RADARBONANG.ID — Pernah mencium parfum dengan aroma vanilla, karamel, cokelat, kopi, susu, marshmallow, atau bahkan seperti kue yang baru keluar dari oven?.
Kalau dulu aroma seperti itu mungkin terdengar unik, kini justru semakin banyak diburu, terutama oleh generasi muda.
Tren tersebut dikenal sebagai gourmand fragrance, yaitu kategori parfum yang menggunakan karakter aroma yang terinspirasi dari makanan, minuman, dessert, dan bahan-bahan manis.
Menariknya, popularitas gourmand fragrance bukan hanya karena aromanya dianggap lezat.
Ada alasan emosional dan psikologis yang membuat wangi seperti vanilla, caramel, chocolate, hingga coffee terasa begitu menarik.
Bagi sebagian orang, parfum jenis ini bahkan bisa menghadirkan sensasi nyaman, nostalgia, dan keakraban. T
Baca Juga: Robot Tiongkok Pecahkan Rekor Usain Bolt, Lari 100 Meter Cuma 9,39 Detik di Beijing 2026
Tidak mengherankan jika gourmand fragrance semakin sering muncul dalam pembicaraan tentang tren parfum dan personal style.
Bukan Sekadar Wangi, Aroma Gourmand Bisa Memicu Kenangan
Salah satu alasan parfum gourmand begitu mudah disukai adalah kemampuannya menghadirkan asosiasi dengan pengalaman masa lalu.
Aroma vanilla, misalnya, dapat mengingatkan seseorang pada kue buatan rumah, minuman hangat, atau suasana ketika berkumpul bersama keluarga.
Sementara aroma kopi mungkin membawa ingatan pada kedai favorit, sarapan pagi, atau rutinitas sebelum memulai aktivitas.
Hubungan antara aroma dan memori memang terasa sangat kuat. Indera penciuman memiliki keterkaitan erat dengan area otak yang berhubungan dengan emosi dan ingatan.
Itulah sebabnya aroma tertentu bisa langsung menciptakan perasaan nyaman atau nostalgia tanpa seseorang harus berpikir panjang mengenai penyebabnya.
Dalam konteks parfum, pengalaman tersebut membuat gourmand fragrance terasa lebih personal.
Pengguna bukan hanya memilih aroma yang dianggap harum, tetapi juga memilih sensasi dan kenangan yang ingin mereka bawa.
Aroma Manis Memberikan Kesan Hangat dan Nyaman
Gourmand fragrance juga memiliki karakter yang identik dengan rasa nyaman atau comforting.
Vanilla, caramel, chocolate, marshmallow, susu, hingga aroma pastry biasanya memiliki asosiasi dengan makanan yang memberikan kesenangan.
Ketika karakter tersebut diterjemahkan ke dalam parfum, hasilnya dapat memberikan kesan hangat, lembut, cozy, dan familiar.
Karakter seperti ini membuat parfum gourmand cocok bagi mereka yang ingin menghadirkan kesan ramah dan mudah didekati.
Di tengah rutinitas yang cepat dan penuh aktivitas, aroma yang terasa familiar bahkan dapat memberikan semacam sensasi “ruang aman” dalam bentuk wewangian.
Tidak harus selalu manis berlebihan. Gourmand modern justru semakin banyak dikembangkan dengan komposisi yang lebih seimbang sehingga aroma dessert tetap terasa, tetapi tidak membuat parfum menjadi terlalu berat.
Mengapa Gen Z Begitu Menyukai Gourmand Fragrance?
Bagi Gen Z, parfum semakin jauh dari sekadar pelengkap penampilan.
Wewangian dapat menjadi bagian dari personal branding dan cara seseorang mengekspresikan dirinya.
Jika sebelumnya banyak orang mencari parfum hanya berdasarkan pertanyaan “wanginya enak atau tidak?”, kini pilihan parfum juga dapat berkaitan dengan karakter yang ingin ditampilkan.
Gourmand fragrance memberikan ruang eksplorasi yang sangat luas.
Aroma vanilla dapat memberikan kesan soft dan comforting. Caramel bisa menghadirkan karakter manis dan playful.
Coffee dapat memberikan nuansa lebih energik, sementara perpaduan buah dengan dessert bisa menghasilkan aroma yang lebih ceria dan youthful.
Pilihan tersebut memungkinkan seseorang menentukan “vibe” yang ingin mereka tampilkan tanpa harus mengatakannya secara langsung.
Tren ini juga berjalan beriringan dengan budaya self-expression yang kuat di media sosial.
Meskipun aroma parfum tidak dapat dilihat melalui layar, pengguna dapat membangun cerita mengenai karakter dan suasana yang ingin mereka hadirkan melalui pilihan wewangian.
Ada Sensasi Aroma yang Membuat Ingin Mencium Lagi
Daya tarik gourmand fragrance juga berkaitan dengan sesuatu yang bisa disebut sebagai olfactory craving, yakni sensasi ketika aroma tertentu terasa begitu familiar dan menyenangkan sehingga membuat seseorang ingin menciumnya kembali.
Bayangkan aroma cookies yang baru dipanggang, espresso, vanilla cream, cokelat, atau karamel.
Aroma tersebut secara alami memiliki hubungan dengan pengalaman menikmati makanan atau minuman.
Ketika karakter itu hadir dalam parfum, otak dapat menghubungkannya dengan pengalaman yang menyenangkan.
Namun, bukan berarti parfum gourmand harus benar-benar berbau seperti makanan.
Justru salah satu perkembangan menarik dalam dunia parfum adalah bagaimana para peracik wewangian mengolah aroma makanan menjadi sesuatu yang lebih kompleks.
Aroma vanilla dapat dipadukan dengan floral. Caramel bisa bertemu woody atau musk.
Coffee dapat dikombinasikan dengan spicy notes, sementara aroma buah dapat disandingkan dengan berbagai karakter creamy.
Hasil akhirnya membuat gourmand fragrance modern memiliki banyak wajah.
Ada yang terasa manis dan playful, ada yang creamy dan lembut, sementara lainnya justru terasa sensual, mewah, dan sophisticated.
Parfum Gourmand Tidak Selalu Berarti Manis Berlebihan
Kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa semua parfum gourmand pasti memiliki aroma manis yang sangat kuat.
Padahal, kategori ini cukup luas.
Sebuah parfum dapat disebut gourmand ketika memiliki karakter yang terinspirasi dari makanan atau minuman, tetapi komposisinya tetap dapat dibuat lebih ringan dan seimbang.
Misalnya, vanilla tidak selalu harus menjadi aroma utama yang sangat dominan.
Nota tersebut dapat digunakan sebagai aksen untuk memberikan kelembutan pada parfum floral atau woody.
Begitu pula aroma kopi yang dapat memberikan kedalaman tanpa membuat parfum terasa seperti secangkir espresso.
Hal inilah yang membuat gourmand fragrance bisa digunakan oleh lebih banyak orang dengan preferensi aroma yang berbeda.
Bisa Menjadi “Aroma Identitas” Seseorang
Pada akhirnya, meningkatnya popularitas gourmand fragrance menunjukkan bahwa cara orang memandang parfum juga ikut berubah.
Wewangian tidak lagi sekadar aksesori yang digunakan sebelum keluar rumah.
Parfum bisa menjadi bagian dari identitas, suasana hati, hingga cara seseorang menciptakan kesan ketika bertemu dengan orang lain.
Seseorang mungkin memilih aroma vanilla karena ingin memberikan kesan lembut.
Baca Juga: Bank Mandiri Jadi Sorotan, Netizen Ramai Serukan Pindahkan Dana ke Bank Lain
Orang lain bisa memilih coffee untuk menciptakan karakter yang lebih bold, sedangkan aroma caramel atau dessert dapat digunakan untuk menghadirkan kesan playful dan approachable.
Pilihan tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari bahasa personal yang tidak selalu membutuhkan kata-kata.
Mungkin itulah alasan gourmand fragrance begitu mudah mendapatkan tempat di hati generasi muda.
Manusia tidak hanya ingin tercium harum, tetapi juga ingin menghadirkan sebuah perasaan.
Aroma dessert yang melekat pada parfum bisa membuat seseorang merasa nyaman, mengingat momen tertentu, atau bahkan meninggalkan kesan yang sulit dilupakan.
Dan ketika aroma tersebut menjadi ciri khas seseorang, parfum bukan lagi sekadar wewangian.
Ia berubah menjadi bagian dari identitas yang mungkin dikenali bahkan sebelum orang tersebut memperkenalkan dirinya.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang