“Nanti Aku Transfer” tapi Tak Kunjung Dibayar? Begini Etika Menagih Utang ke Teman agar Tak Berujung Musuhan

Siska Yudianti • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 08:17 WIB
“Nanti aku transfer” ternyata bisa jadi kalimat paling berbahaya dalam pertemanan. Apalagi kalau nominalnya kecil tapi tak kunjung dibayar. (ilustrasi)
“Nanti aku transfer” ternyata bisa jadi kalimat paling berbahaya dalam pertemanan. Apalagi kalau nominalnya kecil tapi tak kunjung dibayar. (ilustrasi)

RADARBONAG.ID – "Nanti aku transfer, ya." Kalimat yang terdengar sederhana dan sering muncul setelah makan bersama, nongkrong, membeli tiket konser, atau patungan transportasi.

Namun, ketika janji transfer tersebut tidak kunjung terealisasi, nominal yang awalnya kecil bisa berubah menjadi sumber masalah dalam pertemanan.

Bagi banyak Gen Z, sistem split bill sudah menjadi hal yang biasa.

Setiap orang membayar bagian masing-masing agar pengeluaran terasa lebih adil dan tidak membebani satu orang.

Persoalan muncul ketika salah satu teman lebih dulu membayarkan seluruh tagihan, sementara orang lain hanya mengatakan akan mengganti uangnya kemudian.

Satu hari berlalu. Kemudian beberapa hari. Bahkan bisa sampai berminggu-minggu.

Baca Juga: Sering Cek Like dan Views Setelah Upload? Ini Alasan Validasi Media Sosial Bisa Diam-Diam Menguasai Rasa Percaya Diri Gen Z

Di sinilah persoalannya tidak lagi sekadar tentang Rp20 ribu atau Rp50 ribu.

Ada rasa sungkan untuk menagih, takut dianggap perhitungan, sementara orang yang menunggu pembayaran bisa mulai merasa tidak dihargai.

Utang Kecil Bisa Memicu Masalah Besar

Nominal yang tidak terlalu besar sering kali justru membuat seseorang malas menagih.

"Ah, cuma Rp30 ribu."

"Sudahlah, mungkin dia lupa."

"Takut dibilang pelit kalau ditagih."

Pikiran seperti itu cukup umum terjadi ketika urusan uang melibatkan teman dekat.

Masalahnya, jika kejadian tersebut berulang, rasa kesal dapat menumpuk. Orang yang terus-menerus membayar lebih dulu mungkin mulai merasa dirinya dimanfaatkan.

Sementara itu, teman yang belum membayar belum tentu menyadari bahwa keterlambatan tersebut mulai mengganggu hubungan.

Ketika tidak ada komunikasi yang jelas, kedua pihak akhirnya memiliki asumsi masing-masing. Dari sinilah masalah kecil bisa berkembang menjadi rasa tidak nyaman dalam pertemanan.

Jangan Menagih Lewat Sindiran di Media Sosial

Salah satu cara yang sebaiknya dihindari adalah menagih melalui media sosial.

Unggahan seperti "Ada yang masih punya utang, nih" atau sindiran tentang teman yang belum membayar memang mungkin membuat hati sedikit lega. Namun, cara tersebut justru berpotensi memperbesar masalah.

Apalagi jika orang yang merasa disindir melihat unggahan tersebut bersama teman-teman lainnya.

Persoalan yang awalnya hanya diketahui dua orang akhirnya berubah menjadi konsumsi banyak orang.

Jika memang perlu menagih, komunikasi langsung jauh lebih baik.

Pesan sederhana seperti, "Eh, yang kemarin bagian kamu Rp50 ribu ya.

Kalau sudah sempat, boleh ditransfer," terdengar jauh lebih jelas tanpa membuat orang lain merasa dipermalukan.

Menagih Boleh Tegas, Tak Harus Kasar

Menagih uang kepada teman bukan berarti harus menggunakan nada tinggi atau kata-kata yang menyudutkan.

Justru semakin jelas dan tenang cara menyampaikannya, semakin kecil kemungkinan terjadi salah paham.

Pilih waktu yang tepat untuk menghubungi teman. Jika orang tersebut sedang menghadapi persoalan pribadi atau berada di tengah banyak orang, mungkin bukan waktu terbaik untuk membahas utang.

Gunakan kalimat singkat dan langsung pada inti persoalan.

Jika setelah pengingat pertama belum ada pembayaran, tidak masalah memberikan pengingat berikutnya.

Manusia bisa lupa, terutama jika transaksi terjadi beberapa hari atau minggu sebelumnya.

Yang penting, hindari mengubah pengingat menjadi serangan pribadi.

Lupa Belum Tentu Berarti Sengaja

Sebelum merasa kecewa, ada baiknya melihat situasinya secara objektif.

Teman yang belum membayar belum tentu sedang berusaha menghindari kewajiban.

Bisa saja ia benar-benar lupa, sedang tidak memegang uang, atau mengalami kondisi finansial yang membuat pembayaran tertunda.

Memberikan ruang untuk menjelaskan dapat membantu menjaga hubungan tetap baik.

Namun, situasinya menjadi berbeda jika seseorang terus-menerus menghindar.

Pesan dibaca tetapi tidak dijawab, janji transfer berkali-kali tidak ditepati, atau orang tersebut selalu memiliki alasan baru setiap kali ditagih.

Jika pola tersebut terus berulang, persoalannya bukan lagi sekadar lupa.

Kapan Harus Mulai Membuat Batasan?

Pertemanan yang sehat tetap membutuhkan batasan, termasuk dalam urusan uang.

Jika seseorang berkali-kali tidak menyelesaikan kewajibannya, tidak ada salahnya mulai mengubah kebiasaan.

Misalnya, untuk transaksi berikutnya, jangan langsung membayarkan bagian teman tersebut.

Minta pembayaran dilakukan terlebih dahulu atau gunakan metode pembayaran yang memungkinkan setiap orang membayar langsung.

Cara ini bukan berarti memutus pertemanan.

Justru batasan diperlukan agar hubungan tidak rusak karena masalah finansial yang sebenarnya bisa dicegah.

Sebab, memendam rasa kesal karena terus menjadi pihak yang membayar terlebih dahulu juga tidak sehat untuk hubungan jangka panjang.

Split Bill Seharusnya Membuat Semua Orang Nyaman

Pada dasarnya, split bill dibuat untuk menciptakan rasa adil. Setiap orang bertanggung jawab terhadap apa yang dikonsumsinya tanpa membebankan pengeluaran kepada satu pihak.

Karena itu, sistem tersebut seharusnya tidak berubah menjadi sumber drama.

Kebiasaan sederhana bisa membantu. Setelah makan bersama, misalnya, langsung hitung nominal masing-masing dan selesaikan pembayaran pada hari yang sama.

Jika seseorang terpaksa membayar terlebih dahulu, catat nominalnya. Aplikasi pembayaran digital juga bisa dimanfaatkan agar transaksi lebih mudah dilacak.

Tidak ada salahnya pula mengingatkan teman sesaat setelah kegiatan selesai. Semakin lama transaksi dibiarkan, semakin besar kemungkinan seseorang lupa.

Jangan Anggap Nominal Kecil Tidak Penting

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah menganggap uang dalam jumlah kecil tidak perlu dipermasalahkan.

Padahal, persoalan sebenarnya sering bukan pada jumlah uang.

Rp20 ribu mungkin tidak berarti besar bagi seseorang, tetapi ketika kewajiban tersebut terus diabaikan, yang muncul adalah perasaan tidak dihargai.

Begitu pula sebaliknya. Menagih uang bukan otomatis berarti seseorang pelit atau terlalu perhitungan.

Ada perbedaan antara menghitung setiap rupiah dalam pertemanan dan meminta kembali uang yang memang menjadi haknya.

Hubungan yang sehat justru memungkinkan kedua pihak berbicara terbuka mengenai persoalan finansial tanpa merasa malu atau tersinggung.

Menagih Utang Juga Soal Menghargai Pertemanan

Pada akhirnya, urusan split bill bukan cuma tentang siapa membayar berapa.

Ada unsur kepercayaan, tanggung jawab dan rasa saling menghargai di dalamnya.

Baca Juga: Hepatitis C Segera Hilang dari Inggris? Pengobatan Capai 84,6 Persen, Negara Ini Kejar Target Eliminasi

Menepati janji membayar menunjukkan bahwa seseorang menghargai orang yang sudah lebih dulu membantu.

Sebaliknya, menagih dengan cara yang sopan juga menunjukkan bahwa seseorang berusaha menyelesaikan masalah tanpa mempermalukan temannya.

Jadi, jika suatu hari ada teman berkata, "Nanti aku transfer, ya," jangan langsung menganggap nominalnya tidak penting.

Catat, ingatkan dengan baik jika diperlukan, dan jangan takut menagih ketika memang sudah waktunya.

Karena dalam pertemanan, yang sering membuat hubungan renggang bukan jumlah utangnya, melainkan rasa tidak dihargai ketika janji kecil terus-menerus diabaikan.

Editor : Muhammad Azlan Syah
Sumber : Radar Bonang
etika menagih utang teman split bill Gen Z cara menagih utang teman tips pertemanan Gen Z drama split bill