RADARBONAG.ID – Ada kalanya rutinitas terasa seperti tidak memberikan kesempatan untuk bernapas.
Pekerjaan menumpuk, pesan belum sempat dibalas, tenggat waktu semakin dekat, sementara energi terasa sudah hampir habis.
Dalam situasi seperti itu, terkadang seseorang tidak membutuhkan sesuatu yang besar.
Satu scoop es krim favorit saja sudah cukup untuk menghadirkan sedikit rasa bahagia di tengah hari yang melelahkan.
Es krim memang selama ini dikenal sebagai makanan penutup.
Namun, bagi sebagian orang, dessert dingin dengan tekstur lembut dan creamy tersebut telah berubah menjadi bentuk sederhana dari self-reward.
Baca Juga: Bukan Cuma Wayang Jogja Night Carnival, Ini 7 Event Unggulan HUT ke-270 Yogyakarta Sepanjang Oktober
Tidak harus menunggu mendapatkan pencapaian besar untuk memberikan apresiasi kepada diri sendiri.
Menyelesaikan pekerjaan tepat waktu, berhasil bangun lebih pagi, melewati rapat panjang, atau sekadar berhasil menjalani hari yang berat juga bisa menjadi alasan untuk menikmati sesuatu yang disukai.
Kenapa Es Krim Terasa seperti Hadiah untuk Diri Sendiri?
Es krim memiliki kombinasi rasa dan tekstur yang membuat pengalaman menikmatinya terasa berbeda dari camilan biasa.
Sensasi dingin, manis, lembut, dan creamy memberikan pengalaman yang cukup menyenangkan ketika dikonsumsi secara perlahan.
Ketika rutinitas sedang berjalan terlalu cepat, menikmati es krim juga bisa menjadi alasan untuk berhenti sebentar.
Tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan dalam beberapa menit tersebut. Tidak ada target yang perlu dikejar.
Ada kesempatan untuk duduk, mengambil satu sendok, kemudian menikmati rasa favorit tanpa terburu-buru.
Momen sederhana seperti inilah yang membuat es krim cocok dijadikan self-reward.
Setelah Hari Berat, Kita Memang Mencari Momen yang Menyenangkan
Setelah melewati aktivitas yang melelahkan, manusia secara alami cenderung mencari pengalaman yang memberikan rasa nyaman.
Makanan dengan rasa manis dapat menjadi salah satu bagian dari pengalaman tersebut.
Namun, bukan berarti es krim dapat menjadi solusi untuk stres atau persoalan emosional.
Es krim tetap merupakan makanan yang sebaiknya dikonsumsi secara wajar dan tidak dijadikan satu-satunya cara untuk mengatasi tekanan.
Hal yang menarik justru terletak pada ritual di balik self-reward tersebut.
Misalnya, seseorang sengaja membeli es krim setelah menyelesaikan pekerjaan yang cukup berat.
Kemudian memilih rasa favorit, mencari tempat yang nyaman, membuka kemasan, lalu menikmatinya perlahan.
Rangkaian kecil tersebut dapat menciptakan perasaan bahwa usaha yang sudah dilakukan layak mendapatkan apresiasi.
Self-Reward Tidak Harus Menguras Dompet
Istilah self-care terkadang membuat orang membayangkan aktivitas yang membutuhkan biaya cukup besar.
Staycation, makan di restoran mahal, belanja, atau melakukan perjalanan spontan memang bisa menjadi cara untuk memberikan waktu kepada diri sendiri.
Namun, self-reward sebenarnya tidak harus selalu mahal.
Es krim menjadi salah satu contoh paling sederhana.
Dengan biaya yang relatif terjangkau, seseorang sudah bisa menciptakan momen kecil untuk bersantai.
Bahkan, membeli satu cup es krim setelah berhasil menyelesaikan tugas yang selama berhari-hari ditunda bisa terasa sangat memuaskan.
Kesederhanaan tersebut menjadi salah satu alasan es krim begitu dekat dengan konsep comfort food.
Rasa Favorit Bisa Menjadi Bagian dari Kenangan
Salah satu hal menarik dari es krim adalah banyaknya pilihan rasa.
Ada vanilla untuk pencinta rasa klasik, cokelat bagi mereka yang menyukai cita rasa lebih intens, stroberi untuk sensasi fruity, matcha bagi penggemar rasa sedikit pahit, hingga cookies and cream ketika ingin menikmati sesuatu yang lebih indulgent.
Pilihan tersebut membuat pengalaman makan es krim terasa lebih personal.
Seseorang bahkan bisa memiliki satu rasa yang selalu dipilih ketika sedang ingin memberikan hadiah kepada diri sendiri.
Lama-kelamaan, rasa tersebut dapat berkaitan dengan kenangan tertentu.
Ketika kembali menikmatinya, seseorang mungkin teringat pada pengalaman menyenangkan yang pernah terjadi sebelumnya.
Karena itu, satu scoop es krim terkadang tidak hanya berisi rasa manis.
Ada suasana, kenangan, kebiasaan, dan perasaan yang ikut menyertainya.
Jangan Sampai Self-Reward Menjadi Pelarian
Meski memberikan kesenangan sederhana, self-reward tetap perlu dilakukan secara seimbang.
Menggunakan makanan sebagai satu-satunya cara untuk menghadapi setiap tekanan tentu bukan kebiasaan yang ideal.
Ketika sedang stres, seseorang juga dapat mencari bentuk istirahat lain.
Berjalan santai, mendengarkan musik, membaca buku, berbicara dengan orang terdekat, atau sekadar menjauh sebentar dari layar bisa menjadi alternatif.
Dengan begitu, es krim tetap ditempatkan sebagai salah satu bentuk apresiasi, bukan sebagai satu-satunya cara untuk merasa lebih baik.
Kadang, Bahagia Memang Sesederhana Es Krim
Pada akhirnya, daya tarik es krim sebagai self-reward bukan semata-mata karena rasanya yang manis.
Ada momen ketika seseorang memilih berhenti sejenak setelah melewati hari yang panjang. Ada keputusan untuk memberikan sedikit waktu dan perhatian kepada diri sendiri.
Baca Juga: Sony Xperia 1 VIII Mulai Kebagian Android 17, Bawa Mode Desktop dan Fitur Kamera Baru
Hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi justru bisa membuat rutinitas terasa lebih ringan.
Tidak perlu menunggu pencapaian luar biasa untuk merayakan diri sendiri.
Kadang, menyelesaikan pekerjaan, bertahan melewati hari yang sulit, atau berhasil menyelesaikan sesuatu yang sudah lama ditunda sudah cukup menjadi alasan.
Satu scoop es krim, tempat duduk yang nyaman, dan beberapa menit tanpa memikirkan pekerjaan mungkin terdengar sederhana.
Namun, terkadang justru momen kecil seperti itulah yang membuat hari berat terasa sedikit lebih menyenangkan.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang