RADARBONANG.ID – Self-care biasanya identik dengan skincare, ngopi sendirian, staycation, atau menghabiskan waktu sambil menonton serial favorit.
Namun, ada satu ritual sederhana dari Jepang yang menawarkan konsep berbeda: berhenti sejenak dan berendam dalam air hangat. Namanya onsen.
Bagi masyarakat Jepang, onsen bukan sekadar tempat untuk membersihkan tubuh.
Berendam di sumber air panas telah lama menjadi bagian dari budaya mandi dan relaksasi.
Dalam perkembangannya, aktivitas ini juga semakin sering dikaitkan dengan wellness karena memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat dari rutinitas.
Baca Juga: Indonesia Rawan Bencana, Anggaran BNPB 2027 Hanya Rp1 Triliun
Bayangkan selama beberapa saat tidak ada notifikasi, deadline, pekerjaan, maupun media sosial.
Yang tersisa hanya air hangat, suasana tenang, dan waktu untuk diri sendiri.
Konsep sederhana inilah yang membuat onsen menarik sebagai inspirasi self-care modern.
Kenapa Berendam Bisa Bikin Tubuh Terasa Lebih Rileks?
Ada alasan mengapa mandi air hangat sering terasa menenangkan setelah menjalani hari yang melelahkan.
Ketika tubuh berendam dalam air hangat, suhu tubuh meningkat dan terjadi perubahan pada aliran darah.
Sejumlah penelitian mengenai kebiasaan mandi ala Jepang juga menemukan kaitan dengan kualitas tidur dan kondisi psikologis yang lebih baik.
Penelitian di Jepang yang melibatkan masyarakat secara nasional juga menemukan hubungan positif antara kebiasaan mandi di sumber air panas dengan sejumlah indikator kesehatan mental yang dirasakan responden.
Namun, para peneliti tetap menekankan bahwa hasil tersebut menunjukkan hubungan, bukan bukti bahwa onsen dapat menjadi pengobatan untuk gangguan mental.
Jadi, efek “reset” yang dirasakan setelah berendam tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang ajaib.
Bisa jadi, tubuh memang sedang mendapatkan kesempatan untuk keluar sejenak dari aktivitas yang membuatnya terus aktif.
Self-Care Nggak Harus Selalu Produktif
Ada satu hal menarik dari konsep onsen yang terasa relevan dengan kehidupan modern: kamu tidak harus melakukan apa pun.
Di tengah kebiasaan mengejar produktivitas, bahkan waktu istirahat terkadang masih dianggap harus menghasilkan sesuatu.
Liburan harus diabadikan. Ngopi harus sambil bekerja. Waktu luang harus diisi scrolling.
Bahkan ketika sedang “me time”, tangan masih sibuk mengecek notifikasi.
Konsep berendam menawarkan kebalikan dari semua itu.
Tidak perlu laptop. Tidak perlu membuat konten. Tidak harus membuka media sosial.
Cukup duduk atau berendam, menikmati suasana, dan membiarkan tubuh berhenti sejenak.
Justru momen tanpa tuntutan seperti inilah yang bisa membuat waktu istirahat terasa benar-benar berbeda.
Onsen Bukan Obat untuk Masalah Mental
Meski terdengar menyenangkan, onsen tetap perlu ditempatkan secara proporsional.
Berendam air panas dapat menjadi bagian dari rutinitas relaksasi, tetapi bukan pengganti psikolog, psikiater, atau perawatan medis ketika seseorang mengalami masalah kesehatan mental yang serius.
Penelitian mengenai manfaat hot spring dan balneotherapy memang menunjukkan potensi terhadap stres, mood, kelelahan, dan kualitas tidur.
Namun, tinjauan penelitian juga mencatat jumlah studi yang masih terbatas serta adanya risiko bias dalam beberapa penelitian.
Artinya, masih diperlukan penelitian yang lebih besar dan lebih kuat untuk memastikan manfaatnya.
Dengan kata lain, onsen boleh menjadi bagian dari self-care, tetapi jangan dianggap sebagai solusi tunggal untuk masalah mental health.
Nggak Punya Onsen? Ritualnya Bisa Dibawa ke Rumah
Kabar baiknya, konsep self-care ala onsen tidak mengharuskan seseorang terbang ke Jepang.
Jika memiliki bathtub, cobalah membuat sesi berendam sederhana di rumah.
Jika tidak punya, mandi dengan air hangat pun bisa menjadi alternatif untuk menciptakan suasana rileks.
Buat suasana lebih tenang. Redupkan lampu, jauhkan smartphone, matikan notifikasi, lalu berikan tubuh waktu untuk beristirahat.
Tidak perlu membuat ritual yang rumit.
Misalnya, 20–30 menit bisa digunakan hanya untuk mandi atau berendam tanpa distraksi.
Setelah itu, duduk sebentar, minum air putih atau minuman hangat, dan biarkan tubuh beradaptasi sebelum kembali melakukan aktivitas.
Yang paling penting bukan fasilitasnya, melainkan jeda dari rutinitas.
Jangan Sampai Self-Care Malah Jadi Sesi Scrolling
Ada satu jebakan yang sering terjadi ketika seseorang mencoba relaksasi di rumah.
Sudah menyiapkan air hangat, suasana dibuat tenang, tetapi smartphone tetap berada di tangan.
Akhirnya, sesi relaksasi berubah menjadi 30 menit scrolling TikTok, membaca chat, membalas komentar, atau mengecek pekerjaan.
Kalau ingin mencoba konsep onsen sebagai digital detox, smartphone justru bisa ditinggalkan untuk sementara.
Tidak harus berjam-jam. Mulai dari 20 menit tanpa notifikasi saja sudah cukup untuk menciptakan batas kecil antara waktu “harus melakukan sesuatu” dan waktu “boleh berhenti”.
Ada Manfaat Lain dari Berendam Air Hangat
Konsep mandi ala Jepang juga tidak hanya berkaitan dengan suasana hati.
Tinjauan mengenai Japanese-style bathing menemukan sejumlah penelitian yang mengaitkan kebiasaan berendam dengan kualitas tidur yang lebih baik.
Beberapa penelitian juga melaporkan adanya perbaikan pada gejala depresi, meski temuan tersebut tetap perlu dilihat dalam konteks kualitas bukti yang tersedia.
Sementara itu, penelitian intervensi pada orang dewasa menemukan bahwa mandi dengan berendam dalam air hangat selama sekitar 10 menit memberikan hasil yang lebih baik pada sejumlah ukuran kelelahan, stres, suasana hati, dan kualitas hidup dibandingkan sekadar mandi dengan shower.
Hal tersebut menunjukkan bahwa ritual sederhana seperti berendam memang punya potensi menjadi bagian dari rutinitas wellness.
Namun sekali lagi, manfaat tersebut tidak berarti semua orang akan mendapatkan efek yang sama.
Pada Akhirnya, Onsen Mengajarkan Satu Hal Sederhana
Daya tarik terbesar dari onsen mungkin bukan terletak pada air panasnya.
Lebih dari itu, ada filosofi sederhana yang bisa diadaptasi ke kehidupan sehari-hari: berhenti sebentar bukan berarti malas.
Tubuh tidak harus terus bekerja. Pikiran tidak harus terus menerima informasi.
Dan waktu luang tidak selalu harus diisi dengan sesuatu yang produktif.
Baca Juga: Mode Gelap atau Terang, Mana yang Lebih Nyaman untuk Mata? Jawabannya Ternyata Tidak Sesederhana Itu
Kadang, self-care memang sesederhana memberi diri sendiri izin untuk tidak melakukan apa-apa.
Jadi, ketika hidup terasa seperti terlalu banyak tab browser yang terbuka sekaligus, mungkin yang dibutuhkan bukan selalu liburan mahal atau aktivitas baru.
Mungkin cukup dengan mematikan notifikasi, menyiapkan air hangat, menarik napas perlahan, dan memberikan diri sendiri beberapa menit untuk benar-benar berhenti.
Karena terkadang, cara paling sederhana untuk kembali merasa fresh adalah dengan slow down.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang