RADARBONAG.ID — Pernah merasa lebih bersemangat menunggu paket datang daripada benar-benar menggunakan barang yang dibeli? Ada sensasi tersendiri ketika melihat kardus di depan pintu, membuka lakban, merobek plastik, lalu perlahan menemukan produk baru di dalamnya.
Apalagi jika kemasannya terlihat estetik, kotaknya terasa premium, lengkap dengan kartu ucapan, stiker, atau bonus kecil yang membuat pengalaman membuka paket terasa seperti menerima hadiah.
Namun, pernahkah terpikir bahwa yang sebenarnya kita beli bukan hanya barangnya, melainkan pengalaman unboxing?
Fenomena ini semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari sejak media sosial menjadikan aktivitas membuka paket sebagai hiburan.
Video unboxing dapat menarik perhatian banyak orang.
Kemasan produk pun semakin dirancang agar terlihat menarik ketika direkam kamera.
Akibatnya, konsumen tidak hanya membeli fungsi sebuah produk. Mereka juga bisa saja membeli sensasi, ekspektasi, dan rasa puas yang muncul sebelum hingga sesaat setelah paket dibuka.
Ketika Belanja Berubah Menjadi Pencarian Sensasi
Belanja memang bisa memberikan rasa senang.
Saat menemukan sesuatu yang menarik, biasanya muncul rasa penasaran dan keinginan untuk memilikinya.
Masalahnya muncul ketika rasa senang tersebut justru menjadi alasan utama untuk berbelanja.
Awalnya mungkin hanya melihat sebuah produk lewat media sosial.
Bentuknya lucu, warnanya menarik, atau seseorang yang diikuti sedang menggunakannya.
Kemudian muncul pikiran sederhana, “Kayaknya aku butuh.”
Produk masuk keranjang, tidak lama kemudian, tombol checkout ditekan.
Setelah pembayaran selesai, muncul sensasi lain.
Ada rasa puas karena tahu sebentar lagi akan menerima paket.
Padahal, jika dipikir kembali, belum tentu barang tersebut benar-benar dibutuhkan.
Di sinilah belanja bisa berubah menjadi sebuah siklus: melihat, tertarik, membeli, menunggu, unboxing, merasa senang, lalu mencari barang berikutnya.
Kenapa Menunggu Paket Bisa Terasa Menyenangkan?
Dopamin sering disebut sebagai “hormon kebahagiaan”, meskipun penyebutan tersebut terlalu menyederhanakan fungsi dopamin.
Dalam sistem saraf, dopamin berkaitan dengan berbagai proses, termasuk motivasi, pembelajaran, penghargaan, dan antisipasi.
Karena itu, proses menunggu sesuatu yang kita inginkan dapat terasa menyenangkan.
Ketika membeli barang secara online, misalnya, ada beberapa tahap yang menciptakan ekspektasi.
Mulai dari memilih produk, melakukan pembayaran, menerima notifikasi pesanan diproses, melihat status pengiriman, hingga akhirnya mendapatkan pemberitahuan bahwa paket akan segera tiba.
Semua tahapan tersebut membuat kita terus memikirkan barang yang akan datang.
Ketika paket akhirnya sampai dan kardus dibuka, rasa penasaran mencapai puncaknya.
Produk yang selama beberapa hari hanya terlihat di layar akhirnya bisa disentuh dan digunakan.
Sensasi tersebut memang nyata.
Namun, biasanya tidak berlangsung selamanya.
Setelah Kardus Dibuang, Apakah Barangnya Masih Menarik?
Ini mungkin bagian yang sering luput diperhatikan.
Sebuah produk bisa terasa sangat menarik ketika masih berada di dalam paket.
Kemasan terlihat sempurna, barang masih baru, dan kita belum sabar untuk mencobanya.
Beberapa hari kemudian, situasinya bisa berubah.
Barang tersebut mulai menjadi benda biasa.
Kotaknya dibuang. Plastik kemasan masuk tempat sampah. Stiker dan kartu ucapan mungkin tidak lagi diperhatikan.
Yang tersisa adalah produknya.
Pertanyaannya kemudian sederhana: apakah barang tersebut benar-benar digunakan?
Jika jawabannya tidak, bisa jadi yang memberikan kepuasan terbesar sebenarnya bukan produknya, melainkan pengalaman mendapat dan membuka paket.
Kemasan Kini Jadi Bagian dari Pengalaman
Perusahaan tentu memahami bahwa pengalaman pelanggan tidak berhenti ketika transaksi selesai.
Karena itu, banyak brand semakin memperhatikan desain kemasan.
Kotak dibuat lebih rapi. Produk dibungkus dengan lapisan tertentu.
Kartu ucapan disisipkan. Ada stiker, bonus, pita, hingga elemen visual yang sengaja dibuat menarik ketika difoto atau direkam.
Strategi tersebut bukan sesuatu yang salah.
Pengalaman pelanggan memang merupakan bagian dari bagaimana sebuah brand membangun kesan.
Namun, dari sisi konsumen, ada hal yang perlu diperhatikan.
Jangan sampai kemasan yang menarik membuat kita lupa mempertanyakan fungsi barangnya.
Jika hal yang paling membuat kita tertarik justru kardusnya, bonusnya, stiker, pita, atau betapa bagusnya barang tersebut ketika dibuat konten unboxing, mungkin ada baiknya berhenti sejenak sebelum checkout.
Media Sosial Ikut Membuat Unboxing Terasa Menarik
Fenomena ini juga tidak bisa dilepaskan dari perkembangan konten digital.
Unboxing kini bukan sekadar aktivitas pribadi.
Ada orang yang memang sengaja membeli produk untuk membuat konten.
Ada pula yang terbiasa melihat video orang lain membuka paket hingga akhirnya ikut tertarik membeli produk yang sama.
Visualisasi barang baru dalam kemasan bisa menciptakan rasa penasaran.
Ketika melihat seseorang membuka kotak dengan perlahan, memperlihatkan detail produk, kemudian memberikan reaksi positif, penonton bisa ikut merasakan sensasi seolah-olah sedang membuka paket tersebut.
Di sinilah batas antara menonton pengalaman belanja dan ingin mengalami pengalaman tersebut sendiri menjadi semakin tipis.
Kita bukan hanya membeli barang karena membutuhkan fungsinya, tetapi juga karena ingin merasakan pengalaman yang terlihat menyenangkan di layar.
Coba Tanyakan Ini Sebelum Menekan Checkout
Tidak perlu langsung menjadi anti-belanja atau menghindari semua produk yang terlihat menarik.
Ada cara sederhana untuk mengetahui apakah kita memang membutuhkan sebuah barang.
Sebelum checkout, coba tanyakan: Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini?
Kemudian lanjutkan dengan pertanyaan berikutnya.
Jika tidak membeli hari ini, apakah saya masih menginginkannya seminggu atau sebulan lagi?
Lalu tanyakan hal yang mungkin paling penting:
Saya tertarik karena barangnya berguna atau karena ingin merasakan sensasi menerima paket?
Dan terakhir: Setelah pengalaman unboxing selesai, apakah barang ini benar-benar akan saya gunakan?
Jika sebagian besar jawabannya membuat kita ragu, mungkin tidak ada salahnya menunda pembelian.
Bukan berarti barang tersebut pasti tidak berguna. Hanya saja, keputusan membeli sebaiknya tidak dibuat ketika emosi sedang berada di puncaknya.
Baca Juga: Sering Menyendiri hingga Curiga Berlebihan, Kenali 7 Tanda Awal Skizofrenia yang Perlu Diwaspadai
Gunakan Jeda Sebelum Membeli
Salah satu cara sederhana untuk menghindari pembelian impulsif adalah memberikan jeda.
Tidak perlu langsung memasukkan barang ke keranjang dan membayar saat itu juga.
Masukkan terlebih dahulu ke wishlist.
Tunggu satu atau beberapa hari.
Jika setelah beberapa waktu keinginan masih ada dan barang tersebut memang memiliki fungsi yang jelas, keputusan membeli bisa dibuat dengan lebih tenang.
Sebaliknya, jika setelah beberapa hari kita bahkan lupa pernah menginginkannya, mungkin memang yang dibutuhkan bukan barang tersebut.
Kebiasaan memberi jeda juga membantu membedakan antara kebutuhan dan keinginan sesaat.
Bukan Berarti Unboxing Itu Buruk
Menikmati pengalaman membuka paket sebenarnya bukan sesuatu yang perlu dianggap negatif.
Membeli barang yang memang dibutuhkan sekaligus menikmati kemasan dan proses unboxing adalah hal yang wajar.
Masalahnya muncul ketika sensasi tersebut menjadi alasan utama untuk terus membeli.
Sebab, rasa senang dari paket baru mungkin hanya bertahan beberapa menit atau beberapa hari.
Sementara uang yang dikeluarkan sudah tidak bisa dikembalikan dengan mudah.
Barang yang tidak digunakan pun akhirnya memenuhi kamar.
Pada akhirnya, produk yang paling memuaskan bukan selalu barang dengan kemasan paling cantik atau pengalaman unboxing paling mewah.
Barang yang benar-benar layak dibeli adalah barang yang tetap terasa berguna setelah kardusnya dibuang.
Jadi, lain kali jari sudah berada di tombol “checkout”, coba berhenti beberapa detik.
Tanyakan kepada diri sendiri:
“Aku benar-benar butuh barang ini, atau cuma sedang mengejar dopamine rush dari buka paket?”
Jawabannya mungkin bukan cuma menentukan apakah paket akan datang beberapa hari lagi, tetapi juga apakah isi dompet akan tetap aman setelahnya.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang