Cara lain yang dapat dicoba adalah menggunakan aturan beberapa menit.

Alih-alih memaksa diri menyelesaikan seluruh pekerjaan sekaligus, fokuskan energi hanya untuk memulai selama beberapa menit.

Tujuannya bukan langsung menyelesaikan seluruh pekerjaan.

Fokus utamanya adalah mengurangi hambatan yang muncul pada tahap awal.

Setelah berhasil memulai, pekerjaan biasanya menjadi lebih konkret karena seseorang sudah tidak lagi berhadapan dengan tugas yang hanya ada dalam pikiran.

Kurangi Distraksi Sebelum Mulai

Lingkungan juga perlu diperhatikan ketika hendak mengerjakan sesuatu.

Ponsel dapat diletakkan lebih jauh, notifikasi dimatikan, dan tab yang tidak berhubungan dengan pekerjaan ditutup.

Baca Juga: Dodgers Tembus 14 Postseason Beruntun, Kini Kejar Posisi Dua Besar National League 2026

Langkah sederhana tersebut dapat mengurangi kemungkinan seseorang berpindah ke aktivitas lain sebelum pekerjaan benar-benar dimulai.

Membuat instruksi yang spesifik juga dapat membantu. Dibandingkan menulis "kerjakan tugas", buat perintah yang lebih konkret seperti "buka laptop pukul 19.00 dan tulis tiga poin pertama".

Tidak Selalu Berarti Malas

Memahami task initiation dapat membantu seseorang melihat bahwa kesulitan memulai pekerjaan tidak selalu berarti malas atau tidak memiliki kemauan.

Ada kalanya seseorang memang mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi membutuhkan cara yang berbeda untuk melewati hambatan pada langkah pertama.

Karena terkadang, bagian tersulit dari sebuah pekerjaan bukan menyelesaikannya, melainkan sekadar memulainya. (*)

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
Sudah buka laptop tugas sudah jelas tetapi malah scroll media sosial? Bisa jadi masalahnya bukan malas melainkan sulit melewati langkah pertama.