Kapster Bukan Cuma Tukang Cukur, Profesi Ini Bisa Buka Jalan ke Salon, Hotel hingga Kapal Pesiar

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 10:07 WIB
Kapster ternyata bukan sekadar orang yang jago potong rambut. Ada teknik, styling, perawatan, komunikasi hingga peluang bekerja di hotel dan kapal pesiar. (ilustrasi)
Kapster ternyata bukan sekadar orang yang jago potong rambut. Ada teknik, styling, perawatan, komunikasi hingga peluang bekerja di hotel dan kapal pesiar. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID — Profesi kapster selama ini mungkin masih sering dianggap sebatas pekerjaan memotong rambut.

Padahal, perkembangan industri kecantikan dan grooming membuat pekerjaan tersebut memiliki cakupan yang jauh lebih luas.

Seorang kapster tidak hanya dituntut mampu menggunakan gunting atau clipper.

Mereka juga perlu memahami teknik styling, perawatan rambut dan kulit kepala, penggunaan produk, hingga cara berkomunikasi dengan pelanggan.

Kebutuhan terhadap tenaga profesional di bidang ini juga membuka peluang kerja di berbagai tempat.

Tidak hanya salon dan barbershop, kapster dapat memiliki kesempatan bekerja di hotel, spa, studio kecantikan, bahkan kapal pesiar.

Baca Juga: 7 Ciri Orang yang Disebut “Have”, Ternyata Bukan Cuma Dilihat dari Barang Mewah dan Gaya Hidup

Kapster Sebenarnya Kerja Apa?

Kapster merupakan tenaga profesional yang menangani berbagai kebutuhan rambut pelanggan.

Pekerjaannya bisa meliputi pemotongan, penataan, pewarnaan, perawatan rambut, hingga memberikan rekomendasi gaya sesuai karakter dan keinginan pelanggan.

Artinya, kemampuan seorang kapster tidak berhenti pada teknik memotong rambut. Ia juga harus mampu memahami kebutuhan orang yang dilayani.

Kemampuan komunikasi menjadi bagian penting.

Pelanggan terkadang datang dengan gambaran gaya rambut yang belum tentu sesuai dengan bentuk wajah, kondisi rambut, atau kebutuhannya.

Di sinilah kapster dituntut mampu memberikan konsultasi sekaligus menerjemahkan keinginan pelanggan menjadi hasil akhir yang sesuai.

Kapster dan Barber Ternyata Berbeda

Istilah kapster dan barber sering digunakan secara bergantian.

Padahal, keduanya memiliki fokus yang berbeda meski dalam praktiknya batas tersebut kini semakin fleksibel.

Kapster umumnya memiliki cakupan pekerjaan yang lebih luas, termasuk menangani rambut pria maupun wanita.

Keahliannya mencakup pemotongan, styling, pewarnaan, hingga perawatan rambut.

Sementara itu, barber secara tradisional lebih berfokus pada rambut pria dan grooming maskulin.

Teknik seperti shaving dan berbagai model potongan pria menjadi bagian yang identik dengan profesi tersebut.

Namun, perkembangan tren membuat keduanya semakin beririsan.

Seorang barber dapat memperluas keterampilannya dengan mempelajari teknik kapster, begitu pula sebaliknya.

Bagi pekerja di industri ini, semakin banyak keterampilan yang dikuasai, semakin luas pula pilihan pekerjaan yang bisa dituju.

Peluang Kerjanya Tak Hanya di Salon

Industri kapster menawarkan jalur karier yang cukup beragam.

Pilihan paling umum tentu bekerja di salon atau barbershop.

Namun, keahlian tersebut juga bisa digunakan untuk masuk ke sektor hospitality.

Hotel, spa, wellness center, studio fashion, hingga layanan tata rias dan rambut untuk acara pernikahan membutuhkan tenaga dengan keterampilan grooming.

Bahkan, profesi ini dapat berkembang menjadi usaha mandiri.

Kapster yang memiliki pengalaman dan kemampuan manajemen bisa membuka salon atau barbershop sendiri.

Ada pula peluang untuk mengembangkan konsep layanan mobile, sehingga jasa potong dan perawatan rambut dapat diberikan langsung ke lokasi pelanggan.

Bagi mereka yang ingin mencari pengalaman internasional, industri kapal pesiar juga menjadi salah satu bidang yang dapat dipertimbangkan.

Mengapa Sertifikasi Kompetensi Dibutuhkan?

Di tengah persaingan tenaga kerja, kemampuan praktik saja bisa menjadi belum cukup.

Bukti kompetensi dapat menjadi salah satu cara untuk menunjukkan bahwa seseorang memiliki keterampilan yang sesuai dengan standar profesi.

LSP Pariwisata Jana Dharma Indonesia mencantumkan sertifikasi profesi sebagai salah satu bentuk pengakuan terhadap kompetensi tenaga kerja.

Lembaga tersebut memiliki berbagai skema sertifikasi di sejumlah bidang pariwisata dan menyebut skema yang dimilikinya telah diverifikasi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi atau BNSP.

Untuk profesi kapster, sertifikasi mencakup berbagai kemampuan yang berkaitan dengan pekerjaan.

Mulai dari teknik pemotongan rambut, perawatan rambut dan kulit kepala, penggunaan serta sterilisasi alat, pelayanan pelanggan, hingga aspek kesehatan dan keselamatan kerja.

Dengan begitu, proses sertifikasi tidak hanya berbicara mengenai hasil potongan rambut, tetapi juga bagaimana seorang profesional menjalankan pekerjaannya secara menyeluruh.

Skill yang Perlu Dikuasai Kapster

Ada sejumlah kemampuan yang menjadi bagian penting dalam pekerjaan kapster.

Teknik potong rambut menjadi dasar utama.

Kapster perlu memahami berbagai teknik, termasuk penggunaan gunting dan clipper serta teknik seperti fading, tapering, dan blending.

Pengetahuan tentang rambut dan kulit kepala juga tidak kalah penting.

Setiap pelanggan bisa memiliki karakter rambut yang berbeda sehingga penanganannya tidak bisa disamaratakan.

Selain keterampilan teknis, kapster juga perlu memahami cara menggunakan dan merawat peralatan.

Kebersihan serta sterilisasi alat menjadi bagian penting untuk menjaga keamanan dan kenyamanan pelanggan.

Kemampuan berkomunikasi juga perlu diperhatikan.

Kapster harus mampu menggali kebutuhan pelanggan, memberikan rekomendasi, serta menjelaskan perawatan yang sesuai.

Bagi yang ingin membuka usaha sendiri, pengetahuan mengenai pemasaran, keuangan, pelayanan, dan pembangunan merek juga akan menjadi bekal tambahan.

Bagaimana Cara Mendapatkan Sertifikasi?

Bagi calon peserta, proses sertifikasi dimulai dengan menyiapkan persyaratan yang diperlukan.

LSP Pariwisata Jana Dharma Indonesia mencantumkan pengalaman kerja dan/atau pelatihan relevan sebagai salah satu persyaratan dasar, disertai dokumen administrasi seperti ijazah, KTP, pas foto, dan daftar riwayat hidup.

Peserta kemudian mengikuti proses asesmen atau uji kompetensi bersama asesor.

Dalam alur yang dipublikasikan LSP tersebut, peserta juga perlu memiliki akun SIAPkerja dan mengikuti tahapan pendaftaran serta verifikasi dokumen sebelum penjadwalan uji kompetensi.

Jika dinyatakan kompeten, peserta memperoleh sertifikat sesuai skema yang diikuti.

Proses tersebut membuat calon tenaga kerja memiliki kesempatan untuk mengukur kemampuan mereka berdasarkan standar kompetensi yang telah ditetapkan.

Bisa Jadi Modal untuk Mengembangkan Karier

Sertifikasi bukan berarti otomatis menjamin seseorang mendapatkan pekerjaan atau gaji tertentu.

Namun, dokumen kompetensi dapat menjadi salah satu pendukung ketika seseorang ingin memasuki industri atau mengembangkan karier.

Bagi kapster yang sudah bekerja, sertifikasi dapat menjadi bagian dari upaya meningkatkan profesionalisme.

Sementara bagi pemilik usaha, tenaga kerja yang memiliki kompetensi terukur dapat membantu meningkatkan kepercayaan pelanggan.

Baca Juga: Banjir Melanda Nagoya Jelang Asian Games 2026, Atlet Indonesia Dipastikan Aman dan Siapkan Latihan A

Pada akhirnya, profesi kapster memiliki ruang berkembang yang cukup luas.

Perubahan gaya hidup dan meningkatnya perhatian masyarakat terhadap penampilan membuat kebutuhan terhadap layanan rambut terus berkembang.

Karena itu, menjadi kapster profesional bukan lagi sekadar tentang bisa memotong rambut.

Ada teknik, kreativitas, komunikasi, pelayanan, kebersihan, hingga pemahaman bisnis yang ikut menentukan kualitas seorang tenaga profesional.

Dengan keterampilan yang terus diasah dan kompetensi yang dapat dibuktikan, profesi kapster pun bisa menjadi pilihan karier yang serius, baik untuk bekerja di dalam negeri maupun mengejar peluang di industri hospitality internasional.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : lsppariwisata.com
profesi kapster sertifikasi kapster peluang kerja kapster perbedaan kapster dan barber sertifikasi BNSP kapster