RADARBONANG.ID – Ada kebiasaan yang sekilas terlihat sederhana, bahkan sering dianggap sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Ketika tugas belum selesai, seseorang menyalin pekerjaan teman.
Saat ujian terasa sulit, mata mulai mencari jawaban di sebelah. Ketika tidak sempat belajar, bocoran menjadi pilihan.
Masalahnya mungkin selesai dalam beberapa menit.
Namun, ada sesuatu yang perlahan bisa terbentuk dari kebiasaan tersebut, yaitu cara seseorang memandang kejujuran, aturan, dan proses untuk mendapatkan sesuatu.
Menyontek tentu tidak bisa begitu saja disamakan dengan korupsi.
Baca Juga: Ribuan Screenshot Menumpuk di HP tapi Tak Pernah Dibuka? Bisa Jadi Anda Mengalami Digital Hoarding
Keduanya memiliki bentuk, skala, serta konsekuensi yang sangat berbeda.
Namun, terdapat satu pola yang menarik untuk diperhatikan, yaitu keinginan mendapatkan hasil dengan melewati proses yang seharusnya.
Di sinilah kebiasaan mencari jalan pintas menjadi penting untuk dibicarakan.
Ketika “Yang Penting Beres” Mulai Menjadi Kebiasaan
Kalimat seperti “yang penting beres” terdengar biasa.
Dalam situasi tertentu, mencari cara yang lebih praktis memang tidak selalu salah.
Persoalan muncul ketika cara praktis tersebut berarti mengabaikan kejujuran atau melanggar aturan.
Tugas dikerjakan orang lain, tetapi nama sendiri yang dicantumkan.
Ujian diselesaikan dengan bantuan contekan. Kehadiran dititipkan kepada teman.
Bahkan, urusan yang seharusnya ditempuh melalui prosedur tertentu sengaja dipermudah menggunakan koneksi pribadi.
Jika dilakukan berulang kali, seseorang bisa mulai terbiasa mengejar hasil tanpa terlalu memikirkan cara mendapatkannya.
Padahal, karakter tidak hanya terbentuk dari keputusan besar.
Cara seseorang menghadapi persoalan kecil setiap hari juga ikut membentuk kebiasaan dan prinsip yang dibawanya ketika dewasa.
KPK Melihat Kecurangan Kecil sebagai Bagian dari Pendidikan Integritas
Komisi Pemberantasan Korupsi atau KPK selama ini tidak hanya membicarakan korupsi dalam konteks kasus besar.
Pendidikan antikorupsi juga menyentuh perilaku sehari-hari yang berhubungan dengan kejujuran dan integritas.
Menyontek, plagiarisme, hingga titip absen termasuk contoh perilaku yang perlu dihindari dalam lingkungan pendidikan.
Hal tersebut bukan berarti setiap siswa yang pernah menyontek akan tumbuh menjadi koruptor. Kesimpulan seperti itu tentu terlalu sederhana.
Pesan yang lebih penting adalah bagaimana kebiasaan curang jangan sampai dianggap sebagai sesuatu yang normal.
Sebab, seseorang mungkin mengetahui bahwa menyontek itu salah, tetapi tetap melakukannya karena melihat orang lain melakukan hal yang sama.
Ketika Semua Orang Curang, Kecurangan Terasa Biasa
Bayangkan seorang siswa melihat beberapa temannya membuka catatan ketika ujian berlangsung.
Pada awalnya mungkin muncul rasa ragu. Namun, ketika melihat tidak ada konsekuensi yang berarti, muncul pikiran bahwa mengikuti tindakan tersebut tidak akan menjadi masalah besar.
Besoknya, ia mungkin melakukan hal yang sama.
Lama-kelamaan, rasa bersalah bisa berkurang. Sesuatu yang awalnya dianggap curang berubah menjadi sekadar “akal-akalan”.
Fenomena semacam ini tercermin dalam Survei Penilaian Integritas Pendidikan atau SPI Pendidikan 2024 yang dilakukan KPK. Secara nasional, 44,75 persen siswa dan mahasiswa yang menjadi responden mengaku pernah menyontek meskipun mengetahui bahwa tindakan tersebut tidak baik.
Sebanyak 38,4 persen juga mengaku pernah meminta orang lain mengerjakan tugas. Sementara itu, 20,69 persen mengaku lebih memilih menyontek dibandingkan belajar.
Yang cukup menarik, 51,57 persen mahasiswa mengaku menyontek ketika melihat teman mereka juga melakukan hal tersebut.
Angka tersebut menunjukkan bahwa lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk perilaku.
Ketika kecurangan dianggap sebagai sesuatu yang lumrah, seseorang bisa semakin sulit melihat batas antara tindakan yang benar dengan tindakan yang sekadar dianggap menguntungkan.
Jalan Pintas Memang Terlihat Lebih Mudah
Ada alasan mengapa jalan pintas begitu menggoda.
Belajar membutuhkan waktu dan tenaga. Menyontek hanya membutuhkan keberanian untuk melihat jawaban.
Mengerjakan tugas sendiri membutuhkan proses, sedangkan menyalin pekerjaan orang lain bisa membuat semuanya terlihat selesai dalam waktu singkat.
Begitu juga dalam kehidupan sehari-hari.
Mengikuti prosedur terkadang terasa panjang. Mencari kenalan yang bisa membantu bisa terlihat lebih cepat.
Namun, masalahnya bukan sekadar cepat atau lambat.
Jika seseorang terus terbiasa mendapatkan sesuatu dengan cara paling mudah tanpa mempertimbangkan aturan, penghargaan terhadap proses bisa semakin berkurang.
Dari sinilah muncul pola pikir yang perlu diwaspadai: selama hasilnya didapat, cara yang digunakan dianggap tidak terlalu penting.
Menyontek Tetap Berbeda dengan Korupsi
Perbedaan ini perlu ditegaskan.
Menyontek merupakan bentuk kecurangan akademik.
Sementara korupsi merupakan tindak pidana yang dapat menimbulkan kerugian jauh lebih besar dan memiliki konsekuensi hukum.
Jadi, tidak tepat jika dikatakan bahwa siswa yang menyontek pasti akan menjadi koruptor.
Hubungannya lebih kepada pola perilaku.
Keduanya sama-sama dapat melibatkan ketidakjujuran, pelanggaran terhadap aturan, serta keinginan memperoleh keuntungan dengan melewati proses yang semestinya.
Karena itu, yang perlu dicegah bukanlah ramalan bahwa seorang anak akan menjadi koruptor, melainkan kebiasaan tidak jujur yang dibiarkan tumbuh tanpa koreksi.
Bahayanya Ketika Curang Tidak Lagi Terasa Salah
Satu hal yang lebih mengkhawatirkan daripada melakukan kesalahan adalah ketika seseorang sudah tidak lagi merasa bahwa kesalahan tersebut bermasalah.
Menyontek tidak lagi membuat malu. Berbohong dianggap sebagai cara menghindari masalah. Titip absen dipandang sebagai hal biasa.
Memanipulasi informasi dianggap sekadar strategi agar urusan cepat selesai.
Pada kondisi seperti itu, persoalannya bukan lagi satu tindakan.
Yang berubah adalah standar seseorang dalam menentukan benar dan salah.
Pendidikan integritas karena itu tidak cukup hanya mengajarkan aturan.
Lingkungan juga perlu memberikan contoh bahwa kejujuran memang memiliki nilai, bahkan ketika pilihan tersebut terasa lebih sulit.
Anak Belajar dari Apa yang Dilihat
Sekolah bukan satu-satunya tempat seseorang belajar mengenai karakter.
Anak juga memperhatikan perilaku orang-orang di sekitarnya.
Ketika melihat orang dewasa menerobos antrean, berbohong untuk menghindari tanggung jawab, menggunakan koneksi untuk mendapatkan perlakuan khusus, atau membenarkan kecurangan karena pelakunya memiliki jabatan, anak mendapatkan pelajaran tanpa harus diberi ceramah.
Pesan yang mungkin tertangkap sangat sederhana: aturan bisa dilewati jika memiliki cara yang tepat.
Karena itu, pendidikan antikorupsi juga membutuhkan keteladanan.
KPK mengenalkan sembilan nilai antikorupsi yang meliputi jujur, mandiri, tanggung jawab, berani, sederhana, peduli, disiplin, adil, dan kerja keras.
Nilai tersebut mungkin terdengar klasik.
Namun, justru hal-hal sederhana seperti itulah yang menjadi fondasi ketika seseorang harus mengambil keputusan dalam situasi yang lebih besar.
Tantangan Baru di Era Mesin Pencari dan AI
Generasi sekarang menghadapi bentuk tantangan yang berbeda.
Jika dahulu seorang siswa mungkin harus meminta jawaban kepada teman, kini berbagai informasi bisa ditemukan dalam hitungan detik melalui mesin pencari dan teknologi kecerdasan buatan atau AI.
Teknologi sebenarnya bukan musuh dalam proses belajar.
AI dapat membantu memahami materi, mencari referensi, memberikan penjelasan tambahan, atau menjadi teman berdiskusi.
Persoalan muncul ketika teknologi digunakan untuk menggantikan seluruh proses berpikir dalam tugas atau ujian yang seharusnya dikerjakan secara mandiri.
Kembali lagi pada persoalan awal: mendapatkan hasil tanpa menjalani proses.
Karena itu, tantangan integritas di era digital bukan hanya tentang tidak menyontek jawaban teman.
Tantangannya juga bagaimana seseorang tetap mau berpikir, belajar, dan mengerjakan sesuatu dengan kemampuannya sendiri ketika teknologi menawarkan jawaban instan.
Proses yang Lambat Justru Membangun Kemampuan
Jalan pintas memang menawarkan hasil cepat.
Namun, ada sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh jalan pintas, yaitu kemampuan yang benar-benar terbentuk melalui proses.
Nilai tinggi karena menyontek tidak otomatis membuat seseorang memahami materi.
Tugas yang selesai karena disalin tidak otomatis membuat seseorang memiliki keterampilan.
Begitu pula keberhasilan yang diperoleh melalui kecurangan tidak otomatis membuat seseorang siap menghadapi persoalan nyata.
Sebaliknya, proses yang panjang dan terkadang melelahkan dapat membentuk ketekunan.
Ada kepuasan tersendiri ketika seseorang berhasil menyelesaikan sesuatu dan benar-benar mengetahui bahwa hasil tersebut berasal dari usahanya sendiri.
Mungkin nilainya tidak selalu paling tinggi. Mungkin hasilnya juga belum sempurna.
Namun, ada satu hal yang jauh lebih penting: kemampuan dan rasa percaya diri yang tumbuh karena tidak bergantung pada kecurangan.
Integritas Bisa Dilatih dari Hal yang Sangat Kecil
Membangun karakter tidak harus menunggu seseorang menjadi dewasa.
Latihannya bisa dimulai dari kehidupan sehari-hari.
Mengerjakan tugas sendiri. Tidak menitipkan absensi.
Mengakui ketika belum memahami materi. Tidak mengambil karya orang lain. Berani menolak ajakan menyontek.
Mengembalikan barang yang bukan milik sendiri. Datang tepat waktu dan menjalankan tanggung jawab sesuai kemampuan.
Semua tindakan tersebut mungkin terlihat kecil.
Namun, kebiasaan kecil yang dilakukan berulang kali dapat membentuk karakter.
Begitu pula dengan kecurangan. Ia tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Sering kali, semuanya bermula dari pembenaran sederhana: “Cuma sekali.”
Melawan Korupsi Juga Dimulai dari Ruang Kelas
Korupsi memang sering dibicarakan dalam konteks uang, jabatan, proyek, dan kerugian negara.
Namun, membangun budaya antikorupsi tidak harus menunggu seseorang memegang jabatan atau memiliki kekuasaan.
Perjuangan tersebut juga berlangsung di ruang kelas, meja belajar, rumah, tempat kerja, lingkungan pertemanan, dan dalam keputusan-keputusan kecil yang bahkan tidak pernah diketahui orang lain.
Pilihan untuk jujur ketika tidak ada yang melihat mungkin terasa sepele.
Padahal, justru di situlah integritas diuji.
Hari ini seseorang mungkin memilih tidak menyontek meskipun tahu nilainya bisa lebih rendah.
Besok ia mungkin berani mengakui kesalahan.
Di kemudian hari, ia mungkin tetap memilih mengikuti aturan meskipun ada kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dengan cara yang tidak benar.
Karakter terbentuk dari pilihan-pilihan seperti itu.
Pada Akhirnya, Bukan Hanya Nilai yang Dibawa Pulang
Seorang siswa bisa saja pulang dengan nilai 90.
Tetapi ada pertanyaan yang jauh lebih penting daripada angka tersebut: bagaimana nilai itu diperoleh?
Sebab nilai hanya menggambarkan hasil pada satu kesempatan.
Karakter menunjukkan bagaimana seseorang mengambil keputusan ketika menghadapi kesempatan berikutnya.
Menyontek bukan berarti seseorang akan menjadi koruptor.
Tetapi membiasakan kecurangan tanpa pernah merasa perlu memperbaikinya tentu bukan sesuatu yang boleh dianggap remeh.
Jalan pintas mungkin membuat seseorang sampai lebih cepat.
Baca Juga: Baru Pertama Kali Makan Sushi? Ini Panduan Biar Nggak Salah Pesan di Restoran Jepang
Namun, proses yang jujur membuat seseorang membawa sesuatu yang lebih berharga: kemampuan, tanggung jawab, dan keyakinan bahwa keberhasilan tersebut memang diperoleh melalui usahanya sendiri.
Karena itu, pendidikan antikorupsi mungkin tidak selalu harus dimulai dengan memahami kasus besar.
Kadang, ia cukup dimulai dari keputusan kecil ketika kesempatan untuk curang datang.
Memilih mengerjakan sendiri meskipun lebih lama. Memilih mengakui kesalahan meskipun memalukan. Memilih mengikuti aturan meskipun ada cara yang lebih mudah.
Sebab pada akhirnya, yang menentukan kualitas seseorang bukan hanya seberapa cepat ia mencapai tujuan, tetapi bagaimana cara ia sampai ke sana.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang