RADARBONAG.ID — Ada satu momen yang mungkin mulai dirasakan banyak Gen Z tanpa mereka sadari: ketika bertemu anak-anak yang usianya jauh lebih muda, tetapi justru terlihat jauh lebih luwes menghadapi teknologi.
Mereka bisa berpindah aplikasi dengan cepat, memahami tren internet, mengenali istilah yang sedang viral, bahkan mengetahui fitur digital yang belum tentu pernah dicoba oleh orang yang usianya beberapa tahun lebih tua.
Bagi Gen Z, situasi tersebut terasa agak aneh.
Pasalnya, selama bertahun-tahun Gen Z dikenal sebagai generasi yang sangat dekat dengan perkembangan teknologi.
Mereka tumbuh ketika internet mulai menjadi bagian penting kehidupan, menyaksikan media sosial berkembang, hingga mengalami perubahan besar dari komputer menuju smartphone.
Namun, kini muncul generasi yang pengalaman digitalnya benar-benar berbeda.
Istilah iPad Kids menjadi salah satu gambaran perubahan tersebut.
Istilah ini umumnya digunakan untuk menggambarkan anak-anak yang sejak usia sangat muda sudah akrab dengan tablet, smartphone, streaming video, gim, dan berbagai bentuk hiburan digital.
Bagi Gen Z, kehadiran mereka bukan sekadar fenomena teknologi.
Ada semacam culture shock kecil ketika menyadari bahwa mereka kini bukan lagi generasi termuda yang paling paham internet.
Ketika Gen Z Mulai Merasa Jadi “Generasi Senior”
Ada masa ketika menjadi Gen Z terasa seperti memiliki akses khusus ke dunia internet.
Mereka mengetahui meme yang sedang ramai, memahami bahasa media sosial, mengikuti tren TikTok, Instagram, YouTube, hingga berbagai komunitas online.
Bahkan, Gen Z menjadi salah satu generasi yang ikut membentuk budaya internet modern.
Namun, internet tidak berhenti berkembang.
Anak-anak yang lahir setelah Gen Z tumbuh dalam kondisi yang jauh berbeda.
Mereka tidak harus mengalami masa ketika internet hanya diakses melalui komputer atau laptop.
Mereka juga tidak perlu menunggu koneksi internet yang lambat untuk membuka sebuah halaman, mengunduh lagu, atau menonton video.
Bagi mereka, layar sentuh bukanlah teknologi revolusioner.
Tablet bukan perangkat futuristis.
Video streaming juga bukan sesuatu yang mengejutkan.
Semua itu sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sejak mereka masih kecil.
Di titik inilah sebagian Gen Z mungkin mulai berpikir, “Loh, kok sekarang gue yang jadi generasi senior?”
Perasaan tersebut terdengar lucu, tetapi sebenarnya cukup masuk akal.
Perkembangan teknologi berjalan begitu cepat sehingga perbedaan usia beberapa tahun saja dapat menciptakan pengalaman digital yang sangat berbeda.
iPad Kids Tumbuh di Dunia Digital yang Berbeda
Gen Z sebenarnya merupakan generasi transisi.
Mereka masih sempat merasakan kehidupan ketika smartphone belum menjadi benda yang selalu berada di tangan.
Setelah itu, mereka menyaksikan sendiri bagaimana Facebook, YouTube, Instagram, TikTok, hingga berbagai aplikasi digital berkembang dan mengubah kebiasaan manusia.
Pengalaman tersebut berbeda dengan anak-anak yang kini tumbuh sebagai iPad Kids.
Mereka langsung lahir di lingkungan yang sudah dipenuhi teknologi.
Sejak kecil, mereka bisa menemukan video sesuai minat melalui algoritma, bermain gim interaktif, menggunakan aplikasi edukasi, hingga mengakses berbagai bentuk hiburan hanya melalui satu perangkat.
Teknologi bagi mereka bukan sesuatu yang harus dipelajari dari awal.
Banyak fungsi digital justru terasa seperti sesuatu yang natural.
Tidak mengherankan jika seorang anak sekolah dasar bisa saja memahami fitur sebuah aplikasi lebih cepat dibandingkan orang dewasa yang baru pertama kali menggunakannya.
Hal seperti inilah yang kemudian membuat Gen Z merasa geli sekaligus sedikit terkejut.
Generasi yang selama ini disebut sebagai digital native kini harus berhadapan dengan generasi yang bahkan tidak memiliki pengalaman hidup sebelum era digital sekuat sekarang.
Bukan Berarti Gen Z Kalah Canggih
Meski fenomena ini sering dibicarakan seperti perlombaan antargenerasi, sebenarnya tidak ada yang benar-benar menang atau kalah.
Gen Z memiliki pengalaman yang tidak dimiliki generasi setelahnya.
Mereka menyaksikan langsung perubahan internet dari era desktop menuju smartphone.
Mereka mengalami masa ketika media sosial berkembang dari sekadar tempat berkomunikasi menjadi bagian dari kehidupan sosial, hiburan, pekerjaan, bahkan identitas seseorang.
Pengalaman tersebut membuat Gen Z memiliki perspektif tentang bagaimana teknologi berubah dari waktu ke waktu.
Sementara itu, generasi yang lebih muda memiliki keunggulan lain.
Mereka tumbuh ketika teknologi sudah jauh lebih matang sehingga kemampuan beradaptasi dengan fitur baru dapat terlihat sangat cepat.
Jadi, ketika seorang anak terlihat lebih mahir menggunakan aplikasi daripada Gen Z, bukan berarti Gen Z kalah pintar.
Mereka hanya memulai perjalanan digital dari titik yang berbeda.
Generasi Baru Tidak Perlu Menunggu Teknologi Berkembang
Salah satu perbedaan terbesar adalah pengalaman menunggu.
Gen Z pernah mengalami masa ketika sebuah platform baru membutuhkan waktu untuk dikenal.
Mereka juga menyaksikan bagaimana teknologi berkembang secara bertahap.
Sementara generasi yang lebih muda hidup dalam dunia yang serba instan.
Aplikasi diperbarui secara otomatis. Konten tersedia kapan saja. Algoritma langsung mempelajari kebiasaan pengguna.
Bahkan, kecerdasan buatan kini mulai masuk ke berbagai perangkat dan layanan yang digunakan sehari-hari.
Akibatnya, generasi muda tidak selalu melihat teknologi sebagai sesuatu yang harus dipahami secara khusus.
Bagi mereka, teknologi adalah bagian dari lingkungan.
Seperti halnya Gen Z yang mungkin tidak lagi berpikir panjang ketika menggunakan smartphone, generasi setelahnya juga bisa tumbuh dengan pemahaman digital yang semakin intuitif.
Saat Gen Z Sadar Tren Internet Akan Terus Berganti
Culture shock yang dirasakan Gen Z sebenarnya bisa menjadi pengingat sederhana bahwa tren tidak pernah menetap.
Platform yang dulu sangat populer bisa kehilangan pengguna. Istilah yang sempat viral bisa tiba-tiba dianggap kuno.
Meme yang dulu membuat satu generasi tertawa mungkin tidak lagi dipahami oleh generasi berikutnya.
Hal yang sama juga berlaku pada teknologi.
Apa yang dianggap canggih oleh Gen Z ketika mereka masih remaja bisa saja terlihat biasa bagi generasi yang lebih muda.
Dan beberapa tahun mendatang, anak-anak yang sekarang disebut iPad Kids mungkin akan mengalami hal serupa ketika generasi baru muncul.
Mereka akan melihat teknologi yang lebih muda dan bertanya-tanya bagaimana sesuatu yang dulu mereka anggap canggih ternyata sudah menjadi barang lama.
Akhirnya, Gen Z Harus Berdamai dengan Kenyataan
Pada akhirnya, menjadi generasi yang lebih tua bukan berarti kehilangan relevansi.
Gen Z masih memiliki peran besar dalam membentuk budaya digital. Hanya saja, mereka tidak lagi sendirian di dalamnya.
Kehadiran generasi baru justru menunjukkan bahwa perkembangan teknologi dan budaya internet memang berjalan dalam sebuah siklus.
Gen Z pernah menjadi generasi yang merasa paling update. Kini, mereka mulai melihat generasi yang lebih muda mengambil posisi tersebut.
Mungkin inilah bentuk culture shock yang paling sederhana sekaligus paling lucu: kesadaran bahwa kita ternyata sudah bukan anak muda paling update di dalam ruangan.
Namun, tidak perlu panik.
Karena suatu hari nanti, iPad Kids juga akan mengalami momen yang sama.
Dan ketika itu terjadi, mungkin mereka akan melihat generasi yang lebih muda menggunakan teknologi yang jauh lebih canggih sambil berkata, “Zaman gue dulu nggak begini.”
Begitulah siklus generasi berjalan. Teknologi berubah, tren berganti, dan posisi sebagai “anak muda paling update” pada akhirnya memang tidak pernah bertahan selamanya.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang