RADARBONANG.ID – Generasi Z atau Gen Z sering mendapat berbagai label di media sosial.
Ada yang menganggap generasi ini terlalu sensitif, mudah berpindah pekerjaan, hingga terlalu terbuka membicarakan kesehatan mental.
Namun, gambaran tersebut tentu tidak mewakili seluruh Gen Z.
Di balik berbagai stereotip yang beredar, UNICEF justru menemukan sejumlah karakter positif anak muda yang menunjukkan ketangguhan, kreativitas, kepedulian terhadap kesehatan mental, serta keinginan untuk ikut membentuk masa depan.
Karakter tersebut dapat dikaitkan dengan istilah populer “the walking green flag”.
Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang memiliki perilaku positif dalam hubungan maupun kehidupan sosial.
Baca Juga: Sering Gonta-ganti Baju Sebelum Pergi? Ternyata Ada Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Ini
Meski “the walking green flag” bukan istilah resmi UNICE][F, sejumlah temuan dan panduan lembaga tersebut menunjukkan nilai-nilai yang sejalan dengan konsep tersebut.
Gen Z Ternyata Masih Punya Harapan
Dalam studi yang dirilis Juni 2025, Global Coalition for Youth Mental Health yang dipimpin UNICEF melibatkan lebih dari 5.600 Gen Z berusia 14 hingga 25 tahun dari berbagai negara.
Hasilnya cukup menarik. Sebanyak enam dari sepuluh responden mengaku merasa kewalahan ketika melihat berita atau berbagai peristiwa yang terjadi di dunia.
Tekanan tersebut berkaitan dengan berbagai persoalan, mulai konflik geopolitik, krisis iklim dan lingkungan, ketidakpastian ekonomi, hingga persoalan kesehatan mental.
Namun, di tengah kondisi tersebut, enam dari sepuluh anak muda juga mengatakan masih memiliki harapan dan ingin ikut berkontribusi membentuk masa depan yang lebih baik.
Artinya, Gen Z tidak sepenuhnya memilih bersikap pasif ketika menghadapi persoalan dunia. Ada keinginan untuk tetap terlibat dan memberikan dampak positif.
Sikap tersebut menjadi salah satu karakter yang bisa disebut sebagai green flag dalam kehidupan sosial.
Peduli dengan Kesehatan Mental
Salah satu karakter positif yang semakin terlihat pada generasi muda adalah meningkatnya perhatian terhadap kesehatan mental.
UNICEF mencatat hanya sekitar separuh responden dalam studi tersebut yang mengetahui tempat atau sumber untuk mendapatkan dukungan kesehatan mental.
Sementara itu, hanya 55 persen yang merasa memiliki mekanisme koping efektif untuk menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan mereka.
Angka tersebut menunjukkan masih adanya tantangan dalam akses maupun kemampuan menjaga kesehatan mental.
Namun, kesadaran untuk membicarakan kondisi psikologis juga menjadi bagian penting dari perubahan yang terjadi.
UNICEF menemukan aktivitas seperti berjalan kaki, bermain, melakukan mindfulness, serta menghabiskan waktu bersama keluarga dan teman dinilai sebagai kegiatan yang efektif untuk mendukung kesehatan mental.
Menjaga diri pun tidak selalu harus dilakukan melalui sesuatu yang rumit.
Memiliki koneksi sosial, melakukan aktivitas positif, dan menyediakan waktu untuk beristirahat juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan diri.
Bisa Membangun Hubungan yang Sehat
Green flag berikutnya berkaitan dengan kemampuan membangun hubungan yang sehat.
Dalam hubungan dengan teman, pasangan, keluarga, maupun lingkungan sekitar, komunikasi menjadi salah satu fondasi penting.
Mendengarkan tanpa langsung menghakimi dan memberikan ruang bagi orang lain untuk menyampaikan perasaan merupakan bentuk komunikasi yang sehat.
Karakter tersebut semakin relevan bagi Gen Z yang tumbuh dalam lingkungan komunikasi digital.
Menjadi green flag bukan berarti harus selalu tahu cara berbicara yang sempurna.
Kemampuan mendengarkan, menghargai sudut pandang berbeda, serta mencoba memahami perasaan orang lain justru menjadi bagian yang tidak kalah penting.
Tidak Takut Mengakui Sedang Tidak Baik-baik Saja
Kemampuan mengenali dan mengungkapkan emosi juga menjadi bagian penting dalam perkembangan remaja.
Karena itu, seseorang yang berani mengatakan sedang lelah, tertekan, membutuhkan waktu sendiri, atau membutuhkan bantuan bukan berarti menunjukkan kelemahan.
Sebaliknya, kemampuan mengenali kondisi diri dan mencari dukungan ketika diperlukan dapat menjadi bagian dari keterampilan menjaga kesehatan mental.
Pandangan tersebut juga sejalan dengan modul “Membantu Remaja Berkembang” yang diterbitkan UNICEF Indonesia bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN pada Maret 2026.
Modul tersebut dirancang untuk membantu remaja mengembangkan keterampilan sosial-emosional, mengelola stres, membangun kepercayaan diri, serta merasa lebih berdaya untuk mengekspresikan diri dan mencari bantuan.
Mampu Menghadapi Tekanan
Menjadi walking green flag bukan berarti seseorang harus selalu terlihat bahagia atau baik-baik saja.
Justru, kemampuan menghadapi tekanan secara sehat menjadi salah satu hal yang penting.
Data UNICEF menunjukkan empat dari sepuluh Gen Z masih merasakan stigma ketika membicarakan kesehatan mental di sekolah maupun tempat kerja. Di sisi lain, hanya separuh responden yang mengetahui tempat mendapatkan dukungan kesehatan mental.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa anak muda masih menghadapi tantangan yang cukup besar.
Namun, mengenali tekanan, mencari bantuan, membangun hubungan sosial, dan menggunakan strategi koping yang positif dapat membantu seseorang menghadapi situasi sulit.
Dengan kata lain, green flag bukan berarti hidup tanpa masalah. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang merespons masalah tersebut.
Peduli dengan Lingkungan Sosial
Karakter positif Gen Z juga tidak berhenti pada hubungan personal.
Anak muda yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial, mau bekerja sama, mampu berempati, dan ingin memberikan kontribusi bagi komunitas juga dapat dipandang sebagai green flag.
UNICEF menempatkan kesehatan mental dan kesejahteraan psikososial sebagai bagian penting agar anak muda dapat membangun hubungan sehat, berkolaborasi, mempraktikkan empati, dan berkontribusi dalam kehidupan sosial.
Artinya, konsep green flag sebenarnya bisa memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar istilah dalam hubungan romantis.
Seseorang bisa disebut green flag ketika mampu memperlakukan dirinya sendiri dengan baik sekaligus menghargai orang-orang di sekitarnya.
Bukan Berarti Gen Z Bebas Masalah
Berbagai karakter positif tersebut bukan berarti Gen Z merupakan generasi yang selalu kuat dan bebas dari persoalan.
Data UNICEF justru menunjukkan sebaliknya. Banyak anak muda merasa kewalahan oleh berbagai peristiwa dunia, masih menghadapi stigma kesehatan mental, dan belum semuanya mengetahui akses untuk mendapatkan bantuan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Bangunan Tua, Benteng Kuto Besak Simpan Jejak Pertahanan Kesultanan Palembang
Karena itu, istilah “the walking green flag” sebaiknya tidak berubah menjadi tuntutan agar Gen Z selalu positif.
Lebih dari itu, istilah tersebut dapat menjadi gambaran tentang nilai-nilai yang layak dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dari mampu mendengarkan, menghargai perbedaan pendapat, berani mengakui emosi, mencari bantuan ketika diperlukan, menjaga kesehatan mental, hingga memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial.
Pada akhirnya, menjadi green flag bukan soal terlihat sempurna di media sosial.
Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang memperlakukan dirinya sendiri dan orang lain dalam kehidupan nyata.
Di tengah berbagai tekanan yang dihadapi generasi muda, kemampuan untuk tetap peduli, terhubung, belajar, dan mempertahankan harapan terhadap masa depan justru bisa menjadi salah satu kekuatan terbesar Gen Z.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang