Membaca Islam ala Prabowo: Benarkah Buku Ini Mengungkap Cara Beragama Sang Presiden?

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 09:37 WIB
Buku dengan Judul Islam ala Prabowo tentu mengundang rasa penasaran. Apakah buku ini membahas sebuah corak keislaman khas Prabowo? Atau justru mengungkap sisi spiritual sang Presiden?. (gramedia.com)
Buku dengan Judul Islam ala Prabowo tentu mengundang rasa penasaran. Apakah buku ini membahas sebuah corak keislaman khas Prabowo? Atau justru mengungkap sisi spiritual sang Presiden?. (gramedia.com)

RADARBONANG.ID – Sebuah judul buku bisa menjadi pintu masuk yang cukup kuat untuk membangkitkan rasa penasaran pembaca.

Begitu pula dengan Islam ala Prabowo.

Judul tersebut segera memunculkan pertanyaan: seperti apa sebenarnya Islam yang dijalankan Presiden Prabowo Subianto?

Pertanyaan itu menjadi semakin menarik karena Prabowo selama ini lebih dikenal publik sebagai seorang tokoh militer dan politisi.

Pembahasan mengenai kehidupan keagamaannya tidak sebanyak pembicaraan tentang perjalanan politik maupun karier militernya.

Berbeda dengan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang sejak lama dikenal sebagai ulama, intelektual Muslim sekaligus tokoh pesantren.

Baca Juga: Blue Origin Dapat Kontrak NASA Senilai 700 Juta Dolar, Siapkan Jaringan Komunikasi untuk Mars

Identitas keislaman Gus Dur sudah menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.

Begitu pula dengan Joko Widodo yang beberapa kali diketahui publik memiliki kebiasaan menjalankan ibadah tertentu, termasuk puasa Senin dan Kamis.

Dalam konteks itulah kehadiran Islam ala Prabowo menjadi menarik.

Buku ini seolah menawarkan kesempatan bagi pembaca untuk melihat sisi lain seorang Prabowo Subianto, terutama dalam menjalankan kehidupan beragama.

Buku tersebut diluncurkan pada 27 Agustus 2025 dan dihadiri sejumlah tokoh, antara lain Menteri Agama Nazaruddin Umar dan Ketua MPR Ahmad Muzani.

Kehadirannya di toko buku online juga terbilang masih baru ketika pertama kali menarik perhatian pembaca.

Bahkan, pada saat itu belum terlihat ulasan maupun penilaian dari pembeli.

Judul Buku yang Bisa Menimbulkan Tafsir Berbeda

Hal pertama yang perlu dipahami adalah bahwa Islam ala Prabowo bukan autobiografi keagamaan Prabowo Subianto.

Buku setebal 346 halaman ini merupakan kumpulan tulisan dari sejumlah tokoh yang berasal dari berbagai latar belakang.

Di dalamnya terdapat pandangan tokoh agama, politisi, akademisi, diplomat, dan figur publik mengenai Prabowo, khususnya berkaitan dengan kehidupan spiritual, kepemimpinan, serta pengamalan nilai-nilai Islam.

Dengan demikian, istilah “Islam ala Prabowo” dalam buku ini tidak dimaksudkan sebagai sebuah mazhab, corak, atau karakter Islam tertentu sebagaimana istilah Islam Jawa, Islam Sasak, atau Islam Melayu.

Makna judulnya lebih mengarah pada bagaimana Prabowo dipandang dalam menjalankan ajaran Islam.

Perbedaan pemaknaan tersebut menjadi penting karena judul buku memang cukup mudah menimbulkan ekspektasi tertentu.

Pembaca yang hanya melihat judulnya mungkin membayangkan pembahasan mengenai pemikiran keislaman Prabowo secara konseptual.

Padahal, isi buku lebih banyak menghadirkan kesaksian, penilaian, dan refleksi sejumlah tokoh terhadap kehidupan keagamaan serta kepemimpinan Prabowo.

Ada Perbedaan Judul pada Bagian Dalam Buku

Hal menarik lainnya muncul pada bagian sampul.

Terdapat tangkapan layar yang beredar dengan judul Islam ala Prabowo: Biografi Spiritual dan Visi Pembaharuan (Jilid I).

Sementara edisi buku yang beredar dengan sampul lainnya mencantumkan judul Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam.

Perbedaan tersebut sempat menimbulkan dugaan bahwa terdapat dua buku berbeda.

Namun, setelah daftar isi dibandingkan, struktur pembahasannya ternyata sama.

Perbedaannya terdapat pada penamaan yang tercantum pada bagian cover dalam.

Belum terdapat penjelasan yang cukup mengenai alasan perubahan atau perbedaan judul tersebut.

Apakah berkaitan dengan proses penerbitan, penyuntingan, atau strategi penamaan buku, hal itu masih menjadi bagian yang menarik untuk dicermati.

Buku ini disusun oleh Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas.

Penerbitannya dilakukan oleh Atmosphere Publishing House dan pertama kali dicetak pada April 2025.

Harga yang tercantum sebesar Rp129.000. Untuk pembelian melalui toko online, harga akhirnya dapat menjadi sekitar Rp149.000 setelah ditambah ongkos kirim dan biaya penanganan, meskipun harga tersebut bisa lebih rendah jika tersedia voucher.

Bukan Sekadar Menggambarkan Prabowo sebagai Sosok Religius

Salah satu bagian penting buku ini terdapat dalam kata pengantar penyusun.

Prabowo tidak digambarkan sebagai sosok yang tampil sebagai seorang alim atau tokoh yang selalu berbicara menggunakan dalil agama.

Penyusun justru menggambarkannya sebagai pribadi yang menjalankan agama secara apa adanya.

Dalam persoalan ritual, Prabowo disebut mengikuti pandangan ulama yang dianggap memiliki kapasitas keilmuan.

Dengan kata lain, keberagamaan Prabowo tidak ditempatkan pada posisi seorang pemikir agama, melainkan sebagai seorang Muslim yang menjalankan keyakinannya dengan cara yang dianggap sederhana.

Penyusun juga memberikan penegasan bahwa buku tersebut tidak dimaksudkan sekadar untuk membangun citra keislaman Prabowo.

Ada pesan yang lebih besar di baliknya, yakni mengingatkan seorang pemegang kekuasaan agar jabatan dan kepemimpinan tidak semata-mata menjadi tujuan politik.

Kekuasaan idealnya dijalankan dengan niat memperoleh ridha Allah SWT dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Dari sini terlihat bahwa buku tersebut tidak hanya ingin menjawab pertanyaan tentang bagaimana Prabowo beragama, tetapi juga mencoba menghubungkan kehidupan spiritual dengan tanggung jawab seorang pemimpin.

Tiga Pokok Pembahasan

Pembahasan buku dibagi menjadi tiga bagian utama.

Bagian pertama mengangkat tema Islam, perdamaian, dan keadilan.

Bagian kedua berfokus pada spiritualitas Prabowo Subianto, sedangkan bagian ketiga membahas perjuangan untuk kesejahteraan rakyat.

Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa keberislaman dalam buku ini tidak hanya dilihat dari sisi ritual.

Nilai agama juga dikaitkan dengan persoalan sosial dan politik, terutama mengenai bagaimana seorang pemimpin menjalankan kekuasaan.

Sejumlah nama yang menjadi kontributor juga cukup dikenal di ruang publik.

Di antaranya Yusril Ihza Mahendra, AM Hendropriyono, As'ad Said Ali, Muhadjir Effendy, Muhammad Irfan Yusuf, serta sejumlah tokoh lainnya.

Latar belakang para kontributor membuat buku ini memiliki karakter yang cukup jelas.

Banyak di antara mereka merupakan tokoh yang memiliki hubungan atau dukungan terhadap Prabowo.

Kondisi tersebut tidak serta-merta mengurangi nilai buku, tetapi menjadi konteks penting bagi pembaca ketika menilai berbagai pandangan yang disampaikan di dalamnya.

Pembaca tetap perlu membedakan antara uraian faktual, kesaksian, interpretasi, dan penilaian subjektif dari masing-masing kontributor.

Prolog Ahmad Muzani Lebih Banyak Bicara Kepemimpinan

Prolog buku ditulis oleh Ketua MPR Ahmad Muzani.

Menariknya, prolog tersebut tidak secara khusus membedah kehidupan spiritual Prabowo.

Pembahasannya lebih diarahkan pada posisi Prabowo dalam hubungan dengan dunia Islam internasional serta visi dan misi kepemimpinannya.

Hal ini semakin menunjukkan bahwa buku tersebut memang memiliki cakupan yang lebih luas daripada sekadar membahas ritual keagamaan Prabowo.

Islam dalam buku ini ditempatkan dalam hubungan dengan politik, kepemimpinan, perdamaian, hubungan internasional, dan kesejahteraan masyarakat.

Dengan demikian, pembaca akan menemukan bahwa sosok Prabowo yang dibahas bukan hanya Prabowo sebagai seorang individu Muslim, tetapi juga Prabowo sebagai seorang pemimpin negara.

Epilog Membandingkan Prabowo dengan Umar bin Abdul Aziz

Salah satu bagian yang cukup mengundang perhatian terdapat pada epilog.

Bagian penutup buku ditulis KH Asep Saifuddin Chalim, pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah, Mojokerto.

Dalam epilog tersebut, kepemimpinan Prabowo Subianto dibandingkan dengan sosok Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Dalam sejarah Islam, Umar bin Abdul Aziz dikenal sebagai pemimpin yang identik dengan keadilan dan perhatian terhadap kesejahteraan rakyat.

Perbandingan tersebut tentu menjadi bagian yang menarik sekaligus membutuhkan pembacaan kritis.

Pembaca dapat menilai sendiri dasar perbandingan tersebut dan melihat apakah karakter kepemimpinan keduanya memang memiliki persamaan yang cukup kuat.

Justru bagian seperti inilah yang membuat buku ini menarik untuk dibaca tidak hanya sebagai bahan informasi, tetapi juga sebagai bahan refleksi dan diskusi.

Ekspektasi Pembaca Bisa Berbeda dengan Isi Buku

Pada akhirnya, Islam ala Prabowo adalah buku yang kemungkinan besar akan memberikan pengalaman berbeda bagi pembaca yang sejak awal memiliki bayangan tertentu mengenai judulnya.

Buku ini tidak menghadirkan sebuah konsep “Islam Prabowo” dalam pengertian sebagai corak keislaman baru.

Tidak pula berupa autobiografi spiritual yang ditulis langsung oleh Prabowo.

Yang disajikan adalah kumpulan perspektif para tokoh mengenai keberagamaan, spiritualitas, kepemimpinan, dan visi sosial-politik Prabowo Subianto.

Karena itu, buku ini lebih tepat dibaca sebagai dokumentasi pandangan sejumlah tokoh mengenai sisi keislaman dan kepemimpinan Prabowo.

Pada saat yang sama, keberadaan mayoritas kontributor yang memiliki kedekatan dengan Prabowo membuat buku ini menarik untuk ditempatkan dalam konteks yang lebih luas.

Pembaca tidak hanya perlu melihat apa yang dikatakan, tetapi juga siapa yang menyampaikan dan dari sudut pandang mana tulisan tersebut dibuat.

Baca Juga: James Harden Resmi Bertahan di Cavaliers, Kontrak 3 Tahun Senilai Rp1,5 Triliun Jadi Sorotan

Judul Islam ala Prabowo memang berhasil menjalankan salah satu fungsi penting sebuah judul buku: membuat orang berhenti, penasaran, lalu ingin membukanya.

Namun setelah halaman demi halaman dibaca, makna judul tersebut ternyata lebih sederhana sekaligus lebih luas.

Buku ini bukan tentang sebuah aliran Islam bernama “Islam Prabowo”, melainkan tentang bagaimana keberagamaan seorang presiden dibaca, ditafsirkan, dan dinilai oleh orang-orang di sekelilingnya.

Pada akhirnya, pembaca sendirilah yang menentukan apakah gambaran dalam buku tersebut berhasil menjawab rasa penasaran mengenai sosok Prabowo sebagai seorang Muslim.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : catatanridwan.id
Islam ala Prabowo resensi buku Islam ala Prabowo buku Prabowo Subianto spiritualitas Prabowo keberagamaan Prabowo