Kamar Jadi Tempat Pelarian Gen Z: Tren “Bedroom as a Safe Space” Makin Populer

Arinie Khaqqo • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:32 WIB
Kamar bukan cuma tempat tidur. Bagi Gen Z, kamar bisa menjadi tempat recharge, bekerja, menikmati hobi, sampai sekadar mengambil jeda dari ramainya dunia luar. (Ilustrasi)
Kamar bukan cuma tempat tidur. Bagi Gen Z, kamar bisa menjadi tempat recharge, bekerja, menikmati hobi, sampai sekadar mengambil jeda dari ramainya dunia luar. (Ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Bagi sebagian orang, kamar tidur mungkin hanya memiliki satu fungsi utama: tempat beristirahat setelah seharian beraktivitas.

Namun, bagi banyak Gen Z, kamar telah berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih personal.

Kamar bisa menjadi tempat tidur, ruang kerja, lokasi belajar, tempat menonton film, mendengarkan musik, bermain gim, hingga sekadar mengambil napas setelah menghadapi rutinitas yang melelahkan.

Dari sinilah konsep “bedroom as a safe space” semakin menarik perhatian.

Kamar tidak lagi ditata semata-mata agar terlihat estetik. Lebih dari itu, ruangan tersebut dirancang berdasarkan apa yang membuat pemiliknya merasa nyaman, tenang, dan memiliki kendali atas ruang pribadi.

Di tengah kehidupan yang semakin ramai, baik di dunia nyata maupun media sosial, kamar seolah menjadi tempat untuk menekan tombol pause.

Baca Juga: Sudah Jadi Penyanyi Terkenal, Fanny Soegi Malah Jadi Maba Lagi di Usia 27 Tahun dan Pilih Kuliah

Kamar Bukan Lagi Sekadar Tempat untuk Tidur

Konsep bedroom as a safe space sebenarnya tidak berarti seseorang harus menghabiskan seluruh waktunya di kamar.

Istilah tersebut lebih menggambarkan bagaimana ruang pribadi dapat dibuat sedemikian rupa sehingga memberikan rasa nyaman secara emosional.

Setiap elemen di dalam kamar bisa memiliki fungsi tertentu.

Warna dinding, pencahayaan, aroma ruangan, posisi tempat tidur, furnitur, hingga benda-benda kecil yang dianggap memiliki nilai sentimental dapat memengaruhi suasana.

Bagi Gen Z yang terbiasa menjalani banyak aktivitas melalui perangkat digital, kamar bahkan bisa menjadi ruang multifungsi.

Kuliah online, bekerja, mengedit konten, bermain gim, membaca buku, menonton serial, hingga berkomunikasi dengan teman bisa dilakukan dari tempat yang sama.

Tidak mengherankan jika kamar akhirnya diperlakukan seperti ruang pribadi yang memiliki banyak fungsi sekaligus.

Estetik Penting, Tapi Nyaman Tetap Nomor Satu

Media sosial memang ikut mengubah cara orang melihat dekorasi kamar.

Kamar dengan lampu warm white, tempat tidur rapi, tanaman kecil, poster, rak buku, meja kerja minimalis, dan dekorasi bernuansa tertentu sering muncul di berbagai platform.

Visual semacam itu kemudian menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Namun, bedroom as a safe space tidak harus terlihat seperti kamar yang ada di Pinterest atau Instagram.

Sebab, inti dari konsep ini bukan tentang seberapa bagus kamar ketika difoto.

Yang lebih penting adalah bagaimana perasaan pemiliknya ketika berada di dalam ruangan tersebut.

Ada orang yang merasa nyaman dengan kamar minimalis dan sedikit barang.

Sebaliknya, ada pula yang justru merasa lebih tenang ketika dikelilingi buku, boneka, poster, foto, koleksi, atau berbagai benda yang memiliki cerita pribadi.

Artinya, tidak ada satu standar yang bisa digunakan untuk menentukan seperti apa kamar yang nyaman.

Pencahayaan Bisa Mengubah Mood Kamar

Salah satu elemen sederhana yang dapat mengubah suasana kamar adalah pencahayaan.

Lampu utama yang sangat terang mungkin cocok untuk belajar atau bekerja. Namun, ketika waktunya beristirahat, cahaya tersebut bisa terasa terlalu menyilaukan.

Karena itu, sebagian orang memilih menggunakan lampu meja, lampu tidur, atau pencahayaan dekoratif dengan intensitas yang lebih rendah.

Warna cahaya juga dapat memberikan kesan berbeda.

Cahaya yang lebih hangat sering digunakan untuk menciptakan suasana yang terasa lebih santai, sedangkan pencahayaan yang lebih terang dapat membantu aktivitas yang membutuhkan fokus.

Tetapi sekali lagi, kenyamanan bersifat personal.

Ada orang yang menyukai kamar remang-remang. Ada pula yang justru tidak bisa tidur jika ruangan terlalu gelap.

Jadi, tidak perlu mengikuti tren secara mentah. Pilih pencahayaan yang benar-benar membuat tubuh dan pikiran terasa nyaman.

Barang Kesayangan Bisa Membuat Kamar Terasa Lebih “Punya Kita”

Kamar juga sering menjadi tempat seseorang menunjukkan sisi dirinya yang mungkin tidak selalu terlihat di ruang publik.

Foto keluarga, buku favorit, koleksi merchandise, poster film, karya seni, tanaman, hingga benda pemberian orang terdekat bisa menjadi bagian dari dekorasi.

Barang-barang tersebut mungkin tidak memiliki nilai tinggi secara finansial.

Namun, nilai emosionalnya bisa jauh lebih besar.

Sebuah foto mungkin mengingatkan pada seseorang.

Sebuah buku mungkin mengingatkan pada masa tertentu.

Atau sebuah benda kecil mungkin menjadi hadiah dari orang yang memiliki tempat khusus dalam hidup pemilik kamar.

Karena itu, menciptakan kamar yang nyaman tidak selalu membutuhkan renovasi besar atau membeli furnitur baru.

Terkadang, menata kembali barang yang sudah dimiliki saja sudah cukup untuk mengubah suasana ruangan.

Kamar Bisa Jadi Tempat untuk Recharge

Rutinitas yang padat membuat waktu untuk benar-benar beristirahat terasa semakin berharga.

Setelah seharian menghadapi pekerjaan, kuliah, perjalanan, notifikasi, hingga berbagai tuntutan sosial, seseorang mungkin membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak.

Kamar kemudian menjadi tempat yang ideal untuk melakukan aktivitas sederhana.

Membaca beberapa halaman buku, mendengarkan playlist favorit, menonton serial, journaling, bermain gim, atau sekadar berbaring tanpa melakukan apa pun bisa menjadi bagian dari waktu recharge.

Tidak semua waktu luang harus menghasilkan sesuatu.

Ada kalanya tubuh dan pikiran memang hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti.

Namun, ada satu hal yang tetap perlu diperhatikan.

Menjadikan kamar sebagai safe space bukan berarti harus menghindari dunia luar sepanjang waktu.

Safe Space Bukan Berarti Harus Mengisolasi Diri

Kamar yang nyaman seharusnya menjadi tempat untuk memulihkan energi, bukan menjadi alasan untuk sepenuhnya memutus hubungan dengan lingkungan sekitar.

Ada perbedaan antara menikmati waktu sendiri dengan terus-menerus menghindari kehidupan sosial.

Seseorang bisa membutuhkan waktu sendirian setelah menjalani hari yang sibuk, kemudian kembali beraktivitas ketika energinya sudah terasa lebih baik.

Karena itu, konsep bedroom as a safe space lebih tepat dipahami sebagai ruang untuk mengambil jeda.

Masuk kamar bukan berarti melarikan diri dari kehidupan.

Kadang, seseorang hanya membutuhkan beberapa jam untuk mengembalikan energi sebelum kembali menghadapi dunia.

Kamar yang “Berantakan” Belum Tentu Tidak Nyaman

Menariknya, tren kamar personal juga membuat standar dekorasi menjadi semakin fleksibel.

Tidak semua kamar yang nyaman harus terlihat kosong, rapi, dan minimalis.

Bagi sebagian orang, kamar yang dipenuhi buku, koleksi, poster, pakaian, atau berbagai benda pribadi justru terasa lebih hidup.

Gen Z juga semakin bebas mencampurkan berbagai gaya.

Konsep minimalis bisa dipadukan dengan dekorasi vintage. Furnitur modern dapat ditemani benda lama. Warna-warna cerah bisa bertemu dengan elemen sederhana.

Tidak ada keharusan membuat seluruh ruangan terlihat seragam.

Selama pemiliknya merasa nyaman, kamar tersebut sudah menjalankan fungsi utamanya.

Pada Akhirnya, Kamar Adalah Cerminan Pemiliknya

Fenomena bedroom as a safe space menunjukkan bahwa kamar tidur kini memiliki makna yang lebih luas.

Ia bukan hanya tempat untuk tidur ketika malam tiba.

Baca Juga: Google AI Pro Gratis 1 Tahun untuk Mahasiswa, Bisa Riset, Bikin Kuis, hingga Penyimpanan 5TB

Kamar bisa menjadi tempat untuk bekerja, belajar, bersantai, berekspresi, menyimpan kenangan, hingga mengambil jeda dari rutinitas.

Yang menarik, tren ini tidak selalu membutuhkan biaya besar.

Tidak harus membeli furnitur mahal, memasang dekorasi berlebihan, atau membuat kamar terlihat seperti katalog interior.

Kadang, cukup dengan mengganti posisi meja, merapikan barang kesayangan, menambahkan pencahayaan yang nyaman, atau menciptakan sudut kecil untuk membaca sudah bisa membuat kamar terasa berbeda.

Sebab, pada akhirnya, safe space bukan tentang seberapa mahal atau estetik sebuah kamar.

Yang paling penting adalah perasaan ketika berada di dalamnya.

Ketika pintu ditutup, suasana menjadi lebih tenang, dan seseorang bisa menghela napas panjang sambil berkata,

“Di sini, aku bisa menjadi diriku sendiri.”

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
bedroom as a safe space kamar Gen Z dekorasi kamar Gen Z tren kamar tidur kamar nyaman Gen Z