RADARBONANG.ID — Rumah masa kini perlahan berubah menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal.
Berkat teknologi smart home, berbagai perangkat seperti lampu, AC, kamera keamanan, kunci pintu hingga peralatan rumah tangga dapat terhubung satu sama lain dan dikendalikan melalui smartphone.
Di Indonesia, tren hunian pintar juga semakin berkembang.
Teknologi ini menawarkan banyak kemudahan, mulai dari mengawasi rumah dari jarak jauh, mengatur perangkat secara otomatis, hingga membantu menghemat penggunaan energi.
Namun, ada satu hal yang justru tidak boleh diabaikan ketika semakin banyak perangkat rumah terhubung ke internet: keamanan digital dan privasi.
Baca Juga: Bukan Cuma Panjat Pinang, Ini 6 Cara Elegan Gen Z Merayakan Kemerdekaan yang Kreatif dan Tetap Berma
Sebab, rumah yang semakin pintar juga berarti memiliki semakin banyak pintu masuk digital.
Smart Home Tak Lagi Cuma Soal Lampu Bisa Nyala dari HP
Beberapa tahun lalu, konsep rumah pintar mungkin terdengar seperti sesuatu yang hanya bisa ditemukan di rumah futuristis.
Sekarang, teknologinya sudah jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penghuni rumah dapat memasang smart door lock yang memungkinkan pintu dibuka menggunakan sidik jari, PIN, kartu akses, atau aplikasi smartphone.
Kamera keamanan juga semakin canggih.
Perangkat tersebut dapat mengirimkan notifikasi ketika mendeteksi gerakan atau aktivitas tertentu di sekitar rumah.
Belum lagi perangkat lain seperti AC, televisi, lampu, robot vacuum, hingga peralatan dapur yang bisa diintegrasikan ke dalam ekosistem smart home.
Dengan sistem tertentu, penghuni bahkan dapat membuat berbagai perangkat bekerja secara otomatis berdasarkan waktu, kondisi ruangan, maupun kebiasaan pengguna.
Misalnya, lampu dapat menyala secara otomatis ketika malam tiba.
AC bisa diatur agar bekerja pada waktu tertentu, sementara kamera tetap aktif ketika penghuni meninggalkan rumah.
Kenyamanan Membuat Smart Home Semakin Diminati
Perkembangan tersebut membuat smart home perlahan bergeser dari simbol kemewahan menjadi solusi praktis untuk kebutuhan sehari-hari.
Bagi masyarakat dengan mobilitas tinggi, kemampuan mengontrol rumah dari jarak jauh tentu memberikan rasa aman dan nyaman.
Sedang berada di kantor tetapi lupa mengunci pintu? Pengguna bisa memeriksanya melalui aplikasi jika sistem mendukung fitur tersebut.
Sedang bepergian jauh? Kamera keamanan tetap dapat dipantau dari smartphone.
Bahkan, penggunaan perangkat pintar juga berpotensi membantu menghemat energi.
Perangkat dapat dijadwalkan untuk mati ketika tidak digunakan atau menyesuaikan aktivitas berdasarkan kondisi tertentu.
Namun, ada konsekuensi yang ikut muncul.
Semakin banyak perangkat yang terhubung, semakin banyak pula data, akun, dan akses yang harus diamankan.
Ketika Rumah Pintar Justru Bisa Jadi Target
Inilah bagian yang sering luput ketika seseorang tertarik memasang perangkat smart home.
Kita mungkin berpikir bahwa kamera, smart lock, atau lampu pintar hanyalah perangkat elektronik biasa.
Padahal, ketika perangkat tersebut terhubung ke internet, ia juga menjadi bagian dari sebuah sistem digital.
Artinya, keamanan rumah tidak lagi hanya berkaitan dengan pagar, pintu, dan kunci fisik.
Ada pula keamanan akun, jaringan Wi-Fi, aplikasi, sistem operasi perangkat, hingga pembaruan keamanan yang perlu diperhatikan.
Jika salah satu perangkat memiliki celah keamanan, risiko terhadap privasi dan keamanan penghuni juga dapat meningkat.
Bayangkan jika kamera keamanan rumah terhubung ke akun yang menggunakan kata sandi lemah.
Atau smart lock dikendalikan melalui akun yang tidak dilindungi dengan baik.
Kemudahan yang seharusnya memberikan rasa aman justru dapat berubah menjadi sumber masalah.
Ancaman Baru Muncul Saat AI Ikut Masuk Rumah
Perkembangan smart home kini tidak berhenti pada konektivitas.
Kecerdasan buatan atau AI juga mulai digunakan untuk membuat sistem rumah pintar semakin mampu memahami penggunanya.
Asisten digital dapat dirancang untuk memahami perintah yang lebih kompleks, mengenali pola aktivitas, serta memberikan respons berdasarkan kebiasaan penghuni.
Dari sisi kenyamanan, hal ini terdengar menarik.
Namun, kemampuan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan baru.
Sistem AI yang dapat memproses suara atau gambar harus mampu membedakan mana perintah yang benar-benar diberikan penghuni dan mana suara atau informasi lain yang kebetulan terdengar.
Misalnya, sebuah perintah yang berasal dari televisi atau sumber suara lain berpotensi ditafsirkan sebagai instruksi oleh sistem jika perlindungannya tidak dirancang dengan baik.
Semakin pintar sistemnya, semakin penting pula mekanisme untuk memastikan siapa yang sebenarnya memberikan perintah.
Rumah Bisa Mendengar dan Melihat, Data Penghuninya Bagaimana?
Persoalan lain yang tak kalah penting adalah privasi.
Perangkat smart home tertentu dapat mengumpulkan berbagai informasi mengenai kehidupan penghuni.
Kamera mengetahui aktivitas visual, Perangkat suara dapat memproses perintah.
Sistem otomatisasi dapat mengetahui kapan seseorang berada di rumah.
Sementara perangkat lain berpotensi mencatat pola penggunaan dan kebiasaan tertentu.
Data-data tersebut memang dapat digunakan untuk membuat pengalaman pengguna menjadi lebih personal.
Tetapi pengguna tetap perlu mengetahui data apa yang dikumpulkan, bagaimana data tersebut digunakan, dan siapa yang memiliki akses.
Sebelum membeli perangkat pintar, membaca kebijakan privasi dan pengaturan izin mungkin terasa merepotkan.
Namun, langkah sederhana tersebut justru penting ketika perangkat akan ditempatkan di ruang pribadi seperti rumah.
Cara Sederhana Membuat Rumah Pintar Lebih Aman
Tidak perlu menjadi ahli teknologi untuk meningkatkan keamanan smart home.
Langkah pertama adalah menggunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk setiap akun penting.
Jika tersedia, aktifkan autentikasi dua faktor atau metode keamanan tambahan.
Kemudian, pastikan firmware dan aplikasi perangkat selalu diperbarui.
Pembaruan tidak hanya membawa fitur baru, tetapi dalam banyak kasus juga memperbaiki celah keamanan.
Jaringan Wi-Fi rumah juga perlu mendapatkan perhatian.
Gunakan kata sandi yang kuat dan, jika memungkinkan, pisahkan perangkat IoT dari perangkat yang menyimpan data penting.
Selain itu, jangan memberikan izin akses lebih dari yang diperlukan.
Jika sebuah perangkat tidak membutuhkan akses tertentu, pengguna dapat mempertimbangkan untuk menonaktifkannya.
Rumah Pintar Harus Tetap Dikendalikan Pemiliknya
Pada akhirnya, tujuan utama teknologi smart home adalah membuat kehidupan menjadi lebih mudah.
Rumah dapat membantu mengatur pencahayaan, menjaga keamanan, menghemat energi, hingga mengurangi pekerjaan rutin.
Tetapi semakin banyak keputusan yang diserahkan kepada teknologi, semakin besar pula tanggung jawab pemilik untuk memahami sistem tersebut.
Baca Juga: Ummi Quary Ungkap Perasaan Hancur Saat Umrah, Tangis dan Doanya di Tanah Suci Bikin Netizen Terharu
Rumah pintar bukan hanya tentang berapa banyak perangkat yang bisa terhubung ke internet.
Yang lebih penting adalah apakah seluruh perangkat tersebut dapat digunakan dengan aman.
Sebab, ketika rumah sudah mampu mendengar, melihat, belajar, dan merespons kebiasaan penghuninya, keamanan digital tidak lagi menjadi urusan tambahan.
Ia menjadi bagian dari keamanan rumah itu sendiri.
Dan mungkin, tantangan terbesar smart home di masa depan bukan membuat rumah semakin pintar.
Melainkan memastikan bahwa pemilik rumah tetap menjadi pihak yang paling berkuasa atas teknologi yang ada di dalamnya.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang