RADARBONANG.ID – Bagi Gen Z, ojek online atau ojol sudah jauh dari sekadar kendaraan untuk mengantar seseorang dari satu titik ke titik lain.
Layanan yang bisa dipesan hanya melalui ponsel tersebut perlahan menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari.
Ketika waktu terbatas, aktivitas sedang menumpuk, atau energi untuk bepergian sedang rendah, satu kalimat yang sering muncul adalah, “Naik ojol saja.”
Kalimat sederhana tersebut bisa menjadi solusi untuk berbagai situasi.
Tinggal membuka aplikasi, memasukkan lokasi tujuan, memilih layanan, lalu menunggu pengemudi datang.
Kebiasaan tersebut juga sejalan dengan gaya hidup Gen Z yang semakin terbiasa mengandalkan layanan digital untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Jangan Keliru, Tak Semua Air Laut Surut Berarti Tsunami, Ini Ciri yang Dijelaskan Badan Geologi
Penelitian terbaru menunjukkan penggunaan ride-hailing memang sangat tinggi di kalangan anak muda.
Secara global, 74 persen konsumen berusia 18–29 tahun dalam survei TGM Research mengaku pernah menggunakan layanan ride-hailing.
Bukan Cuma Soal Tidak Punya Kendaraan
Ketika seseorang memilih ojol, alasannya tidak selalu karena tidak memiliki kendaraan pribadi.
Sering kali persoalannya adalah waktu dan tenaga.
Misalnya ketika ada agenda mendadak. Membawa kendaraan sendiri berarti harus memikirkan kondisi jalan, mencari tempat parkir, hingga mengurus kendaraan setelah tiba di lokasi.
Dengan menggunakan ojol, sebagian kerepotan tersebut bisa dialihkan kepada pengemudi.
Hal serupa terjadi ketika seseorang sedang mengejar waktu.
Perjalanan yang membutuhkan beberapa kali perpindahan atau berjalan cukup jauh bisa dipangkas dengan layanan transportasi berbasis aplikasi.
Dalam kondisi tertentu, selisih waktu beberapa menit saja bisa terasa sangat berharga.
Praktis Jadi Pertimbangan Utama
Kemudahan menjadi salah satu alasan kuat mengapa ojol begitu dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dulu, mencari kendaraan berarti harus keluar rumah, menunggu angkutan lewat, atau menghentikan kendaraan di jalan.
Kini, proses tersebut dapat dilakukan dari layar smartphone.
Survei INDEF dan Paramadina Public Policy Institute pada 2025–2026 menunjukkan kemudahan penggunaan aplikasi menjadi salah satu pertimbangan pengguna ketika memilih layanan ojol.
Faktor lain yang juga diperhatikan adalah harga, kualitas layanan, waktu tunggu, serta fitur keamanan dan keselamatan.
Artinya, keputusan menggunakan ojol bukan hanya tentang bagaimana seseorang bisa sampai ke tujuan.
Pengguna juga mempertimbangkan seberapa mudah proses pemesanannya dan seberapa praktis perjalanan tersebut.
Saat Energi Sedang Tidak Ada
Ada pula situasi yang lebih sederhana.
Seseorang sebenarnya bisa saja berjalan kaki, membawa kendaraan sendiri, atau menggunakan transportasi lain.
Namun, kondisi tubuh dan pikiran membuat pilihan paling praktis terasa jauh lebih menarik.
Misalnya ketika cuaca sedang panas, hujan turun, membawa barang cukup banyak, atau tubuh terasa lelah setelah menjalani aktivitas seharian.
Dalam kondisi seperti itu, ojol memberikan sesuatu yang lebih dari sekadar perjalanan.
Ada tenaga yang bisa dihemat. Ada waktu yang bisa dipangkas.
Ada kerepotan yang tidak perlu dipikirkan.
Karena itu, layanan transportasi daring bisa terasa seperti solusi kecil ketika aktivitas sehari-hari sedang terasa terlalu penuh.
Ojol Jadi Bagian dari Gaya Hidup Digital
Kedekatan Gen Z dengan ojol juga tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan menggunakan berbagai layanan melalui smartphone.
Memesan makanan, membeli kebutuhan, membayar tagihan, berkomunikasi, hingga mencari transportasi dapat dilakukan melalui perangkat yang sama.
Ojol kemudian menjadi bagian dari ekosistem tersebut.
Sebuah penelitian mengenai penggunaan ride-hailing oleh anak muda di Semarang sebelumnya juga menemukan bahwa layanan seperti Go-Ride dipandang sebagai bentuk transportasi yang efisien dan praktis sekaligus menjadi bagian dari gaya hidup digital anak muda.
Perubahan tersebut membuat transportasi tidak lagi dipandang semata-mata sebagai sarana berpindah tempat.
Pengalaman selama perjalanan, kemudahan pemesanan, waktu tunggu, harga, hingga kenyamanan ikut menjadi pertimbangan.
Kemudahan Bisa Membentuk Kebiasaan
Karena prosesnya begitu mudah, batas antara kebutuhan dan kenyamanan terkadang menjadi semakin tipis.
Perjalanan yang sebenarnya masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki bisa saja berakhir dengan membuka aplikasi ojol.
Alasannya sederhana. Tidak ingin kepanasan, sedang terburu-buru, membawa barang, atau memang sedang tidak memiliki cukup energi untuk berjalan.
Jika dilakukan sesekali, hal tersebut tentu bukan persoalan besar.
Namun, ketika pemesanan ojol menjadi kebiasaan hampir setiap hari, biaya perjalanan juga perlu diperhitungkan.
Tarif satu kali perjalanan mungkin terlihat kecil.
Akan tetapi, jika dilakukan berkali-kali dalam seminggu, totalnya bisa berubah menjadi pengeluaran rutin yang cukup terasa pada akhir bulan.
Bukan Berarti Harus Selalu Naik Ojol
Karena itu, persoalannya bukan apakah Gen Z boleh menggunakan ojol atau tidak.
Yang lebih penting adalah mengetahui kapan layanan tersebut benar-benar dibutuhkan dan kapan alternatif lain masih masuk akal.
Jika sedang terburu-buru, membawa barang, menghadapi cuaca buruk, atau membutuhkan perjalanan yang lebih praktis, ojol memang bisa menjadi pilihan.
Sebaliknya, jika jaraknya dekat dan kondisi memungkinkan untuk berjalan kaki atau menggunakan transportasi lain, pilihan tersebut bisa dipertimbangkan.
Kesadaran semacam ini membuat kemudahan teknologi tetap berjalan beriringan dengan kemampuan mengatur pengeluaran.
Ketika “Naik Ojol Saja” Jadi Solusi
Kehadiran ojol pada akhirnya menunjukkan bagaimana teknologi perlahan mengubah kebiasaan sehari-hari.
Sesuatu yang dahulu membutuhkan usaha lebih kini dapat dilakukan hanya dengan beberapa sentuhan pada layar.
Bagi Gen Z, kemudahan semacam itu mungkin sudah terasa biasa. Ketika terlambat, ojol bisa menjadi penyelamat.
Baca Juga: CEO Anthropic Serukan Pengembangan AI Diperlambat, Ini Alasan dan Tiga Langkah yang Diusulkan
Saat hujan, layanan tersebut menjadi pilihan. Ketika terlalu lelah untuk membawa kendaraan sendiri, ojol kembali menjadi andalan.
Bahkan untuk perjalanan yang sebenarnya masih bisa dilakukan dengan cara lain, kemudahan memesan kendaraan terkadang menjadi alasan tersendiri.
Jadi, ketika hidup sedang terasa semakin ribet dan ada satu solusi yang bisa dipesan dalam hitungan menit, tidak heran jika kalimat yang muncul adalah, “Naik ojol saja.”
Yang berubah bukan sekadar cara berpindah tempat.
Cara seseorang mengatur waktu, tenaga, kenyamanan, dan aktivitas sehari-hari juga ikut berubah.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang