RADARBONANG.ID — Pernah melihat sebuah video yang tiba-tiba muncul di mana-mana, dibicarakan ribuan orang, bahkan masuk berbagai akun media sosial? Dalam hitungan jam, konten tersebut langsung mendapat jutaan penayangan dan disebut viral.
Namun, coba ingat lagi beberapa hari kemudian. Apakah Anda masih ingat video tersebut?
Pertanyaan sederhana ini justru menunjukkan bahwa viral dan populer ternyata tidak selalu memiliki arti yang sama.
Di era media sosial, sebuah konten bisa mendapatkan perhatian luar biasa dalam waktu singkat, tetapi kemudian menghilang begitu saja ketika algoritma mulai membawa pengguna pada tren berikutnya.
Viral Kini Lebih Banyak Bicara soal Ledakan Perhatian
Dulu, istilah populer cenderung memiliki makna yang lebih panjang.
Baca Juga: Bukan Cuma Panjat Pinang, Ini 6 Cara Elegan Gen Z Merayakan Kemerdekaan yang Kreatif dan Tetap Berma
Seseorang disebut populer karena dikenal banyak orang.
Sebuah lagu dianggap populer karena terus didengarkan. Film disebut populer karena bertahan lama di pembicaraan publik.
Kini, ukuran tersebut menjadi jauh lebih cair.
Sebuah video berdurasi beberapa detik dapat ditonton jutaan kali hanya dalam hitungan jam. Penyebabnya pun beragam.
Bisa karena lucu, mengejutkan, kontroversial, menyentuh emosi, atau justru membuat orang penasaran.
Algoritma media sosial kemudian memperbesar efek tersebut.
Ketika sebuah konten memperoleh banyak interaksi, platform dapat semakin sering menampilkannya kepada pengguna lain.
Akibatnya, jumlah penayangan terus bertambah dan konten tersebut seolah muncul di mana-mana.
Tetapi, tingginya angka views tidak otomatis berarti semua orang benar-benar mengenal pembuat konten atau mengingat isinya.
Dengan kata lain, viral lebih tepat dipahami sebagai ledakan perhatian dalam waktu tertentu.
Jutaan Views Belum Tentu Berarti Punya Pengaruh
Angka jutaan penayangan memang terlihat mengesankan.
Namun, angka tersebut tidak selalu mampu menjawab pertanyaan yang lebih penting: apakah konten tersebut memberikan pengaruh?
Bayangkan sebuah video mendapatkan lima juta views dalam dua hari karena memicu kontroversi. Banyak orang menontonnya hanya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Setelah isu tersebut selesai, perhatian publik pun berpindah.
Berbeda dengan konten yang terus dicari dan dibicarakan meskipun tren awalnya sudah berakhir.
Konten semacam ini memiliki peluang lebih besar untuk disebut populer karena meninggalkan jejak yang lebih panjang.
Inilah perbedaan penting antara viralitas dan popularitas.
Viralitas berbicara mengenai seberapa cepat perhatian datang. Popularitas berbicara mengenai seberapa lama perhatian tersebut bertahan.
Dari “Viral” Bergeser Menjadi “FYP”
Perubahan bahasa di media sosial juga memperlihatkan bagaimana konsep popularitas digital terus berkembang.
Jika dulu orang lebih sering mengatakan "ini viral", kini muncul berbagai istilah lain seperti "masuk FYP", "meledak di media sosial", "ramai di X", hingga "dibicarakan netizen".
Istilah-istilah tersebut sebenarnya menunjukkan bahwa popularitas digital tidak lagi memiliki satu pusat.
Sebuah konten bisa sangat terkenal di TikTok, tetapi belum tentu dikenal pengguna Instagram.
Sebuah isu dapat menjadi pembicaraan besar di X, tetapi belum tentu diketahui masyarakat yang tidak aktif di platform tersebut.
Begitu pula sebaliknya.
Ada fenomena yang awalnya ramai di media sosial, kemudian mendapatkan perhatian media massa.
Ketika pembahasannya meluas ke televisi, portal berita, lingkungan kerja, sekolah, kampus, hingga percakapan sehari-hari, barulah fenomena tersebut memiliki jangkauan yang lebih luas.
Algoritma Membuat Umur Viralitas Semakin Pendek
Salah satu alasan mengapa viral tidak selalu berarti populer adalah semakin cepatnya pergantian tren di internet.
Hari ini satu topik bisa mendominasi linimasa. Besok, pengguna sudah disuguhi fenomena baru.
Perubahan tersebut membuat perhatian publik menjadi semakin singkat.
Algoritma pada platform digital memang dirancang untuk menyajikan konten yang dianggap menarik bagi pengguna.
Namun, ketika tren baru muncul dan mendapatkan interaksi lebih tinggi, perhatian dapat dengan cepat bergeser.
Akibatnya, seseorang bisa mengalami popularitas digital dalam waktu singkat tanpa benar-benar membangun basis audiens yang bertahan lama.
Inilah mengapa menjadi viral mungkin terlihat mudah dibandingkan mempertahankan relevansi.
Jadi, Apa Ukuran Populer di Era Sekarang?
Jika viralitas diukur dari ledakan perhatian, popularitas membutuhkan indikator yang lebih panjang.
Konten yang benar-benar populer biasanya tidak berhenti pada jumlah penayangan.
Orang masih mencarinya setelah tren berakhir, mengutipnya, membicarakannya kembali, atau bahkan menjadikannya referensi untuk membuat karya baru.
Sebuah lagu, misalnya, mungkin viral karena digunakan dalam ribuan video.
Tetapi popularitas sebenarnya terlihat ketika lagu tersebut tetap didengarkan setelah tren penggunaan audionya selesai.
Begitu juga dengan seorang kreator.
Viral sekali belum tentu membuat seseorang menjadi figur populer. Namun, jika setelah viral ia mampu mempertahankan perhatian audiens, menghasilkan karya secara konsisten, dan membangun komunitas, viralitas tersebut dapat berubah menjadi popularitas yang lebih berkelanjutan.
Tantangan Terbesar Bukan Lagi Menjadi Viral
Di tengah persaingan mendapatkan perhatian di media sosial, menjadi viral sering kali dianggap sebagai tujuan utama.
Padahal, viralitas hanyalah satu tahap.
Tantangan sebenarnya adalah apa yang dilakukan setelah perhatian tersebut datang.
Apakah kreator mampu mempertahankan audiens? Apakah kontennya memiliki sesuatu yang membuat orang kembali?.
Apakah fenomena tersebut memberikan pengaruh? Atau semuanya berhenti setelah algoritma menemukan tren baru?.
Baca Juga: Tepung Sagu vs Terigu, Mana yang Lebih Unggul? Jawabannya Bisa Bikin Anda Berubah Pilihan
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi semakin penting karena pengguna media sosial kini dibombardir begitu banyak informasi setiap hari.
Pada akhirnya, jutaan views memang menunjukkan bahwa banyak orang sempat melihat sesuatu.
Tetapi angka tersebut belum tentu menunjukkan bahwa mereka menyukainya, mengingatnya, atau menganggapnya penting.
Viral adalah tentang seberapa cepat sesuatu menjadi perhatian.
Populer adalah tentang seberapa lama sesuatu tetap berada dalam ingatan.
Jadi, ketika melihat sebuah konten disebut viral, jangan buru-buru menganggapnya populer.
Sebab di era media sosial, yang paling sulit bukan mendapatkan perhatian jutaan orang, melainkan membuat jutaan orang masih mengingat Anda ketika tren berikutnya sudah datang.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang