RADARBONANG.ID — Menanam padi biasanya identik dengan hamparan sawah yang luas.
Namun, gambaran tersebut tidak selalu berlaku di tengah kawasan perkotaan.
Di Wirobrajan, Kota Jogja, sekelompok petani justru mencoba menanam padi menggunakan galon bekas.
Inovasi tersebut dilakukan Kelompok Tani Swa Katon Asri.
Di tengah keterbatasan lahan perkotaan, ratusan galon yang sudah tidak terpakai dimanfaatkan sebagai wadah untuk menanam tanaman pangan.
Pemandangan ini cukup unik. Deretan galon yang biasanya berakhir menjadi limbah kini berubah fungsi menjadi media tumbuh padi.
Baca Juga: Kisah Jonathan Andre Nugroho, Chef Asal Jakarta yang Sukses Jadi Koki Pribadi Leonardo DiCaprio
Tanaman-tanaman tersebut bahkan telah memasuki usia sekitar 90 hari dan mulai mendekati masa panen.
Berawal dari Tantangan Dosen Pertanian
Ide menanam padi menggunakan galon bekas ternyata tidak muncul begitu saja.
Sebelumnya, Kelompok Tani Swa Katon Asri lebih banyak mengembangkan tanaman sayur-mayur.
Perubahan metode tersebut bermula dari tantangan seorang dosen pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).
Para anggota kelompok tani didorong untuk mencoba sesuatu yang berbeda dan mencari metode bercocok tanam yang dapat diterapkan di lingkungan perkotaan.
Tantangan tersebut kemudian dijawab dengan eksperimen menanam padi menggunakan wadah sederhana yang mudah ditemukan di sekitar.
Galon bekas dipilih karena memiliki ukuran yang cukup untuk menampung media tanam dan air.
Selain itu, penggunaannya juga memungkinkan tanaman padi dibudidayakan tanpa membutuhkan petak sawah yang luas.
Dari percobaan tersebut, tanaman padi ternyata dapat tumbuh dengan baik.
Ratusan Galon Berubah Jadi Mini Sawah
Jika dilihat sekilas, deretan galon berisi tanaman padi tersebut seperti miniatur sawah yang dibuat di lingkungan perkotaan.
Ratusan tanaman tumbuh dalam wadah masing-masing.
Ketika memasuki usia sekitar tiga bulan, tanaman mulai menunjukkan bulir-bulir padi yang menandakan masa panen semakin dekat.
Metode ini menjadi alternatif menarik untuk pertanian di wilayah yang sulit mendapatkan lahan luas.
Alih-alih membutuhkan sawah dengan sistem pengairan yang kompleks, setiap tanaman berada dalam wadah yang bisa dikontrol secara individual. Kondisi tersebut membuat petani lebih mudah memantau perkembangan tanaman.
Penggunaan galon juga memberikan keuntungan lain karena air dapat diatur sesuai kebutuhan.
Begitu pula dengan pemberian pupuk yang bisa dilakukan secara lebih terukur.
Air dan Pupuk Lebih Mudah Dikontrol
Salah satu tantangan dalam menanam padi di sawah adalah pengelolaan air.
Tanaman membutuhkan kondisi air yang sesuai agar dapat tumbuh optimal, sementara lahan sawah biasanya memiliki area yang jauh lebih luas.
Dalam metode menggunakan galon, skala tanam menjadi jauh lebih kecil sehingga pengaturan air dapat dilakukan pada masing-masing wadah.
Hal serupa berlaku pada pemupukan.
Petani dapat memberikan pupuk langsung pada media tanam tanpa harus mengelola area seluas lahan persawahan.
Kondisi tersebut membuat metode ini relatif praktis untuk diterapkan di kawasan perkotaan.
Meski menggunakan wadah sederhana, hasil pertumbuhannya juga disebut tidak kalah menarik.
Bulir padi yang muncul pada tanaman menunjukkan bahwa keterbatasan lahan tidak selalu menjadi penghalang untuk menghasilkan tanaman pangan.
Pertanian Perkotaan Jadi Alternatif
Apa yang dilakukan Kelompok Tani Swa Katon Asri merupakan contoh sederhana dari konsep pertanian perkotaan atau urban farming.
Konsep tersebut semakin relevan ketika lahan produktif di kawasan kota semakin terbatas.
Masyarakat tidak selalu memiliki halaman luas untuk bercocok tanam, tetapi bukan berarti kegiatan pertanian harus sepenuhnya ditinggalkan.
Berbagai wadah bekas dapat dimanfaatkan sebagai media tanam selama disesuaikan dengan jenis tanaman dan kebutuhan budidayanya.
Dalam kasus Kelompok Tani Swa Katon Asri, galon bekas yang awalnya tidak memiliki nilai guna kembali dimanfaatkan untuk menghasilkan bahan pangan.
Selain menghasilkan tanaman, metode tersebut juga memberikan nilai edukasi.
Masyarakat dapat melihat secara langsung bahwa bercocok tanam tidak selalu membutuhkan sawah atau kebun berukuran besar.
Menunggu Panen Perdana
Setelah melewati proses perawatan selama kurang lebih 90 hari, tanaman padi dalam galon kini mulai mendekati masa panen.
Bulir-bulir yang mulai bermunculan menjadi tanda bahwa eksperimen tersebut akan segera memasuki tahap akhir.
Bagi kelompok tani, masa panen tentu menjadi momen penting untuk melihat sejauh mana metode yang mereka coba dapat menghasilkan padi.
Jika hasilnya sesuai harapan, cara tersebut berpotensi menjadi inspirasi bagi masyarakat perkotaan yang ingin mencoba budidaya tanaman pangan dengan lahan terbatas.
Menanam padi dalam galon memang tidak dimaksudkan untuk menggantikan sistem persawahan dalam skala besar.
Namun, metode tersebut menunjukkan bahwa inovasi sederhana bisa membuka peluang baru dalam pertanian perkotaan.
Dari Barang Bekas Menjadi Sumber Pangan
Pemanfaatan galon bekas untuk menanam padi juga memiliki cerita lain mengenai pengelolaan barang yang sudah tidak terpakai.
Daripada langsung dibuang, wadah tersebut dapat digunakan kembali untuk kebutuhan produktif.
Di tangan kelompok tani, barang bekas itu berubah menjadi tempat tumbuh tanaman pangan.
Baca Juga: The Early Spring Jadi Drama China yang Ramai Dibicarakan, Masuk Top 10 Netflix dan Tembus 10 Ribu He
Pemandangan ratusan galon berisi padi sekaligus memperlihatkan bagaimana kreativitas dapat membantu mengatasi keterbatasan ruang.
Eksperimen yang dilakukan di Wirobrajan ini menjadi contoh bahwa pertanian bisa beradaptasi dengan lingkungan.
Tidak harus selalu berada di tengah hamparan sawah, tanaman padi juga dapat dicoba di ruang terbatas dengan metode yang disesuaikan.
Kini, ratusan tanaman padi tersebut tinggal menunggu waktu untuk dipanen.
Hasil akhirnya akan menjadi penentu sekaligus pembelajaran bagi Kelompok Tani Swa Katon Asri dalam mengembangkan metode pertanian alternatif.
Dari galon bekas di tengah Kota Jogja, muncul satu pesan sederhana: keterbatasan lahan bukan alasan untuk berhenti mencoba bercocok tanam.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : instagram.com/infarm.id