RADARBONANG.ID – Pernah dengan santainya mengetik, “Maaf, kayaknya aku nggak bisa ikut,” ketika mendapat ajakan nongkrong atau makan bersama?.
Namun, begitu orang yang sama mengajak langsung, keberanian itu seolah menguap entah ke mana.
Alih-alih berkata tidak, yang keluar justru, “Yaudah, lihat nanti,” atau bahkan kalimat paling berbahaya bagi kaum mager: “Oke deh, aku ikut.”
Situasi seperti ini cukup mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Bukan selalu karena seseorang tidak berani menolak, melainkan karena cara otak dan emosi merespons komunikasi lewat layar memang berbeda dengan percakapan tatap muka.
Baca Juga: Mode Gelap atau Terang, Mana yang Lebih Nyaman untuk Mata? Jawabannya Ternyata Tidak Sesederhana Itu
Ketika membalas pesan, seseorang punya kesempatan untuk berhenti sejenak, memikirkan jawaban, memilih kata yang paling aman, lalu menghapus dan mengetik ulang sebelum akhirnya mengirim pesan.
Situasinya berbeda ketika ajakan disampaikan secara langsung.
Respons harus diberikan dalam waktu singkat.
Ditambah lagi, ada ekspresi wajah, nada suara, gerakan tubuh, bahkan keheningan yang ikut memberikan makna dalam percakapan.
Penelitian tentang komunikasi menunjukkan bahwa unsur nonverbal memang memiliki peran penting dalam percakapan tatap muka.
Ekspresi wajah dan sinyal tubuh dapat membantu seseorang memahami maksud lawan bicara, termasuk ketika pesan yang disampaikan tidak sepenuhnya langsung.
Chat Memberikan Waktu untuk Berpikir
Salah satu alasan chat terasa lebih nyaman adalah karena komunikasi melalui pesan tidak selalu menuntut jawaban seketika.
Ketika seseorang mendapat ajakan lewat WhatsApp, misalnya, ada ruang untuk berpikir sebelum memberikan jawaban.
Mau menolak secara halus? Bisa menyusun kalimat terlebih dahulu. Mau mencari alasan? Ada waktu untuk mempertimbangkannya.
Bahkan, pesan yang sudah diketik masih bisa dibaca ulang sebelum tombol kirim ditekan.
Hal ini membuat seseorang memiliki semacam “jarak aman” dari reaksi lawan bicara.
Ketika menulis, “Maaf ya, kali ini aku nggak bisa ikut,” kita tidak perlu langsung melihat apakah orang tersebut kecewa, bingung, atau mencoba membujuk.
Sebaliknya, dalam komunikasi tatap muka, semua reaksi itu hadir secara langsung.
Penelitian terbaru tentang komunikasi berbasis teks juga menunjukkan bahwa pesan tertulis memang kehilangan sejumlah petunjuk yang biasanya hadir dalam percakapan langsung, seperti intonasi dan gestur.
Karena itu, pengguna pesan teks harus mengandalkan kata-kata serta berbagai tanda tambahan untuk menyampaikan nuansa emosional.
Tatap Muka Membuat Tekanan Sosial Terasa Lebih Nyata
Coba bayangkan situasinya.
Teman datang dan berkata, “Besok ikut makan bareng, ya?”
Sebenarnya ingin menolak. Jadwal sedang padat, badan capek, atau memang lebih ingin menghabiskan waktu di rumah.
Namun, sebelum sempat menjawab, teman tersebut sudah tersenyum dan menunggu respons.
Di titik inilah rencana untuk berkata “nggak” bisa berubah menjadi “yaudah deh, aku ikut”.
Bukan karena tiba-tiba ingin pergi, tetapi karena ada dorongan untuk menjaga perasaan orang lain.
Dalam percakapan tatap muka, seseorang harus memproses ucapan sekaligus berbagai informasi sosial yang muncul dari lawan bicara.
Penelitian mengenai percakapan langsung menunjukkan bahwa gerakan tubuh dan ekspresi wajah dapat ikut memengaruhi bagaimana sebuah respons dipahami dan diproses.
Akibatnya, mengatakan “tidak” bisa terasa lebih berat ketika orang yang diajak bicara berada tepat di depan mata.
Apalagi kalau yang mengajak adalah teman dekat, keluarga, pasangan, atau rekan kerja yang memang sulit ditolak.
Bukan Berarti Anda Pengecut
Lebih nyaman mengatakan “tidak” lewat chat tidak otomatis berarti seseorang tidak percaya diri atau takut bersosialisasi.
Dalam banyak situasi, orang hanya membutuhkan waktu untuk mengatur respons dan memilih cara penyampaian yang dianggap paling nyaman.
Komunikasi lewat teks bahkan memiliki kelebihan tersendiri karena seseorang bisa berkomunikasi tanpa harus langsung menghadapi seluruh dinamika sosial yang muncul dalam percakapan tatap muka.
Namun, ada sisi lainnya.
Karena pesan teks tidak membawa seluruh ekspresi wajah, intonasi, dan bahasa tubuh, sebuah kalimat yang sebenarnya dimaksudkan dengan ramah bisa saja terdengar dingin atau ketus bagi penerimanya.
Penelitian tentang pesan teks juga menunjukkan bahwa orang menggunakan berbagai bentuk penulisan untuk mencoba menggantikan nuansa yang biasanya dibawa oleh suara dan ekspresi.
Itulah sebabnya menolak ajakan lewat chat bukan selalu pilihan yang paling aman untuk semua situasi.
Kapan Sebaiknya Menolak Lewat Chat?
Untuk ajakan sederhana seperti nongkrong, makan, ngopi, atau menghadiri acara yang sifatnya santai, menolak lewat pesan sebenarnya bukan masalah besar.
Justru pesan bisa membantu seseorang menyusun penolakan dengan lebih sopan.
Namun, untuk persoalan yang lebih sensitif, komunikasi langsung bisa menjadi pilihan yang lebih baik.
Misalnya ketika menyangkut konflik pertemanan, hubungan personal, pekerjaan, atau keputusan yang berpotensi menimbulkan salah paham.
Dalam situasi seperti itu, ekspresi dan nada bicara dapat membantu menjelaskan maksud yang sulit disampaikan hanya melalui teks.
Baca Juga: Kenapa Orang Jepang Suka Berendam? Ritual Onsen Ternyata Bisa Jadi Cara Simpel Melepas Stres
Jadi, kalau Anda termasuk orang yang berani bilang “nggak bisa” lewat chat, tetapi mendadak kehilangan kemampuan berkata tidak saat bertemu langsung, mungkin masalahnya bukan karena keberanian Anda berubah.
Layar HP hanya memberikan satu hal yang sangat berharga: waktu untuk berpikir.
Sementara ketika berhadapan langsung, ada tatapan, ekspresi, suara, dan perasaan orang lain yang ikut hadir dalam satu waktu.
Dan terkadang, semua itu cukup untuk membuat kata “tidak” yang sudah tersusun rapi di kepala mendadak berubah menjadi:
“Yaudah deh, aku ikut.”
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang