Kenapa Orang Betah Nonton ASMR? Ternyata Ada Respons Unik Otak yang Bikin Tubuh Lebih Rileks

Defy Maulida Puspaaji • Dipublikasikan Minggu, 23 Agustus 2026 | 07:56 WIB
Kenapa suara bisikan, ketukan, atau kertas diremas justru bikin sebagian orang tenang? ASMR ternyata bukan sekadar tren internet. Ada respons sensorik dan fisiologis yang membuat orang betah menontonnya. (ilustrasi)
Kenapa suara bisikan, ketukan, atau kertas diremas justru bikin sebagian orang tenang? ASMR ternyata bukan sekadar tren internet. Ada respons sensorik dan fisiologis yang membuat orang betah menontonnya. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Pernah merasa merinding atau geli ketika mendengar suara bisikan, ketukan kuku, kertas diremas, atau suara benda digesekkan secara perlahan? Bagi sebagian orang, suara-suara tersebut mungkin terasa mengganggu.

Namun bagi penggemar ASMR, bunyi sederhana seperti itu justru bisa menjadi cara untuk menenangkan diri.

Tidak sedikit orang yang sengaja memakai earphone kemudian menonton video ASMR sebelum tidur.

Mereka bisa menikmati suara ketukan meja, bisikan pelan, suara menyisir rambut, hingga simulasi seseorang memberikan pelayanan personal selama puluhan menit.

Fenomena tersebut mungkin terdengar unik. Mengapa seseorang justru mencari suara yang bagi orang lain dianggap biasa atau bahkan mengganggu?

Jawabannya ternyata bukan sekadar karena suara tersebut terdengar “enak”.

Baca Juga: Bunyi Notifikasi Bikin Deg-degan? Ini Alasan Gen Z Makin Pilih Chat daripada Telepon

Apa Itu ASMR?

ASMR merupakan singkatan dari Autonomous Sensory Meridian Response, yaitu pengalaman berupa sensasi geli atau kesemutan yang biasanya dirasakan di kepala, kulit kepala, leher, hingga punggung sebagai respons terhadap rangsangan tertentu.

Pemicu ASMR bisa berbeda-beda pada setiap orang.

Beberapa pemicu yang populer antara lain suara bisikan, ketukan, gerakan tangan yang perlahan, suara menggaruk, suara kertas, hingga simulasi pelayanan personal seperti potong rambut atau pemeriksaan dokter.

Menariknya, tidak semua orang yang menikmati video ASMR benar-benar merasakan sensasi kesemutan atau tingles.

Sebagian orang justru menonton ASMR karena merasa lebih tenang, membantu mempersiapkan diri untuk tidur, atau sekadar ingin mengurangi tekanan setelah menjalani aktivitas sepanjang hari.

Tidak Harus Merasakan Sensasi “Tingle”

Anggapan bahwa ASMR hanya bisa dinikmati oleh orang yang mengalami sensasi geli sebenarnya kurang tepat.

Penelitian terhadap ASMR menunjukkan bahwa sebagian orang tetap memperoleh manfaat subjektif berupa rasa tenang meskipun tidak mengalami sensasi kesemutan yang khas.

Bagi mereka, ASMR mungkin lebih berfungsi sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari berbagai hal yang membuat pikiran sibuk.

Video ASMR juga memiliki karakteristik yang berbeda dari hiburan pada umumnya.

Penonton tidak perlu mengikuti alur cerita yang rumit atau memahami banyak informasi.

Mereka cukup duduk, menggunakan earphone, kemudian membiarkan suara-suara kecil memenuhi perhatian.

Bagi sebagian orang, pengalaman tersebut justru menjadi bentuk istirahat mental sederhana.

Mengapa Suara Kecil Bisa Terasa Menenangkan?

Salah satu ciri khas ASMR adalah penggunaan mikrofon yang sangat sensitif.

Kreator dapat merekam suara bisikan, ketukan, gesekan, atau gerakan benda dari jarak dekat.

Hasilnya, suara kecil yang biasanya tidak terlalu diperhatikan dalam kehidupan sehari-hari menjadi jauh lebih jelas.

Bagi orang yang responsif terhadap ASMR, karakteristik suara tertentu dapat memicu sensasi tingle yang khas.

Penelitian yang dipublikasikan pada 2025 juga menemukan bahwa rangsangan audiovisual dalam video ASMR dapat menghasilkan sensasi kesemutan yang lebih kuat dibandingkan rangsangan suara saja pada orang yang responsif.

Dalam penelitian lain, paparan ASMR juga dikaitkan dengan penurunan denyut nadi.

Bahkan, efek tersebut dalam eksperimen tertentu lebih besar dibandingkan video pemandangan alam yang digunakan sebagai pembanding.

Meski demikian, temuan tersebut tidak berarti ASMR memberikan efek yang sama kepada semua orang.

Respons terhadap ASMR memang sangat individual.

Ada Sensasi seperti Sedang Diperhatikan

Salah satu aspek paling menarik dari ASMR adalah banyaknya video dengan konsep role-play.

Dalam video semacam ini, kreator berpura-pura menjadi dokter, tukang cukur, terapis, pramugari, atau seseorang yang sedang memberikan perhatian secara personal kepada penonton.

Konsep tersebut berkaitan dengan gagasan yang dikenal sebagai social grooming hypothesis.

Secara sederhana, hipotesis tersebut mencoba menjelaskan kemungkinan bahwa ASMR meniru sebagian pengalaman nyaman yang muncul dalam interaksi sosial penuh perhatian.

Misalnya, ketika seseorang dengan lembut merapikan rambut, membersihkan wajah, atau melakukan perawatan tertentu.

Pengalaman tersebut dapat terasa lebih personal dibandingkan sekadar mendengarkan musik atau suara latar.

Tidak mengherankan jika sebagian video ASMR menggunakan kamera dari sudut pandang orang pertama sehingga penonton seolah-olah sedang berhadapan langsung dengan kreator.

ASMR Bisa Menjadi Teman Sebelum Tidur

Salah satu alasan video ASMR banyak ditonton pada malam hari adalah karena suasananya cenderung tenang dan repetitif.

Suara yang konsisten dapat membantu sebagian orang mengalihkan perhatian dari pikiran yang terlalu aktif sebelum tidur.

Daripada terus memikirkan pekerjaan, tugas, percakapan, atau berbagai masalah yang terjadi sepanjang hari, perhatian dapat diarahkan pada suara tertentu.

Namun, ASMR bukan pengganti penanganan profesional untuk gangguan tidur atau masalah kesehatan mental. Efeknya juga tidak sama pada setiap orang.

Bagi sebagian orang ASMR terasa menenangkan. Bagi orang lain, suara bisikan atau ketukan justru bisa terasa sangat mengganggu.

Mengapa Ada Orang yang Justru Tidak Tahan ASMR?

Jika ada orang yang bisa menikmati suara ketukan selama 20 menit, ada pula yang mungkin langsung ingin menutup videonya.

Hal tersebut sangat wajar.

Respons terhadap suara ASMR bersifat individual. Pemicu yang membuat satu orang merasa rileks belum tentu memberikan efek yang sama kepada orang lain.

Bahkan, beberapa jenis suara yang populer di komunitas ASMR seperti suara mengunyah, mengetuk, atau bisikan dapat terasa tidak nyaman bagi sebagian penonton.

Dengan kata lain, ASMR bukan formula universal untuk relaksasi.

Jadi, Kenapa Orang Suka Menonton ASMR?

Alasannya bisa sangat beragam.

Ada yang mengejar sensasi tingle, ada yang mencari ketenangan, ada yang menggunakannya sebagai bagian dari rutinitas sebelum tidur, dan ada pula yang sekadar menikmati pengalaman sensoriknya.

Baca Juga: Soimah Ungkap Syaqirah DA7 Dijodohkan dengan Putranya, Kisah Pedangdut Ini Bikin Publik Terharu

Yang menarik, penelitian mengenai ASMR masih terus berkembang.

Sejumlah studi telah menemukan perubahan pada suasana hati, tingkat kecemasan sesaat, denyut nadi, dan respons fisiologis tertentu pada orang yang responsif terhadap ASMR.

Namun, mekanisme lengkap mengenai mengapa otak sebagian orang memberikan respons tersebut masih belum sepenuhnya dipahami.

Jadi, ketika melihat seseorang duduk tenang menggunakan earphone sambil menonton orang mengetuk meja selama 20 menit, jangan buru-buru menganggapnya sedang membuang waktu.

Bisa jadi, ia memang sedang mencari cara sederhana untuk membuat pikirannya lebih tenang.

Dan mungkin itulah alasan ASMR tetap bertahan sebagai salah satu fenomena unik di dunia internet: suara yang bagi sebagian orang tidak berarti apa-apa, ternyata bisa menjadi tombol kecil untuk membantu orang lain merasa lebih rileks.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
ASMR dan otak manfaat menonton ASMR alasan orang suka ASMR Autonomous Sensory Meridian Response efek ASMR untuk relaksasi