RADARBONAG.ID — Ada pemandangan menarik di lingkungan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.
Penyanyi Fanny Soegiarto atau yang lebih dikenal dengan nama Fanny Soegi, ternyata kembali menyandang status sebagai mahasiswa baru.
Bukan karena baru lulus sekolah, perempuan kelahiran 7 September 1999 tersebut justru memutuskan melanjutkan pendidikan tinggi di usia 27 tahun.
Fanny membagikan momen ketika mengikuti Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) melalui akun TikTok pribadinya.
Dengan gaya khasnya, ia menyebut dirinya sebagai "maba vintage".
"Hari Pertama PKKMB sebagai maba vintage," tulis Fanny Soegi dalam unggahannya.
Keputusan Fanny untuk kembali duduk di bangku kuliah langsung menarik perhatian.
Baca Juga: Ummi Quary Ungkap Perasaan Hancur Saat Umrah, Tangis dan Doanya di Tanah Suci Bikin Netizen Terharu
Apalagi, dirinya bukan sosok yang benar-benar asing bagi publik.
Namanya telah dikenal melalui perjalanan panjang sebagai penyanyi, baik ketika masih menjadi bagian dari grup maupun saat menjalani karier solo.
Bukan Sekadar Kuliah, Fanny Pilih Dunia yang Dekat dengan Musik
Fanny tercatat sebagai mahasiswa baru Program Studi Etnomusikologi, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta.
Pilihan jurusan tersebut terasa cukup selaras dengan perjalanan kariernya selama ini.
Sebagai musisi, Fanny tentu sudah akrab dengan berbagai bentuk musik dan proses kreatif.
Namun, menjadi praktisi musik dan mempelajari musik secara akademis tentu merupakan dua pengalaman yang berbeda.
Di bangku kuliah, Fanny berkesempatan mempelajari musik dari sudut pandang yang lebih luas, termasuk hubungan antara musik dengan budaya dan kehidupan masyarakat.
Pilihan tersebut juga memperlihatkan bahwa proses belajar tidak selalu harus berhenti ketika seseorang sudah memasuki dunia profesional.
Justru, pengalaman yang telah dimiliki Fanny sebagai musisi dapat menjadi bekal menarik ketika dipertemukan dengan pembelajaran akademis di kampus seni.
Usia 27 Tahun Tak Menghalangi Jadi Mahasiswa Baru
Status mahasiswa baru biasanya identik dengan lulusan SMA yang baru menginjak usia sekitar 18 atau 19 tahun.
Namun, Fanny menunjukkan bahwa keputusan untuk menempuh pendidikan tinggi tidak memiliki batas usia yang harus membuat seseorang merasa terlambat.
Di usia 27 tahun, ia tetap mengikuti rangkaian PKKMB bersama mahasiswa baru lainnya.
Ungkapan "maba vintage" yang digunakan Fanny bahkan terasa seperti cara santai untuk merayakan fase baru tersebut.
Alih-alih merasa berbeda karena usianya lebih matang dibandingkan sebagian mahasiswa baru lainnya, Fanny justru menjadikan hal itu sebagai bagian dari cerita.
Kisahnya juga menjadi pengingat bahwa seseorang boleh kembali menjadi pemula meski sebelumnya sudah memiliki pengalaman panjang di bidang tertentu.
Dari Soegi Bornean hingga Karier Solo
Sebelum dikenal sebagai Fanny Soegi yang bersolo karier, namanya terlebih dahulu melekat sebagai vokalis grup Soegi Bornean.
Fanny merupakan penyanyi berdarah Kalimantan yang memiliki karakter vokal dan gaya bermusik yang cukup khas.
Namanya semakin dikenal luas setelah membawakan lagu "Asmalibrasi", karya yang ia ciptakan bersama Dhimas Tirta Frananta.
Lagu tersebut kemudian menjadi salah satu karya yang memperkenalkan nama Fanny kepada publik dalam skala yang lebih luas.
Popularitas "Asmalibrasi" juga membuat sosok Fanny semakin lekat dengan musik yang memiliki nuansa puitis dan identitas budaya yang kuat.
Perjalanan tersebut kemudian berlanjut ketika Fanny memutuskan menjalani karier sebagai penyanyi solo.
Karier Solo Fanny Semakin Berkembang
Setelah menjalani karier solo, Fanny Soegi tidak berhenti menghasilkan karya.
Ia telah merilis sejumlah lagu solo maupun kolaborasi.
Jika dihitung dari karya-karyanya setelah bersolo karier, jumlahnya telah mencapai sekitar delapan hingga sembilan judul lagu.
Jumlah tersebut belum termasuk berbagai karya yang pernah ia bawakan dan ciptakan ketika masih bersama band lamanya.
Jika seluruh karya tersebut digabungkan, jumlah lagu yang berkaitan dengan perjalanan musik Fanny telah mencapai belasan judul.
Karier tersebut menunjukkan bahwa dunia musik sudah menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Kini, pengalaman tersebut mendapatkan babak baru ketika Fanny kembali memasuki dunia pendidikan.
Kenapa Etnomusikologi Menarik bagi Seorang Musisi?
Etnomusikologi merupakan bidang yang mempelajari musik dalam kaitannya dengan manusia, budaya, dan masyarakat.
Karena itu, pilihan Fanny mengambil jurusan tersebut menjadi menarik untuk diperhatikan.
Sebagai musisi yang selama ini memiliki keterkaitan kuat dengan identitas budaya dan musik Indonesia, pendidikan di bidang etnomusikologi dapat menjadi ruang untuk memperdalam pemahaman mengenai musik dari perspektif yang lebih luas.
Musik bukan hanya mengenai melodi, lirik, atau bagaimana sebuah lagu terdengar enak.
Di balik sebuah karya terdapat sejarah, tradisi, identitas, kebiasaan masyarakat, hingga cara suatu kelompok memaknai kehidupan.
Hal tersebut tentu dapat memberikan perspektif baru bagi seorang musisi dalam menciptakan karya.
Maba Vintage, Tapi Semangat Belajarnya Tetap Baru
Kehadiran Fanny sebagai mahasiswa baru ISI Yogyakarta menjadi cerita menarik di tengah perjalanan kariernya.
Ia sudah memiliki pengalaman sebagai penyanyi, pencipta lagu, dan performer.
Namun, kini ia kembali berada di posisi sebagai mahasiswa yang harus mengikuti kegiatan pengenalan kampus bersama mahasiswa baru lainnya.
Ada sesuatu yang menarik dari keputusan tersebut.
Baca Juga: Kabar Bahagia untuk NCTzen! NCT DREAM Resmi Perpanjang Kontrak dengan SM Entertainment, Enam Member
Ketika banyak orang menganggap usia tertentu sebagai batas untuk memulai sesuatu, Fanny justru menunjukkan bahwa menjadi pemula kembali bukanlah sesuatu yang memalukan.
Justru, keberanian untuk belajar lagi bisa menjadi bentuk lain dari perkembangan diri.
Fanny mungkin datang ke PKKMB sebagai "maba vintage", tetapi pengalaman yang ia bawa tentu berbeda dengan mahasiswa baru lainnya.
Kini, menarik untuk menantikan bagaimana perjalanan Fanny Soegi sebagai mahasiswa Etnomusikologi ISI Yogyakarta.
Apakah pengalaman akademiknya kelak akan memengaruhi karya-karya musik berikutnya?
Jika iya, bukan tidak mungkin perjalanan sebagai mahasiswa justru membuka babak kreatif baru bagi Fanny Soegi.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : instagram.com/radarjogja