RADARBONANG.ID – Coba pikirkan satu pertanyaan sederhana: berapa harga kopi atau minuman favorit yang biasa dibeli? Kemungkinan besar, jawabannya bisa muncul dengan cepat.
Namun, ketika pertanyaannya berubah menjadi berapa saldo rekening saat ini, tidak sedikit orang justru perlu membuka aplikasi perbankan terlebih dahulu.
Kondisi tersebut memang terdengar sepele. Namun, kebiasaan sehari-hari seperti ini dapat menjadi gambaran tentang bagaimana seseorang mengelola keuangannya.
Di tengah kemudahan transaksi digital, masyarakat kini bisa membeli hampir apa saja hanya melalui smartphone.
Makanan, kopi, transportasi, langganan aplikasi, pakaian hingga kebutuhan hiburan dapat dibayar tanpa perlu mengeluarkan uang tunai.
Masalahnya, semakin mudah transaksi dilakukan, semakin mudah pula pengeluaran kecil luput dari perhatian.
Baca Juga: Suka Cerita Misteri? Ini 8 Drakor tentang Orang Hilang yang Penuh Teka-Teki hingga Episode Terakhir
Kopi Rp20 Ribu Bisa Berubah Jadi Rp600 Ribu
Membeli kopi seharga Rp20 ribu tentu bukan masalah jika memang sudah masuk dalam anggaran.
Persoalannya muncul ketika pembelian tersebut dilakukan hampir setiap hari tanpa pernah menghitung total pengeluarannya.
Jika mengeluarkan Rp20 ribu setiap hari selama 30 hari, nominalnya menjadi sekitar Rp600 ribu dalam sebulan.
Angka tersebut bahkan belum memasukkan pengeluaran kecil lainnya seperti camilan, biaya layanan, ongkos kirim, transportasi, langganan aplikasi hingga pembelian spontan.
Masing-masing transaksi mungkin terlihat tidak signifikan. Namun, ketika semuanya dikumpulkan dalam satu bulan, jumlahnya bisa cukup besar.
Inilah alasan mengapa masalah keuangan terkadang bukan berasal dari satu pembelian mahal, melainkan dari banyak transaksi kecil yang terus dilakukan tanpa disadari.
Bukan berarti membeli kopi harus dihentikan. Yang lebih penting adalah mengetahui apakah kebiasaan tersebut masih sesuai dengan kemampuan keuangan.
Transaksi Digital Bikin Uang Terasa Lebih Mudah Keluar
Perkembangan pembayaran digital membawa banyak keuntungan.
Masyarakat tidak perlu membawa uang tunai dalam jumlah besar.
Pembayaran dapat dilakukan menggunakan mobile banking, dompet digital, kartu maupun berbagai metode pembayaran lainnya.
Namun, ada konsekuensi yang perlu diperhatikan.
Saat menggunakan uang tunai, seseorang dapat melihat secara langsung uang yang berpindah dari dompet.
Berkurangnya lembaran uang terkadang membuat pengeluaran terasa lebih nyata.
Sebaliknya, transaksi digital hanya membutuhkan beberapa sentuhan pada layar.
Scan QR, klik bayar, transaksi berhasil.
Tidak ada uang fisik yang terlihat berkurang.
Kondisi tersebut dapat membuat sebagian orang merasa pengeluaran tidak terlalu berat, terutama ketika transaksi yang dilakukan bernilai kecil.
Karena itu, semakin praktis metode pembayaran yang digunakan, semakin penting pula kemampuan untuk mengontrol transaksi.
Punya E-Wallet dan Paylater Belum Tentu Melek Finansial
Saat ini seseorang bisa memiliki rekening bank, beberapa dompet digital, kartu debit, layanan paylater hingga aplikasi investasi sekaligus.
Namun, banyaknya layanan keuangan yang dimiliki tidak otomatis menunjukkan bahwa seseorang sudah memiliki literasi finansial yang baik.
Melek finansial bukan sekadar mampu menggunakan aplikasi keuangan.
Seseorang juga perlu memahami bagaimana kondisi keuangannya, berapa pemasukan yang dimiliki, berapa pengeluaran setiap bulan, serta kewajiban apa saja yang harus dibayar.
Hal yang tidak kalah penting adalah memahami konsekuensi setiap keputusan finansial.
Misalnya, ketika menggunakan paylater, jangan hanya melihat cicilan bulanan yang tampak ringan. Perhatikan pula total pembayaran, biaya tambahan, tenor dan kemampuan untuk melunasinya.
Begitu pula ketika menggunakan produk investasi. Kemudahan membeli produk investasi melalui aplikasi tidak berarti setiap produk otomatis sesuai dengan kondisi keuangan dan profil risiko seseorang.
Masalahnya Bukan Kopi, tetapi Kehilangan Kendali
Ada anggapan bahwa kebiasaan membeli kopi atau jajan kecil menjadi penyebab utama masalah keuangan.
Padahal, persoalannya jauh lebih kompleks.
Membeli kopi, makan di restoran, menonton film atau sesekali berbelanja bukan sesuatu yang salah selama pengeluaran tersebut sudah diperhitungkan.
Yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang tidak mengetahui ke mana sebagian besar penghasilannya pergi.
Misalnya, seseorang merasa tidak pernah melakukan pembelian besar.
Namun, ketika seluruh transaksi selama sebulan diperiksa, ternyata ada ratusan transaksi kecil yang jika dijumlahkan menghasilkan angka cukup besar.
Kondisi tersebut membuat seseorang merasa uangnya “tiba-tiba habis”, padahal sebenarnya uang keluar sedikit demi sedikit.
Karena itu, pertanyaan yang lebih penting bukan “boleh beli kopi atau tidak?”, melainkan “setelah membeli kopi, apakah kondisi keuangan saya masih aman?”
Coba Cek Saldo Sebelum Checkout
Meningkatkan literasi keuangan sebenarnya tidak harus dimulai dengan membuat perencanaan keuangan yang rumit.
Langkah pertama justru bisa dilakukan dengan kebiasaan yang sangat sederhana.
Pertama, rutin mengecek saldo.
Jangan hanya membuka aplikasi bank ketika hendak melakukan transfer atau pembayaran.
Mengetahui kondisi saldo secara berkala dapat membantu seseorang memahami kondisi keuangannya.
Kedua, catat pengeluaran.
Tidak harus menggunakan aplikasi khusus. Catatan sederhana di smartphone juga cukup untuk mengetahui ke mana uang pergi.
Ketiga, hitung transaksi kecil.
Coba kumpulkan seluruh pengeluaran untuk kopi, camilan, ongkos kirim, langganan aplikasi dan pembelian impulsif selama sebulan.
Dari sana, biasanya akan terlihat pola yang sebelumnya tidak disadari.
Keempat, bedakan kebutuhan dan keinginan.
Tidak semua hal yang ingin dibeli harus langsung dibayar. Beri jeda sebelum melakukan pembelian, terutama jika barang tersebut sebenarnya tidak mendesak.
Literasi Keuangan Bukan Berarti Harus Pelit
Menjadi lebih melek finansial bukan berarti harus berhenti menikmati hasil kerja.
Justru tujuan pengelolaan keuangan adalah membuat seseorang dapat menikmati penghasilannya tanpa mengorbankan kebutuhan yang lebih penting.
Seseorang tetap bisa membeli kopi, makan bersama teman, menonton konser atau melakukan perjalanan.
Bedanya, semua itu dilakukan dengan kesadaran terhadap kemampuan finansial.
Dengan begitu, kesenangan hari ini tidak berubah menjadi masalah keuangan di kemudian hari.
Literasi finansial juga bukan tentang siapa yang paling sedikit mengeluarkan uang.
Orang yang sangat hemat tetapi tidak memiliki perencanaan juga belum tentu memiliki pengelolaan keuangan yang sehat.
Intinya adalah kendali.
Tahu berapa uang yang dimiliki. Tahu berapa yang boleh dikeluarkan. Tahu kewajiban yang harus dibayar. Dan tahu kapan harus berhenti berbelanja.
Jadi, Masih Hafal Saldo Rekening?
Jika harga kopi favorit bisa langsung disebutkan, tetapi saldo rekening harus dicari terlebih dahulu, mungkin sudah waktunya memberikan perhatian lebih pada kondisi keuangan pribadi.
Bukan karena membeli kopi adalah kebiasaan buruk.
Baca Juga: Aliansi GERAM Gelar Aksi di DPR 27 Agustus, Bawa 10 Tuntutan dan Desak Pimpinan Parlemen Turun
Bukan pula karena semua pengeluaran kecil harus dihilangkan.
Namun, karena mengetahui kondisi keuangan sendiri merupakan salah satu langkah paling sederhana untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat.
Mulailah dari hal kecil: cek saldo, catat pengeluaran dan hitung kembali transaksi yang selama ini terasa sepele.
Sebab pada akhirnya, literasi keuangan bukan tentang seberapa sering seseorang mengatakan “nggak boleh boros”.
Literasi keuangan adalah kemampuan untuk tetap menikmati hidup sambil memastikan uang yang dimiliki masih punya arah.
Jadi, boleh saja lebih hafal harga kopi daripada saldo rekening.
Asalkan jangan sampai lebih hafal menu yang mau dibeli daripada kondisi keuangan sendiri.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang