Kenapa Harga Rp99.900 Terasa Murah? Ternyata Ada Trik Psikologi di Balik Angka 9

Defy Maulida Puspaaji • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 13:03 WIB
Pernah merasa Rp99.000 jauh lebih murah daripada Rp100.000? Padahal selisihnya cuma Rp1.000. Ternyata, ada trik psikologi di balik cara kita melihat harga. (ilustrasi uang)
Pernah merasa Rp99.000 jauh lebih murah daripada Rp100.000? Padahal selisihnya cuma Rp1.000. Ternyata, ada trik psikologi di balik cara kita melihat harga. (ilustrasi uang)

RADARBONAG.ID – Pernah melihat harga Rp99.000 dan merasa jauh lebih ringan dibandingkan ketika melihat angka Rp100.000?

Padahal, secara hitungan sederhana, perbedaannya hanya Rp1.000. Namun, mengapa angka Rp99.000 bisa terasa lebih murah?

Perasaan tersebut ternyata bukan sekadar kebetulan.

Dalam dunia pemasaran, terdapat strategi yang memanfaatkan cara manusia mempersepsikan angka ketika melihat harga.

Salah satu teknik yang cukup dikenal adalah charm pricing. Strategi ini biasanya menggunakan angka yang berakhiran 9, seperti Rp49.900, Rp79.900, atau Rp199.900.

Tujuannya bukan semata-mata memberikan harga lebih rendah, tetapi juga menciptakan persepsi tertentu di benak konsumen.

Baca Juga: Naik Dokar Keliling Tuban, Sensasi Wisata Tradisional yang Bikin Nostalgia dan Cocok untuk Keluarga

Otak Cenderung Memperhatikan Angka Paling Kiri

Ketika melihat sebuah harga, konsumen sebenarnya tidak selalu memproses angka secara matematis dengan cara yang sepenuhnya rasional.

Cara angka ditampilkan dapat memengaruhi kesan pertama terhadap mahal atau murahnya sebuah produk.

Harga Rp99.900, misalnya, secara nilai memang sangat dekat dengan Rp100.000.

Namun, angka paling kiri yang terlihat adalah 9. Akibatnya, harga tersebut lebih mudah dipersepsikan sebagai bagian dari “90 ribuan”.

Sementara itu, ketika harga sudah berubah menjadi Rp100.000, angka pertama yang terlihat adalah 1 dengan jumlah digit yang berbeda.

Perbedaan kecil tersebut dapat memengaruhi kesan psikologis ketika seseorang sedang mempertimbangkan pembelian.

Harga Lama Bisa Membuat Harga Baru Terlihat Makin Murah

Strategi psikologi harga tidak berhenti pada penggunaan angka 9.

Harga juga sering ditampilkan bersama angka pembanding yang lebih tinggi.

Cara ini dapat membuat harga baru terlihat semakin menarik.

Misalnya, sebuah produk sebelumnya dibanderol Rp150.000.

Kemudian harga tersebut dicoret dan diganti menjadi Rp99.000.

Konsumen tidak hanya melihat angka Rp99.000.

Secara tidak langsung, harga tersebut dibandingkan dengan angka Rp150.000 yang sebelumnya ditampilkan.

Selisihnya kemudian terasa cukup besar sehingga muncul kesan bahwa konsumen sedang mendapatkan penawaran yang menguntungkan.

Padahal, konsumen tetap perlu mempertimbangkan apakah barang tersebut memang dibutuhkan atau hanya terlihat menarik karena adanya harga pembanding.

Tulisan “Promo” Bisa Membuat Kita Lebih Cepat Memutuskan

Selain angka, kata-kata yang digunakan dalam promosi juga dapat memengaruhi keputusan belanja.

Kalimat seperti “promo hari ini”, “harga spesial”, “stok terbatas”, atau “berakhir malam ini” dapat menciptakan rasa urgensi.

Situasi tersebut membuat konsumen merasa memiliki waktu yang terbatas untuk mengambil keputusan.

Masalahnya, keputusan yang dibuat dalam kondisi terburu-buru terkadang tidak melalui pertimbangan yang cukup panjang.

Seseorang bisa saja membeli barang bukan karena benar-benar membutuhkannya, melainkan karena takut kehilangan kesempatan mendapatkan harga promo.

Inilah salah satu alasan mengapa promosi dengan batas waktu sering terasa sangat efektif.

Tampilan Harga Ternyata Ikut Memengaruhi Persepsi

Bukan hanya angka dan tulisan promo yang memiliki pengaruh.

Ukuran angka, posisi harga, hingga cara sebuah harga dibandingkan dengan informasi lainnya juga dapat membentuk persepsi konsumen.

Harga yang ditampilkan secara menonjol bersama label diskon akan lebih mudah menarik perhatian.

Sementara itu, harga baru yang diletakkan berdampingan dengan harga lama dapat membuat konsumen secara otomatis melakukan perbandingan.

Strategi semacam ini sangat mudah ditemukan dalam pengalaman berbelanja online.

Tidak jarang seseorang awalnya hanya berniat melihat-lihat produk.

Namun, setelah melihat diskon, voucher, harga coret, dan berbagai penawaran lainnya, barang tersebut akhirnya masuk ke keranjang.

Marketplace Membuat Strategi Harga Makin Menarik

Di platform belanja online, berbagai strategi tersebut dapat dikombinasikan dalam satu halaman produk.

Konsumen mungkin melihat harga asli, harga diskon, voucher, cashback, gratis ongkir, hingga batas waktu promosi secara bersamaan.

Masing-masing informasi memberikan alasan tambahan untuk mempertimbangkan pembelian.

Karena itu, harga sebuah barang sebaiknya tidak hanya dilihat dari angka yang paling besar atau tulisan diskonnya.

Periksa harga akhir yang benar-benar harus dibayar.

Jangan lupa memperhitungkan biaya pengiriman, biaya layanan, pajak jika ada, serta berbagai biaya tambahan lainnya.

Harga yang terlihat sangat murah pada halaman awal belum tentu menjadi harga paling rendah setelah seluruh biaya dihitung.

Cara Sederhana agar Tidak Mudah Terpengaruh

Bukan berarti setiap harga yang berakhiran angka 9 merupakan bentuk manipulasi atau jebakan.

Strategi tersebut merupakan bagian dari praktik pemasaran yang memang dirancang untuk menarik perhatian konsumen.

Namun, memahami cara kerjanya dapat membuat seseorang lebih sadar ketika berbelanja.

Sebelum menekan tombol checkout, coba berhenti sebentar dan tanyakan kepada diri sendiri apakah barang tersebut memang diperlukan.

Setelah itu, bandingkan dengan produk sejenis dari penjual lain.

Periksa juga harga akhirnya setelah ditambah ongkos kirim dan biaya lainnya.

Jika barang tersebut memang dibutuhkan dan harganya sesuai dengan anggaran, keputusan membeli tentu bisa dilakukan dengan lebih tenang.

Jangan Sampai Angka Mengambil Alih Keputusan

Harga Rp99.000 memang secara matematis lebih murah daripada Rp100.000.

Namun, perbedaan cara otak mempersepsikan kedua angka tersebut menunjukkan bahwa keputusan belanja tidak selalu sesederhana menghitung nominal.

Baca Juga: Cuma Pakai Satu Earphone Saat Jalan atau Kerja? Ini Alasan di Balik Kebiasaan Itu

Cara angka ditulis, harga pembanding, label diskon, dan batas waktu promo dapat menciptakan kesan tertentu sebelum konsumen benar-benar mempertimbangkan kebutuhannya.

Pada akhirnya, strategi psikologi harga hanya dapat memengaruhi persepsi.

Keputusan terakhir tetap berada di tangan konsumen.

Jadi, lain kali ketika melihat harga Rp99.900 yang terlihat begitu menggiurkan, jangan langsung menganggapnya sebagai kesempatan yang wajib diambil.

Berhenti sejenak, hitung kembali, bandingkan, lalu tanyakan satu hal sederhana: memang butuh atau cuma tergoda karena harganya terlihat murah?

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
psikologi konsumen psikologi harga charm pricing trik harga murah tips belanja cerdas