RADARBONANG.ID — Fenomena air laut yang tiba-tiba surut kembali menjadi perhatian setelah video kondisi perairan di sekitar kawasan Selat Sunda beredar di media sosial.
Kondisi tersebut sempat dikaitkan dengan kemungkinan tsunami setelah aktivitas Gunung Anak Krakatau menjadi sorotan.
Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kemudian memberikan penjelasan mengenai fenomena tersebut.
Masyarakat diminta tidak langsung menyimpulkan bahwa air laut yang surut merupakan tanda tsunami karena kondisi laut juga dapat berubah akibat proses pasang surut normal.
Surveyor Pemetaan Ahli Madya Badan Geologi Kementerian ESDM Athanasius Cipta menjelaskan, fenomena air laut surut memang dapat menjadi salah satu tanda alami tsunami.
Namun, terdapat karakteristik tertentu yang membedakannya dengan surut akibat kondisi normal.
Baca Juga: Tren Foto Jadul Pakai AI Makin Ramai, Foto Modern Kini Bisa Dibuat Seolah Berasal dari Puluhan Tahun
Surut Sangat Cepat dan Jauh dari Kondisi Normal
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kecepatan air laut ketika mengalami penyusutan.
Menurut Badan Geologi, air laut yang menjadi salah satu indikasi awal tsunami dapat surut dalam waktu sangat cepat.
Kondisinya juga dapat terlihat jauh lebih dalam dibandingkan garis surut yang biasanya terjadi akibat siklus pasang dan surut harian.
Artinya, masyarakat tidak cukup hanya melihat apakah permukaan laut sedang surut.
Kecepatan perubahan serta seberapa jauh air bergerak menjauh dari garis pantai menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
Fenomena yang berlangsung secara tiba-tiba dan tidak biasa patut diwaspadai, terutama apabila terjadi bersamaan dengan tanda alam lain yang mengarah pada potensi tsunami.
Tidak Semua Air Laut Surut Berarti Tsunami
Meski air laut surut secara tiba-tiba dapat menjadi tanda tsunami, kondisi tersebut tidak otomatis berarti gelombang tsunami akan datang.
Pasang surut air laut merupakan fenomena alam yang memang terjadi secara berkala.
Faktor lingkungan dan kondisi perairan juga dapat menyebabkan perubahan permukaan air laut.
Karena itu, masyarakat perlu melihat konteks secara keseluruhan.
Informasi dari media sosial, terutama video yang tidak mencantumkan waktu dan lokasi secara jelas, tidak cukup untuk memastikan bahwa sebuah wilayah sedang menghadapi ancaman tsunami.
Video Viral Dikaitkan dengan Anak Krakatau
Fenomena air laut yang menjadi pembahasan tersebut juga sempat dikaitkan dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Badan Geologi memastikan fenomena air laut surut yang terekam dalam video pada 6 September 2026 tidak memiliki kaitan langsung dengan erupsi menerus Gunung Anak Krakatau.
Berdasarkan kronologi yang disampaikan Badan Geologi, aktivitas erupsi menerus berlangsung pada 4 hingga 5 September dan dinyatakan berakhir setelah lewat tengah malam 6 September.
Penjelasan tersebut sekaligus meluruskan kekhawatiran masyarakat yang menghubungkan video air laut surut dengan kemungkinan tsunami akibat aktivitas vulkanik.
Dengan demikian, video yang beredar tidak dapat dijadikan bukti bahwa tsunami sedang terjadi atau akan segera menerjang wilayah pesisir.
Anak Krakatau Memiliki Riwayat Tsunami
Kekhawatiran masyarakat terhadap kawasan Selat Sunda juga tidak sepenuhnya muncul tanpa alasan.
Gunung Anak Krakatau memang memiliki sejarah aktivitas vulkanik yang pernah berkaitan dengan tsunami.
Salah satu peristiwa yang masih diingat terjadi pada Desember 2018.
Aktivitas vulkanik Anak Krakatau saat itu memicu tsunami yang berdampak pada sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Namun, riwayat tersebut tidak berarti setiap aktivitas Gunung Anak Krakatau atau perubahan kondisi air laut di sekitarnya akan selalu menghasilkan tsunami.
Karena itu, masyarakat tetap perlu membedakan antara fenomena alam yang normal, informasi yang belum terverifikasi, dan tanda bahaya yang benar-benar membutuhkan evakuasi.
Jangan Menunggu Jika Merasakan Gempa Kuat
Masyarakat yang berada di kawasan pesisir tetap perlu memahami tanda-tanda alami tsunami.
Selain perubahan air laut yang sangat cepat dan tidak biasa, gempa kuat atau berlangsung lama juga menjadi peringatan penting untuk segera menjauh dari pantai.
Baca Juga: Kim Soo Hyun Bebas dari Perkara Kim Sae Ron, Jaksa Korea Selatan Tutup Kasus karena Tak Cukup Bukti
Jika merasakan gempa kuat ketika berada di wilayah pesisir, masyarakat sebaiknya tidak menunggu hingga melihat gelombang tsunami.
Segera bergerak menuju tempat yang lebih tinggi atau mengikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan.
Informasi resmi juga perlu menjadi rujukan utama. BMKG saat ini terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kondisi laut di kawasan Selat Sunda.
Masyarakat juga diimbau tidak menyebarkan video atau informasi yang belum jelas sumber dan waktunya.
Dalam situasi kebencanaan, informasi yang keliru dapat memicu kepanikan sekaligus membuat masyarakat mengambil keputusan yang tidak tepat.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : jawapos.com