Quiet Quitting Makin Dibicarakan Gen Z, Bukan Malas Kerja tapi Ingin Punya Batas yang Lebih Sehat

Widodo • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 07:58 WIB
Quiet quitting bukan berarti malas atau ingin berhenti kerja. Bagi sebagian Gen Z, pekerjaan tetap penting, tetapi kehidupan pribadi juga tidak mau dikorbankan begitu saja. (ilustrasi)
Quiet quitting bukan berarti malas atau ingin berhenti kerja. Bagi sebagian Gen Z, pekerjaan tetap penting, tetapi kehidupan pribadi juga tidak mau dikorbankan begitu saja. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Dunia kerja terus mengalami perubahan seiring munculnya generasi baru dengan cara pandang yang berbeda terhadap karier.

Salah satu istilah yang kembali banyak dibicarakan adalah quiet quitting, terutama di kalangan Gen Z.

Istilah tersebut mungkin terdengar seperti seseorang yang diam-diam berhenti bekerja. Padahal, maknanya tidak demikian.

Quiet quitting menggambarkan sikap ketika seseorang tetap menjalankan pekerjaan dan tanggung jawabnya, tetapi tidak lagi menjadikan pekerjaan sebagai pusat dari seluruh kehidupannya.

Pekerja tetap datang, menyelesaikan tugas, memenuhi target, dan menjalankan tanggung jawab sesuai posisi.

Namun, mereka mulai membuat batas yang lebih jelas antara urusan kantor dan kehidupan pribadi.

Bukan Berarti Benar-Benar Berhenti Kerja

Salah satu kesalahpahaman mengenai quiet quitting adalah anggapan bahwa istilah tersebut berarti seseorang ingin keluar dari pekerjaannya.

Baca Juga: Ingin Jadi Dancer Sound Horeg? Ini Skill, Gaya Joget, hingga Cara Mendapat Job dan Saweran

Padahal, pekerja yang menerapkan prinsip ini masih menjalankan kewajibannya.

Mereka tidak serta-merta menolak pekerjaan atau sengaja mengurangi kualitas pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya.

Perbedaannya lebih terlihat dari cara seseorang memberikan waktu dan energi untuk pekerjaan.

Misalnya, setelah jam kerja berakhir, pekerja memilih tidak terus memeriksa pesan kantor jika memang tidak ada kondisi yang mendesak.

Mereka juga tidak merasa harus mengambil pekerjaan tambahan hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya sangat berdedikasi.

Dengan kata lain, pekerjaan tetap dilakukan secara profesional, tetapi tidak harus mengambil seluruh waktu yang dimiliki.

Mengapa Banyak Dibicarakan Gen Z?

Fenomena quiet quitting menarik perhatian karena beriringan dengan perubahan cara generasi muda memandang karier.

Bagi sebagian Gen Z, pekerjaan memang menjadi bagian penting dalam kehidupan.

Namun, pekerjaan bukan satu-satunya hal yang menentukan kebahagiaan atau keberhasilan seseorang.

Ada kehidupan di luar kantor yang juga ingin dijalani.

Waktu bersama keluarga, bertemu teman, menjalankan hobi, beristirahat, hingga mengejar minat pribadi dianggap memiliki nilai yang sama pentingnya.

Pandangan tersebut membuat sebagian pekerja muda mulai mempertanyakan budaya kerja yang menganggap seseorang harus selalu tersedia untuk menunjukkan loyalitas.

Bekerja hingga larut malam atau terus menjawab pesan pekerjaan di luar jam kantor tidak selalu dianggap sebagai bukti bahwa seseorang mempunyai etos kerja yang lebih baik.

Batas Kerja Mulai Dianggap Penting

Salah satu inti dari quiet quitting adalah keinginan untuk memiliki batas yang sehat antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Pekerja tetap bisa serius terhadap karier, tetapi mereka juga ingin mengetahui kapan waktunya bekerja dan kapan waktunya beristirahat.

Batas tersebut dapat terlihat dari berbagai kebiasaan sederhana.

Setelah pekerjaan selesai, seseorang memilih menutup laptop dan tidak lagi memikirkan urusan kantor sampai jam kerja berikutnya.

Ketika sedang menjalani waktu pribadi, perhatian tidak terus-menerus diarahkan kepada pekerjaan.

Bagi sebagian orang, pola seperti ini justru membantu menjaga energi agar tetap bisa digunakan secara optimal ketika kembali bekerja.

Karier Bukan Satu-Satunya Ukuran Sukses

Generasi muda juga semakin sering membicarakan konsep keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Karier memang dapat menjadi bagian dari tujuan hidup, tetapi bukan berarti seluruh identitas seseorang harus ditentukan oleh jabatan, gaji, atau pencapaian di kantor.

Waktu untuk diri sendiri juga mulai mendapatkan perhatian lebih besar.

Seseorang mungkin ingin memiliki pekerjaan yang baik sekaligus tetap mempunyai waktu untuk olahraga, berkumpul bersama keluarga, bepergian, belajar keterampilan baru, atau sekadar beristirahat.

Dari perspektif tersebut, keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi seseorang menaiki jenjang karier.

Kemampuan menjaga kehidupan tetap berjalan secara seimbang juga dianggap sebagai sesuatu yang penting.

Tetap Ada Tanggung Jawab yang Harus Dipenuhi

Meski begitu, quiet quitting bukan berarti pekerja bebas mengabaikan kewajibannya.

Ada perbedaan antara menetapkan batas kerja dan sengaja bekerja secara asal-asalan.

Pekerja tetap memiliki tanggung jawab terhadap perusahaan, tim, maupun pekerjaan yang sudah disepakati.

Target dan tugas yang menjadi bagian dari peran tetap perlu diselesaikan dengan baik.

Karena itu, konsep quiet quitting lebih tepat dipahami sebagai perubahan batas keterlibatan, bukan penurunan tanggung jawab.

Jika seseorang sudah menyelesaikan pekerjaan sesuai kewajibannya, mereka merasa tidak harus terus menambahkan beban kerja hanya karena adanya tekanan untuk terlihat selalu sibuk.

Memunculkan Perdebatan di Dunia Kerja

Fenomena ini akhirnya tidak hanya menjadi pembicaraan di kalangan Gen Z.

Quiet quitting juga memunculkan diskusi yang lebih luas mengenai hubungan antara pekerja dan perusahaan.

Perusahaan tentu membutuhkan karyawan yang produktif, bertanggung jawab, dan mampu mencapai target.

Di sisi lain, pekerja juga membutuhkan lingkungan yang memungkinkan mereka menjalankan pekerjaan tanpa kehilangan kehidupan pribadi.

Perbedaan kebutuhan tersebut membuat komunikasi menjadi semakin penting.

Perusahaan perlu menjelaskan ekspektasi pekerjaan, sementara pekerja juga perlu memahami batas dan tanggung jawab yang melekat pada posisinya.

Ketika batas tersebut jelas, potensi kesalahpahaman dapat dikurangi.

Bukan Soal Malas, tetapi Cara Melihat Pekerjaan

Pada akhirnya, quiet quitting tidak selalu tepat jika langsung dikaitkan dengan kemalasan.

Baca Juga: Jarang Disadari, 9 Kebiasaan Sehari-hari Ini Ternyata Bisa Menunjukkan Seseorang Cerdas

Fenomena tersebut lebih menggambarkan perubahan cara sebagian pekerja memandang hubungan mereka dengan pekerjaan.

Ada keinginan untuk tetap profesional tanpa harus mengorbankan seluruh waktu dan energi untuk pekerjaan.

Bagi Gen Z, bekerja tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan. Namun, pekerjaan tidak harus menjadi seluruh kehidupan.

Pandangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa dunia kerja terus berubah.

mengenai dedikasi, produktivitas, dan kesuksesan mulai dibicarakan dari sudut pandang yang lebih luas.

Perdebatan mengenai quiet quitting kemungkinan akan terus berlanjut.

Sebab, pada akhirnya setiap perusahaan dan pekerja memiliki cara masing-masing dalam menentukan batas antara tanggung jawab profesional dan kehidupan pribadi.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
quiet quitting Gen Z arti quiet quitting tren kerja Gen Z keseimbangan kerja dan kehidupan Budaya kerja Gen Z