RADARBONANG.ID — Di tengah derasnya arus budaya modern dan tren hiburan yang terus berubah, keberadaan generasi muda yang memilih berkarya melalui kesenian tradisional menjadi sesuatu yang menarik perhatian.
Salah satunya adalah Niken Salindry, sinden muda yang berusaha membawa budaya Jawa tetap hidup dan relevan di tengah generasi masa kini.
Di usianya yang masih 18 tahun, Niken telah menjalani perjalanan panjang di dunia seni.
Kecintaannya terhadap sinden bahkan tumbuh sejak dirinya masih berusia sekitar 4 tahun.
Perjalanan tersebut ia ceritakan saat menjadi bintang tamu dalam podcast CURHAT BANG bersama Denny Sumargo.
Baca Juga: Bedtime Perfume Makin Populer, Benarkah Parfum Sebelum Tidur Bisa Bikin Istirahat Lebih Nyenyak?
Dari perbincangan tersebut, terlihat bahwa dunia sinden bagi Niken bukan sekadar pekerjaan yang dijalani karena tuntutan keluarga.
Seni tradisional telah menjadi bagian dari kehidupannya sejak kecil.
Mengenal Dunia Sinden Sejak Usia 4 Tahun
Niken tumbuh di lingkungan keluarga yang dekat dengan kesenian tradisional Jawa.
Sang ayah diketahui merupakan seorang dalang sehingga aktivitas seni sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-harinya.
Lingkungan tersebut membuat Niken memiliki kesempatan untuk mengenal dunia pewayangan, gamelan, sinden, dan berbagai bentuk kesenian Jawa sejak usia sangat muda.
Alih-alih hanya menjadi penonton, Niken kemudian mulai tertarik untuk ikut terlibat.
Kemampuannya sebagai sinden tidak hanya diperoleh melalui pembelajaran formal.
Ia juga banyak belajar dengan mengamati penampilan para sinden senior.
Dari kebiasaan mengamati tersebut, Niken perlahan memahami bagaimana seorang sinden harus bernyanyi, membawakan lagu, menjaga karakter suara, hingga berinteraksi dalam sebuah pertunjukan.
Perjalanan selama bertahun-tahun tersebut kemudian membentuk karakter Niken sebagai sinden muda dengan gaya yang semakin dikenal publik.
Sekolah Tetap Jadi Prioritas
Menjalani karier sebagai seniman sejak usia muda tentu bukan perkara mudah. Jadwal pertunjukan yang padat harus berjalan beriringan dengan pendidikan formal.
Niken mengaku tetap berusaha menjadikan sekolah sebagai prioritas meskipun terkadang harus bepergian jauh untuk memenuhi jadwal pertunjukan.
Kesibukan di atas panggung tidak membuatnya meninggalkan tanggung jawab sebagai pelajar.
Ia bahkan berusaha memanfaatkan waktu di sela-sela aktivitas untuk menyelesaikan tugas sekolah.
"Sekolah tetap utama. Tapi bisa dispend kalau jauh-jauh gitu. Aku tetap kayak ngerjain tugas. Waktu perform sempetin ngerjain tugas," ujar Niken dalam perbincangan tersebut.
Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana Niken harus membagi waktu antara pendidikan dan karier seni yang sudah dimulainya sejak kecil.
Membawa Musik Jawa hingga ke Luar Negeri
Salah satu bagian menarik dari perjalanan Niken adalah kesempatan tampil di luar Indonesia.
Ia beberapa kali mendapat undangan untuk membawakan kesenian Jawa di luar negeri.
Salah satunya adalah Hong Kong, tempat ia tampil untuk menghibur komunitas pekerja migran Indonesia.
Bagi Niken, kesempatan tersebut memiliki makna lebih besar daripada sekadar tampil di atas panggung.
Ia dapat memperkenalkan musik dan kesenian Jawa kepada masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri sekaligus menunjukkan bahwa budaya tradisional Indonesia memiliki ruang untuk terus berkembang.
"Jadi kayak ngebawa musik Jawa tuh ke ranah internasional juga," ungkap Niken.
Pengalaman tampil di luar negeri juga menjadi bukti bahwa kesenian tradisional tidak harus berhenti di wilayah asalnya.
Dengan generasi muda sebagai pelaku, budaya tersebut justru dapat memiliki kesempatan untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
Bagi Niken, Sinden Bukan Sekadar Profesi
Popularitas yang diperoleh Niken tidak membuat dirinya hanya melihat sinden sebagai sebuah pekerjaan.
Ia memandang aktivitas tersebut sebagai salah satu bentuk tanggung jawab untuk menjaga kesenian dan identitas budaya Jawa.
Hal tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan selera hiburan generasi muda.
Musik modern, media sosial, dan budaya populer membuat anak muda memiliki banyak pilihan hiburan.
Di tengah situasi tersebut, Niken berusaha menunjukkan bahwa kesenian tradisional juga dapat tampil dengan cara yang lebih dekat dengan generasi sekarang.
Ia ingin budaya Jawa tidak hanya dikenang sebagai sesuatu dari masa lalu, tetapi tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern.
Berani Memadukan Sinden dengan Musik Modern
Salah satu cara yang ingin dilakukan Niken adalah melakukan inovasi.
Ia memiliki gagasan untuk menggabungkan penampilan tradisional dengan genre musik modern seperti hip-hop.
Konsep tersebut menunjukkan bahwa mempertahankan budaya tidak selalu berarti harus mempertahankan semuanya dalam bentuk yang sama.
Budaya dapat tetap memiliki identitas, tetapi cara penyampaiannya bisa menyesuaikan perkembangan zaman.
Niken bahkan membayangkan dirinya tetap menggunakan busana dan atribut tradisional seperti gelungan, tetapi membawakan lagu dengan sentuhan musik hip-hop.
"Aku sempat ada pikiran kayak aku masih pakai gelungan gini, tapi laguku itu aku ganti ke hip-hop," tuturnya.
Ide tersebut bisa menjadi salah satu bentuk pendekatan baru untuk memperkenalkan kesenian Jawa kepada generasi yang lebih akrab dengan musik modern.
Tak Ingin Dikenal karena Sensasi
Seiring popularitasnya meningkat, kehidupan pribadi Niken juga tidak luput dari perhatian warganet.
Ia beberapa kali menjadi bahan perbincangan di media sosial, termasuk ketika netizen menjodoh-jodohkannya dengan sejumlah figur publik.
Namun, Niken memilih untuk tidak menjadikan perhatian tersebut sebagai fokus utama.
Ia ingin publik lebih mengenalnya karena karya dan kemampuan bernyanyinya.
Baginya, popularitas seharusnya dapat digunakan untuk memperluas karya, bukan sekadar mengejar sensasi.
Sikap tersebut juga memperlihatkan bagaimana Niken berusaha membangun identitas sebagai seniman muda dengan kemampuan yang menjadi pusat perhatian.
Soal Bayaran, Niken Lebih Memikirkan Karya
Menariknya, Niken juga mengungkapkan bahwa dirinya tidak terlalu mengetahui secara detail nominal bayaran yang diterima dari setiap pertunjukan.
Pengelolaan keuangan dan manajemennya masih dibantu oleh sang ibu.
"Sebenarnya aku juga enggak tahu bayaranku tuh berapa. Kan manajemen itu ada di mama," kata Niken.
Ia menegaskan bahwa hal yang lebih penting baginya saat ini adalah menghasilkan karya, menghibur penonton, dan menjalankan tanggung jawab profesional dengan baik.
Ke depan, ia tampaknya ingin mulai lebih memahami bagaimana mengelola karier dan keuangannya sendiri.
Ingin Kuliah Bisnis Setelah Lulus SMA
Setelah menyelesaikan pendidikan SMA, Niken memiliki rencana untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
Bidang bisnis menjadi salah satu pilihan yang menarik perhatiannya.
Keinginan tersebut bukan tanpa alasan. Dengan karier yang sudah berjalan sejak usia muda, pengetahuan bisnis dapat menjadi bekal untuk mengelola pekerjaan, keuangan, hingga aktivitas profesionalnya secara lebih mandiri.
"Mungkin kuliahnya di bisnis gitu," ujarnya.
Pendidikan tersebut diharapkan dapat melengkapi kemampuan seninya sehingga Niken tidak hanya mampu tampil sebagai penyanyi dan sinden, tetapi juga memahami cara mengelola perjalanan kariernya.
Pesan Niken untuk Generasi Muda
Niken menyadari bahwa melestarikan budaya membutuhkan proses panjang.
Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya mengenal budaya dari media sosial atau mendengar cerita dari orang lain.
Mereka juga perlu mengamati, mempelajari, dan memahami kesenian tersebut secara lebih mendalam.
"Harus mengamati dan juga banyak belajar," pesan Niken.
Baca Juga: Tangga JPO Depan Gedung DPR Hilang Jelang Demo 27 Agustus, Benarkah Terkait Keamanan?
Perjalanan Niken Salindry menunjukkan bahwa budaya tradisional dan modernitas tidak selalu harus dipertentangkan.
Sinden bisa tetap tampil dengan busana tradisional, tetapi musiknya dapat bereksperimen dengan genre modern.
Kesenian Jawa bisa dipentaskan di panggung lokal, tetapi juga dapat dibawa hingga ke luar negeri.
Di usia yang masih sangat muda, Niken memilih jalan yang cukup berani: tidak meninggalkan akar budaya, tetapi terus mencari cara agar akar tersebut bisa tumbuh di zaman yang berbeda.
Dan mungkin, di situlah masa depan budaya tradisional Indonesia berada—bukan hanya pada bagaimana menjaganya tetap sama, tetapi bagaimana membuat generasi berikutnya mau mengenal, mencintai, dan meneruskannya.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : youtube.com/@curhatbang