Sekali Klik Bisa Beli Apa Saja, Ini Bahaya Transaksi Digital yang Sering Tak Disadari

Defy Maulida Puspaaji • Dipublikasikan Rabu, 26 Agustus 2026 | 12:33 WIB
Sekarang beli barang cukup sekali klik. Tapi pernah sadar kalau kemudahan itu justru bisa membuat uang keluar tanpa terasa? Dari paylater, dompet digital, sampai investasi online, semuanya punya risiko yang perlu dipahami. (ilustrasi)
Sekarang beli barang cukup sekali klik. Tapi pernah sadar kalau kemudahan itu justru bisa membuat uang keluar tanpa terasa? Dari paylater, dompet digital, sampai investasi online, semuanya punya risiko yang perlu dipahami. (ilustrasi)

RADARBONANG.ID — Dulu, membeli sesuatu membutuhkan waktu dan proses yang cukup panjang.

Seseorang harus keluar rumah, mencari barang yang dibutuhkan, menyiapkan uang, lalu melakukan pembayaran. Kini, semua tahapan tersebut bisa dilakukan hanya melalui layar ponsel.

Cukup membuka aplikasi, memilih barang, menekan tombol checkout, kemudian menyelesaikan pembayaran. Dalam hitungan detik, transaksi sudah selesai.

Kemudahan ini tentu menjadi salah satu keuntungan terbesar perkembangan teknologi finansial.

Namun, di balik transaksi yang semakin praktis, muncul tantangan baru yang tidak boleh diabaikan, yakni literasi keuangan digital.

Kemampuan mengelola keuangan di era digital bukan lagi sebatas mengetahui cara menabung, membuat anggaran, atau membedakan kebutuhan dan keinginan.

Baca Juga: 9 Orang Didakwa Taiwan karena Diduga Ekspor Ilegal 74 Server AI Canggih ke Pelanggan Tiongkok

Masyarakat juga perlu memahami bagaimana uang digunakan dan bergerak melalui berbagai layanan digital.

Mulai dari dompet digital, mobile banking, QRIS, paylater, pinjaman online, hingga investasi melalui aplikasi, semuanya membutuhkan pemahaman agar kemudahan teknologi tidak berubah menjadi sumber masalah finansial.

Saat Uang Terasa “Tidak Benar-Benar Keluar”

Salah satu tantangan transaksi digital adalah munculnya perasaan bahwa uang tidak benar-benar berpindah.

Ketika menggunakan uang tunai, seseorang dapat melihat secara langsung uang yang dimiliki berkurang. Ada sensasi fisik ketika lembaran uang berpindah dari tangan ke kasir.

Situasinya berbeda ketika pembayaran dilakukan secara digital.

Cukup memindai QRIS, menekan tombol pembayaran, atau menggunakan saldo dompet digital. Transaksi selesai tanpa ada uang fisik yang terlihat berpindah.

Hal sederhana tersebut dapat membuat seseorang lebih mudah melakukan pembelian secara spontan.

Barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan bisa terasa menarik karena proses pembeliannya sangat mudah.

Apalagi ketika platform belanja menawarkan diskon, gratis ongkir, notifikasi promo, atau batas waktu pembayaran yang membuat pengguna merasa harus segera mengambil keputusan.

Di sinilah literasi keuangan digital menjadi semakin penting.

Kemudahan transaksi seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan kendali terhadap pengeluaran.

Melek Finansial Digital Bukan Sekadar Bisa Pakai Aplikasi

Memahami keuangan digital tidak berarti seseorang hanya mampu menggunakan mobile banking atau dompet digital.

Lebih jauh dari itu, seseorang perlu memahami biaya, risiko, keamanan, serta konsekuensi dari setiap keputusan finansial yang dilakukan secara online.

Contohnya adalah layanan paylater.

Nominal cicilan yang terlihat kecil mungkin terasa tidak memberatkan ketika hanya ditampilkan sebagai pembayaran bulanan.

Namun, pengguna tetap perlu menghitung berapa total uang yang harus dibayarkan hingga cicilan selesai.

Biaya layanan, bunga, tenor, denda keterlambatan, serta kemampuan membayar juga perlu diperhitungkan.

Jangan sampai keputusan membeli barang hanya didasarkan pada pertanyaan, “Cicilannya sanggup dibayar atau tidak?”

Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Berapa total yang harus saya keluarkan dan apakah barang ini memang saya butuhkan?”

Cara berpikir seperti inilah yang menjadi bagian dari literasi keuangan digital.

Investasi Digital Juga Tidak Boleh Asal Klik

Kemudahan yang sama juga terjadi pada dunia investasi.

Saat ini, seseorang bisa membuka akun dan membeli berbagai produk investasi melalui aplikasi tanpa harus datang ke kantor secara langsung.

Namun, proses yang cepat bukan berarti keputusan investasi juga boleh dilakukan secara terburu-buru.

Kemudahan membeli produk investasi tidak otomatis berarti produk tersebut sesuai dengan kebutuhan, tujuan keuangan, atau tingkat risiko seseorang.

Sebelum menginvestasikan uang, pengguna perlu memahami produk yang dibeli, potensi keuntungan, risiko kerugian, biaya yang dikenakan, serta pihak yang menyediakan layanan tersebut.

Penawaran dengan iming-iming keuntungan besar dalam waktu singkat juga perlu disikapi secara hati-hati.

Semakin mudah sebuah layanan keuangan digunakan, semakin penting kemampuan pengguna untuk berhenti sejenak dan memahami apa yang sebenarnya sedang dilakukan.

Bahaya Digital Tidak Berhenti pada Boros

Masalah keuangan digital bukan hanya tentang pengeluaran yang tidak terkendali.

Ada risiko lain yang juga semakin berkembang, seperti penipuan digital, pencurian data pribadi, tautan palsu, akun palsu, investasi ilegal, hingga penyalahgunaan informasi finansial.

Seseorang bisa saja kehilangan uang bukan karena membeli terlalu banyak barang, tetapi karena memberikan informasi penting kepada pihak yang salah.

Karena itu, pengguna layanan keuangan digital perlu berhati-hati ketika menerima pesan, tautan, atau permintaan data yang mencurigakan.

Informasi seperti PIN, kata sandi, kode OTP, dan data keamanan lainnya tidak seharusnya diberikan kepada orang lain.

Kebiasaan memeriksa kembali nama penerima, alamat situs, sumber aplikasi, serta detail transaksi juga penting dilakukan sebelum menekan tombol konfirmasi.

Kemudahan Harus Diimbangi Kemampuan Mengendalikan Diri

Teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membuat berbagai aktivitas menjadi lebih mudah.

Layanan keuangan digital juga memberikan banyak manfaat ketika digunakan dengan bijak.

Membayar tagihan tidak perlu datang ke loket. Mengirim uang bisa dilakukan dalam hitungan detik.

Membeli kebutuhan sehari-hari dapat dilakukan dari rumah. Bahkan berbagai produk investasi kini bisa diakses melalui ponsel.

Namun, kemudahan tersebut memiliki sisi lain.

Ketika hambatan untuk melakukan transaksi semakin kecil, seseorang juga perlu memiliki kontrol diri yang semakin kuat.

Baca Juga: Semakin Dingin AC, Makin Boros Listrik? Ini Penjelasan dan Suhu yang Lebih Hemat

Prinsip sederhananya adalah jangan hanya bertanya “Bisa beli atau tidak?”

Coba tambahkan tiga pertanyaan sebelum melakukan transaksi: “Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?”, “Apakah saya mampu membayarnya?”, dan “Apa risiko dari keputusan ini?”

Tiga pertanyaan tersebut dapat menjadi rem sederhana sebelum seseorang mengeluarkan uang.

Pada akhirnya, literasi keuangan digital bukan tentang menjauhi teknologi. Justru sebaliknya, kemampuan tersebut diperlukan agar masyarakat bisa memanfaatkan teknologi dengan lebih aman dan bijak.

Sebab di era ketika hampir semua hal dapat dibeli hanya dengan sekali klik, tantangan terbesar bukan lagi bagaimana melakukan transaksi.

Tantangan sebenarnya adalah mengetahui kapan harus berhenti menekan tombol “beli”.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
tips mengelola keuangan bahaya transaksi digital keamanan transaksi online literasi keuangan digital. PayLater