Solo Traveling Bukan Berarti Kesepian, Ini Alasan Banyak Anak Muda Justru Menikmatinya

Arinie Khaqqo • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 10:26 WIB
Pergi sendirian bukan berarti tidak punya teman. Justru, solo traveling bisa jadi kesempatan untuk bebas menentukan tujuan, menikmati me time, sampai mengenal diri sendiri lebih jauh. (ilustras)
Pergi sendirian bukan berarti tidak punya teman. Justru, solo traveling bisa jadi kesempatan untuk bebas menentukan tujuan, menikmati me time, sampai mengenal diri sendiri lebih jauh. (ilustras)

 

RADARBONANG.ID – Liburan sering kali identik dengan pergi bersama teman, pasangan, atau keluarga.

Ada yang diajak ngobrol sepanjang perjalanan, teman makan, sampai orang yang bisa dimintai tolong untuk mengambil foto.

Namun, ada cara lain menikmati perjalanan yang belakangan semakin banyak diminati anak muda, yakni solo traveling.

Bepergian seorang diri memang terdengar sepi bagi sebagian orang.

Tidak ada teman untuk berdiskusi menentukan tempat makan, tidak ada partner untuk berbagi cerita di perjalanan, dan semua keputusan harus dibuat sendiri.

Baca Juga: Sering Dengar Istilah Desil? Ini Arti, Cara Menentukan, hingga Alasan Desil Bisa Berubah

Tetapi bagi mereka yang sudah mencobanya, justru di situlah daya tarik solo traveling.

Pergi sendirian bukan selalu berarti tidak punya teman atau sedang merasa kesepian.

Sebaliknya, perjalanan seorang diri bisa menjadi kesempatan untuk menikmati waktu tanpa harus menyesuaikan diri dengan keinginan orang lain.

Mulai dari menentukan destinasi, memilih tempat makan, bangun tidur, hingga memutuskan kapan ingin pulang, semuanya berada di tangan traveler.

Bebas Menentukan Mau Ke Mana dan Kapan Saja

Salah satu alasan utama orang menyukai solo traveling adalah kebebasan.

Ketika bepergian bersama orang lain, hampir setiap keputusan membutuhkan kompromi.

Satu orang mungkin ingin mengunjungi museum, sementara teman lainnya lebih tertarik berburu kuliner.

Belum lagi persoalan bangun pagi.

Ada yang sudah siap berangkat sejak pukul 06.00, sementara partner perjalanan masih ingin menikmati waktu tidur.

Hal-hal seperti ini sebenarnya merupakan bagian normal dari traveling bersama.

Bahkan, kompromi terkadang justru membuat perjalanan semakin berkesan.

Namun, bagi seseorang yang ingin benar-benar bebas menentukan ritme liburannya, solo traveling menawarkan pengalaman yang berbeda.

Traveler dapat membuat itinerary sesuai keinginan sendiri.

Jika tiba-tiba menemukan tempat menarik, rencana bisa berubah tanpa harus menunggu persetujuan siapa pun.

Begitu pula jika merasa lelah. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti jadwal rombongan.

Inilah yang membuat perjalanan seorang diri terasa lebih personal.

Sendirian Tidak Selalu Berarti Kesepian

Masih ada anggapan bahwa makan sendirian, jalan-jalan sendirian, atau duduk menikmati pemandangan tanpa teman merupakan sesuatu yang menyedihkan.

Padahal, cara pandang terhadap waktu sendiri perlahan berubah.

Bagi banyak anak muda, memiliki waktu tanpa interaksi sosial justru bisa menjadi kebutuhan.

Rutinitas pekerjaan, kuliah, pertemanan, media sosial, hingga berbagai aktivitas sehari-hari membuat seseorang hampir selalu terhubung dengan orang lain.

Solo traveling kemudian bisa menjadi semacam tombol pause.

Tidak harus selalu mengisi perjalanan dengan aktivitas.

Duduk santai di kafe, membaca buku di penginapan, berjalan kaki menyusuri kawasan kota, atau menikmati matahari terbenam tanpa terburu-buru juga bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan.

Dalam kondisi seperti ini, kesendirian tidak lagi terasa sebagai sesuatu yang harus dihindari.

Justru, waktu sendiri bisa menjadi bentuk me time yang lebih panjang.

Solo Traveling Bisa Melatih Kemandirian

Pergi sendirian juga membuat seseorang harus lebih mandiri.

Mulai dari memilih transportasi, mencari penginapan, membaca peta, menentukan tempat makan, mengatur jadwal, hingga menghitung pengeluaran semuanya harus dilakukan sendiri.

Situasi tidak terduga pun menjadi bagian dari pengalaman.

Misalnya, salah memilih jalur, tersesat, transportasi terlambat, atau tempat yang ingin dikunjungi ternyata sedang tutup.

Pada awalnya, kondisi tersebut mungkin membuat panik.

Namun, justru dari pengalaman seperti itulah kemampuan memecahkan masalah bisa terasah.

Traveler belajar untuk tidak langsung panik ketika sesuatu berjalan di luar rencana.

Lama-kelamaan, muncul rasa percaya diri bahwa ternyata diri sendiri mampu mengatasi berbagai situasi tanpa selalu bergantung pada orang lain.

Bisa Jadi Cara untuk Lebih Mengenal Diri Sendiri

Ada hal menarik lain dari solo traveling: seseorang memiliki lebih banyak ruang untuk mendengarkan dirinya sendiri.

Ketika tidak perlu mengikuti percakapan, jadwal, atau preferensi orang lain, traveler bisa lebih bebas memperhatikan apa yang sebenarnya disukai.

Mungkin baru sadar bahwa ternyata lebih menikmati perjalanan santai dibanding mengejar banyak destinasi dalam satu hari.

Atau justru menemukan aktivitas baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Fotografi, menulis jurnal perjalanan, mencoba makanan lokal, mengunjungi tempat bersejarah, atau sekadar berjalan kaki tanpa tujuan tertentu bisa menjadi bagian dari proses tersebut.

Karena itu, solo traveling bagi sebagian orang bukan hanya tentang pergi ke tempat baru.

Perjalanan tersebut juga bisa menjadi kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih jauh.

Bahkan, ada yang memanfaatkannya sebagai momentum untuk mengevaluasi rutinitas, memikirkan kembali tujuan hidup, atau sekadar menyadari hal-hal sederhana yang selama ini sering terlewat.

Tidak Harus Langsung Pergi Jauh

Meski terdengar menarik, solo traveling tetap membutuhkan persiapan.

Terutama bagi pemula, perjalanan pertama tidak harus langsung dilakukan ke luar kota yang jauh atau ke destinasi yang belum familiar.

Cobalah memulai dari perjalanan singkat selama satu atau dua hari ke kota terdekat.

Pilih destinasi yang mudah dijangkau dan memiliki akses transportasi yang jelas.

Buat itinerary sederhana dan jangan memasukkan terlalu banyak tempat dalam satu hari.

Dokumen penting juga harus disimpan dengan baik. Pastikan ponsel selalu memiliki daya dan siapkan metode pembayaran cadangan.

Persoalan anggaran juga perlu diperhatikan.

Berbeda dengan traveling bersama, beberapa biaya yang biasanya bisa dibagi dengan teman mungkin harus ditanggung sendiri.

Selain itu, beri tahu keluarga atau orang terdekat mengenai rencana perjalanan dan lokasi penginapan.

Jika menggunakan media sosial, sebaiknya jangan membagikan informasi pribadi atau lokasi secara berlebihan ketika sedang bepergian sendirian.

Menjadi Teman Perjalanan untuk Diri Sendiri

Pada akhirnya, solo traveling bukan tentang membuktikan bahwa seseorang bisa pergi jauh tanpa ditemani.

Lebih dari itu, perjalanan seorang diri dapat menjadi kesempatan untuk menikmati kebebasan, melatih kemandirian, dan memahami bahwa menghabiskan waktu sendirian tidak selalu identik dengan kesepian.

Baca Juga: Tetap Populer di Era Streaming, VLC Tembus 7 Miliar Unduhan dan Buktikan Pemutar Media Masih Dicari

Bagi yang masih ragu, tidak perlu langsung merencanakan perjalanan panjang.

Mulailah dari sesuatu yang sederhana.

Satu hari menjelajahi kota sendiri, mencoba tempat makan baru, mengunjungi destinasi yang belum pernah didatangi, atau sekadar menikmati suasana tanpa harus menyesuaikan jadwal dengan orang lain.

Sebab, terkadang perjalanan terbaik bukan tentang siapa yang ikut bersama kita.

Melainkan tentang bagaimana kita bisa menikmati perjalanan ketika satu-satunya teman yang dibawa adalah diri sendiri.

 
Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
manfaat solo traveling tips solo traveling pemula traveling sendirian anak muda solo traveling