Paylater Bisa Bikin Credit Score Gen Z Turun, Ini Risiko yang Sering Tak Disadari Saat Cicilan Menumpuk

Siska Yudianti • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 14:06 WIB
Kelihatannya cuma cicilan kecil, tapi kalau menumpuk bisa jadi masalah besar. Kamu tim pakai paylater atau lebih pilih nabung dulu? (Ilustrasi)
Kelihatannya cuma cicilan kecil, tapi kalau menumpuk bisa jadi masalah besar. Kamu tim pakai paylater atau lebih pilih nabung dulu? (Ilustrasi) 

RADARBONAG.ID — Belanja sekarang, bayar nanti menjadi salah satu kebiasaan finansial yang semakin akrab dengan kehidupan anak muda.

Hanya dengan beberapa kali klik, barang yang diinginkan bisa langsung dikirim ke rumah, sementara pembayarannya dicicil sesuai tenor yang dipilih.

Fasilitas paylater memang menawarkan kemudahan.

Gadget, pakaian, makanan, tiket perjalanan hingga berbagai kebutuhan sehari-hari dapat dibeli tanpa harus mengeluarkan seluruh uang sekaligus.

Namun, di balik kemudahan tersebut terdapat konsekuensi yang perlu diperhatikan.

Paylater tetap merupakan fasilitas pembiayaan yang menciptakan kewajiban pembayaran. 

Baca Juga: Bikin Usaha Sejak SMA! Siswa Kelas X Diajak Rancang Bisnis Nyata, Ada Mentoring hingga Peluang Beasiswa Rp50 Juta

Jika digunakan tanpa perhitungan, kebiasaan tersebut bukan hanya mengganggu kondisi keuangan bulanan, tetapi juga berpotensi memengaruhi rekam jejak kredit.

Bagi Gen Z yang mulai membangun kehidupan finansial, persoalan ini menjadi semakin penting.

Sebab, riwayat pembayaran yang terbentuk hari ini dapat menjadi salah satu pertimbangan ketika seseorang membutuhkan fasilitas pembiayaan di kemudian hari.

Sekali Terlambat, Jangan Anggap Sepele

Banyak pengguna mungkin berpikir keterlambatan membayar cicilan selama beberapa hari bukan persoalan besar. Padahal, setiap penyedia layanan memiliki ketentuan masing-masing mengenai keterlambatan dan pencatatan pembiayaan.

Pada prinsipnya, membayar kewajiban sesuai jadwal menunjukkan bahwa pengguna mampu mengelola pembiayaannya dengan baik.

Sebaliknya, pembayaran yang bermasalah dapat berdampak pada rekam kredit, bergantung pada mekanisme pelaporan dan ketentuan penyedia layanan.

Karena itu, tanggal jatuh tempo sebaiknya tidak dianggap sekadar pengingat biasa. Keterlambatan yang berulang justru dapat menjadi kebiasaan finansial yang merugikan.

Jebakan Paylater Justru Bisa Dimulai dari Cicilan Kecil

Risiko paylater tidak selalu muncul ketika seseorang membeli barang dengan harga mahal.

Justru, masalah sering kali berawal dari transaksi-transaksi kecil yang terlihat tidak terlalu membebani.

Misalnya, cicilan Rp100 ribu untuk pakaian, Rp150 ribu untuk makanan, kemudian Rp300 ribu untuk perangkat elektronik. Secara terpisah, angka tersebut mungkin terasa ringan.

Namun, ketika beberapa transaksi berjalan secara bersamaan, total cicilan bulanan bisa membengkak tanpa disadari.

Persoalan semakin rumit ketika berbagai tagihan memiliki tanggal jatuh tempo yang berdekatan.

Pendapatan yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pokok, tabungan atau dana darurat akhirnya tersedot untuk membayar cicilan.

Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan bisa kembali menggunakan paylater atau fasilitas kredit lain untuk menutup kebutuhan yang sebelumnya sudah terpakai.

Jika terus dilakukan, pola tersebut dapat berkembang menjadi lingkaran utang.

Credit Score Bisa Menjadi Raport Finansial

Bagi sebagian anak muda, istilah credit score atau skor kredit mungkin masih terdengar asing.

Padahal, rekam jejak pembiayaan menjadi bagian penting dalam perjalanan finansial seseorang.

Secara sederhana, riwayat kredit dapat menggambarkan bagaimana seseorang memenuhi kewajibannya.

Kebiasaan membayar tepat waktu dapat membantu membangun rekam pembayaran yang lebih baik.

Sebaliknya, catatan pembayaran yang bermasalah dapat menjadi pertimbangan ketika seseorang mengajukan pembiayaan tertentu pada masa mendatang.

Misalnya ketika ingin membeli kendaraan secara kredit, mengajukan pembiayaan rumah atau membutuhkan pinjaman untuk mengembangkan usaha.

Kondisi rekam kredit dapat menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam proses penilaian.

Artinya, keputusan menggunakan paylater untuk membeli barang yang sedang viral tidak berhenti ketika barang tersebut sampai di rumah.

Ada konsekuensi finansial yang bisa berlangsung lebih lama.

Bukan Berarti Paylater Harus Dijauhi

Meski memiliki risiko, bukan berarti paylater harus selalu dihindari.

Fasilitas tersebut dapat digunakan secara lebih bijak selama pengguna memahami kemampuan keuangannya.

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah memastikan jumlah cicilan masih berada dalam batas kemampuan membayar.

Jangan hanya melihat nominal cicilan per transaksi, tetapi hitung seluruh kewajiban yang harus dibayarkan setiap bulan.

Pengguna juga perlu memahami biaya yang dikenakan, tenor pembayaran, tanggal jatuh tempo serta konsekuensi jika terlambat membayar.

Yang tak kalah penting, paylater sebaiknya tidak digunakan sebagai cara untuk mempertahankan gaya hidup yang sebenarnya belum mampu dibayar.

Sebelum menekan tombol “Beli Sekarang”, ada pertanyaan sederhana yang bisa menjadi rem: Jika barang ini tidak tersedia dengan fasilitas cicilan, apakah saya tetap akan membelinya?

Jika jawabannya tidak, mungkin keputusan terbaik adalah menunda pembelian sampai kondisi keuangan benar-benar memungkinkan.

Jangan Sampai Gaya Hidup Hari Ini Mengganggu Masa Depan

Literasi finansial bukan hanya tentang menabung dan mencari penghasilan tambahan.

Kemampuan memahami utang, cicilan, biaya pembiayaan, jatuh tempo dan rekam kredit juga menjadi bagian penting dalam mengatur keuangan.

Terlebih bagi Gen Z yang sedang memasuki fase mandiri secara finansial.

Kebiasaan mengelola uang yang terbentuk sejak sekarang dapat berpengaruh terhadap kondisi keuangan di masa mendatang.

Baca Juga: Megawati Kritik Variasi Menu MBG yang Kurang Beragam, Sampaikan Usul Langsung ke Prabowo agar Kuliner Daerah Ikut Disajikan

Paylater pada dasarnya hanyalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana fasilitas tersebut digunakan.

Jika digunakan secara terukur untuk kebutuhan yang sudah diperhitungkan, risikonya dapat lebih terkendali.

Namun, jika digunakan berulang kali untuk memenuhi keinginan tanpa mempertimbangkan kemampuan membayar, kemudahan tersebut justru bisa berubah menjadi beban.

Jadi, sebelum tergoda slogan “beli sekarang, bayar nanti”, pastikan kemampuan membayar tidak benar-benar ikut ditunda.

Beli boleh sekarang, tetapi jangan sampai masalahnya datang belakangan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
credit score Gen Z risiko paylater skor kredit cicilan paylater PayLater