Minimalis atau Cluttercore? Dua Tren Dekorasi Rumah yang Berlawanan tetapi Sama-Sama Populer di Kalangan Anak Muda

Arinie Khaqqo • Dipublikasikan Senin, 17 Agustus 2026 | 14:58 WIB
Ada yang merasa rumah makin nyaman kalau barangnya sedikit, warna netral, dan ruangan terlihat lega. Tapi ada juga yang justru merasa kamar belum “hidup” kalau belum dipenuhi buku, poster, tanaman, koleksi, foto, sampai berbagai barang kesayangan. (ilustrasi)
Ada yang merasa rumah makin nyaman kalau barangnya sedikit, warna netral, dan ruangan terlihat lega. Tapi ada juga yang justru merasa kamar belum “hidup” kalau belum dipenuhi buku, poster, tanaman, koleksi, foto, sampai berbagai barang kesayangan. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – Rumah bagi anak muda kini bukan sekadar tempat untuk tidur, makan, atau beristirahat setelah menjalani aktivitas seharian.

Lebih dari itu, ruangan juga menjadi bagian dari identitas dan cara seseorang menunjukkan karakter.

Tidak heran jika tren dekorasi interior semakin beragam. Ada yang senang melihat ruangan dengan sedikit barang, warna netral, dan furnitur sederhana.

Namun, ada pula yang justru merasa semakin nyaman ketika kamar dipenuhi koleksi, poster, buku, tanaman, foto, hingga berbagai benda kesayangan.

Dua gaya yang menggambarkan perbedaan tersebut adalah minimalis dan cluttercore.

Keduanya mungkin terlihat seperti dua dunia yang bertolak belakang.

Baca Juga: Red Bull Siapkan Penampilan Spesial di Zandvoort, Helm Max dan Race Suit Hadjar Jadi Sorotan

Minimalis mengutamakan kesederhanaan dan ruang yang lapang, sedangkan cluttercore justru menjadikan banyak benda sebagai bagian dari keindahan ruangan.

Meski begitu, keduanya memiliki tujuan yang sama: menciptakan ruang yang terasa personal dan nyaman bagi penghuninya.

Minimalis, Saat Sedikit Barang Justru Membuat Ruangan Lebih Nyaman

Gaya minimalis sudah cukup lama menjadi pilihan populer dalam desain interior.

Konsepnya menitikberatkan pada kesederhanaan, fungsi, keteraturan, serta pemilihan barang secara lebih selektif.

Furnitur dalam ruangan minimalis biasanya memiliki desain sederhana dengan warna yang cenderung netral.

Putih, krem, abu-abu, cokelat muda hingga warna-warna natural sering digunakan untuk menciptakan suasana yang tenang.

Bagi anak muda yang tinggal di kamar kos, apartemen, atau rumah berukuran terbatas, konsep ini juga terasa praktis.

Semakin sedikit barang yang tidak diperlukan, semakin mudah pula ruangan ditata dan dibersihkan.

Selain itu, ruangan yang tidak terlalu penuh dapat memberikan kesan lega.

Setelah seharian bekerja, kuliah, atau beraktivitas di luar rumah, suasana seperti ini bisa membuat rumah terasa lebih menenangkan.

Namun, minimalis bukan berarti seluruh ruangan harus kosong tanpa dekorasi.

Tanaman, lukisan, karpet, lampu, cermin, hingga satu atau dua benda favorit tetap bisa digunakan untuk memberikan karakter. Kuncinya adalah tidak membiarkan dekorasi menghilangkan fungsi dan kenyamanan ruangan.

Cluttercore, Ketika Barang Kesayangan Justru Menjadi Dekorasi

Berbeda dengan minimalis, cluttercore justru tidak takut dengan ruangan yang penuh.

Gaya ini merayakan keberadaan berbagai benda yang dianggap memiliki nilai personal.

Buku, poster, action figure, boneka, tanaman, vinyl, foto, merchandise, hingga memorabilia perjalanan dapat menjadi bagian dari dekorasi.

Semakin banyak cerita yang bisa ditampilkan, semakin personal pula ruangan tersebut.

Tidak ada kewajiban semua barang harus memiliki warna atau bentuk yang seragam.

Perpaduan warna, tekstur, ukuran, dan bentuk justru menjadi salah satu daya tarik utama cluttercore.

Bagi penggemarnya, kamar bukan sekadar ruangan untuk tidur.

Kamar bisa menjadi semacam galeri pribadi yang memperlihatkan musik yang disukai, film favorit, hobi, perjalanan, karakter idola, hingga berbagai kenangan yang dianggap penting.

Karena itu, ruangan yang terlihat “penuh” belum tentu dianggap berantakan oleh pemiliknya.

Kenapa Cluttercore Begitu Menarik bagi Anak Muda?

Salah satu alasan cluttercore semakin menarik adalah karena gaya ini memberikan kebebasan untuk berekspresi.

Media sosial turut membuat kamar dan rumah menjadi bagian dari identitas visual seseorang.

Tidak sedikit anak muda yang membagikan sudut kamar, meja kerja, rak koleksi, hingga dekorasi rumah mereka melalui media sosial.

Cluttercore memberikan ruang untuk menunjukkan kepribadian tersebut secara lebih bebas.

Misalnya, penggemar musik dapat memenuhi dinding dengan poster dan album favorit.

Pecinta film bisa menampilkan berbagai memorabilia. Mereka yang gemar membaca dapat menjadikan rak buku sebagai pusat perhatian.

Menariknya lagi, cluttercore tidak selalu menuntut seseorang membeli barang dekorasi baru.

Benda lama yang memiliki nilai sentimental justru bisa menjadi elemen paling menarik.

Foto masa sekolah, tiket perjalanan, hadiah dari teman, koleksi lama atau barang pemberian orang terdekat dapat ditempatkan sebagai bagian dari interior.

Dengan begitu, ruangan tidak hanya terlihat menarik, tetapi juga memiliki cerita.

Minimalis Juga Bisa Terasa Personal

Di sisi lain, minimalis juga tidak berarti harus kehilangan karakter.

Justru karena jumlah barang lebih sedikit, setiap benda yang dipilih dapat memiliki peran yang lebih kuat.

Satu lukisan favorit bisa menjadi titik perhatian. Sebuah kursi dengan desain unik dapat menjadi statement piece.

Tanaman di sudut ruangan bisa memberikan kesan hidup tanpa membuat ruangan terasa penuh.

Pendekatan tersebut membuat minimalis bukan hanya tentang “mengurangi barang”, tetapi juga memilih sesuatu yang benar-benar dibutuhkan atau memiliki nilai bagi pemilik rumah.

Itulah sebabnya minimalisme yang baik tidak harus terlihat dingin atau seperti showroom.

Sentuhan personal tetap bisa membuat ruangan terasa hangat.

Cluttercore Bukan Berarti Asal Menumpuk Barang

Ada satu hal yang perlu dipahami mengenai cluttercore.

Gaya ini bukan berarti semua barang harus diletakkan begitu saja di dalam ruangan.

Jika tidak ditata dengan baik, banyaknya benda justru dapat membuat ruangan terasa sesak dan sulit dirawat.

Cluttercore membutuhkan komposisi.

Pemilik ruangan perlu memikirkan bagaimana benda dikelompokkan, warna apa yang ingin ditonjolkan, bagian mana yang menjadi fokus, dan bagaimana berbagai elemen tersebut tetap terlihat harmonis.

Rak dapat digunakan untuk mengelompokkan koleksi. Dinding bisa menjadi tempat poster dan foto. Meja dapat diisi benda-benda kecil yang memiliki nilai personal.

Dengan begitu, “penuh” tetap bisa terlihat terorganisasi.

Keduanya Punya Kekurangan Masing-Masing

Minimalis memiliki tantangan berupa kemungkinan ruangan terlihat terlalu polos atau steril jika pemilihan elemen tidak tepat.

Terlalu fokus pada kesederhanaan dapat membuat rumah terasa kurang memiliki karakter.

Jika setiap benda dihilangkan hanya demi mengikuti tren, ruangan justru bisa kehilangan identitas penghuninya.

Cluttercore memiliki persoalan yang berbeda.

Semakin banyak barang berarti semakin besar pula pekerjaan untuk merawat dan membersihkannya. Jika komposisinya tidak diperhatikan, ruangan bisa berubah dari “estetik” menjadi benar-benar berantakan.

Karena itu, kedua gaya membutuhkan keseimbangan.

Tidak Harus Menjadi Tim Minimalis atau Cluttercore

Kabar baiknya, tidak ada aturan bahwa seseorang harus memilih salah satu.

Minimalis dan cluttercore justru bisa dikombinasikan.

Misalnya, gunakan furnitur utama dengan desain sederhana dan warna netral.

Setelah itu, tambahkan beberapa elemen personal seperti buku, tanaman, poster, keramik, foto atau koleksi favorit.

Hasilnya adalah ruangan yang tetap terasa rapi tetapi tidak kehilangan karakter.

Konsep ini juga cocok bagi anak muda yang mudah bosan dengan dekorasi.

Furnitur utama bisa dibuat timeless, sementara suasana ruangan dapat diubah hanya dengan mengganti aksesori atau menambahkan koleksi baru.

Dengan cara tersebut, seseorang tidak perlu melakukan renovasi besar setiap kali ingin mengubah suasana kamar.

Jadi, Mana yang Lebih Cocok untuk Kamu?

Jawabannya sangat bergantung pada karakter dan kebutuhan masing-masing.

Baca Juga: Bukan Cuma Pegal, Kebiasaan Duduk Terlalu Lama di Depan Laptop Bisa Bikin Tubuh “Protes”, Pekerja Muda Wajib Waspada

Jika kamu menyukai suasana tenang, rapi, tidak terlalu ramai, dan ingin ruangan mudah dibersihkan, minimalis bisa menjadi pilihan yang tepat.

Sebaliknya, jika kamu senang mengoleksi barang, suka bereksperimen dengan warna dan merasa benda-benda tertentu merupakan bagian dari identitasmu, cluttercore mungkin akan terasa lebih menyenangkan.

Namun, pada akhirnya rumah bukanlah kompetisi untuk mengikuti tren interior tertentu.

Minimalisme mengajarkan bahwa tidak semua benda harus dimiliki.

Cluttercore mengingatkan bahwa benda yang kita simpan juga bisa membawa cerita.

Jadi, gaya dekorasi terbaik bukan selalu yang paling viral di media sosial.

Gaya terbaik adalah yang membuat penghuninya merasa nyaman, betah, dan merasa benar-benar berada di rumah sendiri.

Kalau kamu sendiri, lebih nyaman dengan kamar yang rapi dan minimalis atau justru penuh koleksi ala cluttercore?

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
cluttercore vs minimalis tren dekorasi rumah 2026 dekorasi rumah anak muda gaya interior minimalis gaya dekorasi cluttercore