RADARBONAG.ID – Tanggal muda biasanya menjadi momen yang ditunggu pekerja.
Notifikasi gaji masuk, kemudian muncul berbagai rencana: makan enak, menabung, membeli barang yang sudah lama diincar, atau sekadar menikmati akhir pekan tanpa memikirkan pekerjaan.
Namun, cerita itu tidak selalu berlaku bagi semua orang.
Bagi mereka yang berada dalam posisi generasi sandwich, gaji yang baru masuk rekening bisa langsung memiliki banyak tujuan.
Ada cicilan rumah, biaya sekolah anak, kebutuhan sehari-hari, tagihan rumah tangga, hingga kebutuhan orang tua.
Belum selesai menghitung semuanya, kebutuhan diri sendiri juga harus dipikirkan.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan lagi “gaji ini mau dipakai untuk apa?”, melainkan “kebutuhan siapa yang harus dipenuhi lebih dulu?”
Istilah generasi sandwich menggambarkan kelompok usia produktif yang berada di antara dua generasi tanggungan.
Di satu sisi ada orang tua atau mertua yang membutuhkan dukungan, sementara di sisi lain terdapat anak atau generasi yang lebih muda yang juga masih membutuhkan bantuan.
Beban tersebut bukan hanya berbentuk uang. Tekanan waktu, tenaga, pikiran, hingga tertundanya rencana pribadi juga bisa menjadi bagian dari kehidupan generasi sandwich.
Berada di Tengah, tapi Kebutuhan Diri Sering Terakhir
Istilah sandwich terasa relevan karena posisi seseorang memang seperti berada di antara dua lapisan.
Di atas ada orang tua yang mungkin membutuhkan bantuan.
Di bawah ada anak yang harus dirawat dan dipersiapkan masa depannya.
Sementara di bagian tengah terdapat dirinya sendiri.
Ironisnya, orang yang berada di tengah justru sering menjadi pihak yang paling mudah mengesampingkan kebutuhan pribadi.
Rencana membeli rumah ditunda karena biaya pendidikan anak.
Dana pensiun belum menjadi prioritas karena kebutuhan orang tua lebih mendesak. Liburan dibatalkan karena ada pengeluaran keluarga yang harus dibayar.
Bahkan pemeriksaan kesehatan sendiri terkadang ikut ditunda.
Bukan karena tidak memiliki keinginan. Masalahnya, selalu ada kebutuhan lain yang terasa lebih penting dan tidak bisa menunggu.
Usia Produktif Menjadi Penopang Banyak Kebutuhan
Fenomena generasi sandwich tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi antargenerasi.
Badan Pusat Statistik melalui kajian National Transfer Accounts (NTA) 2024 menggambarkan adanya perbedaan antara pendapatan tenaga kerja dan kebutuhan konsumsi pada kelompok usia tertentu.
Sederhananya, ada fase kehidupan ketika seseorang membutuhkan lebih banyak sumber daya dibandingkan kemampuan ekonominya.
Sebaliknya, kelompok usia produktif berada pada fase ketika kemampuan menghasilkan pendapatan relatif lebih besar.
Sebagian sumber daya tersebut kemudian mengalir melalui mekanisme transfer antargenerasi, baik di dalam rumah tangga maupun melalui transfer publik.
Dalam kehidupan sehari-hari, konsep tersebut dapat terlihat ketika seorang pekerja membagi penghasilannya untuk kebutuhan anak sekaligus membantu orang tua.
Karena itu, generasi sandwich bukan sekadar istilah yang ramai di media sosial. Fenomena tersebut berkaitan dengan cara keluarga mengatur sumber daya dan tanggung jawab ekonomi lintas generasi.
Menjadi Generasi Sandwich Bukan Berarti Harus Menanggung Semua
Namun, ada satu hal yang penting dipahami: menjadi generasi sandwich bukan berarti seseorang harus membiayai seluruh keluarganya seorang diri.
Situasi setiap keluarga sangat berbeda.
Ada orang tua yang masih mandiri secara finansial. Ada yang hanya membutuhkan bantuan untuk kebutuhan kesehatan.
Ada keluarga yang memiliki anak kecil dengan kebutuhan cukup besar. Ada pula pasangan yang membagi tanggung jawab ekonomi secara bersama-sama.
Karena itu, istilah generasi sandwich sebaiknya tidak digunakan untuk membuat seseorang merasa bersalah ketika tidak mampu memenuhi semua harapan keluarga.
Penghasilan setiap orang berbeda, jumlah tanggungan berbeda, kondisi orang tua berbeda, kebutuhan anak juga berbeda.
Yang jauh lebih penting adalah komunikasi, pembagian peran, serta perencanaan keuangan yang realistis.
Dari Luar Terlihat Baik-baik Saja
Salah satu persoalan generasi sandwich adalah bebannya tidak selalu terlihat.
Mereka masih pergi bekerja setiap pagi. Masih bisa tersenyum. Masih bisa bertemu teman. Bahkan mungkin terlihat santai ketika mengunggah aktivitas di media sosial.
Namun, di balik layar, perhitungan keuangan bisa terus berjalan.
“Bulan ini biaya sekolah dulu.”, “Obat orang tua jangan sampai terlambat.”, “Cicilan harus aman.”, “Dana darurat nanti saja.”
“Tabungan bisa dimulai bulan depan.”
Masalahnya, kata “nanti” bisa berlangsung bertahun-tahun.
Rencana membeli rumah akhirnya terus ditunda. Dana darurat tidak kunjung terbentuk.
Persiapan pensiun belum maksimal. Kebutuhan rekreasi bahkan dianggap sebagai sesuatu yang tidak penting.
Padahal, terus-menerus mengorbankan kebutuhan pribadi juga memiliki konsekuensi.
Bebannya Tidak Hanya Berupa Uang
Generasi sandwich tidak hanya membayar dengan uang.
Ada waktu yang ikut terkuras. Ada tenaga, perhatian, dan kesempatan yang harus dibagi.
Seorang pekerja bisa saja harus menjalankan pekerjaan penuh waktu, mengurus anak, membantu orang tua, menjaga hubungan dengan pasangan, sekaligus mengurus rumah.
Akhir pekan yang seharusnya digunakan untuk beristirahat bisa berubah menjadi jadwal mengantar orang tua, menemani anak, menyelesaikan pekerjaan rumah, atau mengurus berbagai kebutuhan keluarga.
Kelelahan kemudian muncul bukan karena satu persoalan besar, tetapi akibat terlalu banyak tanggung jawab yang datang secara bersamaan.
Dalam jangka panjang, tekanan tersebut dapat memengaruhi kondisi emosional dan membuat seseorang merasa tidak memiliki cukup waktu untuk dirinya sendiri.
Tinggal Tiga Generasi Tidak Selalu Berarti Sandwich
Kehidupan bersama beberapa generasi juga bukan sesuatu yang asing di Indonesia.
Data BPS dari Susenas Maret 2024 menunjukkan 35,73 persen lansia tinggal dalam rumah tangga tiga generasi, yaitu rumah tangga yang melibatkan lansia bersama anak atau menantu dan cucu. Sementara itu, 34,45 persen lansia tinggal bersama keluarga inti.
Namun, tinggal dalam rumah tangga tiga generasi tidak otomatis berarti seseorang mengalami tekanan sebagai generasi sandwich.
Keluarga yang tinggal bersama bisa saja memiliki kondisi ekonomi yang baik dan pembagian tanggung jawab yang sehat.
Meski demikian, data tersebut memperlihatkan bahwa kehidupan lintas generasi memang menjadi bagian dari struktur keluarga di Indonesia.
Ketika kebutuhan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan pengasuhan bertemu dalam satu rumah, pembagian peran menjadi semakin penting.
Memutus Rantai Sandwich Bisa Dimulai dari Sekarang
Apakah seseorang yang menjadi generasi sandwich harus pasrah dengan keadaan?
Tentu tidak.
Perencanaan sejak usia produktif justru menjadi salah satu hal penting yang bisa dilakukan untuk mengurangi tekanan di masa depan.
Langkahnya tidak harus langsung besar.
Mulailah dengan mengetahui ke mana penghasilan pergi setiap bulan.
Pisahkan kebutuhan wajib dari pengeluaran yang bisa ditunda. Bangun dana darurat sesuai kemampuan. Siapkan perlindungan kesehatan dan mulai memikirkan persiapan pensiun.
Jika sudah berkeluarga, bicarakan kondisi keuangan secara terbuka dengan pasangan.
Yang tidak kalah penting, komunikasikan pula kemampuan finansial kepada keluarga.
Bantuan sebaiknya diberikan sesuai kapasitas, bukan berdasarkan rasa bersalah.
Semakin awal perencanaan dilakukan, semakin panjang waktu yang tersedia untuk membangun fondasi keuangan.
Membantu Keluarga Bukan Berarti Menghilangkan Diri Sendiri
Ada kalimat yang mungkin perlu lebih sering didengar oleh generasi sandwich:
Membantu keluarga itu baik, tetapi menjaga diri sendiri juga bukan tindakan egois.
Berbakti kepada orang tua merupakan nilai yang penting. Begitu pula tanggung jawab terhadap anak.
Namun, di antara dua kewajiban tersebut, jangan sampai kebutuhan diri sendiri benar-benar menghilang.
Mengatakan “saya belum mampu” bukan berarti tidak sayang kepada keluarga.
Menetapkan batas kemampuan bukan berarti tidak berbakti. Menyisihkan uang untuk kebutuhan pribadi juga bukan berarti egois.
Justru, seseorang yang menjadi penyangga keluarga perlu memastikan dirinya tetap mampu bertahan.
Sebab jika orang yang selama ini menopang keluarga mengalami masalah finansial atau kelelahan berat, dampaknya dapat dirasakan oleh seluruh anggota keluarga.
Generasi Sandwich dan Realitas Anak Muda
Menjadi dewasa ternyata bukan sekadar memiliki pekerjaan dan menerima gaji setiap bulan.
Ada fase ketika satu penghasilan harus dibagi ke berbagai arah.
Ada orang tua yang ingin dibantu, ada anak yang ingin diberi masa depan, ada pasangan yang ingin diajak tumbuh bersama.
Dan ada diri sendiri yang juga memiliki impian.
Tantangan generasi sandwich bukan memilih antara orang tua atau anak.
Tantangan sebenarnya adalah mencari cara agar berbagai kebutuhan tersebut tetap berjalan tanpa membuat diri sendiri kehilangan masa depan.
Tidak ada formula yang cocok untuk semua keluarga.
Namun, komunikasi, pembagian tanggung jawab, perencanaan keuangan, serta keberanian menetapkan batas dapat membuat beban terasa lebih terukur.
Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk melihat siapa yang paling banyak berkorban.
Yang lebih penting adalah bagaimana satu generasi dapat membantu generasi berikutnya tanpa membuat dirinya sendiri kehilangan kesempatan untuk memiliki masa depan.
Menjadi generasi sandwich mungkin tidak selalu bisa dihindari. Tetapi cara menjalaninya masih bisa direncanakan.
Istilah generasi sandwich merupakan istilah sosial, bukan diagnosis medis atau kategori kependudukan resmi.
Tidak semua orang yang membantu orang tua dan anak memiliki kondisi finansial yang sama.
Artikel ini menggunakan istilah tersebut untuk menggambarkan tekanan tanggung jawab lintas generasi dengan merujuk pada kajian dan data BPS, termasuk National Transfer Accounts (NTA) 2024.
Editor : Muhammad Azlan SyahSumber : Radar Bonang