RADARBONANG.ID – Fase pendekatan atau PDKT di era digital membuat komunikasi lewat chat menjadi bagian penting dalam proses mengenal seseorang.
Dari sekadar menanyakan kabar hingga bertukar cerita tentang aktivitas sehari-hari, percakapan di aplikasi pesan sering menjadi jembatan sebelum hubungan berkembang lebih jauhx.
Masalahnya, setiap orang memiliki gaya chatting yang berbeda.
Ada yang bisa membalas pesan dengan panjang lebar, mengirim banyak emoji, bahkan langsung membuka topik baru.
Namun, ada pula yang terbiasa menjawab singkat meskipun sebenarnya tidak sedang bermasalah dengan lawan bicara.
Kondisi ketika seseorang memberikan respons pendek dan minim pengembangan percakapan sering disebut dry texting.
Balasan seperti “iya”, “oh”, “wkwk”, “oke”, atau sekadar emoji memang bisa membuat percakapan terasa seperti berjalan satu arah.
Baca Juga: Purbaya Lengser dari Menkeu, Pengamat Sebut Ada Potensi Konsekuensi Politik bagi Pemerintah
Apalagi jika terjadi saat PDKT, respons semacam itu mudah membuat seseorang bertanya-tanya apakah dirinya mendapatkan perhatian yang sama.
Dry Texting Tidak Selalu Berarti Tidak Tertarik
Hal pertama yang perlu dipahami adalah gaya komunikasi lewat chat tidak bisa menjadi satu-satunya ukuran untuk menilai ketertarikan seseorang.
Sebagian orang memang tidak terlalu ekspresif melalui pesan.
Mereka mungkin lebih nyaman berbicara secara langsung, melakukan panggilan, atau menunjukkan perhatian melalui tindakan dibandingkan mengetik percakapan panjang.
Ada pula orang yang menggunakan chat hanya untuk menyampaikan informasi penting.
Bagi mereka, pesan seperti “sudah”, “iya”, atau “nanti aku kabari” sudah dianggap cukup.
Karena itu, satu atau dua balasan pendek belum tentu menunjukkan adanya perubahan perasaan.
Jangan sampai respons singkat langsung diterjemahkan sebagai tanda bahwa hubungan sudah tidak memiliki peluang.
Lihat Polanya, Bukan Satu Pesan
Daripada langsung mengambil kesimpulan dari satu chat, lebih baik perhatikan pola komunikasi secara keseluruhan.
Misalnya, seseorang memang sering membalas singkat, tetapi tetap berusaha menghubungi lebih dulu, menanyakan kabar, mengingat cerita sebelumnya, atau mengajak bertemu.
Pola tersebut menunjukkan bahwa komunikasi tetap berjalan meskipun gaya chatting-nya tidak terlalu panjang.
Sebaliknya, situasi patut diperhatikan jika percakapan hampir selalu berjalan hanya ketika salah satu pihak memulai.
Tidak ada pertanyaan balik, respons semakin jarang, dan usaha mempertahankan komunikasi hampir selalu datang dari satu orang.
Meski begitu, kondisi tersebut tetap tidak otomatis menjelaskan alasan seseorang.
Bisa saja mereka sedang sibuk, kelelahan, memiliki banyak pekerjaan, atau memang sedang membutuhkan waktu untuk diri sendiri.
Bedakan Dry Texting dengan Ghosting
Dry texting juga berbeda dengan ghosting. Dalam dry texting, seseorang masih memberikan respons meskipun jawabannya pendek dan tidak banyak mengembangkan percakapan.
Sementara itu, ghosting biasanya digunakan untuk menggambarkan situasi ketika seseorang tiba-tiba menghentikan komunikasi tanpa memberikan penjelasan.
Perbedaan tersebut penting karena respons singkat tidak selalu berarti hubungan sedang berakhir.
Contohnya, seseorang mungkin hanya menjawab “wkwk iya”, tetapi beberapa jam kemudian tetap membalas pesan berikutnya atau kembali mengajak berbicara.
Situasinya tentu berbeda dengan seseorang yang tiba-tiba menghilang dan tidak memberikan respons sama sekali.
Kenapa Seseorang Bisa Jadi Dry Texter?
Ada banyak kemungkinan seseorang memiliki gaya komunikasi yang singkat.
Salah satunya berkaitan dengan karakter dan kebiasaan berkomunikasi.
Orang yang pendiam atau tidak terbiasa mengekspresikan emosi melalui tulisan mungkin memang membutuhkan waktu lebih lama untuk membangun percakapan.
Kondisi ketika menerima pesan juga bisa berpengaruh.
Seseorang mungkin sedang bekerja, belajar, bepergian, kelelahan, atau menghadapi persoalan pribadi sehingga hanya mampu memberikan jawaban pendek.
Topik percakapan juga tidak kalah penting. Pertanyaan yang jawabannya hanya “ya” atau “tidak” tentu lebih sulit dikembangkan dibandingkan pertanyaan yang memberikan ruang untuk bercerita.
Jadi, terkadang bukan orangnya yang benar-benar dry, melainkan format percakapannya memang tidak memberikan banyak kesempatan untuk melanjutkan obrolan.
Perhatikan Kalau Polanya Mendadak Berubah
Hal yang lebih penting untuk diperhatikan adalah perubahan pola komunikasi.
Jika sebelumnya seseorang sangat komunikatif, kemudian mendadak lebih sering memberikan jawaban pendek, jarang memulai percakapan, dan tidak lagi menunjukkan ketertarikan terhadap cerita yang sebelumnya sering dibahas, perubahan tersebut memang bisa menjadi tanda adanya perubahan dalam dinamika komunikasi.
Namun, tetap tidak perlu langsung membuat kesimpulan.
Berikan ruang dan lihat apakah komunikasi kembali berjalan secara natural.
Jika hubungan sudah cukup dekat, membicarakan perubahan tersebut secara langsung juga dapat membantu menghindari salah paham.
Komunikasi terbuka biasanya lebih jelas dibandingkan mencoba membaca makna dari setiap kata yang muncul di layar.
Baca Juga: Siap War Tiket BIGBANG Jakarta 2027? Cek Harga Mulai Rp1,55 Juta dan Jadwal Penjualannya
Jangan Jadikan Chat sebagai Satu-satunya Patokan
Di tengah budaya dating Gen Z yang banyak berlangsung melalui layar, pesan singkat memang mudah menjadi bahan overthinking.
Satu kata bisa dipikirkan berulang kali. Emoji bisa dianalisis.
Bahkan tanda titik di akhir kalimat terkadang dianggap memiliki makna tertentu.
Padahal, komunikasi tidak hanya terdiri dari teks.
Cara seseorang memperlakukan kita ketika bertemu langsung, konsistensi dalam berkomunikasi, kesediaan mendengarkan, hingga usaha menjaga hubungan juga perlu dilihat secara keseluruhan.
Jadi, ketika gebetan mulai membalas singkat, tidak perlu buru-buru menganggap dirinya sudah tidak tertarik.
Bisa saja memang begitu gaya komunikasinya. Yang lebih penting adalah melihat konsistensi, usaha, konteks, serta pola komunikasi dalam jangka waktu tertentu.
Dengan begitu, PDKT tidak berubah menjadi permainan tebak-tebakan hanya gara-gara satu balasan “iya”.(*)
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang