Sisi Gelap Fast Fashion, Baju Murah yang Cuma Dipakai Dua Kali Ternyata Punya Dampak Panjang

Siska Yudianti • Dipublikasikan Kamis, 3 September 2026 | 10:08 WIB
Pernah beli baju karena murah dan sedang tren, tapi akhirnya cuma dipakai sekali atau dua kali? Masalahnya, perjalanan baju itu tidak berhenti di lemari. Ada cerita panjang di balik produksi hingga saat pakaian tersebut menjadi limbah. (ilustrasi)
Pernah beli baju karena murah dan sedang tren, tapi akhirnya cuma dipakai sekali atau dua kali? Masalahnya, perjalanan baju itu tidak berhenti di lemari. Ada cerita panjang di balik produksi hingga saat pakaian tersebut menjadi limbah. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID – Pernah membeli baju karena harganya hanya puluhan ribu rupiah, memakainya sekali atau dua kali.

Kemudian beberapa bulan setelahnya baru sadar pakaian tersebut sudah tidak pernah disentuh lagi?

Fenomena seperti ini semakin umum terjadi.

Pakaian murah, diskon besar, tren yang terus berganti, hingga rekomendasi outfit di media sosial membuat aktivitas belanja pakaian terasa semakin mudah.

Kadang, kita membeli bukan karena benar-benar membutuhkan pakaian baru, tetapi karena modelnya sedang viral atau harganya dianggap terlalu murah untuk dilewatkan.

Baca Juga: Bukan Diangkat Otomatis! Guru PPPK Bisa Ikut Seleksi CPNS 2027, Ini Syaratnya

Di situlah fast fashion bekerja.

Industri ini membuat pakaian dengan cepat, mengikuti tren yang berubah dalam waktu singkat, lalu menjualnya dengan harga yang relatif terjangkau.

Siklus tersebut membuat konsumen terus terdorong membeli pakaian baru.

Masalahnya, perjalanan sebuah baju tidak berhenti ketika paket sampai di rumah.

Justru ketika pakaian hanya digunakan beberapa kali lalu ditinggalkan di lemari, cerita lain bisa dimulai.

Dari Tren di Media Sosial Berakhir di Tumpukan Lemari

Konsep fast fashion pada dasarnya dibangun dari siklus yang cepat: tren berubah, produk dibuat, harga ditekan, konsumen membeli, lalu tren kembali berganti.

Dulu, perubahan tren pakaian mungkin membutuhkan waktu berbulan-bulan.

Sekarang, media sosial membuat tren fashion dapat muncul dan hilang jauh lebih cepat.

Sebuah model pakaian bisa viral hari ini, dipakai banyak orang dalam beberapa minggu, kemudian perlahan menghilang ketika tren baru muncul.

Akibatnya, pakaian yang sebenarnya masih layak dipakai bisa terasa tidak menarik lagi.

Lemari akhirnya penuh dengan pakaian, tetapi tidak semuanya benar-benar digunakan.

Ketika sudah dianggap tidak terpakai, pakaian tersebut bisa dijual kembali, diberikan kepada orang lain, didonasikan, diperbaiki, didaur ulang, atau dibuang.

Namun, donasi bukan berarti otomatis menyelesaikan masalah.

Tidak semua pakaian yang disumbangkan akan menemukan pemilik baru.

Sebagian tetap tidak terserap dan pada akhirnya masuk ke sistem pengelolaan limbah.

Dari sinilah persoalan fast fashion menjadi lebih kompleks.

Harga Murah Tidak Berarti Tanpa Biaya

Salah satu daya tarik utama fast fashion adalah harganya.

Baju seharga Rp50 ribu atau Rp100 ribu mungkin terasa sangat ringan ketika dibeli.

Apalagi jika sedang ada promo, gratis ongkir, atau potongan harga tambahan.

Namun, harga yang terlihat di layar ponsel atau label toko sebenarnya hanya menunjukkan biaya yang dibayar konsumen.

Ada perjalanan panjang di balik sebuah pakaian sebelum sampai ke lemari.

Mulai dari produksi bahan baku, pengolahan serat menjadi kain, penggunaan air dan energi, proses pewarnaan, pemotongan, penjahitan, pengemasan hingga distribusi.

Setelah itu, pakaian masih harus dikirim dari tempat produksi menuju gudang, toko, atau langsung ke rumah konsumen.

Artinya, sebuah kaus sederhana yang terlihat murah tetap membutuhkan berbagai sumber daya dalam proses pembuatannya.

Ketika konsumen membeli pakaian dalam jumlah semakin banyak dan menggunakannya dalam waktu semakin singkat, siklus produksi dan konsumsi tersebut ikut menjadi semakin cepat.

Algoritma Media Sosial Ikut Mempercepat Tren

Media sosial menjadi salah satu faktor yang membuat perubahan tren fashion terasa semakin cepat.

Hari ini pengguna mungkin melihat satu jenis celana yang sedang viral.

Besok muncul atasan yang disebut sebagai outfit wajib.

Beberapa hari kemudian, muncul tren lain yang membuat pakaian sebelumnya terasa sudah tidak relevan.

Algoritma platform media sosial juga terus menyodorkan konten berdasarkan apa yang sering dilihat dan disukai pengguna.

Semakin sering seseorang melihat konten fashion, semakin banyak pula rekomendasi pakaian yang muncul di lini masa.

Pada akhirnya, muncul dorongan untuk membeli.

Bukan karena pakaian lama sudah rusak atau tidak bisa digunakan, melainkan karena ada perasaan takut tertinggal dari tren.

Istilah yang sering digunakan adalah fear of missing out atau FOMO.

Kondisi ini semakin kuat ketika pakaian yang ditawarkan memiliki harga sangat murah.

Ketika sebuah baju hanya berharga puluhan ribu rupiah, seseorang bisa berpikir bahwa membeli satu lagi bukan masalah besar.

Namun, jika pola tersebut terjadi berkali-kali, jumlah pakaian yang jarang digunakan pun terus bertambah.

Fast Fashion Bukan Berarti Harus Berhenti Belanja

Membicarakan dampak fast fashion bukan berarti seseorang harus berhenti membeli pakaian baru sama sekali.

Persoalannya lebih kepada bagaimana kita membuat keputusan sebelum membeli.

Salah satu cara sederhana adalah berhenti sejenak sebelum menekan tombol checkout.

Tanyakan kepada diri sendiri: Apakah pakaian ini benar-benar dibutuhkan? Apakah akan dipakai berkali-kali?.

Apakah modelnya masih relevan dalam jangka panjang? Atau saya membelinya hanya karena sedang diskon?

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membantu mengurangi pembelian impulsif.

Konsumen juga bisa mempertimbangkan beberapa kebiasaan lain, seperti memilih pakaian yang lebih awet, merawat pakaian dengan baik, membeli barang preloved, memperbaiki pakaian yang rusak, hingga menjual kembali pakaian yang sudah tidak digunakan.

Dengan begitu, umur sebuah pakaian bisa menjadi lebih panjang.

Yang Murah di Kasir Belum Tentu Murah bagi Lingkungan

Pada akhirnya, persoalan fast fashion bukan hanya tentang harga sebuah pakaian ketika dibeli.

Persoalannya adalah seberapa lama pakaian tersebut digunakan.

Baju yang harganya murah dan dipakai berkali-kali tentu memiliki cerita berbeda dengan baju murah yang hanya digunakan sekali atau dua kali kemudian menjadi barang yang tidak diinginkan.

Baca Juga: Sering Dengar Istilah Desil? Ini Arti, Cara Menentukan, hingga Alasan Desil Bisa Berubah

Karena itu, sebelum membeli pakaian berikutnya, mungkin ada baiknya kita tidak hanya bertanya, “Harganya berapa?”

Tetapi juga bertanya, “Seberapa sering saya akan memakainya?”

Sebab, ketika sebuah pakaian memiliki umur penggunaan yang sangat pendek, biaya sebenarnya tidak selalu berhenti di dompet konsumen.

Ada sumber daya yang digunakan dalam proses produksinya dan ada pula limbah yang harus ditangani ketika pakaian tersebut sudah tidak digunakan.

Baju yang kita anggap murah mungkin memang murah ketika berada di keranjang belanja.

Namun, jika hanya dipakai dua kali lalu menjadi limbah, bisa jadi ada harga lain yang harus dibayar.

Dan kali ini, yang membayarnya bukan hanya kita, tetapi juga lingkungan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
limbah pakaian baju murah fast fashion fashion berkelanjutan dampak fast fashion