Bukan dengan Marah, Ini 9 Cara Efektif Mengajarkan Disiplin Anak Tanpa Kekerasan di Rumah

Arinie Khaqqo • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 07:35 WIB
Anak susah diatur bukan berarti harus dibentak. Ada cara yang lebih tenang untuk mengajarkan disiplin sekaligus membuat anak memahami aturan. (ilustrasi)
Anak susah diatur bukan berarti harus dibentak. Ada cara yang lebih tenang untuk mengajarkan disiplin sekaligus membuat anak memahami aturan. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Mengajarkan disiplin kepada anak bukan berarti orang tua harus selalu bersikap keras.

Justru, anak membutuhkan batasan yang jelas, penjelasan yang sederhana, serta pendampingan agar mereka memahami alasan di balik sebuah aturan.

Memasuki usia sekolah, anak mulai semakin mengenal konsep benar dan salah.

Pada fase ini, orang tua mempunyai kesempatan untuk membangun kebiasaan positif yang dapat terbawa hingga mereka tumbuh dewasa.

Psikolog anak Ratih Ibrahim menjelaskan bahwa disiplin membantu anak mengenali batasan, memahami aturan, sekaligus belajar mengenai kewajiban.

Namun, bukan berarti rumah harus dipenuhi dengan larangan.

Aturan sebaiknya diberikan untuk hal-hal yang memang penting, terutama tindakan yang berpotensi membahayakan anak.

Pendekatan tersebut membuat anak tidak sekadar mengetahui bahwa sesuatu dilarang.

Baca Juga: Sarwendah Ajukan Jawaban Gugatan Ruben Onsu, Siapkan Rekonvensi dalam Perkara Hak Asuh Anak

Mereka juga perlahan memahami alasan mengapa sebuah perilaku tidak boleh dilakukan.

Yang tidak kalah penting, proses mendisiplinkan anak sebaiknya dilakukan tanpa kekerasan.

Bentakan, ancaman, maupun hukuman fisik dapat memberikan dampak negatif terhadap perkembangan anak.

Lantas, bagaimana cara membangun disiplin tanpa membuat anak merasa tertekan?

1. Orang Tua Perlu Menenangkan Diri Lebih Dulu

Ketika anak menangis, berteriak, atau menolak mengikuti aturan, orang tua mungkin merasa kesal.

Namun, respons spontan berupa bentakan justru dapat membuat keadaan semakin sulit.

Anak yang sudah mampu berbicara belum tentu selalu bisa menjelaskan emosinya dengan baik.

Karena itu, mereka terkadang menunjukkan rasa marah atau kecewa melalui perilaku.

Orang tua dapat mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri.

Setelah suasana lebih kondusif, ajak anak berbicara dan tanyakan apa yang membuatnya kesal.

2. Tegas dengan Alasan yang Mudah Dipahami

Anak tetap membutuhkan batasan. Bedanya, batasan tersebut sebaiknya disampaikan dengan tegas tanpa ancaman.

Ketika anak melakukan sesuatu yang berbahaya, berikan alasan yang konkret dan mudah dimengerti.

Misalnya, saat anak bermain terlalu dekat dengan tempat tinggi, orang tua dapat menjelaskan risiko jatuh dan terluka.

Hindari menggunakan cerita menakutkan yang justru membuat anak cemas.

3. Pastikan Aturan Berlaku Secara Konsisten

Aturan yang berubah-ubah dapat membuat anak kebingungan.

Apa yang dilarang hari ini seharusnya tidak tiba-tiba diperbolehkan tanpa alasan yang jelas.

Orang tua juga perlu memiliki kesepakatan mengenai aturan di rumah.

Jika salah satu melarang sementara yang lain membiarkan, anak dapat menangkap pesan yang berbeda.

Konsistensi membuat anak lebih mudah memahami batasan yang berlaku.

4. Ajak Bicara dengan Posisi Sejajar

Ketika menegur anak, orang tua dapat berlutut atau duduk sehingga posisi mata berada pada ketinggian yang sama.

Cara sederhana tersebut dapat membuat komunikasi terasa lebih nyaman.

Anak juga dapat merasa bahwa dirinya sedang diajak berbicara, bukan sekadar dimarahi.

Posisi sejajar bukan berarti menghilangkan kewibawaan orang tua.

Sebaliknya, cara tersebut dapat membantu menciptakan komunikasi yang lebih terbuka.

5. Alihkan Perilaku dengan Cara yang Positif

Tidak semua perilaku yang salah harus direspons dengan kemarahan.

Dalam beberapa situasi, mengalihkan perhatian anak bisa menjadi pilihan yang lebih efektif.

Ketika anak melempar buku dan membuat ruangan berantakan, misalnya, orang tua dapat mengajaknya mengambil kembali buku tersebut.

Setelah itu, anak bisa diarahkan untuk membaca atau menyimpan buku pada tempatnya.

Dengan cara ini, anak mendapatkan contoh mengenai perilaku yang seharusnya dilakukan.

6. Kenalkan Konsekuensi, Bukan Hukuman Fisik

Anak perlu memahami bahwa setiap tindakan mempunyai konsekuensi.

Namun, konsekuensi tersebut tidak harus berupa hukuman fisik.

Orang tua dapat memberikan konsekuensi yang berkaitan dengan perilaku anak.

Misalnya, ketika anak sengaja menolak mengikuti rutinitas yang sudah disepakati, waktu bermain atau menonton dapat dikurangi.

Hal terpenting adalah menjelaskan hubungan antara perilaku dan konsekuensi tersebut.

Dengan begitu, anak belajar bertanggung jawab atas pilihannya.

7. Jangan Langsung Menuruti Rengekan

Menangis atau merengek terkadang menjadi cara anak mendapatkan sesuatu yang diinginkan.

Jika setiap permintaan selalu dipenuhi setelah anak menangis, mereka dapat belajar bahwa cara tersebut efektif untuk mendapatkan keinginan.

Orang tua dapat tetap tenang dan menjelaskan bahwa keinginan anak akan didengarkan ketika disampaikan dengan cara yang baik.

Dengan kebiasaan tersebut, anak perlahan belajar mengomunikasikan kebutuhan tanpa harus menggunakan rengekan.

8. Orang Tua Harus Menjadi Contoh

Anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Karena itu, perilaku orang tua ketika menghadapi masalah dapat menjadi contoh bagi anak. Cara berbicara, menyelesaikan perbedaan pendapat, hingga meminta maaf dapat ditiru dalam kehidupan sehari-hari.

Jika orang tua ingin anak berbicara dengan sopan, orang tua juga perlu menunjukkan komunikasi yang sama.

9. Jangan Lupa Memberikan Apresiasi

Membangun kedisiplinan tidak hanya tentang menegur kesalahan.

Anak juga membutuhkan penghargaan ketika berhasil melakukan sesuatu dengan baik.

Baca Juga: Bukan Cuma Drama Romantis, 11 Film Korea tentang Bencana Ini Punya Cerita Survival yang Bikin Tegang

Pujian sederhana dapat diberikan ketika anak merapikan mainan, mengembalikan barang ke tempatnya, atau mengikuti aturan tanpa harus diingatkan berulang kali.

Apresiasi membuat anak merasa bahwa perilaku positif mereka diperhatikan.

Lambat laun, anak akan memahami bahwa disiplin bukan sekadar kewajiban karena takut dimarahi.

Disiplin dapat menjadi kebiasaan yang muncul karena mereka memahami aturan dan konsekuensinya.

Pada akhirnya, membangun disiplin membutuhkan proses yang konsisten.

Orang tua tidak harus selalu sempurna, tetapi perlu berusaha memberikan batasan yang jelas, menjadi teladan, serta membuka ruang komunikasi dengan anak.

Pendekatan tanpa kekerasan juga dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih sehat antara orang tua dan anak.

Ketika aturan disampaikan dengan tenang dan konsisten, anak memiliki kesempatan untuk belajar bertanggung jawab tanpa harus tumbuh dalam rasa takut.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
tips mendidik anak psikologi anak disiplin anak tanpa kekerasan parenting anak usia sekolah cara mendidik anak