RADARBONANG.ID — Setiap tanggal gajian, saldo rekening bertambah.
Kebutuhan sehari-hari terpenuhi, tagihan masih bisa dibayar, bahkan sebagian penghasilan mungkin berhasil disisihkan. Namun anehnya, rasa khawatir soal uang tetap saja muncul.
Kondisi seperti ini ternyata cukup mudah terjadi, terutama ketika seseorang mulai memasuki usia 35 tahun ke atas.
Bukan selalu karena gajinya terlalu kecil, melainkan karena semakin banyak hal yang harus dipikirkan dalam waktu bersamaan.
Dulu, penghasilan mungkin hanya digunakan untuk kebutuhan pribadi.
Baca Juga: Kamera Poket Jadul Kembali Viral di Kalangan Gen Z, Foto Blur dan Flash Keras Punya Pesona Sendiri
Kini, uang yang sama harus dibagi untuk cicilan rumah, kendaraan, pendidikan anak, kebutuhan pasangan, membantu orang tua, tabungan, hingga persiapan masa depan.
Alhasil, angka penghasilan boleh terlihat besar, tetapi rasa aman belum tentu ikut meningkat.
Bukan Selalu Soal Seberapa Besar Gaji
Kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap rasa aman secara finansial hanya ditentukan oleh jumlah gaji.
Padahal, penghasilan hanyalah salah satu bagian dari kondisi keuangan seseorang.
Orang dengan gaji Rp15 juta per bulan belum tentu lebih tenang dibandingkan seseorang yang berpenghasilan Rp8 juta.
Semuanya kembali pada pola pengeluaran, jumlah tanggungan, utang, tabungan, hingga kemampuan menghadapi kondisi darurat.
Bayangkan seseorang memiliki penghasilan Rp15 juta, tetapi Rp5 juta digunakan untuk cicilan rumah, Rp2 juta untuk kendaraan, Rp3 juta untuk kebutuhan keluarga, dan sisanya habis untuk berbagai tagihan.
Secara nominal, penghasilannya memang terlihat cukup.
Namun, ruang untuk bernapas menjadi sangat kecil.
Begitu ada kebutuhan mendadak, kondisi keuangan bisa langsung terguncang.
Gaji Baru Masuk, Uang Sudah Punya Tujuan
Salah satu sumber kecemasan finansial adalah ketika hampir seluruh penghasilan sudah memiliki tujuan sebelum uang tersebut diterima.
Tanggal gajian yang seharusnya terasa menyenangkan justru menjadi pengingat bahwa uang tersebut akan segera berpindah ke berbagai pos.
Cicilan harus dibayar. Tagihan datang. Anak membutuhkan biaya sekolah.
Orang tua mungkin membutuhkan bantuan. Belum lagi kebutuhan rumah tangga yang terus berjalan.
Akibatnya, seseorang memang memiliki uang, tetapi tidak merasa memiliki fleksibilitas.
Kondisi inilah yang bisa membuat seseorang terus merasa waspada terhadap keuangan.
Bahkan ketika tidak ada masalah sekalipun, pikiran sudah sibuk membayangkan, "Bagaimana kalau bulan depan ada pengeluaran besar?"
Dana Darurat Sering Jadi Bagian yang Terlupakan
Kecemasan soal uang juga bisa muncul karena tidak adanya dana yang benar-benar disiapkan untuk kondisi tak terduga.
Mobil atau motor tiba-tiba rusak. Ada anggota keluarga yang membutuhkan biaya.
Pekerjaan terganggu. Atau muncul kebutuhan rumah tangga yang tidak pernah masuk dalam rencana bulanan.
Tanpa dana darurat, pengeluaran tersebut terpaksa diambil dari tabungan, menggunakan kartu kredit, berutang, atau bahkan mengorbankan kebutuhan lain.
Inilah alasan mengapa memiliki dana darurat bukan hanya persoalan angka di rekening.
Dana tersebut juga memberikan rasa aman secara psikologis.
Mengetahui bahwa ada cadangan uang yang bisa digunakan ketika sesuatu terjadi membuat seseorang tidak harus langsung panik ketika menghadapi masalah.
Penghasilan Naik, Gaya Hidup Ikut Naik
Ada fenomena lain yang sering tidak disadari, yaitu lifestyle inflation atau kenaikan gaya hidup seiring bertambahnya penghasilan.
Saat gaji masih kecil, makan di rumah dianggap biasa. Setelah penghasilan meningkat, makan di luar beberapa kali seminggu mulai terasa normal.
Kendaraan yang sebelumnya masih nyaman digunakan perlahan dianggap perlu diganti. Rumah ingin diperbesar. Berbagai layanan berlangganan mulai bertambah.
Belanja barang yang sebelumnya dianggap mewah perlahan berubah menjadi kebutuhan.
Tidak ada yang salah dengan menikmati hasil kerja.
Persoalannya muncul ketika kenaikan penghasilan hampir selalu diikuti kenaikan pengeluaran dengan kecepatan yang sama.
Akhirnya, seseorang bisa mendapatkan penghasilan dua kali lipat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya, tetapi tetap merasa tidak punya cukup uang.
Usia 35 Tahun Mulai Membawa Beban Finansial Berbeda
Memasuki usia 35 tahun ke atas, cara seseorang memandang uang juga sering berubah.
Jika pada usia lebih muda fokus finansial mungkin masih berkisar pada kebutuhan pribadi dan membangun karier, memasuki usia berikutnya tanggung jawab bisa semakin kompleks.
Ada yang mulai memiliki rumah, pasangan, anak, hingga tanggung jawab membantu orang tua.
Di sisi lain, kebutuhan untuk mempersiapkan masa pensiun juga mulai terasa lebih nyata.
Persoalannya bukan sekadar bagaimana membayar kebutuhan bulan ini.
Pertanyaannya mulai berubah menjadi: apakah kondisi keuangan saat ini cukup kuat untuk menghadapi 10 atau 20 tahun mendatang?
Pertanyaan tersebut wajar membuat seseorang lebih berhati-hati terhadap uang.
Terlalu Banyak Utang Bisa Membuat Gaji Terasa Kecil
Utang juga menjadi faktor yang dapat mengurangi rasa aman finansial.
Tidak semua utang otomatis buruk. Kredit untuk membeli rumah, misalnya, bisa menjadi bagian dari perencanaan keuangan jangka panjang.
Namun, utang konsumtif yang terlalu besar dapat membuat sebagian besar penghasilan habis sebelum digunakan untuk kebutuhan lain.
Ketika cicilan sudah terlalu banyak, seseorang kehilangan fleksibilitas.
Gaji masuk bukan lagi terasa sebagai uang yang bisa dikelola, tetapi seperti uang yang hanya mampir sebentar sebelum kembali keluar.
Rasa Aman Finansial Ternyata Soal Kendali
Pada akhirnya, rasa aman terhadap uang tidak selalu datang dari rekening dengan saldo fantastis.
Hal yang lebih penting adalah rasa memiliki kendali atas kondisi keuangan.
Mengetahui berapa pemasukan, memahami ke mana uang pergi, memiliki dana darurat, mengendalikan utang, serta menyiapkan kebutuhan masa depan dapat membuat kondisi finansial terasa lebih terarah.
Bahkan langkah sederhana seperti mencatat pengeluaran bisa membantu seseorang melihat pola yang sebelumnya tidak disadari.
Dari sana, pengeluaran yang sebenarnya tidak terlalu penting dapat dievaluasi dan dialihkan untuk kebutuhan yang lebih prioritas.
Jadi, Berapa Gaji yang Bisa Membuat Seseorang Tenang?
Tidak ada angka tunggal yang otomatis membuat seseorang aman secara finansial.
Gaji Rp10 juta bisa terasa cukup bagi seseorang, tetapi terasa sempit bagi orang lain.
Begitu pula penghasilan Rp20 juta belum tentu membuat seseorang bebas dari kecemasan.
Yang membedakan adalah bagaimana penghasilan tersebut digunakan dan seberapa besar ruang yang tersedia ketika keadaan berubah.
Baca Juga: Micellar Water atau Cleansing Balm, Mana yang Lebih Baik untuk Kulit? Begini Cara Memilihnya
Karena hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.
Ada bulan ketika pengeluaran normal. Ada pula bulan ketika kendaraan rusak, keluarga membutuhkan bantuan, atau pekerjaan menghadapi masalah.
Maka, keamanan finansial bukan berarti memiliki uang sebanyak-banyaknya.
Keamanan finansial adalah ketika seseorang tahu bahwa jika sesuatu yang tidak terduga terjadi bulan depan, hidupnya tidak langsung berantakan.
Dan mungkin, itulah alasan seseorang bisa tetap cemas meski setiap bulan menerima gaji tetap: bukan karena uangnya selalu kurang, tetapi karena ruang untuk bernapas sudah terlalu sempit.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang