Sering Checkout Tengah Malam? Ini Alasan Barang Murah Justru Bisa Diam-Diam Bikin Boros

Siska Yudianti • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 08:54 WIB
Satu barang Rp20 ribuan memang terasa kecil. Tapi kalau checkout berkali-kali, totalnya bisa bikin dompet menipis. (ilustrasi)
Satu barang Rp20 ribuan memang terasa kecil. Tapi kalau checkout berkali-kali, totalnya bisa bikin dompet menipis. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID — Pernah tiba-tiba checkout barang di marketplace saat malam hari hanya karena merasa penat? Barang yang dibeli biasanya bukan sesuatu yang mahal.

Mulai dari case HP, kaus kaki, parfum mini, aksesori meja kerja, perlengkapan dapur, sampai berbagai barang yang sebenarnya belum terlalu diperlukan.

Kebiasaan belanja seperti ini ternyata bisa dilihat dari sudut pandang ekonomi mikro.

Keputusan seseorang untuk membeli sesuatu tidak selalu muncul karena kebutuhan.

Kondisi emosional, persepsi terhadap harga, manfaat barang, hingga kepuasan sesaat dapat ikut memengaruhi pilihan konsumen.

Kemudahan yang ditawarkan e-commerce membuat keputusan tersebut semakin mudah terjadi.

Konsumen cukup membuka marketplace, mencari barang, memasukkannya ke keranjang, lalu menyelesaikan pembayaran hanya dalam beberapa kali sentuhan.

Scrolling marketplace juga bisa menjadi bentuk distraksi ketika pikiran sedang penuh.

Melihat berbagai produk, menemukan barang menarik, kemudian mendapatkan notifikasi promo dapat memberikan sensasi menyenangkan dalam waktu singkat.

Baca Juga: Kim Soo Hyun Bebas dari Perkara Kim Sae Ron, Jaksa Korea Selatan Tutup Kasus karena Tak Cukup Bukti

Harga Murah Membuat Checkout Terasa Ringan

Barang dengan harga relatif murah sering kali tidak terasa seperti pengeluaran besar.

Produk seharga Rp19 ribu, Rp29 ribu, atau Rp49 ribu misalnya, bisa terasa terlalu kecil untuk dipikirkan panjang.

Masalahnya, pengeluaran tidak hanya berasal dari satu transaksi.

Pembelian dengan nominal kecil yang dilakukan berulang kali justru dapat terakumulasi menjadi jumlah yang cukup besar dalam satu bulan.

Bayangkan seseorang membeli aksesori meja kerja seharga Rp30 ribu.

Beberapa hari kemudian, ia kembali checkout barang lain Rp25 ribu karena sedang mendapatkan promo flash sale.

Setelah itu, ada pula minuman kekinian seharga Rp35 ribu yang dipesan melalui aplikasi.

Jika dilihat secara terpisah, ketiga transaksi tersebut memang terlihat biasa saja.

Namun, jika dijumlahkan, sudah mencapai Rp90 ribu. Ketika pola serupa terjadi berkali-kali, nominal yang awalnya terasa kecil dapat berubah menjadi ratusan ribu rupiah.

Barang Murah Punya Risiko yang Terasa Kecil

Ada faktor lain yang membuat barang murah lebih mudah masuk ke keranjang, yakni perceived risk atau persepsi konsumen terhadap risiko pembelian.

Ketika hendak membeli barang seharga belasan juta rupiah, seseorang biasanya akan berpikir lebih panjang.

Harga, kualitas, spesifikasi, ulasan, hingga manfaat produk kemungkinan akan dibandingkan sebelum keputusan dibuat.

Berbeda halnya ketika barang yang hendak dibeli hanya seharga Rp25 ribu.

Risiko finansial yang dirasakan jauh lebih kecil sehingga konsumen cenderung tidak membutuhkan pertimbangan selama membeli barang mahal.

Pada kondisi tersebut, pertanyaan “Apakah saya membutuhkan barang ini?” bisa berubah menjadi “Kalau cuma Rp20 ribu, kenapa tidak dibeli?”

Marketplace juga memiliki berbagai strategi promosi yang dapat memperkuat dorongan tersebut.

Gratis ongkir, voucher, cashback, dan flash sale membuat konsumen merasa sedang mendapatkan keuntungan.

Akibatnya, keputusan pembelian tidak hanya didasarkan pada manfaat barang.

Ada pula perasaan bahwa kesempatan mendapatkan harga murah tersebut mungkin tidak akan datang lagi.

Checkout sebagai Bentuk Reward Setelah Lelah

Waktu belanja juga dapat memengaruhi keputusan.

Setelah menyelesaikan pekerjaan, kuliah, pekerjaan rumah, atau aktivitas lainnya sepanjang hari, malam hari sering menjadi waktu ketika seseorang akhirnya bisa menikmati waktu pribadi.

Dalam kondisi lelah, membeli barang kecil melalui marketplace dapat terasa seperti hadiah untuk diri sendiri.

Muncul anggapan bahwa setelah melewati hari yang melelahkan, tidak ada salahnya membeli sesuatu yang menyenangkan.

Barang tersebut belum tentu menjadi kebutuhan utama.

Kepuasan yang dicari bisa berasal dari proses memilih produk, memasukkannya ke keranjang, hingga melihat transaksi berhasil.

Sensasi tersebut membuat belanja online dapat menjadi pelarian singkat dari rutinitas.

Perubahan suasana hati yang muncul setelah checkout terkadang terasa lebih penting daripada manfaat barang itu sendiri.

Ekonomi Mikro Ternyata Ada di Keranjang Belanja

Konsep ekonomi mikro sebenarnya bisa ditemukan dalam berbagai keputusan sederhana.

Salah satunya ketika seseorang menentukan barang apa yang akan dibeli dengan uang yang dimilikinya.

Dalam ekonomi mikro, konsumen memiliki sumber daya terbatas dan berusaha mendapatkan kepuasan atau utility dari pilihan yang dibuat.

Kepuasan tersebut tidak selalu berasal dari barang mahal.

Kopi, skincare ukuran mini, stationery, aksesori gadget, dekorasi kamar, hingga barang koleksi bisa memiliki nilai manfaat yang berbeda bagi setiap orang.

Sebuah barang yang dianggap tidak penting bagi seseorang belum tentu memiliki nilai yang sama bagi orang lain.

Karena itu, membeli barang kecil tidak otomatis berarti sebuah keputusan konsumsi yang buruk.

Hal yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan alasan di balik pembelian.

Jika barang dibeli karena memang dibutuhkan dan memberikan manfaat, keputusan tersebut berbeda dengan pembelian yang berulang hanya untuk mengubah suasana hati sesaat.

Coba Beri Jeda Sebelum Checkout

Ada cara sederhana untuk mengetahui apakah sebuah barang benar-benar dibutuhkan atau hanya menarik ketika suasana hati sedang tidak stabil.

Salah satunya dengan memberikan jeda sebelum menyelesaikan pembayaran.

Barang yang menarik perhatian bisa dimasukkan terlebih dahulu ke keranjang.

Baca Juga: Unik! Warga Jogja Tanam Padi di Galon Bekas, Ratusan Tanaman Kini Siap Dipanen Setelah 90 Hari

Tidak perlu langsung checkout. Setelah beberapa jam atau keesokan harinya, produk tersebut bisa dilihat kembali dengan kondisi pikiran yang lebih tenang.

Jika barang itu masih terasa penting setelah tidur dan beristirahat, keputusan membeli kemungkinan sudah melalui pertimbangan yang lebih matang.

Sebaliknya, apabila keesokan paginya justru muncul pertanyaan mengapa semalam ingin membeli barang tersebut, bisa jadi dorongan checkout lebih banyak dipengaruhi kondisi emosional.

Pada akhirnya, ekonomi mikro tidak hanya berbicara tentang keputusan bisnis besar atau pergerakan pasar.

Konsep tersebut juga hadir dalam kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap hari.

Termasuk ketika seseorang membuka marketplace pada pukul 02.00 pagi dan merasa satu barang seharga Rp20 ribu terlalu murah untuk ditolak.

Sebab, pengeluaran yang membuat dompet menipis tidak selalu berasal dari satu barang mahal.

Terkadang, justru banyak barang kecil yang terasa murah dan tidak berbahaya ketika dibeli satu per satu, tetapi perlahan membuat total pengeluaran membengkak.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
perilaku konsumen belanja online tengah malam kebiasaan checkout ekonomi mikro konsumen tips menghemat uang