Bunyi Notifikasi Bikin Deg-degan? Ini Alasan Gen Z Makin Pilih Chat daripada Telepon

Siska Yudianti • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 11:53 WIB
Ponsel berdering, bukannya senang malah deg-degan? Gen Z ternyata punya alasan mengapa lebih nyaman chat daripada menerima telepon mendadak. (ilustrasi)
Ponsel berdering, bukannya senang malah deg-degan? Gen Z ternyata punya alasan mengapa lebih nyaman chat daripada menerima telepon mendadak. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Pernah merasa biasa saja ketika melihat notifikasi chat, tetapi langsung tegang saat layar ponsel tiba-tiba menampilkan panggilan masuk? Kalau pernah mengalaminya, kamu mungkin tidak sendirian.

Di tengah kehidupan digital yang semakin cepat, telepon masih menjadi salah satu cara komunikasi paling langsung.

Namun, bagi sebagian generasi Z atau Gen Z, panggilan telepon justru bisa terasa seperti sebuah interupsi yang datang tanpa peringatan.

Tak sedikit anak muda yang lebih memilih komunikasi melalui pesan teks dibandingkan harus berbicara secara langsung melalui telepon.

Bukan karena mereka tidak suka berbicara, melainkan karena chat memberikan kontrol yang lebih besar terhadap waktu, respons, dan batas personal.

Fenomena tersebut sering dikaitkan dengan istilah text anxiety, yaitu rasa tidak nyaman atau cemas yang dapat muncul dalam situasi komunikasi berbasis teks maupun bentuk komunikasi spontan seperti panggilan telepon.

Baca Juga: Sepi Pemain, Riot Games Hentikan Pengembangan 2XKO Desember 2026, Server Tetap Bisa Dimainkan

Menariknya, chat yang dianggap lebih nyaman juga tidak sepenuhnya bebas dari kecemasan.

Bunyi notifikasi tertentu bahkan bisa memicu rasa penasaran dan overthinking.

1. Chat Memberikan Waktu untuk Menyusun Jawaban

Salah satu alasan utama mengapa komunikasi melalui chat terasa lebih nyaman adalah adanya waktu untuk berpikir.

Ketika sebuah pesan masuk, seseorang dapat membacanya terlebih dahulu, memahami maksudnya, kemudian menyusun jawaban sebelum menekan tombol kirim.

Tidak ada tuntutan untuk memberikan respons dalam hitungan detik.

Kondisi tersebut berbeda dengan telepon. Begitu panggilan diangkat, percakapan berlangsung secara langsung atau real time.

Ketika lawan bicara mengajukan pertanyaan, respons biasanya diharapkan saat itu juga.

Bagi orang yang terbiasa mengatur kata-kata melalui teks, situasi seperti ini dapat terasa cukup melelahkan.

Chat memberikan kesempatan untuk berhenti sejenak, berpikir, bahkan menghapus dan menulis ulang jawaban sebelum dikirim.

2. Panggilan Mendadak Bisa Terasa Mengganggu

Bayangkan sedang mengerjakan tugas, makan, bermain game, menonton film, atau sekadar beristirahat. Tiba-tiba ponsel berdering dan seseorang menelepon.

Hal pertama yang muncul di kepala mungkin bukan rasa senang, tetapi pertanyaan, “Kenapa harus telepon sekarang?”

Bagi sebagian Gen Z, masalahnya bukan terletak pada aktivitas menelepon itu sendiri.

Yang membuat tidak nyaman adalah panggilan yang datang tanpa memberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri.

Pesan teks dapat dibuka ketika seseorang sudah memiliki waktu luang.

Sementara telepon meminta perhatian pada saat itu juga.

Karena itu, panggilan mendadak bisa dianggap sebagai bentuk komunikasi yang terlalu spontan.

3. Chat Ternyata Juga Bisa Memicu Overthinking

Ironisnya, metode komunikasi yang dianggap lebih nyaman ternyata juga dapat menjadi sumber kecemasan.

Pesan sederhana seperti “Kita perlu ngobrol” dapat membuat penerimanya langsung memikirkan berbagai kemungkinan.

Apakah ada masalah? Apakah orang tersebut marah? Apakah dirinya melakukan kesalahan?

Situasi bisa menjadi semakin rumit ketika pesan sudah dibaca tetapi belum mendapatkan balasan.

Seseorang kemudian mulai membuat berbagai asumsi berdasarkan sesuatu yang sebenarnya belum tentu terjadi.

Dalam komunikasi langsung, ekspresi wajah, intonasi suara, dan respons spontan dapat membantu memberikan konteks.

Namun dalam chat, informasi tersebut sering kali tidak tersedia.

Akibatnya, satu kalimat pendek dapat ditafsirkan dengan berbagai cara.

4. Chat Membantu Menjaga Batas Personal

Gen Z tumbuh di tengah era smartphone dan media sosial. Tidak mengherankan jika batas personal dalam komunikasi menjadi sesuatu yang semakin diperhatikan.

Chat memungkinkan seseorang menentukan kapan ingin membaca pesan dan kapan akan memberikan respons.

Secara tidak langsung, komunikasi berbasis teks memberikan pesan bahwa seseorang mungkin akan menjawab ketika sudah memiliki waktu dan energi.

Telepon sering terasa berbeda karena seolah-olah meminta akses langsung terhadap perhatian seseorang.

Itulah mengapa tidak mengangkat telepon tidak selalu berarti seseorang tidak peduli atau sengaja mengabaikan lawan bicara.

Bisa saja mereka sedang bekerja, belajar, beristirahat, atau memang belum siap melakukan percakapan secara langsung.

5. Gen Z Bukan Berarti Anti-Telepon

Anggapan bahwa Gen Z sama sekali tidak suka berbicara melalui telepon juga tidak sepenuhnya tepat.

Banyak anak muda tetap menikmati percakapan panjang dengan teman, pasangan, keluarga, maupun orang terdekat.

Perbedaannya adalah situasi dan waktu.

Panggilan yang sudah disepakati sebelumnya biasanya terasa berbeda dengan telepon mendadak.

Kalimat sederhana seperti, “Boleh telepon nanti?”, dapat memberikan kesempatan bagi seseorang untuk mempersiapkan diri.

Dengan begitu, komunikasi tetap berlangsung tanpa membuat salah satu pihak merasa tiba-tiba kehilangan waktu atau ruang pribadi.

6. Kenapa Bunyi Notifikasi Bisa Bikin Deg-degan?

Bukan hanya panggilan telepon yang dapat memicu rasa tidak nyaman.

Notifikasi chat tertentu juga bisa membuat seseorang langsung ingin memeriksa ponselnya.

Nada dering yang berbeda, pesan dari orang tertentu, atau kalimat yang terdengar serius dapat memunculkan rasa penasaran.

Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa merasa harus segera merespons setiap notifikasi yang masuk.

Padahal, tidak semua pesan membutuhkan jawaban saat itu juga.

Kebiasaan untuk selalu tersedia secara digital dapat membuat seseorang merasa seolah-olah harus terus memantau ponsel. Jika berlangsung terus-menerus, kondisi tersebut bisa menguras energi sosial.

Cara Membuat Komunikasi Digital Lebih Nyaman

Jika notifikasi atau panggilan mulai terasa mengganggu, langkah pertama adalah mengenali situasi yang paling sering menjadi pemicu.

Notifikasi yang tidak penting dapat dimatikan. Ketika membutuhkan konsentrasi, fitur Do Not Disturb atau mode senyap dapat digunakan agar perhatian tidak terus terpecah.

Tidak kalah penting, seseorang juga perlu memahami bahwa tidak harus selalu membalas pesan dalam hitungan detik.

Baca Juga: Sungai Kapuas Mendadak Punya “Pantai” Saat Kemarau, Hamparan Pasir Timbul Jadi Tempat Rekreasi Warga

Untuk panggilan telepon, membangun kebiasaan memberi tahu orang terdekat mengenai waktu yang nyaman untuk berbicara juga dapat menjadi solusi sederhana.

Pada akhirnya, teknologi seharusnya membuat manusia lebih mudah terhubung, bukan membuat setiap bunyi ponsel terasa seperti alarm.

Fenomena text anxiety menunjukkan bahwa cara manusia berkomunikasi terus berkembang.

Bagi sebagian Gen Z, chat bukan sekadar pengganti telepon, melainkan cara untuk mengatur ritme komunikasi, menjaga batas personal, dan mengelola energi sosial.

Jadi, kalau setiap kali melihat panggilan masuk kamu refleks berpikir, “Chat aja kenapa?”, mungkin bukan berarti kamu malas berbicara.

Bisa jadi, kamu hanya ingin memiliki sedikit kendali atas kapan dan bagaimana harus terhubung dengan orang lain.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
Gen Z suka chat daripada telepon alasan Gen Z tidak suka telepon text anxiety kebiasaan komunikasi Gen Z kenapa takut menerima telepon