Ribuan Screenshot Menumpuk di HP tapi Tak Pernah Dibuka? Bisa Jadi Anda Mengalami Digital Hoarding

Defy Maulida Puspaaji • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 13:32 WIB
Coba buka folder screenshot di HP kamu. Berapa ribu file yang ada di sana?. Screenshot harga barang, resep, chat, meme, informasi media sosial, sampai foto yang sudah lupa kapan disimpan. Semuanya punya satu alasan yang sama: “Siapa tahu nanti butuh.” (ilustrasi)
Coba buka folder screenshot di HP kamu. Berapa ribu file yang ada di sana?. Screenshot harga barang, resep, chat, meme, informasi media sosial, sampai foto yang sudah lupa kapan disimpan. Semuanya punya satu alasan yang sama: “Siapa tahu nanti butuh.” (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Pernah membuka galeri ponsel lalu menyadari bahwa isinya sudah dipenuhi ribuan foto, video, dan screenshot yang bahkan sebagian besar sudah lupa kapan disimpan?

Ada screenshot harga barang yang sebenarnya sudah tidak ingin dibeli.

Ada resep makanan yang belum pernah dicoba. 

Ada meme yang dulu dianggap lucu, tetapi sekarang tidak pernah dilihat lagi.

Belum lagi foto buram, video pendek, dokumen lama, hingga berbagai informasi dari media sosial yang sengaja disimpan dengan alasan sederhana: “Siapa tahu nanti butuh.”

Masalahnya, kata “nanti” tersebut sering kali tidak pernah benar-benar datang.

Baca Juga: Dulu Cari Lagu Harus Menunggu Radio hingga Kirim Bluetooth, Kini Semua Tinggal Sekali Klik

Kebiasaan menyimpan berbagai file digital dalam jumlah berlebihan dan sulit menghapusnya sering disebut sebagai digital hoarding.

Istilah ini menggambarkan perilaku menumpuk data digital, meskipun sebagian di antaranya sudah tidak memiliki fungsi yang jelas.

Berbeda dengan menimbun barang fisik, kebiasaan tersebut berlangsung tanpa memenuhi ruangan di rumah.

Justru karena tidak terlihat secara langsung, tumpukan digital sering tidak terasa sebagai masalah.

Galeri HP Bisa Berubah Menjadi Gudang Digital

File digital memiliki satu kelebihan yang sekaligus bisa menjadi jebakan.

Berbeda dengan pakaian, buku, atau barang elektronik, ribuan file tidak membutuhkan lemari tambahan.

Satu ponsel dapat menyimpan begitu banyak foto dan dokumen tanpa membuat kamar terlihat berantakan.

Ketika penyimpanan hampir penuh, kapasitasnya pun dapat diperbesar menggunakan kartu memori, hard disk, atau layanan penyimpanan cloud.

Kemudahan tersebut membuat orang semakin jarang memiliki alasan untuk memilah file.

Akibatnya, foto yang seharusnya dihapus tetap disimpan.

Screenshot yang hanya diperlukan selama beberapa menit bisa bertahan selama bertahun-tahun.

“Siapa Tahu Nanti Dibutuhkan” Jadi Alasan Utama

Salah satu alasan yang sering membuat seseorang enggan menghapus file adalah kekhawatiran akan membutuhkannya di kemudian hari.

Screenshot harga barang mungkin disimpan karena masih mempertimbangkan pembelian.

Informasi dari media sosial dianggap penting karena takut suatu saat ingin membacanya kembali.

Ada juga dokumen yang disimpan karena terasa terlalu berisiko untuk dihapus meskipun sudah lama tidak pernah dibuka.

Persoalannya, semakin banyak file yang ditumpuk, semakin sulit pula menentukan mana yang benar-benar penting.

Pada akhirnya, seseorang bukan hanya menyimpan file.

Mereka juga menyimpan kemungkinan bahwa file tersebut mungkin akan berguna suatu hari nanti.

Screenshot Sering Menjadi Tumpukan Paling Besar

Coba buka folder screenshot di ponsel.

Bagi sebagian orang, folder tersebut mungkin menjadi salah satu bagian paling berantakan dalam galeri.

Ada tangkapan layar percakapan, harga barang, komentar media sosial, resep makanan, jadwal, alamat, informasi pekerjaan, hingga unggahan yang sebenarnya sudah tidak relevan.

Menariknya, banyak screenshot dibuat untuk kebutuhan sesaat.

Seseorang mungkin mengambil tangkapan layar karena ingin membacanya nanti.

Namun, setelah itu file tersebut terlupakan karena muncul informasi baru yang lebih menarik.

Hari demi hari, jumlahnya terus bertambah.

Tanpa disadari, folder screenshot berubah menjadi tempat penyimpanan berbagai hal yang semuanya diberi label tidak tertulis: “Nanti saya lihat.”

Foto Kenangan Bisa Membuat Proses Menghapus Semakin Sulit

Tidak semua file sulit dihapus karena dianggap masih berguna.

Sebagian memiliki nilai emosional.

Foto perjalanan, video bersama teman, percakapan lama, atau dokumentasi sebuah momen tertentu bisa terasa seperti bagian dari kenangan pribadi.

Menghapusnya terkadang terasa lebih berat daripada sekadar menekan tombol “Delete”.

Namun, menyimpan semua foto juga bukan berarti satu-satunya cara untuk mempertahankan kenangan.

Jika jumlahnya terlalu banyak, foto yang sebenarnya paling berarti justru bisa tenggelam di antara ratusan file lainnya.

Karena itu, memilih foto terbaik dan menyimpannya dengan sistem yang lebih teratur dapat menjadi cara untuk tetap mempertahankan kenangan tanpa membuat penyimpanan menjadi terlalu penuh.

Digital Hoarding Tidak Otomatis Berarti Gangguan Mental

Istilah digital hoarding sering terdengar seperti istilah psikologis.

Namun, kebiasaan menyimpan banyak file digital tidak otomatis berarti seseorang mengalami gangguan mental tertentu.

Ada banyak alasan mengapa seseorang memiliki ribuan file.

Teknologi yang semakin murah, kapasitas penyimpanan yang semakin besar, kamera ponsel yang mudah digunakan, serta layanan cloud membuat orang lebih mudah menyimpan apa pun tanpa harus memikirkan ruang.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika kebiasaan tersebut mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Misalnya, seseorang terus kesulitan menemukan dokumen penting karena tertimbun ribuan file lain.

Atau, proses menghapus file justru menimbulkan tekanan yang sangat besar meskipun data tersebut sudah jelas tidak diperlukan.

Masalah Baru Terasa Saat Mencari Satu File

Tumpukan digital biasanya tidak terlalu terasa sampai seseorang membutuhkan sesuatu.

Bayangkan sedang mencari satu screenshot nomor rekening, tiket perjalanan, alamat, atau dokumen penting.

Bukannya langsung ditemukan, file tersebut justru harus dicari di antara ribuan gambar lainnya. 

Scroll terus dilakukan. Folder dibuka satu per satu.

Kata kunci dicoba. Namun, file yang dicari tetap tidak ketemu.

Pada titik itulah seseorang mulai menyadari bahwa banyaknya file bukan sekadar persoalan kapasitas penyimpanan.

Tumpukan tersebut juga membuat informasi penting semakin sulit ditemukan.

Tidak Perlu Menghapus Ribuan File Sekaligus

Membersihkan galeri tidak harus dilakukan dalam satu hari.

Justru, mencoba menghapus ribuan file sekaligus bisa terasa melelahkan dan membuat seseorang akhirnya menyerah sebelum memulai.

Cara yang lebih realistis adalah melakukan digital decluttering secara bertahap.

Mulailah dari file yang paling mudah dihapus.

Screenshot yang sudah tidak relevan bisa menjadi pilihan pertama.

Setelah itu, lanjutkan dengan foto buram, video yang tidak sengaja direkam, file duplikat, meme lama, serta dokumen yang masa penggunaannya sudah berakhir.

Tidak perlu memikirkan seluruh isi galeri.

Cukup bersihkan sebagian kecil secara rutin.

Coba Terapkan Aturan “Kalau Tidak Dipakai, Pertimbangkan Hapus”

Tidak ada aturan mutlak yang harus diterapkan semua orang.

Namun, satu pertanyaan sederhana dapat membantu proses memilah.

“Apakah file ini benar-benar akan saya gunakan atau cari lagi?”

Jika jawabannya tidak, pertimbangkan untuk menghapusnya.

Untuk file yang masih diragukan, bisa dibuat folder khusus seperti “Perlu Dicek” agar tidak langsung memenuhi galeri utama.

Setelah beberapa waktu, folder tersebut dapat diperiksa kembali.

Jika ternyata tidak pernah dibuka, mungkin sudah waktunya file tersebut dilepaskan.

Sisihkan 10 Menit untuk Membersihkan Galeri

Membersihkan file digital tidak harus menjadi pekerjaan besar.

Luangkan sekitar 10 menit setiap minggu untuk memeriksa galeri.

Hapus beberapa screenshot yang sudah tidak berguna.

Rapikan dokumen. Pindahkan foto penting ke folder khusus. 

Buat cadangan untuk file yang benar-benar ingin dipertahankan.

Kebiasaan kecil tersebut dapat mencegah tumpukan semakin sulit dikendalikan.

Sebab, menghapus 20 file setiap minggu tentu terasa jauh lebih ringan dibandingkan harus menghadapi 20 ribu file setelah beberapa tahun.

Jangan Sampai Kenangan Justru Hilang di Tengah Tumpukan

Ponsel memang memberikan ruang yang seolah tidak terbatas untuk menyimpan berbagai hal.

Namun, semakin banyak file bukan berarti semakin baik.

Terlalu banyak data justru dapat membuat informasi penting sulit ditemukan dan kenangan yang sebenarnya berharga tenggelam di antara file yang sudah tidak relevan.

Digital hoarding juga tidak selalu harus dipandang sebagai masalah besar.

Baca Juga: Cuma Pakai Satu Earphone Saat Jalan atau Kerja? Ini Alasan di Balik Kebiasaan Itu

Terkadang, itu hanya tanda bahwa seseorang belum sempat membereskan “kamar” digitalnya.

Kalau rumah yang berantakan bisa membuat kita ingin segera membereskannya, galeri ponsel seharusnya juga mendapatkan perhatian yang sama.

Bedanya, gudang digital tidak terlihat dari luar.

Kita baru menyadari betapa penuh isinya ketika membutuhkan satu file penting dan harus melewati ribuan screenshot terlebih dahulu.

Jadi, mungkin sekarang waktunya membuka galeri, melihat folder screenshot, lalu bertanya pada diri sendiri:

“Ini benar-benar masih saya butuhkan, atau cuma terlalu sayang untuk dihapus?”

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
digital decluttering digital hoarding screenshot menumpuk di HP cara membersihkan galeri HP kebiasaan menyimpan file