Hobi Bisa Jadi Petunjuk Sifat Narsistik? Psikolog Ungkap Kebiasaan yang Perlu Diperhatikan

Muhammad Azlan Syah • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 14:08 WIB
Benarkah hobi seseorang bisa menunjukkan dirinya mengalami NPD? Jangan buru-buru memberi label. Ada perbedaan antara sifat narsistik dan gangguan kepribadian narsistik yang perlu dipahami. (Ilustrasi)
Benarkah hobi seseorang bisa menunjukkan dirinya mengalami NPD? Jangan buru-buru memberi label. Ada perbedaan antara sifat narsistik dan gangguan kepribadian narsistik yang perlu dipahami. (Ilustrasi) 

RADARBONANG.ID – Istilah Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik semakin sering dibicarakan di media sosial.

Tidak sedikit orang kemudian mencoba mencocokkan perilaku teman, pasangan, keluarga, bahkan dirinya sendiri dengan berbagai ciri NPD yang beredar di internet.

Salah satu hal yang ikut menjadi perhatian adalah kebiasaan atau hobi seseorang.

Namun, apakah jenis hobi tertentu benar-benar bisa menunjukkan seseorang memiliki NPD?

Jawabannya tidak sesederhana itu. Hobi tidak dapat dijadikan dasar untuk mendiagnosis seseorang mengalami gangguan kepribadian narsistik.

Baca Juga: OpenAI Balik Arah, Kini Desak California Perketat Aturan Keamanan AI SB 53 yang Dulu Ditentangnya

Yang lebih penting adalah pola perilaku, cara seseorang berhubungan dengan orang lain, kebutuhan terhadap pengakuan serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Apa Itu NPD?

NPD merupakan kondisi kesehatan mental yang ditandai pola menetap berupa rasa diri yang sangat penting atau superior, kebutuhan kuat terhadap kekaguman, rasa berhak mendapatkan perlakuan khusus, serta kurangnya empati terhadap orang lain.

Seseorang dengan sifat narsistik belum tentu mengalami NPD.

Pasalnya, sifat narsistik pada tingkat tertentu dapat ditemukan pada banyak orang.

Seseorang bisa senang mendapatkan pujian, bangga terhadap pencapaiannya atau merasa percaya diri tanpa berarti mengalami gangguan kepribadian.

NPD menjadi persoalan ketika pola tersebut berlangsung secara menetap, muncul dalam berbagai situasi dan mengganggu hubungan maupun fungsi kehidupan seseorang.

Karena itu, memberikan label NPD hanya berdasarkan satu atau dua perilaku justru dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Hobi yang Berkaitan dengan Status dan Pengakuan

Dalam pembahasan mengenai ciri narsistik, psikolog menyoroti bahwa seseorang dengan kecenderungan narsistik dapat memiliki ketertarikan kuat terhadap aktivitas yang berkaitan dengan pencapaian, status, kekuasaan, popularitas atau pengakuan.

Misalnya, seseorang sangat menikmati kegiatan yang membuat dirinya terlihat unggul dibandingkan orang lain.

Namun, hal tersebut tidak berarti orang yang menyukai olahraga kompetitif, dunia bisnis, fotografi, otomotif, olahraga, media sosial atau aktivitas lain otomatis memiliki NPD.

Yang perlu diperhatikan adalah alasan dan pola perilakunya, bukan jenis hobinya semata.

Seseorang dapat mengejar prestasi karena ingin berkembang, sementara orang lain mungkin menjadikannya sebagai sarana untuk mendapatkan pengakuan dan merasa lebih tinggi daripada orang lain.

Perbedaannya tidak bisa dinilai hanya dari permukaan.

Gemar Memamerkan Pencapaian Juga Belum Tentu NPD

Di era media sosial, membagikan pencapaian sudah menjadi hal yang sangat umum.

Seseorang mungkin mengunggah foto ketika memenangkan perlombaan, mendapatkan pekerjaan baru, membeli barang yang diinginkan atau menyelesaikan sebuah proyek.

Perilaku tersebut tidak otomatis menunjukkan narsisme patologis.

Yang menjadi perhatian adalah ketika kebutuhan mendapatkan perhatian dan kekaguman menjadi sangat dominan. Dalam NPD, kebutuhan terhadap kekaguman merupakan salah satu karakteristik penting.

Orang dengan NPD juga dapat memiliki rasa superioritas yang kuat, merasa pantas mendapatkan perlakuan khusus dan menunjukkan kurangnya empati terhadap orang lain.

Dengan demikian, satu unggahan atau satu kebiasaan tidak cukup untuk menarik kesimpulan.

Suka Kompetisi Bukan Berarti Mengalami Gangguan Kepribadian

Hal lain yang sering disalahartikan adalah kegemaran terhadap kompetisi.

Orang yang senang berkompetisi bisa saja memiliki motivasi sehat, seperti ingin menguji kemampuan, meningkatkan keterampilan atau menikmati tantangan.

Namun, pada pola narsistik tertentu, kompetisi dapat berkaitan dengan kebutuhan untuk membuktikan bahwa dirinya lebih unggul.

Jika kalah, orang tersebut mungkin mengalami kesulitan menerima kenyataan atau merasa harga dirinya terancam.

Salah satu karakteristik yang sering dikaitkan dengan NPD adalah sensitivitas terhadap kritik serta kebutuhan mempertahankan pandangan positif mengenai dirinya.

Sekali lagi, kondisi tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari pola yang lebih luas, bukan sebagai tanda tunggal.

Ciri NPD Tidak Bisa Dilihat dari Hobi Saja

Kesalahan yang cukup sering terjadi di media sosial adalah mencoba mendiagnosis orang lain hanya berdasarkan konten yang mereka unggah atau kebiasaan yang terlihat.

Padahal, diagnosis NPD membutuhkan penilaian profesional.

Menurut informasi kesehatan yang dirangkum detikHealth, profesional kesehatan jiwa menggunakan sejumlah kriteria untuk menilai kemungkinan NPD.

Diagnosis tidak dilakukan hanya berdasarkan satu perilaku yang dianggap narsistik.

Karakteristik yang dapat ditemukan pada NPD antara lain rasa diri yang berlebihan, fantasi mengenai kesuksesan atau kekuasaan, merasa lebih unggul, kebutuhan berlebihan terhadap kekaguman, rasa berhak mendapatkan perlakuan khusus, perilaku eksploitatif, kurang empati, iri serta sikap arogan.

Pola tersebut juga perlu dipahami dalam konteks kehidupan seseorang.

Jangan Mudah Memberi Label “Narsistik”

Popularitas istilah NPD di media sosial memang membantu masyarakat mengenali isu kesehatan mental.

Namun, penggunaan istilah tersebut secara sembarangan juga dapat menimbulkan masalah.

Menyebut seseorang sebagai “NPD” hanya karena ia suka selfie, senang tampil, gemar membeli barang mahal atau suka mendapatkan pujian merupakan kesimpulan yang terlalu jauh.

Narsisme sebagai sifat dan NPD sebagai gangguan kepribadian merupakan dua hal yang berbeda.

Seseorang bisa memiliki beberapa sifat narsistik tanpa memenuhi kriteria gangguan kepribadian narsistik.

Sebaliknya, seseorang dengan NPD juga tidak selalu menunjukkan perilaku yang sama dalam setiap situasi.

Karena itu, memahami konteks menjadi hal penting.

Kapan Sebaiknya Mencari Bantuan Profesional?

Jika pola perilaku seseorang terus-menerus menimbulkan masalah dalam hubungan, pekerjaan atau kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi pilihan.

Profesional kesehatan jiwa dapat melakukan evaluasi secara menyeluruh sebelum menentukan diagnosis.

Baca Juga: OpenAI Balik Arah, Kini Desak California Perketat Aturan Keamanan AI SB 53 yang Dulu Ditentangnya

Bagi masyarakat umum, langkah yang lebih aman adalah menghindari diagnosis mandiri maupun mendiagnosis orang lain.

Daripada sibuk mencari tahu apakah hobi seseorang merupakan “ciri NPD”, lebih baik memperhatikan bagaimana seseorang memperlakukan orang lain, bagaimana ia merespons kritik, apakah mampu berempati dan apakah pola perilakunya terus menimbulkan masalah.

Pada akhirnya, hobi bukan alat diagnosis NPD.

Satu kebiasaan tidak dapat menentukan kondisi kesehatan mental seseorang.

Yang jauh lebih penting adalah melihat pola perilaku secara menyeluruh dan menyerahkan proses diagnosis kepada tenaga profesional yang memiliki kompetensi.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : detik.com
ciri-ciri NPD hobi orang NPD narcissistic personality disorder ciri orang narsistik gangguan kepribadian narsistik