RADARBONAG.ID – “Ini punyaku!”, kalimat sederhana tersebut mungkin sering terdengar ketika anak menolak memberikan mainannya kepada teman, saudara, atau bahkan orang tua.
Tak jarang, penolakan itu disertai tangisan, teriakan, hingga menarik kembali mainan yang sedang disentuh anak lain.
Bagi sebagian orang tua, perilaku tersebut bisa menimbulkan kekhawatiran.
Anak kemudian dicap sebagai “pelit”, “egois”, atau tidak memiliki kepedulian terhadap orang lain.
Padahal, anak yang belum mau berbagi mainan tidak selalu berarti memiliki sifat buruk.
Pada usia tertentu, anak memang masih berada dalam proses belajar memahami kepemilikan, bergiliran, berbagi, serta mengelola emosi.
Karena itu, respons orang tua menjadi bagian penting dalam membantu anak mengembangkan keterampilan sosial tersebut.
Baca Juga: Sempat Tersesat dan Kehabisan Logistik, 3 Pendaki di Pegunungan Argopuro Akhirnya Ditemukan
Mengapa Anak Bisa Sangat Protektif terhadap Mainannya?
Bagi orang dewasa, sebuah mobil-mobilan, boneka, balok, atau krayon mungkin terlihat sebagai benda biasa.
Namun bagi anak, benda tersebut bisa memiliki nilai emosional yang jauh lebih besar.
Mainan tertentu mungkin merupakan benda favorit yang selalu dibawa ketika bepergian atau digunakan setiap hari.
Ketika anak lain mencoba mengambilnya, si kecil bisa merasa seolah-olah sesuatu yang berharga sedang direbut.
Ucapan “punyaku” juga merupakan bagian dari proses anak mengenali konsep kepemilikan.
Ia mulai memahami bahwa ada barang yang menjadi miliknya dan ada barang yang dimiliki orang lain.
Jadi, daripada langsung mengatakan anak egois, orang tua dapat melihat perilaku tersebut sebagai bagian dari proses perkembangan.
Anak Masih Belajar bahwa Berbagi Bukan Berarti Kehilangan
Konsep berbagi yang sederhana bagi orang dewasa belum tentu mudah dipahami anak kecil.
Ketika mainan diberikan kepada orang lain, anak mungkin belum sepenuhnya memahami bahwa benda tersebut hanya dipinjamkan dan nantinya akan kembali.
Bahkan, konsep waktu yang bagi orang dewasa terasa sederhana bisa terasa berbeda bagi anak.
Karena itu, orang tua dapat menjelaskan dengan kalimat singkat dan konkret.
Misalnya:
“Mobilnya boleh dipinjam sebentar. Setelah teman selesai bermain, mobilnya kembali ke Kakak.”
Penjelasan seperti ini membantu anak memahami perbedaan antara berbagi dan kehilangan.
Semakin sering anak mendapatkan pengalaman positif, semakin mudah pula ia memahami konsep tersebut.
Jangan Langsung Memaksa Anak Berbagi
Niat orang tua mungkin baik ketika berkata, “Ayo, kasih mainannya ke teman.”
Namun, memaksa anak berbagi setiap saat justru dapat membuat situasi semakin sulit.
Anak bisa merasa bahwa orang lain sewaktu-waktu boleh mengambil barang miliknya.
Akibatnya, ia justru menjadi semakin defensif dan berusaha melindungi semua barang yang dimilikinya.
Daripada memaksa, orang tua dapat memberikan pilihan.
Misalnya:
“Kakak mau berbagi mobil merah atau mobil biru?”
Dengan cara tersebut, anak tetap memiliki rasa kendali terhadap barangnya. Pada saat yang sama, ia mulai belajar bahwa bermain bersama juga membutuhkan pertimbangan terhadap orang lain.
Ajarkan Berbagi Lewat Contoh Sehari-hari
Anak tidak hanya belajar dari nasihat. Mereka juga banyak belajar melalui apa yang dilihat dari orang-orang di sekitarnya.
Karena itu, mengajarkan berbagi tidak harus selalu dilakukan melalui penjelasan panjang.
Orang tua bisa memberikan contoh sederhana di rumah.
Misalnya berbagi makanan, bergantian menggunakan sesuatu, menawarkan bantuan, atau memberikan kesempatan kepada anggota keluarga untuk menggunakan barang secara bergiliran.
Ketika perilaku tersebut dilakukan secara konsisten, anak akan lebih mudah memahami bahwa berbagi merupakan bagian dari interaksi sehari-hari.
Orang tua juga dapat memberikan apresiasi ketika anak mulai menunjukkan kemauan untuk berbagi.
Contohnya, “Terima kasih sudah mau meminjamkan mainan. Temanmu jadi bisa ikut bermain.”
Pujian seperti ini membantu anak memahami dampak positif dari tindakannya tanpa memberikan label negatif.
Anak Tidak Harus Membagikan Semua Mainannya
Ada satu hal yang juga sering dilupakan: berbagi bukan berarti anak harus menyerahkan semua barang miliknya.
Anak tetap boleh memiliki mainan favorit yang tidak ingin dipinjamkan.
Orang tua dapat membuat kesepakatan sebelum anak bermain bersama.
Beberapa mainan kesayangan bisa disimpan terlebih dahulu, sedangkan mainan lainnya dapat digunakan bersama.
Cara ini membuat anak merasa aman sekaligus belajar mengenai aturan bermain bersama.
Di sisi lain, anak juga belajar bahwa memiliki batas pribadi merupakan sesuatu yang wajar.
Mengajarkan anak untuk mengatakan “tidak” dengan cara yang sopan juga merupakan bagian dari perkembangan sosial.
Bermain Bersama Bisa Menjadi Latihan Berbagi
Kemampuan berbagi tidak selalu harus diajarkan dalam situasi ketika anak sedang memegang mainan favorit.
Aktivitas bermain bersama dapat menjadi kesempatan untuk memperkenalkan konsep bergiliran.
Misalnya, ketika bermain mobil-mobilan, orang tua dapat mengatakan, “Sekarang giliran Kakak, setelah itu giliran Adik.”
Permainan sederhana seperti ini membantu anak memahami bahwa orang lain juga memiliki kesempatan menggunakan benda yang sama.
Pada tahap awal, anak mungkin masih sering protes.
Hal tersebut tidak selalu berarti prosesnya gagal.
Keterampilan sosial memang membutuhkan pengulangan dan pengalaman.
Kapan Orang Tua Perlu Memberikan Perhatian Lebih?
Tidak mau berbagi sesekali merupakan hal yang berbeda dengan perilaku agresif yang terus-menerus.
Orang tua perlu memperhatikan jika setiap interaksi dengan anak lain selalu berakhir dengan perilaku seperti merebut barang, memukul, mendorong, atau kemarahan yang sangat sulit dikendalikan.
Namun, sebelum langsung memberikan label, coba perhatikan situasinya.
Anak mungkin sedang lelah, lapar, mengantuk, merasa tidak nyaman, atau belum terbiasa bermain bersama anak lain.
Memahami pemicu dapat membantu orang tua menentukan respons yang lebih tepat.
Jika perilaku tersebut berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan sehari-hari, orang tua dapat mempertimbangkan berdiskusi dengan dokter anak atau profesional perkembangan anak.
Anak Belajar Berbagi Secara Bertahap
Kemampuan berbagi bukan sesuatu yang harus langsung dikuasai anak dalam satu waktu.
Baca Juga: Langgar Pantangan Kandang Nomor 4, Penjaga Peternakan Ayam Mengaku Diteror Sosok Tanpa Kepala
Anak perlu belajar memahami kepemilikan, menunggu giliran, mengelola rasa kecewa, mempertimbangkan perasaan orang lain, serta memahami bahwa meminjamkan sesuatu bukan berarti kehilangan.
Karena itu, ketika anak berkata “Ini punyaku!”, orang tua tidak perlu langsung panik.
Alih-alih memaksa atau memberikan label “pelit”, dampingi anak dengan komunikasi sederhana, contoh nyata, dan kesempatan untuk belajar secara bertahap.
Sebab, tujuan akhirnya bukan membuat anak selalu memberikan semua barangnya kepada orang lain.
Yang lebih penting adalah membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang mampu berbagi ketika siap, memahami batas dirinya, menghargai kepemilikan orang lain, dan belajar berempati.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang