RADARBONAG.ID – Bayangkan hanya ada satu lembar uang Rp50.000 di dompet.
Tidak ada saldo e-wallet, tidak ada kartu debit yang bisa digunakan, dan tidak ada uang cadangan yang bisa diambil sewaktu-waktu.
Pertanyaannya sederhana: apakah Rp50.000 masih cukup untuk makan dari pagi sampai malam?
Jawabannya masih cukup, tetapi tentu ada syaratnya.
Dengan anggaran tersebut, seseorang harus melupakan sementara menu mahal, minuman kekinian, camilan berlebihan, atau kebiasaan membeli makanan tanpa menghitung sisa uang. Rp50.000 perlu dibagi sejak awal agar tidak habis hanya untuk satu kali makan.
Kuncinya bukan sekadar mencari makanan termurah, melainkan memilih bahan yang mengenyangkan, mudah diolah, murah, dan bisa digunakan untuk beberapa kali makan.
Harga Pangan Membuat Uang Rp50.000 Harus Diatur
Tantangan makan dengan anggaran Rp50.000 menjadi semakin menarik jika melihat harga sejumlah bahan pangan.
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang tercantum dalam simulasi tersebut, beras kualitas bawah berada di kisaran Rp14.850-Rp15.000 per kilogram. Sementara beras medium sekitar Rp16.000 per kilogram.
Harga telur ayam ras juga berada di kisaran Rp27.050 per kilogram. Untuk minyak goreng curah, harganya sekitar Rp21.150 per liter.
Dengan kondisi tersebut, membeli bahan makanan dalam jumlah besar sekaligus jelas bukan strategi paling efisien jika total uang yang tersedia hanya Rp50.000.
Misalnya, membeli satu kilogram beras, satu liter minyak, telur, sayuran, dan berbagai bumbu sekaligus bisa membuat anggaran langsung terkuras.
Karena itu, pembelian harus disesuaikan dengan kebutuhan sehari.
Jangan Habiskan Uang untuk Sarapan
Kesalahan pertama yang perlu dihindari adalah menghabiskan terlalu banyak uang di pagi hari.
Sarapan tidak harus berupa makanan lengkap dengan banyak lauk.
Dengan anggaran terbatas, menu sederhana seperti nasi dengan telur, tahu, atau tempe sebenarnya sudah cukup untuk mengawali hari.
Misalnya, sekitar Rp8.000-Rp10.000 dapat dialokasikan untuk sarapan.
Jika memasak sendiri, biaya tersebut bahkan bisa ditekan lebih rendah. Nasi yang dimasak sekaligus juga dapat disiapkan untuk makan siang dan malam.
Dengan begitu, uang yang tersisa masih cukup untuk memenuhi kebutuhan makan berikutnya.
Yang perlu diingat, jangan membeli kopi kekinian atau minuman tambahan hanya karena harganya terlihat kecil.
Rp5.000-Rp10.000 mungkin terasa tidak banyak. Namun, ketika anggaran total hanya Rp50.000, nominal tersebut bisa menentukan apakah uang cukup sampai malam atau tidak.
Makan Siang Bisa Jadi Porsi Utama
Waktu makan siang dapat menjadi kesempatan untuk menggunakan porsi anggaran terbesar.
Jika memasak sendiri, kombinasi nasi, telur atau tempe, dan sayuran bisa menjadi pilihan yang cukup mengenyangkan.
Misalnya, sebagian anggaran digunakan untuk membeli telur, tahu atau tempe, serta sayuran yang harganya relatif terjangkau.
Satu bahan juga tidak harus langsung dihabiskan dalam satu waktu.
Telur yang dibeli beberapa butir dapat dibagi untuk sarapan dan makan malam. Begitu pula tempe atau tahu yang bisa digunakan sebagai lauk di beberapa waktu makan.
Strategi seperti ini membuat pengeluaran menjadi lebih terkendali.
Daripada membeli makanan siap saji Rp15.000-Rp20.000 setiap kali makan, membeli beberapa bahan kemudian mengolahnya sendiri bisa memberikan jumlah makanan yang lebih banyak.
Jangan Lupa Sisakan Uang untuk Malam
Bagian paling sulit justru sering terjadi setelah makan siang.
Ketika masih melihat ada uang tersisa di dompet, muncul godaan untuk membeli camilan, minuman, atau makanan tambahan.
Padahal, masih ada makan malam yang harus dipikirkan.
Karena itu, sejak awal sebaiknya uang untuk makan malam sudah dipisahkan.
Menu malam tidak harus berbeda dengan sarapan atau makan siang. Nasi dengan telur, tahu, tempe, atau sayuran sederhana sudah bisa menjadi pilihan.
Jika masih terdapat bahan dari siang hari, manfaatkan terlebih dahulu daripada membeli makanan baru.
Dengan cara tersebut, sisa uang Rp10.000-Rp15.000 tidak terasa cepat menghilang hanya karena beberapa pengeluaran kecil.
Contoh Pembagian Rp50.000 Sehari
Jika ingin membuat simulasi sederhana, anggaran Rp50.000 bisa dibagi berdasarkan waktu makan dan kebutuhan bahan.
Sarapan: Rp8.000-Rp10.000
Nasi dengan telur atau tempe bisa menjadi menu sederhana. Minuman dapat dibuat sendiri agar tidak menambah pengeluaran.
Makan siang: Rp15.000-Rp18.000
Anggaran lebih besar dapat digunakan untuk nasi, lauk, dan sayuran. Jika memasak sendiri, porsinya bisa dibuat lebih banyak.
Makan malam: Rp10.000-Rp12.000
Manfaatkan bahan yang masih tersedia. Tidak perlu membeli lauk baru jika bahan dari pagi atau siang masih cukup.
Sisa: sekitar Rp10.000-Rp17.000
Uang tersebut dapat menjadi cadangan untuk kebutuhan bahan tambahan, bumbu, air minum, atau kondisi tak terduga.
Pembagian tersebut tentu bukan harga baku. Harga makanan berbeda-beda di setiap daerah, begitu pula kebutuhan masing-masing orang.
Namun, prinsipnya tetap sama: tentukan batas pengeluaran sebelum mulai makan.
Memasak Sendiri Jadi Kunci Utama
Jika benar-benar ingin membuat Rp50.000 cukup untuk sehari, memasak sendiri biasanya memberikan ruang lebih besar untuk mengatur anggaran.
Satu kali membeli bahan dapat menghasilkan beberapa porsi.
Beras bisa digunakan untuk tiga kali makan. Telur dapat dibagi untuk sarapan dan malam. Sayuran dapat dimasak dalam jumlah secukupnya. Tahu dan tempe juga relatif fleksibel karena bisa digoreng, ditumis, atau dijadikan lauk pendamping.
Sebaliknya, membeli makanan jadi tiga kali sehari membuat pengeluaran lebih sulit dikontrol.
Bahkan jika satu porsi hanya Rp12.000, tiga kali makan sudah menghabiskan Rp36.000. Ketika ditambah minuman, camilan, ongkos, atau kebutuhan kecil lainnya, uang Rp50.000 bisa habis sebelum malam.
Rp50.000 Bukan Cuma Soal Mencari Makanan Murah
Eksperimen ini sebenarnya bukan sekadar mencari jawaban apakah seseorang bisa makan dengan Rp50.000 sehari.
Lebih dari itu, ada pelajaran mengenai bagaimana seseorang mengatur prioritas ketika sumber daya terbatas.
Harga bahan pangan membuat setiap keputusan menjadi penting.
Membeli sesuatu yang sebenarnya tidak dibutuhkan dapat mengurangi anggaran untuk kebutuhan yang jauh lebih penting.
Pemerintah juga masih melakukan berbagai intervensi untuk menjaga pasokan dan stabilitas harga pangan, salah satunya melalui penyaluran beras SPHP.
Hingga 8 Agustus 2026, penyaluran beras SPHP tercatat mencapai 610,3 ribu ton atau 73,71 persen dari target tahun ini.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa harga dan ketersediaan pangan tetap menjadi bagian penting dalam menjaga daya beli masyarakat.
Jadi, Apakah Rp50.000 Cukup untuk Seharian?
Jawabannya: bisa, tetapi tidak untuk semua kondisi dan kebutuhan.
Rp50.000 masih memungkinkan digunakan untuk tiga kali makan sederhana jika seseorang memasak sendiri, memilih bahan dengan cermat, membatasi jajan, serta sudah menentukan pembagian uang sejak awal.
Namun, kebutuhan setiap orang tentu berbeda. Seseorang dengan aktivitas fisik tinggi mungkin membutuhkan asupan lebih banyak.
Belum lagi jika anggaran tersebut juga harus mencakup minuman, transportasi, atau kebutuhan lain di luar makanan.
Karena itu, angka Rp50.000 lebih tepat dilihat sebagai simulasi pengelolaan anggaran makan, bukan patokan kebutuhan hidup semua orang.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bukan hanya menemukan makanan murah.
Tantangan sebenarnya adalah bagaimana membuat uang Rp50.000 tetap bertahan sampai malam.
Sebab ketika sarapan sudah selesai, makan siang sudah lewat, dan masih ada uang di dompet, godaan untuk berkata “sekali ini saja jajan” justru bisa menjadi musuh terbesar.
Kalau berhasil melewati malam tanpa menghabiskan anggaran, barulah Rp50.000 tersebut benar-benar bisa disebut berhasil menjalankan misinya.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang