Bunga Bangkai Terancam Punah, Indonesia Siapkan Bank Polen demi Menjaga Generasi Tanaman

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 12:27 WIB
Bukan bank uang, melainkan bank polen. BRIN menyiapkan cara unik untuk menyimpan serbuk sari bunga bangkai demi menjaga keragaman genetik dan kelangsungan flora endemik Sumatera. (brin.go.id)
Bukan bank uang, melainkan bank polen. BRIN menyiapkan cara unik untuk menyimpan serbuk sari bunga bangkai demi menjaga keragaman genetik dan kelangsungan flora endemik Sumatera. (brin.go.id)

RADARBONANG.ID – Bunga bangkai raksasa atau Amorphophallus titanum selama ini dikenal sebagai salah satu flora paling unik yang dimiliki Indonesia.

Ukurannya bisa sangat besar dan ketika memasuki fase berbunga, tanaman endemik Sumatera ini mengeluarkan aroma yang menyerupai bau bangkai.

Namun, di balik keunikannya, bunga bangkai raksasa menghadapi tantangan dalam upaya pelestarian.

Menjaga keberadaan tanaman ini ternyata bukan hanya soal memperbanyak jumlah bibit, tetapi juga memastikan keragaman genetiknya tetap terjaga.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan strategi konservasi melalui pembuatan bank polen atau pollen banking.

Baca Juga: Grup Djarum Ambil Alih Narasi, Ini Peluang Bisnis dan Kekhawatiran soal Independensi Editorial

Program tersebut menjadi salah satu fokus konservasi Amorphophallus titanum pada 2026.

Bukan Sekadar Menyimpan Serbuk Sari

Bank polen terdengar seperti tempat penyimpanan biasa.

Namun, fasilitas tersebut memiliki fungsi penting dalam menjaga keberlangsungan populasi bunga bangkai.

Salah satu persoalan yang ditemukan dalam pengembangan koleksi bunga bangkai adalah bibit yang dihasilkan masih berasal dari tanaman dengan hubungan kekerabatan cukup dekat atau sibling.

Jika persilangan antartanaman yang masih berkerabat dekat terus dilakukan, variasi genetik dalam koleksi dapat menjadi lebih terbatas.

Dalam jangka panjang, kondisi tersebut bukan sesuatu yang ideal bagi program konservasi.

Karena itu, serbuk sari dari populasi yang memiliki jarak geografis jauh dapat disimpan sebagai cadangan.

Polen dari populasi bunga bangkai di Aceh, misalnya, nantinya dapat digunakan untuk membantu persilangan dengan tanaman koleksi yang tumbuh di Jawa.

Strategi tersebut memungkinkan peneliti mensimulasikan persilangan antarpopulasi yang secara alami berada jauh satu sama lain.

Dengan cara tersebut, konservasi tidak hanya mengejar jumlah tanaman baru, tetapi juga berupaya mempertahankan variasi genetik agar koleksi memiliki keragaman yang lebih baik.

Bunga Jantan dan Betina Tidak Matang Bersamaan

Ada alasan biologis lain yang membuat upaya memperbanyak bunga bangkai tidak bisa dilakukan dengan cara sederhana.

Pada Amorphophallus titanum, bunga betina matang lebih dahulu.

Fase tersebut ditandai dengan keluarnya aroma khas yang menyerupai bau bangkai.

Sementara itu, bagian jantan baru melepaskan serbuk sari pada hari berikutnya.

Ketika serbuk sari tersebut tersedia, bunga betina pada tanaman yang sama sudah memasuki fase yang tidak memungkinkan terjadinya pembuahan secara alami.

Mekanisme tersebut sebenarnya memiliki fungsi biologis karena membantu mencegah penyerbukan sendiri.

Namun, bagi peneliti yang ingin memperbanyak bunga bangkai dalam program konservasi, perbedaan waktu kematangan tersebut menjadi tantangan tersendiri.

Solusinya adalah melakukan polinasi atau penyerbukan secara buatan.

Serbuk sari yang diperoleh ketika tanaman berbunga dapat dikumpulkan dan disimpan.

Polen tersebut kemudian bisa digunakan ketika tanaman lain memasuki fase berbunga yang sesuai.

Polen Disimpan untuk Persilangan di Waktu yang Tepat

Dalam praktiknya, tim konservasi menyimpan polen dari tanaman yang berbunga pada tahun sebelumnya di dalam freezer dengan menggunakan aluminium foil.

Ketika tanaman lain mulai berbunga, cadangan polen tersebut dapat dikeluarkan untuk membantu proses persilangan.

Teknik tersebut menjadi penting karena waktu berbunga bunga bangkai tidak selalu bisa diprediksi dengan mudah.

Selain proses penyerbukan, peneliti juga harus menjaga bunga dan hasil persilangan dari gangguan jamur maupun bakteri.

Dalam persilangan tertutup, tim melakukan perawatan dengan penyemprotan cairan antijamur dan antibakteri.

Upaya tersebut telah menghasilkan buah dan biji.

Bibit baru kemudian dapat tumbuh dari biji menggunakan media kompos, dengan proses perkecambahan berlangsung sekitar tiga bulan.

Artinya, bank polen bukan hanya berkaitan dengan penyimpanan serbuk sari, tetapi menjadi bagian dari rangkaian panjang proses konservasi yang melibatkan pengumpulan, penyimpanan, persilangan, hingga menghasilkan generasi tanaman baru.

Pernah Tumbuh hingga 3,7 Meter

Program konservasi bunga bangkai di Kebun Raya Cibodas juga memiliki catatan menarik.

Salah satu spesimen Amorphophallus titanum yang dikembangkan di sana pernah berbunga dengan ketinggian mencapai 3,7 meter pada 2016, jika diukur dari tangkai daun.

Ukuran tersebut disebut melampaui catatan tertinggi yang saat itu tercatat dalam Guinness Book of Records, yakni 3,1 meter.

Tanaman tersebut juga memiliki pola pembungaan yang menarik.

Setelah diperkirakan kembali berbunga pada 2020, tanaman justru kembali berbunga pada 2017 dengan tinggi sekitar 3,4 meter.

Pada 2020, tanaman tersebut kemudian kembali berbunga secara normal.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa konservasi di luar habitat asli atau konservasi ex situ dapat menjadi bagian penting dalam menjaga spesies yang menghadapi ancaman.

Namun, mempertahankan bunga bangkai tetap hidup bukan pekerjaan mudah.

Konservasi Juga Menghadapi Banyak Tantangan

Tim di Kebun Raya Cibodas harus menghadapi berbagai persoalan dalam menjaga koleksi Amorphophallus titanum.

Salah satunya adalah gangguan satwa liar seperti babi yang dapat merusak tanaman.

Untuk mencegahnya, area koleksi dipasangi pagar kawat agar hewan tersebut tidak masuk dan mengganggu tanaman.

Tantangan lainnya justru dapat terjadi di dalam tanah.

Umbi bunga bangkai memiliki risiko mengalami pembusukan yang terkadang tidak langsung terlihat dari permukaan.

Kondisi tersebut membuat pemeliharaan tanaman harus dilakukan dengan hati-hati.

Peneliti tidak hanya perlu memperhatikan pertumbuhan bagian tanaman yang terlihat, tetapi juga memastikan kondisi umbi tetap sehat.

Program konservasi ini dilakukan melalui kolaborasi sejumlah pusat riset di lingkungan BRIN, termasuk Pusat Riset Sistem Biota, Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi, Pusat Riset Botani Terapan, serta Direktorat Pengelolaan Koleksi Ilmiah.

Tim juga bekerja sama dengan peneliti dari Chicago Botanic Garden.

Menyelamatkan Bunga Bangkai Bukan Hanya Soal Jumlah

Upaya membuat bank polen menunjukkan bahwa menyelamatkan tumbuhan dari ancaman kepunahan membutuhkan strategi yang lebih panjang daripada sekadar memperbanyak bibit.

Baca Juga: Kenapa Gen Z Lebih Suka Informasi Cepat dan Ringan? Ternyata Bukan Sekadar Soal Malas Membaca

Jumlah tanaman memang penting, tetapi keragaman genetik juga menjadi bagian yang tidak kalah penting.

Dengan menyimpan polen dari populasi yang berbeda dan berjauhan, peneliti memiliki peluang untuk menciptakan persilangan dengan variasi genetik yang lebih baik.

Cara tersebut diharapkan dapat memperkuat koleksi konservasi sekaligus menjadi salah satu langkah untuk menjaga masa depan bunga bangkai raksasa.

Bagi Indonesia, Amorphophallus titanum bukan sekadar tanaman berukuran besar dengan aroma yang khas.

Flora endemik Sumatera ini merupakan bagian dari kekayaan hayati yang perlu dipertahankan.

Karena itu, inovasi berupa bank polen menjadi salah satu upaya menarik dalam menjaga agar bunga bangkai tetap memiliki peluang berkembang biak dan bertahan untuk generasi berikutnya.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : goodnewsfromindonesia.id
bank polen bunga bangkai bunga bangkai Indonesia Amorphophallus titanum konservasi bunga bangkai BRIN